(Bahasa Batak) Antar didokhon, antar didokhon Na naeng parhalletton ahu Antar didokhon, antar didokhon Lomo ni rohana i Unang ma ito parmeam-meam Ahu anak ni na pogos on Lao ma ho ito, lao ma ho ito Sian jabu nami on Unang ma ito sai dapothon Ahu si baoadi on Unang be ito sai jonohi Dang adong be guna ni Nunga be huboto rohami Ale ito da pargabus Lao ma ho ito, lao ma ho ito Sian jabu nami on Mulak ma jo ho Mulak ma jo ho ale ito Sotung sanga muruk Sotung sanga muruk ahu annon Antar didokhon ho ma songoni ito Holan hata-hata do di ho Unang ma ito sai dapothon Ahu si baoadi on Unang be ito sai jonohi Dang adong be guna ni Nunga be huboto rohami Ale ito namarbaju Lao ma ho ito, lao ma ho ito Pangke ma sipatumi Mulak ma jo ho Mulak ma jo ho ale ito Sotung sanga muruk Sotung sanga muruk ahu annon Antar didokhon ho ma songoni ito Holan hata-hata do di ho (Bahasa Indonesia) Pura pura kamu ka...
Catatan : Maaf kalau link urlnya misleading, judulnya sempat salah soalnya. Ompu Tuan Situmorang adalah anak dan Ompunta Siraja Lontung dan Ibunya Siboru Pareme . Siraja Lontung anak dan Tuan Saribu Raja dan Ibunya Siboru Pareme. Ompu Tuan Situmorang adalah Cucu dan Tuan Saribu Raja . Ompu Tuan Situmorang salah seorang dan sembilan bersaudara (Tujuh laki-laki dua perempuan) anak dan Siraja Lontung dan Ibunya Siboru Pareme. Adapun anak dan Siraja Lontung / Siboru Pareme adalah sebagai berikut: Ompu Tuan Situmorang , Toga Sinaga, Toga Pandiangan, Toga Nainggolan, Toga Simatupang, Toga Aritonang, Toga Siregar dan Boruna, Siboru amak Pandan Kawin dengan Toga Simamora, Siboru Panggabean kawin dengan Toga Sihombing Ompu Tuan Situmorang lahir di Sabulan Kabupaten Samosir. Ompu Tuan Situmorang yang populer menurunkan marga Situmorang...
Dalam hukum adat Mandailing dikenal sistem kekerabatan yang disebut dengan Dalihan Na Tolu. Sistem ini secara etimologis berarti ‘tungku yang tiga’, tungku yang disebut Dalihan Na Tolu ini digunakan sebagai analogi kekerabatan dalam hukum adat Mandailing. Tungku tersebut memerlukan tiga kaki yang berukuran sama dan terbuat dari batu sehingga periuk yang digunakan tidak akan jatuh. Dalam hal ini, tungku tersebut menggambarkan bahwa masyarakat Mandailing mempunyai kedudukan yang sama dalam kekeluargaan. Tungku yang digunakan adalah tungku kaki tiga karena jika salah satu kaki tidak berfungsi maka tungku tidak akan dapat berdiri, berbeda dengan tungku kaki empat ataupun lima yang mana apabila satu kaki tidak berfungsi maka tungku masih dapat berdiri karena masih ada tiga atau empat kaki tungku lainnya. Tungku ini juga dapat difilosofikan sebagai konsep gotong royong yang mana ketiga komponen (kaki tungku) harus ikut berperan agar tungku bisa berdiri dengan kuat. Sehingga, D...
Mangure Lawik merupakan kearifan lokal yang dilaksanakan masyarakat Tapanuli Tengah dengan tujuan untuk mendapatkan keselamatan berkah dari Allah agar dapat memperoleh hasil tangkapan ikan yang berlimpah dalam tradisi ini juga harapan keinginan agar masalah terhindar dari malapetaka yang menimpa mereka sehingga untuk mencegah hal tersebut sekaligus sebagai ungkapan rasa Terima kasih maka diperlukan dari tradisi tumbuhan atau sedekah laut. OSKMITB2018
Kalau bicara tentang partangiangan, pasti banyak yang tidak mengerti ya, terutama dengan yang bukan suku batak. Tapi sebelumnya aku kurang tau nih, sebenarnya partangiangan itu hanya ada di suku batak apa enggak. Tapi ternyata setelah aku cek di mbah Wikipedia , ternyata partangiangan sendiri itu berasal dari bahasa batak yaitu "tangiang" yang artinya "doa". Jadi nih kalau diartikan secara harafiah, artinya itu jadi "kegiatan doa" deh. Lah, maksudnya kegiatan doa apa ya? Pasti kamu bertanya-tanya kan? Yakan? Yakan? Jadi kalau kami suku Batak, terutama yang beragama Kristen barangkali (soalnya aku kurangtau buat yang lain), ada namanya partangiangan. Partangiangan itu gimana ya, aduh, susah loh ngejelasinnya. Kalau yang aku tahu si, kalau kami di gereja itu, ada seperti perkumpulan-perkumpulan jemaat, tapi setau aku, perkumpulan ini biasanya dibagi berdasarkan lingkungan tempat tinggal nya. Nah, jadi, ada satu hari nanti dimana perkumpulan itu ngadain ibad...
SIGULEMPONG Natinittip sanggar sigule sigule Saibahen huru huruan sigule Sigulempong sigule gule Jolo sinukkun marga sigule sigule Molo sairap hita nadua sigule Sigulempong sigule gule Sirma inang sarge Dasai sirma inang sarge Tarsongoni doho hape pargontingna dauk gale Tarsongoni doho hape pargontingna dauk gale Salendang sapu tangan sigule sigule Diatas ni batu nadua sigule Sigulempong sigule gule Leleng maho ito da sigule sigule Da sai hu pai maina sigule Sigulempong sigule gule TERJEMAHAN LAGU SIGULEMPONG memotong bahan untuk sangkar burung membuat sangkar burung siguleppong sigule-gule dahulu ditanya marga nya sigule-gule jika sama kita berdua sigule siguleppong sigule-gule bagus lah nyonya sarge sehingga baguslah nyonya sarge.. seperti itu engkau rupanya, bergoyangnya ya gemulai seperti itu engkau rupanya, bergoyangnya ya gemulai selendang, sapu tangan sigulee.. diatas batu batu berd...
MANGONGKAL HOLI adalah suatu tradisi yang dilakukan oleh orang batak khusunya suku batak toba (sumatera utara), biasanya mangongkal holi itu memindahkan tulang – tulang leluhur (opung) dari tanah perantauan ke tanah kelahiran. Di tanah kelahiran itu sudah di bangun berupa tugu, lalu tulang – tulang tersebut dimasukkan ke dalam tugu yang di dalam tunggu tersebutlah semua keturunannya dimasukan. Mangongkal holi sudah pernah dilaksanakan dalam keluarga ayah saya yaitu keturunan OPUNG PARULIAN SIDABUKE. Ayah saya adalah cucu pertama laki – laki dalam keluarganya dan ayah saya lah yang menjadi pembawa nama dari orang tua dan kakeknya. Ayah saya bernama PARULIAN maka orang tuanya disebut bapak Parulian dan kakeknya opung Parulian. Tahun 1955 kakek dan nenek ayah saya meninggal di Jakarta di Pondok Rangon, tahun itu pula mereka sepakat memindahkan tulang – tulangnya ke tanah kelahirannya di silabayu disana sudah dibangun berupa tugu untuk keturunan...
Menghormati orang tua adalah salah satu kewajiban anak yang sangat penting. Dalam kehidupan suku Batak, terdapat sebuah tradisi di mana anak-anak dari orang tua (yang sudah tua dan telah memiliki cucu) berkumpul untuk menyuapi orang tua tersebut. Dalam bahasa Batak, tradisi ini disebut Manulangi Natua-Tua atau dalam bahasa Indonesia 'menyuapi orang tua'. Anak-anaknya yang telah berkeluarga menyuapi orang tuanya dengan makanan-makanan yang lezat. Selain untuk menghormati orang tua sebagai bentuk pengabdian, Manulangi Natua-Tua juga bertujuan untuk memohon doa restu kepada orang tua, misalnya memohon kelancaran proses kelahiran, dan bahkan memohon doa bagi anaknya yang belum dikaruniai keturunan. Upacara ini juga biasa dilakukan ketika orang tua tersebut sedang memasuki masa kritis sebagai bentuk pengabdian dan rasa terima kasih seorang anak kepada orang tuanya. Upacara ini dapat juga dimaksudkan agar penyakit dan bencana menjauh dari orang tua. Umumnya a...
Dalihan Na Tolu Dalihan Na Tolu adalah sebuah tradisi yang sudah ada sejak zaman dahulu yang telah dipegang dan menjadi pedoman orang-orang Batak. Prinsip ini sangat diperlukan dan dijunjung tinggi dalam adat Batak ini. Nama lainnya adalah partuturon, atau dalam bahasa awam adalah silsilah tingkatan dalam keluarga adat Batak. Banyak peraturan kebanyakan secara tidak tertulis atau pada umumnya hanya bersifat normatif dalam adat Batak yang berpegangan pada tingkatan-tingkatan atau posisi satu orang terhadap yang lain dalam keluarga. Dalam adat Batak, keluarga yang dimaksud bukanlah hanya keluarga dekat atau kandung melainkan lebih luas daripada itu yang bisa dilihat dari marga atau boru satu orang atau keluarga tertentu. Dalihan Na Tolu adaah prinsip yang harus dipegang dalam berkehidupan bermasyarakat dalam adat Batak. Dalam Dalihan Na Tolu ada tiga prinsip atau dalihan (tungku dalam bahasa Batak) yang secara umum dipegang :...