Pummi adalah semacam rok mini yang dibuat dari anyaman daun sagu. Rumbai-rumbai pummi dilepas begitu saja hingga terurai disekeliling pinggul dan paha. Pummi ini dipakai oleh kaum laki-laki. Kaum perempuan memakai tok . Tok merupakan sejenis cawat atau celana dalam. Tok adalah pummi yang rumbai-rumbai bagian depannya dikumpulkan lalu ditarik ke bagian belakang pinggul melalui celah paha sehingga menyerupai cawat.
Ewer merupakan pakaian adat yang berasal dari Papua Barat. Pakaian ini terbuat dari jerami yang telah dikeringkan. Saat ini, Ewer dilengkapi dengan baju kain untuk atasannya seiring dengan adanya perkembangan zaman. Jerami kering biasanya hanya digunakan untuk rok wanita. Bagi wanita, atasan yang digunakan adalah baju kurung yang terbuat dari bahan kain beludru, kemudian dilengkapi dengan aksesoris-aksesoris seperti gelang, kalung, dan penutup kepala. Pakaian adat ewer digunakan pria zaman dahulu hanya rok rumbai dari jerami yang dikeringkan. Akan tetapi, saat ini ewer untuk pria biasa dibuat dari kain beludru untuk celana pendek dan baju rompi. Aksesoris yang digunakan pria biasanya adalah penutup kepala dan kalung, perisai, tombak, dan panah. Sumber: http://adat-tradisional.blogspot.com/2016/08/pakaian-adat-papua-barat.html #OSKMITB2018
Upacara pernikahan merupakan sesuatu yang sakral. Mengikat dua insan dalam perjanjian suci. Suku Mbaham merupakan suatu suku yang mendiami Kabupaten Fakfak, Provinsi Papua Barat. Dalam upacara pernikahan suku Mbaham ada beberapa prosesi. Yang pertama adalah Nahahara atau dikenal juga ramah tamah yang bertujuan untuk saling mengenal antara keluarga mempelai laki-laki dan mempelai perempuan. Dalam acara ramah tamah ini, pihak laki-lakilah yang mengunjungi kediaman perempuan. Setelah Nahahara, maka mempelai laki-laki akan menyiapkan undangan, yang dikenal juga sebagai Mahi Ngkoja. Undangan ini dibungkus oleh tembakau (Mahi Tuni) yang diolah sendiri oleh mama-mama dari keluarga laki-laki serta daun nipah (Pandoki). Undangan ini dibagikan kepada seluruh kerabat dan keluarga untuk menentukan tempat dan waktu pernikahan. Setelah seluruh keluarga menerima undangan dalam bentuk bungkus tembakau serta mengetahui tempat dan waktu pernikahan, gong (Mongmongka) akan dipukul untuk menanda...
Situs ini terletak di desa Kokas, Kabupaten Fakfak, Papua Barat. Ditempat ini ditemukan berbagai cap tangan berwarna merah yang terlukis pada dinding-dimding batu di tebing dan gua yang terletak di pinggir laut. Obyek Wisata Sejarah ini dikenal sebagai Situs Purbakala Kokas atau penduduk setempat menyebutnya Situs Purbakala Tapurarang. Karena warna merah pada lukisan cap tangan di tebing tersebut menyerupai warna darah manusia. Masyarakat setempat juga sering menyebut Tapurarang sebagai lukisan cap tangan darah. Untuk mencapai Situs Purbakala Kokas, Dari terminal Fakfak, Anda harus menempuh perjalanan darat menuju Kokas sejauh 50 kilmeter dengan waktu tempuh sekitar 2 jam. Biaya transportasinya hanya sebesar Rp 25.000 per orang, sekali jalan. Tiba di Kokas, perjalanan masih harus dilanjutkan menggunakan longboat dengan waktu tempuh sekitar 1 jam. Jika air sedang pasang, Anda bisa naik ke tebing dan menyaksikan lukisan ini dari dek...
Pakaian adat/tradisional Papua Barat dinamakan dengan pakaian Serui. Pakaian adat Papua barat tidak terlalu jauh dengan pakaian adat Papua, pakaian adat laki-laki maupun perempuan tidak terlalu berbeda. Pada laki-laki dan perempuan sama memakai hiasan kepala berupa burung cendrawasih , bulu burung cendrawasih, rambut ijuk, burung kasuari dan anyaman daun sagu, hiasan pada tangan dan kaki berupa rambut ijuk ,dan bulu cendrawasih, hiasan kaki pun sama dengan tangan, dan hiasan didada berupa manik-manik. Pakaian laki-laki hanya menggunakan penutup bagian bawah yang dikenal dengan nama rok rumbai-rumbai yang terbuat dari rajutan daun sagu , mereka tidak memakai pakaian bagian atas untuk menutupi bagian dada mereka menggambar atau melukis motif atau corak tertentu. Pada saat penikahan laki-laki memegang perisai seperti panah dan tombak. Sedangkan , pakaian perempuan juga sama kayak laki-laki memakai rok rumbai-rumbai, memakai baju (ada yang te...
Tersebutlah sebuah desa yang berada tepat di Teluk Kabui. Desa tersebut bernama desa Wawiyai. Di sana hidup sepasang suami istri. Mereka sudah lama menikah namun belum juga dikaruniai buah hati. Untungnya, suami istri tersebut tak pernah putus asa, mereka senantiasa berdoa memohon kepada yang Maha Kuasa agar suatu hari diberikan seorang anak. Suatu hari, sang suami mengajak istrinya mencari kayu bakar di hutan. Persediaan kayu bakar mereka memang hampir habis, dan musim hujan akan tiba tak lama lagi. Jika tak segera mencari kayu bakar, maka mereka tidak bisa memasak selama musim hujan. Kayu-kayu di hutan akan menjadi basah dan tidak bisa dinyalakan untuk memanaskan tungku. "Kita harus segera mencari kayu bakar sebanyak-banyaknya, istriku. Bisakah kau membantuku masuk hutan hari ini?" "Tentu saja, aku akan membantumu mengumpulkan kayu bakar." Keduanya segera bersiap-siap berangkat. Ketika matahari masih di ufuk Timur, mereka pun berjalan ke tengah hutan....
Pada jaman dulu orang-orang mulai exodus dari kepulauan vanuatu dan Papua New Guinea menuju wilayah Jayapura, Sentani dan lainnya. Sebelum mereka exodus, mereka semua berkumpul di daerah perbatasan RI-PNG. Ada sebuah tempat antara kampung Wutung PNG dan perbatasan RI-PNG yang menjadi tempat tinggal sementara semua orang yang akan exodus ke arah barat yaitu masuk wilayah Jayapura, Sentani dan wilayah-wilayah lainnya. Konon cerita, waktu itu mereka sudah punya satu pemimpin kelompok yang di kenal dengan sebutan Ondoafi atau kepala adat yang membawahi seluruh masyarakat tersebut. Sebuah tradisi yang dimiliki oleh kelompok masyarakat ini adalah biasanya menjelang bulan purnama, mereka mengadakan dansa adat dengan maksud mengadakan penyembahan kepada dewa yang mereka kenal. Pelaksanaan dansa adat ini dipersiapkan dengan baik dan akan dilaksanakan selama sebulan. Untuk itu, segala sesuatu disiapkan, seperti tempat, hewan seperti babi untuk korban penyembahan dan untuk bahan...
Alat musik tradisional Papua Barat ini terbuat dari kayu dan bambu, dengan cara memainkannya dengan cara dipukul sekeras mungkin. Yi dulunya digunakan oleh masyarakat Papua Barat untuk memanggil penduduk jikalau ada informasi yang penting ingin disampaikan. Seiring berjalannya waktu, Yi kini juga digunakan untuk mengiringi seni tari-tarian daerah tersebut. Gambar alat musik tradisional Yi Pada saat memanggil penduduk, biasanya Yi digunakan oleh ketua setempat yang hendak menyampaikan informasi tersebut kepada masyarakatnya. Yi dibuat dari kayu gelondongan dengan bagian dalamnya berongga. Sumber : https://alatmusikindonesia.com/alat-musik-tradisional-papua-barat/#top
Masyarakat Arfak sebagai suku asli yang mendiami Kawasan Cagar Alam Pegunungan Arfak mempunyai pola hidup yang erat kaitannya dengan lingkungan alam sekitarnya, terutama dalam hal pemanfaatan hasil hutan. Hutan bagi suku Arfak merupakan tempat untuk memperoleh bahan makanan, obat-obatan, bahan bangunan (rumah/kandang), dan memiliki nilai mistik. Kehidupan masyarakat suku Arfak sebagian besar tergantung pada alam sekitarnya. Salah satu bentuk ketergantungan tersebut adalah pemanfaatan tumbuhan yang berkhasiat obat dan magis. Hal ini terlihat pada tumbuhan yang mereka ambil dari lingkungan sekitar tempat tinggal atau hutan, diramu secara alamiah dan digunakan sebagai obat-obatan tradisional dalam berbagai resep untuk mengobati berbagai jenis penyakit. Masyarakat suku Arfak biasa menggunakan 59 jenis tumbuhan. Dari ke-59 jenis tumbuhan tersebut, sebanyak 52 jenis biasa dimanfaatkan sebagai tumbuhan obat, sebanyak 5 jenis sebagai pestisida nabati dan 2 jenis sebagai magis....