Produk Arsitektur
Produk Arsitektur
Gedung Jawa Barat Cililin
Gedung Radio Pertama di Indonesia #DaftarSB19
- 16 Februari 2019

Di Kampung Radio, Desa/Kecamatan Cililin, Kabupaten Bandung Barat (KBB), terdapat bangunan tua yang sudah tidak dipakai. Dulunya bangunan tersebut merupakan kantor radio tertua di Indonesia.

Ada dua bangunan yang saling berdampingan di sana. Satu gedung utama dan lainnya untuk tempat mesin perlengkapan radio. Luasnya bangunan utama sekira 18x12 meter persegi dan tinggi 8 meter, sedangkan bangunan satu lagi lebih kecil.

Bangunan utama gedung itu kosong dan tidak terlihat lagi seperti sebuah kantor penyiaran.

Tumpukan batang pohon pinus tampak di beberapa sudut. Sepeda motor warga terparkir di sana. Beberapa bagian temboknya sudah hancur. Namun, secara umum, gedung itu masih gagah.

Sementara dinding gedung tempat menyimpan peralatan perlengkapan radio mayoritas terbuat dari batu-batu berukuran besar. Ada sejumlah pintu yang kini ditutupi oleh seng. Di bagian dalamnya terlihat banyak semak belukar dan pepohonan.

Kepala Resort Pemangkuan Hutan (KRPH) Cililin, Ade Ratmana, mengumpulkan data seputar sejarah gedung tersebut.

Dia menjelaskan, pada 1908-1916, seorang pria Belanda, Raymond Sircke Hessilken, merintis area untuk pembangunan kantor radio yang diawali dengan pembebasan lahan seluas 17 hektare.

"Pada 1916 dibangun Gedung Telepoonken Cililin. Namun karena berada di lembah, siaran sering terganggu,” katanya.

Pada November 1918, Raymond memperluas area dengan menambah sekira 10 hektare. Di dataran paling tinggi, dipasang antena pemancar radio.

“Sehingga radio bisa berfungsi sampai ke Eropa Barat dan Amerika,” ungkapnya.

Lewat saluran radio itulah para penjajah Belanda berkomunikasi dengan negaranya.

Pada 1923, Gedung Telepoonken Cililin dipegang dan dioperasikan Sukinta, petugas Telepoonken pindahan dari Manokwari. Saat itu, dibangun tiga bangunan pendukung dan gedung bawah tanah untuk menaruh generator.

“Tahun 1924, Telepoonken berubah nama jadi Radio Nirom atau Nederland Indishe Radio Ommelanden,” jelasnya.

Namun, Radio Nirom ternyata kurang berfungsi dengan baik. Pemancar radio dan berbagai peralatan di sana kemudian dipindah ke Rancaekek dan Dayeuhkolot.

Setelah berbagai peralatan dipindah, gedung radio Nirom di Cililin praktis tidak berfungsi lagi. Radio Nirom yang baru kemudian beroperasi di kawasan Gunung Puntang yang kini masuk wilayah Banjaran, Kabupaten Bandung.

Lahan semula kemudian dikuasai oleh Dinas Kehutanan setelah mendapat izin dari Departemen Agraria pada 1937. Bangunan utama digunakan Bosch Wesen dan bangunan lain dihuni Waker. Pada 1944, tanah dan bangunan di lokasi kemudian sempat telantar.

Usai Proklamasi RI, seluruh aset asing harus dinasionaliasikan, termasuk gedung radio. Pada 1945 hingga 1949, gedung itu kemudian dijadikan markas Badan Keamanan Rakyat (BKR) Kewedanaan Cililin. Lalu, pada 1950-1973, dijadikan markas Batalyon (Yon) 22 Jaya Pangrengot hingga Yon 327 Divisi Siliwangi.

Pada Maret 1973, seluruh pasukan ditarik dari sana karena Pangdam IV/Siliwangi menyerahkan kembali tanah dan bangunan radio ke Perum Telekomunikasi Daerah 8 Bandung.

Tanah dan bangunan kemudian diserahkan ke masyarakat yang diterima Bupati Bandung saat itu, Lily Sumantri. Bupati lalu menyerahkannya lagi ke Departemen P dan K Provinsi Jawa Barat masih pada Maret 1973.

Pada Desember 1981, Bupati Bandung meminta ke Perum Telekomunikasi agar sebagian lahan dijadikan sekolah yang kemudian berdiri SMA Negeri 1 Cililin. Tiga gedung yang tak jauh dari Gedung Radio pun jadi sekolah. Sedangkan gedung radio tidak dipakai.

Ade berharap, gedung tersebut diperbaiki dan dijaga keasliannya karena merupakan warisan sejarah. “Suatu saat nanti anak-cucu kita pasti bertanya soal gedung itu. Walaupun tinggal puing, harus dipertahankan," tuturnya.

 

Sumber: https://news.okezone.com/read/2014/01/08/528/923290/jejak-kantor-radio-nirom-belanda-di-cililin

 

Diskusi

Silahkan masuk untuk berdiskusi.

Daftar Diskusi

Rekomendasi Entri

Gambar Entri
Kidung Lakbok
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
Jawa Barat

Kidung Lakbok atau Wawacan Kidung Lakbok adalah karya sastra lama berbentuk wawacan yang berasal dari Kecamatan Lakbok, Kabupaten Ciamis. Naskah ini diterbitkan kembali dan disusun rapi oleh M. Karso Prawiraatmadja di Bandjar pada tanggal 31 Agustus 1956. Karya ini menyimpan nilai sejarah dan kearifan lokal masyarakat setempat. Dokumentasi digital dan data ini disusun serta disumbangkan oleh Henri Purwanto.

avatar
Henripurwanto
Gambar Entri
HUDON TANO (Periuk Tanah)
Ornamen Ornamen
Sumatera Utara

HUDON TANO (Periuk Tanah) Di bawah ini merupakan foto tua (foto jaman dulu) penjual Hudon Tano (Periuk Tanah) di Onan (Pasar) Tarutung di tahun 1930. Masyarakat Batak yang tinggal di Sipoholon, Tarutung, dahulu kala terkenal sebagai "Sitopa Hudon" (pembuat periuk tanah). Dahulu, Hudon Tano ini digunakan secara meluas di Tanah (Tano) Batak sebagai alat masak tradisional. Bisa dibayangkan betapa enak dan nikmat rasanya melihat dan menikmati arsik atau menggulai Ikan Mas atau Ikan Batak (Ihan Batak), Porapora (Ikan Air Tawar), Haruting (Ikan Gabus), SIbahut (Ikan Lele), dan Incor (Ikan Air Tawar Kecil) yang dimasak menggunakan Hudon Tano ini... Sumber Foto : KITLV 28692

avatar
Hokker
Gambar Entri
Benda Magis Masyarakat Batak Toba
Ornamen Ornamen
Sumatera Utara

Benda Magis Masyarakat Batak Toba : Pagar Jabu - Sahan - Pohung 3 benda magis ini termasuk kategori Ilmu Putih yang berfungsi sebagai pelindung dari sihir dari niat orang jahat. PAGAR JABU (Bahasa Batak Karo : Bekam-bekam), berbentu tanduk hewan berisi sibiangsa (ramuan magis) yang berfungsi sebagai pelindung rumah dari serangan sihir jahat. SAHAN, terbuat dari gading atau tanduk tempat menyimpan pupuk (abu jenazah) yang memiliki kekuatan magis sebagai pagar (pelindung) dan konon dapat diminta untuk membinasakan musuh. POHUNG, sejenis ukiran yang dibungkus ijuk lalu diisi ramuan magis. Pohung ditempatkan di dalam rumah dan / atau di kebun yang memiliki fungsi mencegah niat jahat / pencuri hasil kebun dan harta di rumah. Sumber Koleksi : Museum Negeri Provinsi Sumatera Utara

avatar
Hokker
Gambar Entri
ILMU TAMBA TUA
Naskah Kuno dan Prasasti Naskah Kuno dan Prasasti
Sumatera Utara

Ilmu Tamba Tua adalah Elmo Kuno Batak (Ilmu Putih), dahulu ilmu ini dipercaya jika diamalkan akan mendatangkan kemakmuran serta kekayaan. Transliterasi (alih aksara) : ahu debata ni raja di bindu jao raja ni tam (ba) tua raja on di sim- bora di bulung hayu na denggan go- rar pe i do jadi lapi ni ta- taring ni ru- manta jadi tondolan ni balatuk ni rumah bea la... Rajah "gambar" di bawah bernama dewa "bindu jao". Rajah ini ditulis pada timah dan daun kayu (jenis yang bisa dituliskan). Rajah ini akan membawa kemakmuran bagi penghuni rumah apabila dibuat menjadi alas tungku perapian dan jika diletakkan sebagai alas tangga rumah. Sumber Foto : Verzeichnis der orientalischen handschriften in Deutschland

avatar
Hokker
Gambar Entri
Tulisan Tangan Ompu i Pendeta Dr I.L. Nommensen (Aksara dan Bahasa Batak Toba)
Naskah Kuno dan Prasasti Naskah Kuno dan Prasasti
Sumatera Utara

Surat Tulisan Tangan Ompu i Pendeta Dr I.L. Nommensen tahun 1871 dengan Aksara Batak Toba dan Bahasa Batak Toba Klasik (na robi). Nommensen, Apostel Orang Batak dan Ephorus HKBP Pertama tahun 1881 - 1918, sangat fasih berbahasa Batak Toba klasik dan kontemporer (na imbaru), Nommensen juga sangat mengusai tulisan dan / atau aksara Batak Toba. Surat yang ditulis tangan Ompu i Nommensen di Pearaja, Tarutung, tanggal 02 Agustus 1871 ini merupakan dokumen dan bukti sejarah yang sangat penting, yang menunjukkan betapa Beliau menguasai serta menghormati adat, budaya, tradisi, dan literasi masyarakat Batak Toba. Beliau tidak memaksakan bahasa Jerman dan aksara Latin, tetap justru menggunakan bahasa dan aksara asli masyarakat Batak Toba untuk berkomunikasi dan mendokumentasi pelayanannya. Sumber Foto : Sopo Nommensen, Pearaja, Taruutung Sumatera Utara

avatar
Hokker