Keduk Keke adalah salah satu permainan anak-anak yang dilakukan pada siang hari. Permainan dilakukan dengan cara satu lawan satu. Peserta minimal dua orang, maksimal 4 orang. Lidi/kayu kecil ditancapkan pada gundukan tanah atau pasir yang berda ditengan-tengah pemain. Dengan menggunakan alat bantu berupa kayu atau lidi ataupun dengan jari tangan sendiri setiap pemain mengeruk tumpukan tersebut sambil menyanyikan “keduk keke lendang bajo, sai ngepe ie kadoa’. Apabila salah seorang pemain menjatuhkan lidi/kayu maka dia dianggap kalah.
Hingga saat ini, sudah cukup banyak babad di Lombok yang sudah dikenali bahkan sudah dtranskripsi ke dalam tulisan latin dan diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Di antara babad-babad tersebut misalnya; babad Lombok, babad Seleparang, Babad Sakra, Babad Praya dan lain-lain. Pada umumnya, babad-babad tersebut mengungkapkan peristiwa penting yang pernah dialami ditempat-tempat tertentu, misalnya, Babad Sakra yang menceritakan penyerangan Karangasem ke daerah Sakra, atau babad Praya yang menceritakan penyerangan yang dilakukan Karangasem ke Praya. Babad Lombok menceritakan tentang riwayat dari Nabi Adam hingga hancurnya dua kerajaan besar di Lombok yakni Pejanggik dan Seleparang, sementara Babad Seleparang hanya mengambil sebagian dari rentang peritiwa tersebut yakni kehancuran Pejanggik dan Seleparang. Babad Lombok secara keseluruhan memuat 1218 bait (Suparman, 1994 : VIII)13. Isi babad tersebut secara secara umum; dari bait pertama hingga bait 977...
Zaman Dahulu kala, ada raja jin wanita bertahta di puncak gunung Rinjani. Ratu jin itu bernama Dewi Anjani dan memiliki peliharaan seekor burung Beberi berparuh perak dan berkuku baja.Waktu itu daratan Pulau lombok masih berupa bukit berhutan lebat dan belum di huni manusia. Pada suatu hari patih Dewi Anjani Patih Songan mengingatkan Dewi Anjani akan pesan kakek nya agar kelak dewi Anjani mengisi Pulau Lombok dengan Manusia. Kemudian Dewi Anjani mengajak patih Songan untuk memeriksa seluruh daratan pulau itu.Karena tanaman di hutan terlalu rapat sang Dewi dan patih tidak dapat berjalan. Kemudian Dewi Anjani berkata kepada Patih Songan, "Paman, karena pulau ini penuh sesak dengan tumbuhan, pulau ini kuberi nama Pulau Sasak." Begitu cerita kenapa pulau ini bernama Bumi Sasak dan sekarang Lebih di kenal dengan Pulau Lombok. Setelah mengetahui pulau itu penuh dengan hutan dan bukit, Dewi Anjani memerintahkan burung beberi...
Wali Nyatoq adalah waliyullah yang sangat melegenda di Pulau Lombok, lebih-lebih dikalangan masyarakat Lombok Tengah atau tepatnya di desa Rembitan, bagian Selatan Pulau Lombok. Sebutan Wali Nyatoq dikaitkan dengan tanda-tanda kewaliannya. Nyatoq artinya “nyata” karena masyarakat sangat mempercayai bahwa Wali Nyatoq benar-benar sebagai seorang wali. Konon wali nyatok memiliki 33 nama. Di setiap desa atau kampung yang pernah disinggahi, ia disebut dengan nama yang berbeda-beda. Salah satunya Sayyid Abdullah, gelar ini diperoleh setelah beliau meninggal dunia. Tidak ada yang tahu persis dari mana ia berasal, sebagian masyarakat mempercayainya bahwa ia berasal dari Perihal kedatangan ke Pulau Lombok tidak jelas. Berdasarkan penuturan TGH...
Dalam Bahasa Indonesia Mpa’a Kawongga dikenal dengan nama “Main Gasing” (Kawongga = Gasing). Bentuk dan ukuran Kawongga dengan gasing dari daerah lain agak berbeda. Dibuat dari kayu yang keras dan kuat. Tidak mudah retak dan pecah. Dibagian kepalanya tidak dipasang paku atau kawat seperti gasing yang banyak beredar sekarang.Mpa’a Kawongga bisa dimainkan secara perorangan atau beregu. Dimainkan oleh anak-anak laki-laki umur 9 tahun sampai usia remaja. Menurut perannya, pemain Kawongga dapat dibagi dua kelompok, yang pertama disebut “Ma boe” (yang memukul) Kawongga lawan. Kelompok kedua berfungsi sebagai “Ma Te’e” (yang memasang) Kawongganya untuk dipukul atau lebih tepat dilempar oleh regu pemukul dengan menggunakan Kawongga pula. Ompu Sedo, salah seorang warga Sadia yang ditemui Sarangge pertengahan Maret 2013 menuturkan, Kawongga harus di Te’e (dipasang) dalam keadaan “Kabiri” (berputar) dengan p...
Devan, Husen dan Adhar adalah tiga dari sekian banyak anak anak di Ujung Kalate Nipa Ambalawi yang mengisi liburan dengan tradisi Simi atau nenyelam dan bedi uta atau menembak ikan di sepanjang pesisir Ujung Kalate, So Spui, Oi Fanda hingga Sori Nehe yang berbatasan dengan Kolo Kota Bima.. Berbekal kaca mata selam dan bedi atau senjata dari kayu ukuran 30 cm dan ana bedi atau panah besi 5 mili dengan panjang sekitar 50 cm mereka berenang dan menyelam di perairan dangkal sepanjang pantai Ujung Kalate untuk membidik ikan ikan seputar perairan itu. Devan mengemukakan bahwa selama satu jam menyelam, mereka berhasil mendapatkan lebih dari 20 ekor ikan ukuran sedang. " ikan ikan itu kami bakar dan makan bersama sama." Kata Husen yang saya temui di pantai Ujung Kalate siang tadi. Kalo banyak ikan yang didapatkan, mereka bawa pulang ke rumah untuk kebutuhan keluarga dan kadang juga dijual. Husen menceritakan bahwa Keahlian bedi uta didapatkan secara turun temurun dari ayah dan k...
Kue Tart, Balon, Lilin dan pernak pernik lainnya nampak mendominasi menghiasi acara peringatan hari kelahiran anak pada sekarang ini. Bukan hanya itu, saat sekarang peringatan hari kelahiran atau ulang tahun sudah identik dengan restoran siap saji yang menjadi tempat perayaan dalam konteks kehidupan modern. Sejarah peniupan lilin dan peletakaannya diatas kue tart itu sendiri dimulai pada zaman Yunani kuno membuat sebuah kue berbentuk bulat untuk menghormati Dewi Artemis yang merupakan Dewi Bulan dalam kepercayaan Mitologi Yunani. Nyala lilin pada kue sebagai symbol cahaya bulan sedangkan untuk peniupan lilin sebagai symbol sebuah harapan dan doa kepada Tuhan, yang juga dilakukan oleh para penganut agama Majusi kuno berdoa kepada Api sebagai symbol perantara mereka dengan Tuhan. Di Eropa sendiri kue ulang tahun bermula pada abad 17 dimana kue tart dulunya hanya diperuntukkan bagi kalangan orang kaya saja, seiring adanya revolusi industri yang terjadi di Eropa kemudian kue tar...
Alunan irama dendang yang di lantunkan dan di ikuti hentakan tangan sambil memukul lantai yang sangat menarik dengan gaya pantun bahasa Bima yang di lakukan oleh dua orang tertua di Raba Dompu yaitu Nenek Hj Asiah dan adiknya Nenek Saadiah. Dendang ini bernama Gele yang diperuntukkan untuk mendendangkan anakanak yang terkena sakit seperti cacar air, bisul, dan sakit lainnya. Kata-kata dalam Gele yang digunakan termasuk bahasa Bima lama. Dalam kepercayaan masyarakat Bima, penyakit cacar air pada anak-anak atau dalam bahasa Bima disebut Kawaro merupakan penyakit yang sering menjangkit anak-anak pada usia balita maupun batita itu merupakan tamu yang perlu di hargai dari ujian Yang Maha Kuasa sehingga kadang di beri kemenyan dan di rayu dengan kata-kata indah yang disebut Rere. Maka setiap anak yang menderita Kawaro akan di dendangkan Gele ini untuk menenangkan hati mereka sehingga bisa tertidur pulas. Ketika Gele didendangkan seorang anak yang terkena cacar air di pangku dan ad...
Ngaha Kawiri adalah tradisi yang dilakukan sebagai ekspresi kesyukuran, mendekatkan diri kepada Allah, dan harapan dijauhkan dari musibah. Tradisi itu kini terus dilestarikan oleh warga Lingkungan Swete Kelurahan Bali I Kecamatan Dompu. Selain sebagai bentuk kesyukuran, Ngaha Kawiri juga diperuntukkan guna berharap rahmat dari Allah. Momentum Ngaha Kawiri juga meminta kepada Allah agar musim kemarau yang panjang cepat berakhir. Ngaha Kawiri didominasi anak-anak, ada pembacaan ayat suci Al-Quran, dan doa yang dipimpin tokoh agama. Ngaha Kawiri silam kerap dilakukan warga puluhan tahun bila terjadi musibah gagal panen atau bencana lainnya. Prosesi Ngaha Kawiri dulu melibatkan semua warga suatu dusun atau desa. Namun, seiring perjalanan waktu prosesi itu sedikit demi sedikit berkurang. Kalaupun sekarang ada, sebatas dilakukan dari rumah ke rumah. Momentum Ngaha Kawiri juga dirangkai bagi-...