PAPUA , wilayah paling timur Indonesia ini dikenal menyimpan kekayaan alam yang luar biasa. Ada laut yang indah, pantai pasir putih, gunung, hutan, rimba, dan kebun. Objek wisata yang paling mendunia adalah Raja Ampat. Setiap turis yang datang, baik lokal maupun mancanegara pasti kagum melihat pulau-pulau yang bersusun di sekelilingnya. Namun, bicara soal Papua dan kekayaan alamnya, maka tak lengkap jika tak bicara soal makanan khas kawasan yang disebut-sebut surga dunia ini. Makanan khas Papua yang paling terkenal kelezatannya adalah Papeda dan sop asam, berbagai olahan ikan. Meski semua itu nikmat dan menggugah selera tetapi ada satu rahasia yang membuat masakan khas Papua jadi super nikmat. Apalagi kalau bukan sambal dabu-dabu. Sambal yang disajikan mentah ini sangat membuat semua makanan naik level jadi lebih sensasional. Menurut Tante Selly, wanita paruh baya asal Papua yang tinggal di Wardo, Biak, sambal dabu-dabu adalah sambal yang disajikan untuk makanan seh...
Wati adalah salah satu minuman tradisional yang tumbuh dan berkembang pada masyarakat Malind Animn di pesisir pantai selatan mulai daratan Selatan Kondo pertabatasn RI-PNG sampai di daratan pulau Kimaam, di Kabupaten Merauke, Provinsi Papua. Wati (piperaceae misthycum) merupakan salah satu jenis tumbuhan, bagian yang digunakan adalah Akar dan batang. Wati dalam masyarakat Marind Anim mempunyai fungsi yang beragam antara lain; sebagai pembayaran mas kawin, sarinya disuguhkan dalam acara adat, upacara adat. Dalam acara ini mereka boleh menyediakan untuk tamu terhormat dan orang boleh minum dalam jumlah besar. Dahulu sarinya diperas lewat mulut gadis-gadis yang ditumpahkan dalam tempurung kelapa lalu diminum oleh laki-laki dan bisa tidur untuk beberapa hari lamanya. Sekarang wati bisa minum atau diolah oleh masing-masing individu. Keberadaan Magna Wati pada masyarakat Malind Anim merupakan salah satu benda yang sangat berharga, dapat dikatakan Wati sebagai maskawin orang Malind selain...
Worasyu berasal dari kata oras, yang artinya induk dari papeda bungkus, sedang yu berarti menyanyi. Jadi worasyu dalam artinya yang pertama, melambangkan rejeki yang berlimpah-limpah, sedang pengertian yang lain adalah pengangkatan status sosial dan derajat wanita yang berhasil memelihara ternak babi yang jumlahnya mencapai 30 sampai 80 ekor. Pemeliharaan babi disebut wotiaken. Besar-kecilnya penyelenggaraan upacara worasyu itu sangat tergantung dari hasil yang diperoleh. Bila hasilnya sedikit, biasanya diadakan upacara sederhana yang disebut worasnasi, yaitu mengadakan penguburan papeda bungkus atau Finukhu dan tepung sagu sebagai sesajen kepada fowor. Fowor atau roh adalah salah satu ciptaan dari Dewa Chaimbo kepercayaan masyarakat Arso yang berada di Kabupaten Jayapura yang sekarang telah dimekarkan menjadi Kabupaten Keerom. Masyarakat yang mendiami wilayah Jayapura tidak asing lagi dengan papeda bungkus karena merupakan warisan budaya turun temurun. Finukhu (papeda bungkus)...
Nagasari atau Sayur Ular adalah jenis makanan tradisional masyarakat dari kampong waryei kabupaten Supiori provinsi papua. Yaitu olahan sayur ular dengan ikan cekalang asar, Sayur ini biasanya dimasak pada siang hari dan malam hari karena paling enak makan pada siang dan malam hari. Bahan: Sayur ular, ikan cakalang asar dan santan kelapa. Cara memasak dilakukan dengan menggunakan tungku. Sumber : https://warisanbudaya.kemdikbud.go.id/wbtb/?newdetail&detailCatat=5197
Soriden adalah jenis makanan tradisional masyarakat dari kampong waryei kabupaten Supiori provinsi papua. Bahan: Sagu Air Panas Cara Pembuatan: Yaitu olahan Sagu dengan air panas, air yang dimasak mendidi kemudian dicampur dengan sagu. Soriden ini biasanya dimasak pada siang hari dan malam hari karena paling enak makan pada sinag dan malam hari. Sumber : https://warisanbudaya.kemdikbud.go.id/wbtb/?newdetail&detailCatat=5198
Keladi atau yang biasa mereka sebut dalam bahasa Me adalah nomo adalah salah satu makanan tradisional penduduk Paniai yang masih ada sampai sekarang, salah satunya. Keladi atau nomo merupakan makanan yang biasa mereka konsumsi sehari-hari, selain itu juga harus tetap ada pada saat acara-acara adat. Cara Pengolahan: Cara mengolah keladi atau nomo cukup sederhana, yaitu biasa diolah dengan cara dibakar batu, bakar langsung di bara api atau dikubur dalam abu yang panas dan dapat pula direbus. Untuk bakar batu menggunakan keladi atau nomo, biasa digunakan dalam acara-acara adat, seperti pesta yuwo (pesta babi). Sumber : https://warisanbudaya.kemdikbud.go.id/wbtb/?newdetail&detailCatat=3209
Wati adalah salah satu minuman tradisional yang tumbuh dan berkembang pada masyarakat Malind Animn di pesisir pantai selatan mulai daratan Selatan Kondo pertabatasn RI-PNG sampai di daratan pulau Kimaam, di Kabupaten Merauke, Provinsi Papua. Wati (piperaceae misthycum) merupakan salah satu jenis tumbuhan, bagian yang digunakan adalah Akar dan batang. Wati dalam masyarakat Marind Anim mempunyai fungsi yang beragam antara lain; sebagai pembayaran mas kawin, sarinya disuguhkan dalam acara adat, upacara adat. Dalam acara ini mereka boleh menyediakan untuk tamu terhormat dan orang boleh minum dalam jumlah besar. Dahulu sarinya diperas lewat mulut gadis-gadis yang ditumpahkan dalam tempurung kelapa lalu diminum oleh laki-laki dan bisa tidur untuk beberapa hari lamanya. Sekarang wati bisa minum atau diolah oleh masing-masing individu. Keberadaan Magna Wati pada masyarakat Malind Anim merupakan salah satu benda yang sangat berharga, dapat dikatakan Wati sebagai maskawin orang Malind sel...
Petatas Tumbuk adalah jenis makanan tradisional masyarakat dari kampong waryei kabupaten Supiori provinsi Papua. Cara Pembuatan: Pertama petatas direbus sampai masak, kemudian ditumbuk sampai halus, masukan bawang goring putih dan merah, gula pasir dan garam secukupnya, masukan kelapa parut dan ditumbuk sampai semuanya halus dan siap untuk dihidangkan di diatas meja makan. Masakan petatas tumbuk ini biasanya disajikan di rumah-rumah sebagai makana sehari-hari dan juga disajikan diacara-acara pembayaran adat (pembayaran mas kawin). Sumber : https://warisanbudaya.kemdikbud.go.id/wbtb/?newdetail&detailCatat=5201
Mot Nafder adalah jenis makanan tradisional masyarakat dari kampong Goni kabupaten Nabire provinsi papua. Yaitu olahan sagu dengan daging babi, motnafder ini biasanya dimasak pada siang hari dan malam hari karena paling enak makan pada siang dan malam hari. Proses masak mengunakan kompor tradisional yaitu tungku api yang bahan dasarnya adalah kayu. Sumber : https://warisanbudaya.kemdikbud.go.id/wbtb/?newdetail&detailCatat=5203