Oom Swastiastu Namo Buddhaya Hai Warga Negara Indonesia, pecinta budaya. Kembali lagi bersama saya Erica yang akan menyalurkan ilmu kepada kawan semua nih, dan yang pastinya jangan cepat bosan yah. Oke langsung saja, kawan-kawan pernah main ke wilayah Jawa Barat atau memang tempat tinggalnya di Jawa Barat? kalo memang tinggal dan pernah main, kalian udah pernah lihat belum upacara yang dilakukan masyarakat setempat. Upacara tidak hanya di sekolah saja ya, hari senin disuruh berdiri kalau terlambat tidak boleh masuk. Ya, itu aku pernah mengalaminya kawan, jangan ditiru ya. Upacara yang dilakukan masyarakat setempat biasanya disebut dengan ritual yang dipimpin oleh kepala suku. Upacara Adat istiadat muncul dan tumbuh yang asalnya diwariskan leluhurnya (nenek moyang) pada masyarakat Sunda yang masih dilestarikan dan menjadi pedoman bagi kehidupan sosial masyarakatnya. Dalam adat istiadat Sunda, berbagai macam upacara adat yang bersifat ritual dan spiritual dan men...
Kesenian Lodong Gejlig ini mulai berdiri pada tahun 1991. Awalnya kesenian ini hanya dijadikan sebagai hiburan masyarakat setempat. Nama Lodong Gejlig berasal dari dua kata, yaitu lodong dan gejlig. Lodong adalah sebuah bambo besar yang mana oleh masyarakat Sunda digunakan sebagai wadah air nira atau dalam bahasa Sunda disebut lodong. Lodong ini kemudian dimodifikasi menjadi alat musik utama yang digunakan dalam kesenian Lodong Gejlig ini. Adapun kata Gejlig berarti dihempaskan, dengan demikian cara memainkan lodong dalam kesenian ini adalah dengan cara dihempaskan ke lantai. Lodong yang berukuran besar akan menghasilkan nada rendah, sedangkan lodong yang berukuran kecil akan menghasilkan nada yang lebih tinggi. Kesenian ini dimainkan secara berkelompok, baik laki-laki maupun perempuan. Satu kelompok biasanya berjumlah 12 hingga 24 orang. Lodong sebagai alat music utama digunakan untuk mengiringi lagu yang dinyanyikan oleh penyair. Lagu-lagu yang biasa dibawakan anatara lain lod...
Cingciripit ini biasanya dilakukan oleh-anak-anak sebelum memulai permainan untuk menentukan urutan dalam bermain atau menentukan siapa yang menjadi eméng (kucing). Cara melakukan cingciripit: Anak-anak berkumpul membentuk lingkaran, kemudian salah seorang diantara mereka (biasanya) orang yang 'dituakan' dalam kelompok membuka telapak tangan, kemudian satu persatu anak meletakan jarinya di tangan tersebut, mereka akan ngawih (bernyanyi) bersama dengan syair. Lirik Lagu Cingciripit: Cing ciripit satulang sabawang, Saha nu kajepit tunggu lawang. atau .. Cing ciripit Tulang bajing kacapit Kacapit ku bulu paré Bulu paré sesekeutna Jol pa dalang mawa wayang Jrék-jrék nong, Jrék-jrék nong. Ketika lagu hampir berakhir, pemain bersiap-siap untuk mengangkat jarinya, karena bila jari tertangkap oleh tangan si pemimpin tadi maka dia kalah dan menjadi eméng atau kucing.
Permainan tutup botol kaleng ini sudah ada dari jaman dahulu. Tidak diketahui pasti kapan permainan tradisional ini ada atau diciptakan namun yang pasti secara turun temurun permainan ini sudah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari anak-anak kecil di Jawa Barat, khususnya di daerah Kec. Pameungpeuk Kab. Garut sebagai permainan keseharian. Permainan tutup botol ini sebenarnya sama dengan bermain kelereng, percis sekali. Hanya perbedaan nya terletak pada jenis alat dan tempat yang digunakan. Kelereng menggunakan bulatan kaca padat atau kelereng untuk digunakan sebagai media permainannya sementara permainan tutup botol ini menggunakan media tutup botol kaleng sebagai bahan permainannya. Selain itu, alas yang digunakan atau tempat bermain kelerang yakni menggunakan media pasir atau tanah sebagai alas permainan sementara permainan tutup botol kaleng menggunakan teras rumah atau alas semen sebagai tempat bermainnya. Tatacara permaninan Sama halnya dengan bermain kelereng,...
Berbicara mengenai zaman now, yaitu zaman di era industri 4.0 ini banyak sekali kaulinan barudak (permainan anak) sunda yang sudah tidak dimainkan lagi alias hampir punah. Kalo bukan kita yang melestarikan, ya siapa lagi? kalo bukan sekarang ya kapan lagi?. Ada beberapa permainan anak sunda yang hampir punah ditelan zaman, di antaranya adalah: 1. Bebentengan. Permainan ini mengajarkan kita fokus, kerjasama tim, dan disiplin. 2. Boy-boyan. Permainan tradisional dengan total pemain 5-10 orang 3. Main poces (kelereng) 4. Main Gatrik 5. Oray-Orayan (ular-ularan) 6. Congklak 7. Susumputan (petak umpet) 8. Egrang. Biasanya membutuhkan keseimbangan Demikian beberapa permainan yang sudah jarang dimainkan oleh anak-anak sunda zaman now. Bahan bacaan: https://www.hipwee.com/list/beberapa-kaulinan-barudak-permainan-anak-sunda-yang-sudah-jarang-dimainkan/
Kali atau Sungai Chandra Bhaga yang dibangun pada zaman Kerajaan Tarumanegara memiliki cerita rakyat salah satunya, Legenda Buaya Putih. Konon, pada zaman dahulu ada seorang jawara sakti mandra guna yang memiliki ilmu silat yang tinggi. Sang jawara tinggal di tepi Kali Bekasi dan selalu berpakaian khas jawara lengkap dengan goloknya. Ia memiliki seorang anak gadis yang cantik jelita dan juga seorang pendekar silat yang hebat. Konon katanya, sang gadis memiliki jurus-jurus andalan yang sulit ditebak. Singkat cerita, sang gadis beranjak dewasa namun belum juga memiliki suami. Sang ayah yang juga seorang juragan kaya yang disegani tidak ingin memilih sembarang orang untuk menjadi menantunya. Lalu, sang Ayah mengadakan sayembara, “Barangsiapa yang mampu mengalahkan ilmu silat anak gadisku, akan kujadikan suami bagi anakku.” Tak lama berita itu tersebar diseluruh Bekasi, datanglah berbondong-bondong pemuda pendekar silat dari Depok, Bogor dan Sunda Kelapa (Jakarta). S...
Di suatu kampung, hidup dua yatim piatu yang tidak punya saudara, yatim piatu itu si nyai dan si ujang. Hidup sehari-harinya hanya berharap dari pemberian dari tetangga. Suatu hari dua anak yatim piatu itu main ke hutan, bukan hanya bermain tapi mereka juga sambil mencari makanan. Di tengah hutan mereka menemukan pohon jambu yang lebat buahnya dan buahnya sangat matang. Tapi si ujang tidak tahu kenapa sedikit malas seperti ada firasat akan ada kejadian yang membahayakan. Tapi mendengar adiknya menangis tersedu-sedu karna lapar dari subuh mereka belum makan apapun. Kalah dengan tangisan adiknya, akhirnya si ujang menyanggupi untuk memetik jambu itu “akang naik tapi nyai harus hati-hati kalau ada apa-apa dibawah nyai harus cepat-cepat bicara ke akang” nyai mengangguk tandanya mengerti. Naiklah si ujang ke pohon jambu maksudnya untuk memetik jambu untuk si nyai adiknya yang sedang lapar karna belum makan dari pagi. Si ujang naik ternyata ada ular sanca sebesar pohon...
Pemandangan tugu bulan-bulan yang berada di jalan Juanda, Kota Bekasi, tepatnya dekat stasiun Bekasi, kini sudah bebeda. Pasalnya, tugu yang dahulunya dihiasi patung lele, kini ditanamkan lima bambu runcing. Bambu runcing itu, sebagai simbol Kota Patriot (Bekasi). Yang melakukan penanaman itu, adalah Paguyuban Pemangku Seni Budaya Bekasi Raya Ditancapkannya bambu runcing pada tanggal 17 Januari 2017, untuk mengenang sejarah 17 Januari 1950 silam. Dimana pada saat itu, ada sebuah apel akbar yang dilakukan Singa Karawang-Bekasi, dan saat itu ada sebuah peristiwa bersejarah dengan nama Bekasi lautan api. Simbol lima bambu runcing ini untuk mengenang ulang kembali sejarah rakyat Bekasi, berupa apel akbar pada tanggal 17 Januari 1950 yang dimotori KH. Noer Alie. Salah satunya, pemekaran Kota dan Kabupaten Bekasi serta melahirkan NKRI pada saat itu. Melalui Peraturan Daerah Kota Bekasi Nomor : 01 Tahun 1998 disahkanlah lambang daerah Kota Bekasi. Lambang...
Di Kampung Radio, Desa/Kecamatan Cililin, Kabupaten Bandung Barat (KBB), terdapat bangunan tua yang sudah tidak dipakai. Dulunya bangunan tersebut merupakan kantor radio tertua di Indonesia. Ada dua bangunan yang saling berdampingan di sana. Satu gedung utama dan lainnya untuk tempat mesin perlengkapan radio. Luasnya bangunan utama sekira 18x12 meter persegi dan tinggi 8 meter, sedangkan bangunan satu lagi lebih kecil. Bangunan utama gedung itu kosong dan tidak terlihat lagi seperti sebuah kantor penyiaran. Tumpukan batang pohon pinus tampak di beberapa sudut. Sepeda motor warga terparkir di sana. Beberapa bagian temboknya sudah hancur. Namun, secara umum, gedung itu masih gagah. Sementara dinding gedung tempat menyimpan peralatan perlengkapan radio mayoritas terbuat dari batu-batu berukuran besar. Ada sejumlah pintu yang kini ditutupi oleh seng. Di bagian dalamnya terlihat banyak semak belukar dan pepohonan. Kepala Resort Pemangkuan Hutan (KRPH) Cililin, Ade Rat...