Kamus Kawi-Jawa ini adalah urutan dari edisi cetak buku Bausastra Kawi Jarwa karangan C.F. Winter. Buku Winter itu diterbitkan pertamakalinya tahun 1880, kemudian dicetak ulang tahun 1928 oleh Topografisehe Dienst. Edisi baru, yang memakai huruf latin dan bukan huruf Jawa, dicetak tahun 1983 oleh Proyek Javanologi di Yogyakarta, dua tahun kemudian ada edisi baru lagi diterbitkan oleh Gajah Mada University Pers. Sumber: http://navigasi-budaya.jogjaprov.go.id/heritage/naskah-kuno/1704
Buku ini memuat dua ceritera, ialah Serat Hendramurti serta Serat Yudangkara. Teks pertama (h. 1-40) menceritakan Raja Hengseputra dari negri Maksendabumi pergi ke hutan untuk berburu hewan. Ia bertemu dengan seekor naga. Naga dipanah oleh Hangseputra, tidak mati tetapi berubah menjadi seoarang, bernama Hengganawati, anak dari Pandita Bepatma dari gunung Sunyayuri. Hengganawati terbang melarikan diri, dikejar oleh Hengseputra. Di dukuh Bangunlaya tingal seorang janda, Dresawati, dengan anaknya, Hendramurti. Hendramurti mendapat wangsit dari Dewa untuk pergi ke Suryaruri. Di Suryaruri ia bertemu dengan Prabu Hagniputra yang sedang mengejar ngejar Hangganawati. Terjadilah peperangan antara Hendramurti dan Prabu Hangniputra, yang dimenangkan oleh Hendramurti dan Prabu Hangniputra mati. Cerita ditutup dengan perkawinan antara Hendramurti dan Hangganawati. Sumber: http://navigasi-budaya.jogjaprov.go.id/heritage/naskah-kuno/1686
Cerita alegori yang mengambarkan keadaan kraton Yogyakarta pada paro kedua abad ke -18. Teks pada naskah ini rupanya seredaksi dengan teks YKM/ W18a-b. Buku pusaka K.K. Suryarajayang disimpan di Prabayeksa, Kraton Yogyakarta, juga memuat redaksi yang sama. Naskah lain dengan judul Suryaraja, tetapi belum dapat dibandingkan dengan teks-teks ini terdapat di Museum Nasional, ialah BG 164. Ricklefs-lah yang menyelidiki Serat Suryaraja ini paling tuntas. Menurut kajiannya, pengarang teks ini adalah HB II, pada tahun 1774, yaitu pada masih Putra Mahkota (Pangeran Pali) di bawah sang ayah Sri Sultan yang pertama. Sumber: http://navigasi-budaya.jogjaprov.go.id/heritage/naskah-kuno/1685
Buku ini memuat keterangan keterangan tentang rumah orang jawa, antara lain dari rumah kayuserta bentuk bentuknya, pemilihan kayu jati yang baik warnanya, awet, yang mempunyai angsar baik dan tidak baik, cara menebang, anggebing atau cara menyigar kayu, ukuran balungan,dll. Diurutkan sejak jaman kuno. Ringkasan dari masa Panti Boedja ada dua : buatan R. Tonojo (1 halaman ketikan) dan M. Sinoe Moendisoera ( 3 halaman, tulisan tangan ,huruf jawa). Naskah juga pernah dibuat alihaksara pada jaman Panti Boedja; Lihat LL13. Menurut kolofonnya (h.39), naskah disalin oleh Mangundarma di Surakarta. Penyalinan selesai pada hari 23 Robigulahir, Ehe 1836 (16 Juni 1906).
Wayang kulit Cina - Jawa atau yang lebih dikenal dengan sebutan Wayang Thithi mulai dikenal di Yogyakarta pada tahun 1925 hingga sekitar tahun 1967. Istilah thithi sendiri didapat dari suara alat musik yang terbuat dari kayu berlubang yang biasa mengiringi setiap pertunjukan wayang kulit China yang jika dipukul akan mengeluarkan suara thek…thek…thek.. Suatu bunyi yang terdengar di telinga orang Jawa sebagai thi… thi… thi… Untuk lakon sendiri, berbeda dengan wayang kulit Jawa yang selalu mengangkat lakon dari dua epos terkenal yakni Ramayana dan Mahabarata maka untuk wayang thithi ini lakon atau cerita yang dimainkan adalah mitos dan legenda negeri Tiongkok seperti San Pek Eng Tay, Sam Kok, Thig Jing Nga Ha Ping She, dan sebagainya. Dan karena wayang thithi merupakan sebuah kesenian budaya hasil akulturasi dari kebudayaan China dan Jawa maka tokoh-tokoh yang terdapat dalam lakon wayng thithi inipun perpaduan dari dua kebudayaan...
Sampai daerah divisi disetujui dalam Perundingan Giyanti, Kerajaan Mataram yang didirikan Panembahan Senopati pada tahun 1587, merupakan kekuatan yang dominan di Jawa Tengah. Kerajaan Mataram berpindah lokasi beberapa kali selama pemerintahan Senopati dan keturunannya, dan pada tahun 1745 berada di Surakarta (Solo). Sebagai kelanjutan dari pertikaian yang terjadi di antara Kraton Surakarta, Paku Buwono III dan paman tirinya, Pangeran Mangkubumi, pemerintah Belanda menengahi dengan menyetujui perjanjian yang isinya mengangkat Mangkubumi sebagai pemimpin kerajaan terpisah, tetapi memiliki kekuasaan yang sama, yang berpusat di Yogyakarta. Mangkubumi, yang memakai gelar Hamengku Buwono I, pada tahun 1756, membangun istana yang besar bernama Ngayogyakarta Hadiningrat. Kraton berada di lokasi yang sangat luas, yang karena luasnya dapat digambarkan sebagai kota tertutup. Selain ada bangunan di dalamnya, daerah ini dikelilingi oleh dinding yang kokoh seperti be...
Diantara banyaknya tempat wisata kuliner di Jogja yang sudah saya singgahi, hanya House of Raminten yang memiliki atmosfer sangat berbeda. Tempat ini dihiasi literatur kebarat-baratan namun tetap mengusung corak Jawa. Tentu bagi warga Yogyakarta atau mereka yang tinggal di Jogja tempat ini pasti tidak asing lagi, bahkan saya yang baru beberapa kali mengunjungi tempat ini langsung jatuh cinta pada tempatnya. Catat ya kawan, ketika kalian ingin mengunjungi tempat ini malam hari atau weekend bisa dipastikan kita harus mengisi buku tamu terlebih dulu sebelum memasuki ruangan. Ini sudah menjadi trade mark-nya House of Raminten sebagai tempat wisata kuliner yang unik dan berbeda dari tempat lain. Saking tenarnya nih, setiap malam restoran ini sangaaaat penuh. Dilihat dari desainnya, House of Raminten ini lebih tepat disebut restoran bernuansa Jawa. Ini dapat kita lihat dari sebuah Kereta Kencana yang dipajang dan terekspose dari luar. Begitu masuk ke dalamnya, kita langsung dapat m...
Di tengah fenomena angka bunuh diri yang tinggi di Kabupaten Gunungkidul, terdapat mitos yang dipercaya sebagian masyarakatnya yakni Pulung Gantung. Apa itu Pulung Gantung? Ketua Dewan Kebudayaan Gunungkidul CB Supriyanto bercerita bahwa memang selama ini fenomena bunuh diri di Gunungkidul lekat dengan mitos pulung gantung. Mitos ini menyebutkan, jika pulung yang berupa bola api berpijar merah dan berekor jatuh dari langit, maka diyakini sekitar tempat jatuhnya pulung akan ada warga yang gantung diri. Namun seiring berjalannya waktu, saat ini hanya sebagian kecil saja masyarakat Gunungkidul yang mempercayai mitos itu. "Sebagian kecil percaya (pulung gantung)," kata Dewan Kebudayaan Gunungkidul, CB Supriyanto saat berbincang dengan detikcom, Senin (11/9/2017). "Sebagian warga percaya, tapi kalau yang tidak percaya ya cuek saja," imbuhnya. Seorang penulis buku 'Simbolisme dalam Budaya Jawa' Budiono Harusatoto menambahkan arti pul...
Buku Pakem (Tulada) : (sumber: E-book Bentuk-Bentuk Peralatan Hiburan dan Kesenian Tradisional Daerah Istimewa Yogyakarta. Moertjipto. 2013. Daerah Istimewa Yogyakarta.)