Sekilas Sejarah Awal Mula Munculnya Aksara Jawa Aksara jawa merupakan aksara turunan dari aksara Kawi (aksara Jawa Kuno), dimana aksara Kawi adalah turunan dari aksara Pallawa. Meskipun aksara Jawa turunan dari aksara Kawi tetapi mempunyai ciri khas tersendiri yang berbeda dengan aksara sebelumnya, antara lain dalam hal bentuk dan urutan. Di jawa, khususnya di Jawa Tengah, ada dua aksara turunan Kawi, yaitu aksara Budha di wilayang sekitar gunung merapi-Merbabu yang mempunyai bentuk yang relatif hampir tak berubah banyak dari aksara Kawi, dan aksara Jawa di wilayah Demak-Pajang-Mataram-Kartosura-Surakarta-Yogyakarta yang mempunyai bentuk yang sudah berubah banyak dari aksara Kawi. Aksara Budha mempunyai urutan 'kaganga' seperti Kawi, sedangkan aksara jawa mempunyai urutan 'hanacaraka' sehingga sering disebut juga 'carakan'. Setelah pudarnya kejayaan majapahit maka pusat budaya juga bergeser ke kerajaan baru yaitu Demak yang dibidani oleh para Wa...
Aksara Jawa dalam Seni Kaligrafi Bertuliskan Bismillah Aksara Jawa yang direka menjadi tulisan indah ataupun bentuk tertentu yang indah merupakan salah satu kekayaan budaya nusantara dalam hal ini budaya Jawa berupa aksara Jawa. Karya-karya kaligrafi aksara Jawa kontemporer akan memperkaya aset budaya nusantara. Berikut ini adalah contoh kaligrafi aksara Jawa berbentuk sosok setengah badan kawula jawa yang memakai blangkon dengan tulisan "Kanthi Asma Allah" pada media papan tulis dengan kapur sebagai alat tulisnya. Selain pada media papan tulis kapur, juga bisa dilukiskan pada media kanvas. Bagi anda yang berminat kaligrafi aksara Jawa sebagai koleksi, maka bisa menghubungi kami . Isi tulisan dan gambar bisa sesuai yang diinginkan pemesan. Karya tersebut merupakan kreasi orisinal dari Sanggar Aksara Iqra Hanacaraka yang berkedudukan di Yogyakarta. ê¦ê¦ê¦¿ ê¦...
Resep: Bahan Ikan tongkol 500 g diambil dagingnya saja Bumbu Daun kemangi 2 ikat dipetik daunnya Serai 4 batang diambil putihnya diiris halus Daun salam 4 lembar Belimbing sayur 8 buah diiris kasar Daun pisang untuk membungkus Bumbu yang Dihaluskan Kunyit 1 ruas Kemiri 4 butir Cabai merah 6 buah Bawang merah 6 siung Bawang putih 3 siung Garam 1 sdt Cara Membuat Ikan, bumbu halus, kemangi, belimbing sayur, dan serai diaduk rata. Selembar daun salam dan ikan berbumbu diletakkan di atas daun pisang lalu bungkus memanjang dan ujungnya disemat dengan lidi. Kukus dalam dandang yang sudah dipanaskan sampai masak lalu angkat dan panggang di at...
Halo para pecinta kuliner saatnya makan lagi.... Berwisata kuliner di Yogyakarta memang lebih asyik kalau disertai dengan perburuan kuliner tradisional atau ndeso, apalagi yang sudah mulai jarang dijumpai. Meskipun kerapkali lokasinya agak jauh dari pusat kota Yogyakarta, namun ada kepuasan tersendiri saat berhasil menemukan kuliner langka yang enak dan belum diketahui banyak orang. Bagi yang ingin bernostalgia dengan menu kenduri zaman dulu, mungkin bakal tertarik dengan masakan ingkung ayam yang belakangan kembali digemari. Di daerah Bantul ada beberapa tempat yang menawarkan kuliner klasik ini beserta suasana khas pedesaan yang bersahaja. Ayam ingkung, atau ingkung ayam, adalah ayam utuh yang dimasak secara tradisional dengan aneka bumbu seperti bawang merah, bawang putih, ketumbar, gula merah, daun salam, dan lengkuas. Yang digunakan biasanya adalah ayam kampung karena tidak terlalu berlemak dan serat dagingnya tidk mudah hancur saat dimasak lama. Ayam dan aneka bumbu te...
Kotagede memang dikenal sebagai sentra kerajinan perak di Yogyakarta. Selain perak, tempat ini juga dikenal sebagai "kota tua"nya Jogja karena masih menyimpan banyak bangunan kuno yang memiliki corak khas arsitektur Jawa yang hingga kini masih terjaga keberadaannya. Tak hanya perak dan juga bangunan tuanya, Kotagede juga memiliki beberapa makanan tradisional yang hingga kini masih dapat kita temukan. Kotagede juga memiliki jajanan pasar yang bernama legomoro. Melihat komposisi bahannya, legomoro ini hampir serupa seperti lemper, namun memiliki ukuran yang lebih kecil. Bahan pembuatan legomoro terdiri dari campuran beras ketan, santan, dan cacahan daging. Beras ketan yang sudah dimasak dengan santan kemudian dibungkus dengan daun pisang dan diberi cacahan daging di bagian tengah adonan. Adonan tersebut kemudian dibungkus dengan daun pisang, dibentuk segi empat memanjang, dan diikat dengan tali bambu, lalu dikukus sampai matang. Di dalam penyajiannya, satu ikat tali bambu ini...
PAKAIAN ADAT TRADISIONAL CORAK KASATRIAN D.I.YOGYAKARTA Pakaian adat tradisional masyarakat Daerah Istimewa Yogyakarta terdiri dari seperangkat pakaian adat tradisional yang memiliki unsur-unsur yang tidak dapat dipisahkan satu dengan lainnya. Kelengkapan berbusana tersebut merupakan ciri khusus pemberi identitas bagi pemakainya yang meliputi fungsi dan peranannya. Oleh karena itu, cara berpakaian biasanya sudah dibakukan secara adat, kapan dikenakan, di man dikenakan, dan siapa yang mengenakannya. Corak kasatrian dahulunya merupakan pakaian adat yang dikenakan putra-putri sultan pada perjamuan ramah tamah dengan para tamu dan kerabat keraton. Sekarang jenis pakain ini dipakai dalam upacara adat midodareni dan upacara panggih. Destar pengantin pria untuk corak kesatrian adalah model ngobis , seperti daun kubis yang lebar. Nama ngobis diperuntukkan bagi sinthingan, yaitu bagian bawah destar berupa sayap di kiri kanan mondholan. Mondholan berasal dari kata mondhol yang berarti...
Resep: Bahan 250 g belut yang dibuang isi perutnya 10 buah cabai rawit merah 3 buah cabai rawit keriting 2 siung bawang putih garam dan gula secukupnya Cara Membuat Goreng belut dalam minyak panas sampai kering lalu angkat dan tiriskan. Kalau sudah agak dingin, bagi belut menjadi 3 bagian. Goreng cabai rawit dan cabai merah sampai layu lalu angkat dan tiriskan. Ulek cabai goreng bersama bawang, garam, dan gula sampai halus. Masukkan belut lalu penyet-penyet sedikit, aduk merata hingga seluruh belut tercampur dengan sambal. Siram sambal dengan 1 sendok makan minyak bekas menggoreng belut. Sumber: http://www.hipwee.com/tips/11-resep-sambal-khas-nusantara-yang-sedap-mantap-dan-membuat-makan-lahap/ https://www.femina.co.id/condiments/s...
Jenang baro-baro merupakan hidangan wajib yang biasanya disajikan dalam upacara adat Jawa sebagai permohonan keselamatan pada Tuhan Yang Maha Esa. Jenang ini dibuat dari beras yang dicampur gula Jawa. Jenang ini biasanya disajikan dalam mangkok kemudian di atasnya ditaburi kelapa parut dan irisan gula Jawa. Jenang baro-baro ada juga yang terbuat dari bekatul atau tepung kulit beras dan di atasnya diberi potongan kecil-kecil gula merah . Ubo rampe jenang baro-baro ini dimaksdkan sebagai penghormatan kepada kakang kawah adi ari-ari atau air ketuban dan tembuni yang keluar saat bayi dilahirkan. Oleh nenek moyang orang Jawa, kakang kawah dan adi ari-ari dipercaya sebagai saudara gaib jabang bayi. Air kawah atau ketuban dipercaya sebagai saudara tua atau kakak sedangkan tembuni dipercaya sebagai saudara muda atau adik. Ubo rampe jenang baro-baro disajikan agar orang yang sedang melakukan selamatan dan hajatan tidak diganggu. Walaupun erat kaitannya dengan ritual dan...
Jenang pliringan adalah bubur yang terbuat dari beras yang bentuknya separuh merah dan separuh putih. Ubo rame jenang pliringan ini dimaksudkan sebagai penghormatan kepada prajurit Ratu Kidul yang bertugas di angkasa dan daratan. Penghormatan ini dimaksudkan agar antara manusia dan mahluk halus sebagai sesama mahluk Tuhan dapat seiring dalam menjalani kehidupan dan tidak saling mengganggu. Selain menjadi makanan wajib untuk upacara adat, penganan manis ini juga ternyata ehidangan khas Pura Mangkunagaran yang menjadi hidangan kegemaran Sri Paduka Mangkunagoro I atau Pangeran Sambernyawa yang mana beliau merupakan pemimpin pertama kekeratonan Jogjakarta. Beliau adalah pendiri Pura Mangkunegaran pada tahun 1757. Jenang ini dibuat dari campuran tepung bekatul (katul), gula Jawa, dan santan. Rasanya yang manis dan legit membuat penganan ini ramai peminat. Sumber: Wikipedia.org