Barongan adalah salah satu jenis kesenian tradisional yang ritual. “Barong(an)” ialah nama yang diperuntukkan bagi wajah yang sangat menakutkan dan seolah-olah buas. Sering kali istilah Barongan dirangkaikan dengan kata kepet (ejekan dari penonton) artinya tidak suka membersihkan diri (nyopet, Sunda). Kesenian ini disebut juga Barokan yang artinya sama dengan Barongan. Sejarah Kelahiran dan Perkembangan Sulit ditentukan secara pasti mulai kapan kesenian Barongan ini lahir. Satu-satunya bahan yang dapat dijadikan petunjuk ialah ceritera rakyat yang sangat besar pengaruhnya di kalangan masyarakat pedesaan. Ceritera rakyat menuturkan: Seorang puteri cantik mencintai pemuda tampan Udrayaka, tetapi sang raja, ayah puteri tidak merestui karena Udrayaka hanyalah anak pungut Patih Dirgabahu. Agar Udrayaka enyah dari kerajaan, raja memberi tugas agar Udrayaka menggambar segala jenis binatang yang ada di daratan. Pemuda itu ternyata berhasil, tetapi menyusul per...
Tiong Chiu Pia atau yang lebih dikenal dengan nama "Kue Bulan" merupakan makanan khas Tionghua yang disajikan saat perayaan pertengahan musim gugur (tanggal 15, bulan 8, penanggalan Imlek). Pada tanggal tersebut, bulan terlihat lebih besar, bulat, dan terang. Konon, ada seorang dewi bernama Chang e yang tinggal sendirian di istana bulan lho! Nah, bagaimana bisa dewi tersebut tinggal sendirian di istana bulan? Mari simak legendanya! Pada jaman dahulu kala, di bumi ada 10 matahari. 10 matahari tersebut seharusnya terbit secara bergantian (1hari, 1matahari). Namun, karena keserakahan matahari-matahari tersebut, mereka terbit di hari yang sama dan menimbulkan bencana kebakaran hebat di bumi. Seorang dewa langit bernama Hou Yi ditugaskan oleh Kaisar Langit untuk memusnahkan matahari-matahari tersebut dan kembali ke istana langit dalam waktu maksimal 3 tahun. Hou Yi adalah pemanah yang handal dan dengan sergap memanah 9 matahari, menyisakan 1 matahari untuk menyinari bumi. Hou Yi juga me...
Tang Cie adalah suatu tradisi Tionghoa Indonesia yang dirayakan setiap tanggal 22 Desember, kecuali pada tahun kabisat pada tanggal 21 Desember. Perayaan Tang Ce ini bertepatan dengan Hari Ibu di Indonesia. Biasanya, hari raya Tionghoa seperti Peh Cun, Cap Go Meh, dan Imlek dirayakan menurut kalender Imlek.Namun keunikan dari Tang Cie dirayakan mengikuti penanggalan Masehi, bukan penanggalan Imlek (berdasarkan revolusi bulan). Dalam budaya Tionghoa, Tang Cie dirayakan untuk mengenang pengorbanan dan kasih sayang ibu kepada anaknya. Pada saat Tang Cie, ada tradisi membuat sendiri onde di rumah masing-masing dari tepung ketan dan pewarna. Pertama-tama dibuat adonan tepung ketan dengan dialasi daun pisang, lalu adonan diwarnai. Onde yang dibuat harus terdiri dari beberapa warna. Kemudian adonan diambil dan dibentuk menjadi bola-bola onde berukuran kecil (diameter sekitar 1 cm) , sedang, dan besar (diameter sekitar 3-4 cm). Ada onde yang diisi dengan kacang tanah, ada pula onde yang...
Kue Satu Kue Satu adalah salahsatu jajanan legendaris di tahun 90-an. Dan pasti hampir di setiap toko menjual kue ini. Asal-muasal mengapa disebut kue satu karena saat proses pembuatannya butuh pengerjaan yang detil sehingga membuat kue ini harus dicetak secara satu per satu, maka kue ini dinamakanlah kue satu. Bahan dasar dari kue ini adalah dominan kacang. Sebenarnya kue satu ini mempunyai nama lain yaitu kue koya jika di daerah Jawa Timur dan Jawa Tengah. Biasanya kue ini banyak diproduksi saat hari - hari besar seperti Hari Raya Idul Fitri, Tahun Baru, Hari Raya Imlek, dan lain-lain. Bahan: 1. Air 2. Tepung Sagu 3. Kacang 4. Gula 5. Garam 6. Vanili 7. Telur Cara Pembuatan: 1. Pertama, sangrai kacang dan buang kulitnya kemudian dihaluskan dengan ditumbuk sampai hancur.. 2. Kemudian, campurkan semua bahan tepung sagu, kacang, gula, garam, vanili dan telur. 3. Setelah itu, aduk...
Perayaan Cap Go Meh sudah tidak asing lagi di kalangan orang Tionghoa di Indonesia. Selain perayaan tersebut melambangkan kekentalan budaya Tionghoa di Indonesia, Cap Go Meh juga menandakan bahwa budaya Tionghoa juga diterima di Indonesia sebagai budayanya sendiri. Maka dari itu, kita perlu mengetahui asal-muasal perayaan ini dan bagaimana sejarahnya. Cap Go Meh melambangkan hari kelima belas bulan pertama Imlek dan merupakan hari terakhir dari rangkaian masa perayaan Imlek bagi komunitas migran Tionghoa yang tinggal di luar China. Istilah Cap Go Meh berasal dari dialek Hokkian yang bila diartikan secara harafiah bermakna “15 hari atau malam setelah Imlek”. Bila dipenggal per kata, ‘Cap’ mempunyai arti sepuluh, ‘Go’ adalah lima, dan ‘Meh’ berarti malam. Perayaan Cap Go Meh atau Perayaan Lampion ini tidak hanya dirayakan di Indonesia saja. Beberapa negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura juga ikut merayakan har...
Perayaan Cap Go Meh sudah tidak asing lagi di kalangan orang Tionghoa di Indonesia. Selain perayaan tersebut melambangkan kekentalan budaya Tionghoa di Indonesia, Cap Go Meh juga menandakan bahwa budaya Tionghoa juga diterima di Indonesia sebagai budayanya sendiri. Maka dari itu, kita perlu mengetahui asal-muasal perayaan ini dan bagaimana sejarahnya. Cap Go Meh melambangkan hari kelima belas bulan pertama Imlek dan merupakan hari terakhir dari rangkaian masa perayaan Imlek bagi komunitas migran Tionghoa yang tinggal di luar China. Istilah Cap Go Meh berasal dari dialek Hokkian yang bila diartikan secara harafiah bermakna “15 hari atau malam setelah Imlek”. Bila dipenggal per kata, ‘Cap’ mempunyai arti sepuluh, ‘Go’ adalah lima, dan ‘Meh’ berarti malam. Perayaan Cap Go Meh atau Perayaan Lampion ini tidak hanya dirayakan di Indonesia saja. Beberapa negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura juga ikut merayakan har...
Klenteng Tiao Kak Sie atau biasa dikenal dengan sebutan Klenteng Dewi Welas Asih terletak di Jl. Kantor No.2, Kampung Kamiran, Cirebon. Klenteng Dewi Welas Asih merupakan salah satu kelenteng tertua di Cirebon, selain Klenteng Talang dan Vihara Pemancar Keselamatan. Klenteng ini dibangun di atas tanah seluas 1.857 m2 dengan luas bangunan sekitar 1.600 m2. Di depan pinggir jalan terdapat penanda Benda Cagar Budaya Kelenteng Dewi Welas Asih Cirebon dengan tahun berdiri 1595. Tahun itu tertulis pada dua buah papan kecil “paai” namanya yang berisi pepatah atau peribasa pendek-pendek akan jadi kehormatan bagi dewa dewa. Semula nama Kelenteng Dewi Welas Asih adalah Tiau Kak Sie. “Sie” artinya rumah orang beribadat (tempat bertapa). “Tio” berarti air pasang (air naik), dan “Kak” berarti bangun dari tidur atau membangunkan atau membawa kepada akal yang benar. Bangunan Kelenteng Dewi Welas Asih yang simetris dengan ornamen naga dalam posi...
Menurut Edward Burnett Tylor, kebudayaan merupakan keseluruhan yang kompleks, yang di dalamnya terkandung pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat istiadat, dan kemampuan-kemampuan lain yang didapat seseorang sebagai anggota masyarakat. Sedangkan Herskovits memandang bahwa kebudayaan merupakan sebagai sesuatu yang turun temurun dari satu generasi ke generasi yang lain yang kemudian disebut sebagai superorganik. Dari kedua pernyataan 2 ahli diatas dapat disimpulkan bahwa adalah sesuatu hal yang dilakukan atau dipikirkan oleh sekelompok masyarakat yang memiliki sebuah persamaan dan dilakukan secara turun temurun. Di Indonesia terdapat sangat banyak budaya karena keanekaragaman suku ytang ada di Indonesia. Masing-masing suku bangsa memiliki kebudayaan yang berbeda satu sama lain. Suku bangsa ada yang asli dari Indonesia ada juga yang memiliki campuran dari luar. Menurut sensus BPS tahun 2010 Indonesia memiliki lebih dari 300 kelompok suku bangsa. Suku Jawa...
Klenteng Hok Lay Kiong adalah klenteng tertua di Bekasi yang terletak di Jl. Kenari, Margahayu. Tidak ada yang tahu kapan pastinya klenteng ini dibangun, namun diperkirakan klenteng ini sudah ada sejak 300-400 tahun yang lalu. Tidak berbeda dengan klenteng yang lainnya, warna merah masih menjadi warna dominan dibangunan dan ornamen klenteng ini. Meskipun klenteng ini telah beberapa kali di renovasi, ornamen klenteng seperti pintu, patung dewa, altar dan tiang penyanggahnya masih asli. Klenteng Hok Lay Kiong memiliki luas 650 meter persegi, selain sebagai tampat sembahyang umat Kong Hu Cu, Budha dan Taoisme, klenteng ini juga menjadi salah satu tempat wisata favorit di Bekasi. Jika ingin menikmati suasana yang berbeda, cobalah datang di saat perayaan imlek. Saat imlek anda bisa melihat prosesi penyucian patung dewa dan karnaval barongsai, ada juga ritual tabur sial dengan melakukan pelarungan kertas berisi harapan ke sungai Bekasi dan pelepasan kura-kura. Tujuan dari pada berbenah d...