Konon di atas Gunung Emansiri yang puncaknya menjulang persis di atas kampung Lobo hidup seekor burung yang besar yakni Burung Garuda, jenis Elang yang sangat besar. Di tempat itu juga hidup pula seekor ular besar yang disebut ular naga. Bagian Kiri dan Kanan Gunung itu sangat terjal. Ular itu tidak kemana-mana, hidupnya bergantung pada sisa –sisa makanan yang dijatuhkan oleh burung garuda. Makanan burung itu berupa binatang dari hutan, ikan, atau mangsa lain yang dapat di makan. Burung ini, dapat terbang ke mana- mana, mencari makanan sampai ke daerah Fakfak, ke seluruh wilayah Papua, bahkan iapun dapat mencari ke daerah lain di wilayah luar. Ke manapun burung ini terbang mencari mangsa pasti dia akan kembali ke tempat asalnya yaitu Gunung Emansiri, Kampung Lobo , Kaimana. Konon pada suatu hari, warga sekitar kampung Lobo pernah melihat atau menyaksikan Burung Garuda mengangkut atau mengangkat sebuah perahu Kole-Kole bersama satu orang di dalamnya ke atas puncak Gunun...
Cerita Rakyat, PUPA dan NARINARE adalah dua sahabat yang tinggal di hutan belantara. Mereka adalah dua sosok pemuda yang suka mengembara dan tinggalnya di hutan-hutan belantara. Di tempat itu, mereka membuka lahan kebun dan menanam berbagai tumbuh-tumbuhan. Jadi mata pencaharian mereka sehari-hari adalah berkebun dan berburu. Pada suatu siang, ketika mereka pulang dari bekerja di kebun, mereka sepakat untuk pergi kehutan berburu babi hutan (wam helo). Tapi, pada waktu berangkat Narinare memutuskan untuk menjaga rumah. Maka hanya Pupa seorang diri, dengan membawa parang dan tombak sebagai senjata pergi berburu. Lembah dan bukit pun dia lalui sambil waspada terhadap binatang-binantang buruan. Akar-akar kayu tak menjadi halangan untuknya. Menjelang sore, di tepi kali kecil berlumpur, dia melihat seekor babi hutan sedang berkubang. Pupa mengendap-endap dan mengatur langkah pelan-pelan memdekati babi yang asyik menikmati lumpur hitam itu. Satu, dua, tiga, jub…tombak bermat...
Dahulu, di sebuah desa diadakan pesta adat yang sangat meriah. Selain warga di desa itu, mereka juga mengundang warga desa lain untuk turut berpartisipasi. Di antara para tamu, hadir seorang nenek bersama cucu perempuannya, Isosi, dan seekor anjing peliharaan mereka. Saat pesta berlangsung, seorang penari menginjak buntut anjing milik si nenek. Lalu, anjing kecil itu menggonggong dengan keras. Nenek ini sangat marah melihat anjingnya kesakitan. Dongeng Dari Papua Barat Asal Usul Telaga Wekaburi Kemudian, ia membawa anjingnya ke dalam rumah dan memakaikan cadar di tubuh anjing itu. Menurut adat, perbuatannya ini akan menimbulkan bencana alam. Namun, nenek ini ingin memberi pelajaran kepada orang yang menginjak anjingnya. Setelah itu, mereka pergi meninggalkan tempat tersebut menuju Gunung Ainusmuwasa. Selain Isosi dan anjingnya, turut juga kekasih Isosi bernama Asya. Tak lama kemudian, hujan turun sangat deras disertai kilat dan...
Siapapun tak mengira, Biak di Kabupaten Biak Numfor ini, menyimpan situs sejarah Perang Dunia II yang cukup mistis. Situs sejarah itu berupa dua buah gua alami yaitu Gua Binsari dan Gua Jepang Lima Kamar. Gua ini punya cerita ngeri tentang perang antara tentara Jepang dengan tentara Sekutu. Ternyata Gua Binsari ini memiliki lorong yang tembus hingga Gua Jepang Lima Kamar di tepi pantai yang menghadap ke Samudera Pasifik. Menurut warga lokal, Binsari berarti perempuan tua. Konon dahulu, ada nenek-nenek di gua ini. Setelah Jepang datang, nenek itu menghilang entah ke mana. Makanya kenapa gua ini dinamakan Gua Binsari. http://www.adatnusantara.web.id/2017/08/peninggalan-sejarah-di-provinsi-papua.html
Alkisah, ada seorang wanita tua yang hidup bersama anjingnya di Pegunungan Bumberi. Suatu hari, ia dan anjingnya menemukan pohon buah merah. Ia mengambil buah tersebut dan memakannya. Tak berapa lama, ia melahirkan anak laki-laki. Ia memberi nama anak itu Kweiya. Sepuluh tahun berlalu, Kweiya tumbuh menjadi anak yang rajin. Suatu hari, Kweiya bertemu laki-laki tua yang sedang mengail di sungai. Ia mengajak laki-laki itu pulang dan mengenalkannya kepada ibunya. Ia juga meminta ibunya menikah dengan laki-laki itu. Tidak lama kemudian, sang Ibu menikah dengan laki-laki tersebut. Selang beberapa tahun, sang Ibu melahirkan dua anak laki-laki dan satu anak perempuan. Suatu hari, terjadi perselisihan antara Kweiya dengan kedua adik laki-lakinya. Kweiya memilih bersembunyi di gudang sambil memintal tali dari kulit binatang. Pintalan itu akan dibuat sayap. Saat kedua orang tuanya pulang dari kebun, anak perempuannya menceritakan kejadian yang terjadi kepada ibunya. B...
Dulu, di Papua ada dua kakak beradik yang bernama Meraksamana dan Siraiman. Suatu malam, Meraksamana bermimpi melihat sepuluh bidadari mandi di telaga dekat tempat tinggalnya. Namun tiba-tiba, ia terbangun. Ia pun bergegas menuju telaga. Setibanya, ia terkejut ketika mendapati sepuluh bidadari tengah mandi di telaga. Meraksamana bersembunyi di balik pohon dekat telaga. Tiba-tiba, muncul seorang perempuan tua. Perempuan itu menyuruhnya mengambil sehelai pakaian milik salah satu bidadari. Ia pun melakukan hal tersebut dan pulang. Selesai mandi, sepuluh bidadari bergegas menuju tempat menyimpan pakaian. Namun, salah satu bidadari tidak menemukan pakaiannya. Sembilan bidadari lainnya terpaksa meninggalkannya sendiri. Bidadari yang tertinggal sangat sedih. Saat itu, Meraksamana datang dan menghibur bidadari yang tertinggal itu. Diajaknya bidadari itu ke rumahnya. Tak berapa lama, Meraksamana meminang bidadari tersebut. Pada suatu hari, Meraksamana meng...
Sebelum kakak mulai bercerita mengenai dongeng dari Papua Barat asal usul Telaga Wekaburi, kakak ingin memberitahu kalian bahwa Papua merupakan salah satu Pulau terbesar di Indonesia. Pulau Papua sangat indah dan memiliki sumberdaya alam yang sangat kaya. Sebut saja tembagapura sebagai penghasil emas, tembaga dan uranium terbesar di dunia. Selain harus belajar mengenai sejarah, adik-adik juga harus rajin menuntut ilmu agar kekayaan alam Indonesia bisa kita lestarikan untuk sebesar-besarnya kepentingan rakyat yah. Sumber : https://dongengceritarakyat.com/dongeng-dari-papua-barat-asal-usul-telaga-wekaburi/
Upacara Tanam Sasi merupakan salah satu upacara adat yang berasal dari Papua. Upacara ini adalah bagian dari rangkaian upacara kematian masyarakat di Papua. Upacara yang dilaksanakan di Merauke, Papua Barat ini dilakukan oleh suku Marind atau Marind-Anim, suku yang tinggal di wilayah dataran luas Papua Barat sebelah Selatan. Anim berarti laki-laki. Dua istilah yang berhubungan dengannya adalah anem untuk kaum pria dan anum untuk kaum wanita.Setelah kematian seseorang, sasi ditanam pada waktu 40 hari. Hal tersebut akan dicabut kembali setelah melewati hari ke 1000. Dalam upacara Tanam Sasi, ada sebuah tarian tradisional yang dipertunjukkan, yaitu tarian Gatsi. Tarian ini merupakan tarian umum yang berasal dan dibawakan oleh Suku Marind Anim. Tarian Gatsi tidak lengkap tanpa diiringi oleh alat musik tifa yang terbuat dari kayu. Kayu yang dipakai dilubangi atau isinya dikosongkan dan terdapat penutup pada salah satu sisinya. Penutup itu terbuat dari kulit rusa atau kulit biawak yang s...
Sebelum masyarakat mengenal agama, setiap suku di Papua Barat selalu baku hongi. Ini terjadi ketika mereka memperebut hak wilayat adat. Seperti masa penjajahan dalam tulisan sejarah, hanya saja ditulis dalam catatan bersejarah. Berbeda dengan cerita hongi. Dari turun temurun ini kisahkan secara lisan, atau diceritakan saja. Perang hongi juga melibatkan adanya perbudakan. Bila salah satu suku kalah dalam peperangan, maka anak perempuan atau laki-laki dijadikan imbalan kepada suku yang menang sebagai penambah jiwa. Marganya pun akan diganti mengikuti suku itu. Hal ini masih terbukti sisa peninggalan perang hongi. Seperti pasir merah di distrik Kais, Sorong Selatan, yang mana antar suku saling membunuh dan terjadi pertumpahan darah sehingga pasir yang bewarna putih berubah menjadi warna merah. Ada pula salah satu tempat dimana kepala musuh yang di penggal lalu digantung diatas pepohonan menjadi tempat angker sampai saat ini. Tempat itu melimpah akan hasil laut seperti kerang, udang,...