940 entri ditemukan

Entri per provinsi
Entri per provinsi

Entri Terkait

Gambar Entri
Ceha Kila
Permainan Tradisional Permainan Tradisional
Nusa Tenggara Timur

Ceha Kila dalam pengertian sederhana berarti “sembunyi cincin”. Ceha Kila merupakan salah satu jenis permainan dalam budaya orang Manggarai yang diwariskan secara turun-temurun dari nenek moyang sejak dahulu kala. Permainan ini dimainkan dua kelompok, misalnya A dan B, dengan jumlah anggota yang tidak ditentukan. Setiap kelompok memiliki satu orang pemimpin utama yang dalam Bahasa Manggarai disebut Sando . Kedua kelompok yang terlibat dalam permainan tersebut akan berlomba untuk menentukan siapa yang lebih jago, jeli, dan cerdik. Kapan Ceha Kila dapat dimainkan? Permainan Ceha Kila tidak dapat dimainkan secara sembarangan.  Ceha Kila  hanya dimainkan ketika ada orang yang meninggal.  Permainan ini  dilangsungkan selama tiga malam berturut-turut, terhitung sejak jenasah atau jasad orang yang sudah meninggal dikuburkan. Apa tujuan atau makna dibaliknya? Permainan Ceha Kila bertujuan menghibur keluarga yang sedang berduka....

avatar
Deni Andrian
Gambar Entri
Perpetu
Ritual Ritual
Nusa Tenggara Timur

Bagi umat Katolik di Larantuka, Nusa Tenggara Timur, perayaan Paskah bukan hanya peringatan Hari Kebangkitan Isa Al Masih bagi umat Kristen. Namun juga merupakan ritual agama yang memadukan ritual ibadah dan adat, sebuah perayaan budaya. Bukan hanya jemaat dari desa-desa di Larantuka yang menikmati perayaan itu. Peziarah dari penjuru nusantara yang lain dan turis mancanegara pun datang untuk menyaksikan kemeriahan ritual Paskah di Larantuka. Menjelang acara puncak Semana Santa pada Jumat (14/4), umat di Kapela Tuhan Meninu, Kelurahan Sarotari, menggelar ritual Perpetu. Ritual ini memiliki arti, petugas Mardomu pada tahun sebelumnya yang tetap melayani Tuhan dengan membakar lilin di dalam gereja. "Semua ibu-ibu tidur di kapela/gereja sampai jam 03.00 WIB subuh. Nanti dilanjutkan dengan upacara Trewa dengan membunyikan lonceng dan disambut oleh warga dengan segala macam bunyian sebagai lambang mulai berkabung," ujar Sekretaris panitia Semana Santa, Mikael Mige Sakera ke...

avatar
Deni Andrian
Gambar Entri
Ritual Cium Tuan
Ritual Ritual
Nusa Tenggara Timur

Ribuan peziarah dari seluruh Indonesia, umat Katolik di Kabupaten Flores Timur, bahkan mana negara, sejak Kamis Putih (13/4/2017), mendatangi Kapela Tuan Ma, Tuan Ana dan Tuan Meninu di Kota Larantuka, serta Kapela Tuan Berdiri di Wure pulau Adonara. Sesaat setelah keturunan Raja Larantuka bersama Uskup Larantuka membuka Kapela Tuan Ma dan melakukan ritual Cium Tuan, peziarah dan umat yang antri dipersilahkan melaksanakan ritual tersebut. Saat ditemui Cendana News di Kapela Tuan Ma, Kamis (13/4/2017), Veronika Susanti, seorang peziarah asal Jakarta mengatakan, ia bersama rombongan tiba di Larantuka sejak Selasa (11/4/2017)  sore dan mulai mengikuti ritual Trewa di hari Rabu serta ikut dalam ritual Cium Tuan. “Saya mengetahui Semana Santa di Kota Larantuka dari teman-teman di Gereja Katedral, Jakarta, yang sebelumnya sudah pernah ziarah ke sini, sehingga kami tertarik dan datang dengan rombongan,” ujarnya. Veronika mengaku sangat tertarik dengan ritual sela...

avatar
Deni Andrian
Gambar Entri
Rumah Adat Koke Bale
Produk Arsitektur Produk Arsitektur
Nusa Tenggara Timur

Setahun sekali masyarakat adat Demon Pagong mendatangi Koke Bale, rumah adat Lewo atau Kampung di Desa Lewokluok. Rumah adat dibersihkan karena digelar berbagai ritual adat di tempat yang dianggap sakral ini.  Sepintas bangunan ini nampak biasa saja, tak ada yang istimewa bagi orang kebanyakan yang pertama melihatanya. Namun jika ditelesuri lebih jauh, bangunan panggung beratap empat air ini memiliki makna penting dan dianggap sebagai identitas suku Demon Pagong. Areal Korke atau Koke Bale terdiri atas beberapa bagian dimulai dari bagian terluar yang terdiri dari susunan batu–batu pipih sebagai pembatas. Untuk sampai ke pelatataran, harus melewati beberapa buah tangga. Yoseph Ike Kabelen, mantan Ketua Lembaga Pemangku Adat Desa Lewok Luok saat disambagi Cendana News, Sabtu (18/6/2016) menerangkan,di bagian tengah terdapat sebuah pelataran yang ukurannya lebih besar dari pelataran pertama yang dianamakan Namang .  Tempat ini dipakai sebagai...

avatar
Deni Andrian
Gambar Entri
Desa Adat Bena
Produk Arsitektur Produk Arsitektur
Nusa Tenggara Timur

Desa Adat Bena di Flores masih mempertahankan adat istiadat leluhurnya. Alamnya nan syahdu, penduduknya ramah mebmuat siapapun ingin berkunjung ke sini. Desa Adat Bena, satu dari beberapa desa di daerah Bajawa Flores yang masih mempertahankan adat istiadat leluhur mereka. Terdapat 45 buah rumah yang saling mengelilingi dengan 9 suku yang menghuni rumah-rumah tersebut, yaitu suku Dizi, suku Dizi Azi, suku Wahto, suku Deru Lalulewa, suku Deru Solamae, suku Ngada, suku Khopa, dan suku Ago. Pembeda antara satu suku dengan suku lainnya adalah adanya tingkatan sebanyak 9 buah dan setiap satu suku berada dalam satu tingkat ketinggian. Susunan rumah-rumah di Bena terlihat sangat unik karena bentuknya yang melingkar membentuk huruf U, dan setiap rumahnya pun memiliki hiasan atap yang berbeda satu sama lainnya berdasarkan garis keturunan yang berkuasa dan tinggal di rumah tersebut. Ketika melangkah di teras-teras bertingkat ini aku sering diingatkan oleh para penduduk Desa Bena...

avatar
Deni Andrian
Gambar Entri
Desa Adat Gurusina
Produk Arsitektur Produk Arsitektur
Nusa Tenggara Timur

Kampung Gurusina berada di Desa Watumanu, Kecamatan Jerebu, Kabupaten Ngada, Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur. Tepatnya di lereng Gunung Inerie.   "Desa ini berada di kaki gunung Inerie yang sangat indah. Alam pegunungan ini sangat memukau," papar Marius Ardu Jelamu, Kepala Dinas Pariwisata NTT, saat dihubungi kumparanTRAVEL , Selasa (14/8). Sedikit menengok kebelakang, dahulu tahun 1934 desa megalitikum ini berada di puncak sebuah gunung. Kala itu, kampung ini ditemukan oleh seorang misionari Belanda.   "Baru tahun 1942 pindah ke tempatnya yang sekarang," jelasnya.   Kampung ini dihuni oleh tiga marga yang berbeda, yaitu Ago ka'e, Ago gasi, dan Kabi. Semuanya masih berhubungan darah dan keluarga.   Yang jadi daya tarik dari kampung ini karena rumah adatnya yang unik. 33 rumah adat itu semuanya terbuat dari bambu dan beratap alang-alang....

avatar
Deni Andrian
Gambar Entri
Legenda Naga Kepala Tujuh (Naga Kotom Pito)
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
Nusa Tenggara Timur

Jakarta  - Perjalanan menembus hutan dan mendaki tebing yang menguras keringat selama setengah jam itu terbayar lunas ketika kami tiba di pantai berpasir putih kecokelatan dengan batu besar berdinding tajam. Pantai Kateki, Tanjung Bunga, Flores Timur. Kami menyusuri bibir pantai lalu menjejakkan kaki pada halusnya pasir. Hanya ada keheningan karena industri wisata belum menjamah tempat ini. Matheus berdesis kepada kami. Kepalanya ditolehkan pada satu titik di cakrawala. “Di situlah sang naga berkepala tujuh tinggal,” kata Matheus Kasaluron pada awal Oktober lalu. Matheus adalah pria 26 tahun yang mengantar kami ke sana. Sang naga yang dimaksud Matheus adalah legenda dalam cerita rakyat di Tanjung Bunga. Tempat tinggalnya berupa gua panjang disebut Tanabela. Saban awal tahun, ketika angin muson barat tiba, naga keluar dari sarangnya. Dia memuntahkan rezeki untuk mereka yang mencari sumber...

avatar
Deni Andrian
Gambar Entri
Desa Tololela
Produk Arsitektur Produk Arsitektur
Nusa Tenggara Timur

Waktu yang tepat untuk ke Desa Tololela adalah ketika sore hari. Pemandangannya akan semakin indah, kamu bisa melihat langit yang memerah dan pepohonan memesona. Jangan khawatir kemalaman, karena di sini ada fasilitas tempat menginap dan makanan. Kamu bisa berkenalan dengan warga setempat dan ikut memasak bersama mereka. Setelah itu makan bersama dan menikmati cita rasa khas Flores yang mantap di lidah. Objek wisata budaya ini bisa ditempuh dengan trekking selama 1 jam dari Desa Bena. sumber: https://travelingyuk.com/desa-adat-flores/94386/ #SBJ

avatar
Deni Andrian
Gambar Entri
Desa Belaraghi
Produk Arsitektur Produk Arsitektur
Nusa Tenggara Timur

Desa Belaraghi juga kukuh mempertahankan adat masyarakat Ngada di Flores. Seakan tak peduli dengan kemelut dunia modern, aktivitas bertani hingga mewarisi tradisi tetap dijalankan. Menuju ke desa ini pun bisa kamu lakukan dengan trekking. Ada dua jalur yang bisa ditempuh yaitu 11 km dan 3 km. Kamu bisa memilih sesuai dengan keinginanmu. Dua-duanya menawarkan pemandangan alam yang indah. Warga desa sangat senang jika ada yang berkunjung. Disediakan rumah tamu dan biasanya juga disuguhi dengan berbagai makanan seperti ubi rebus, pisang, hingga talas. Kemudian ada juga kopi dan arak. Pergi ke Belaraghi, sebuah dusun tradisional yang masih mempertahankan hampir seluruh aspek tradisi masyarakat Ngada, sebaiknya dilakukan pagi hari karena selain dusunnya yang menjadi tujuan utama juga semua keaslian dan perkembangan masyarakat yang dilalui di sepanjang jalan menuju Aimere begitu menarik. Ngada terkenal karena jeratan daya tarik masyarakatnya yang memilih untuk mempertahankan...

avatar
Deni Andrian