Naskah Kuno dan Prasasti
Naskah Kuno dan Prasasti
Aksara Jawa Daerah Istimewa Yogyakarta Jawa
Aksara Jawa - Sekilas Sejarah Awal Mula Munculnya
- 1 Februari 2017

Sekilas Sejarah Awal Mula Munculnya Aksara Jawa

Aksara jawa merupakan aksara turunan dari aksara Kawi (aksara Jawa Kuno),  dimana aksara Kawi adalah turunan dari aksara Pallawa. Meskipun aksara Jawa turunan dari aksara Kawi tetapi mempunyai ciri khas tersendiri yang berbeda dengan aksara sebelumnya, antara lain dalam hal bentuk dan urutan. Di jawa, khususnya di Jawa Tengah, ada dua aksara turunan Kawi, yaitu aksara Budha di wilayang sekitar gunung merapi-Merbabu yang mempunyai bentuk yang relatif hampir tak berubah banyak dari aksara Kawi, dan aksara Jawa di wilayah Demak-Pajang-Mataram-Kartosura-Surakarta-Yogyakarta yang mempunyai bentuk yang sudah berubah banyak dari aksara Kawi. Aksara Budha mempunyai urutan 'kaganga' seperti Kawi, sedangkan aksara jawa mempunyai urutan 'hanacaraka' sehingga sering disebut juga 'carakan'.

Setelah pudarnya kejayaan majapahit maka pusat budaya juga bergeser ke kerajaan baru yaitu Demak yang dibidani oleh para Wali. Salah satu Wali adalah Sunan Bonang. Nah Sunan Bonang inilah yang menelorkan pertama kali teks beraksara Jawa yang berjudul Serat Sunan Bonang.

Serat Sunan Bonang (Het Boek Van Bonang)

Contoh Teks dari Serat Sunan Bonang (awal abad 16 M)

 

Di sebagian kecil wilayah lain, di sekitar Gunung Merapi-Merbabu masih menggunakan aksara yang bentuknya masih mirip aksara kawi, yaitu aksara Budha atau aksara Budo atau aksara Gunung. Aksara Gunung ini masih aktif digunakan hingga akhir abad 18 M.

Tulisan aksara Budha pada naskah Koleksi merapi merbabu

contoh naskah lontar Merapi-Merbabu.

 

Naskah pertama beraksara Jawa yang ditemukan adalah Serat Sunan Bonang atau Serat Syeh Bari atau Het Book van Bonang (awal abad 16 M) malah lebih tua dibanding naskah  beraksara mirip Kawi  atau beraksara Budha (awal abad 16 – akhir abad 18). Apa yang bisa disimpulkan ?

Kesimpulan saya berdasar naskah di atas adalah: Aksara Kawi pasca runtuhnya Majapahit mengalami dua arah perkembangan. Satu, perubahan revolusioner (meliputi bentuk dan sistem tatatulis, termasuk penambahan aksara rekan dan juga penggunaan yang bukan lagi untuk menulis bahasa Kawi tetapi untuk bahasa jawa baru dan malah bahasa Arab)=> menjadi aksara Jawa. Dua, perubahan evolusi/lambat menjadi aksara Gunung Merapi-Merbabu yang tak terlalu jauh berbeda dengan aksara kawi (baik bentuk, tatatulis, maupun penggunaan yang sebagian besar masih untuk menulis bahasa kawi).

Karena aksara Jawa pada saat itu (jaman Demak) ditujukan menulis bahasa Jawa (dan juga Arab, dengan tambahan rekan) maka wajar tidak seluruh set karakter aksara kawi diambil oleh aksara Jawa, pun ada sebagian yang secara bunyi/pengucapan sudah berbeda dengan aksara Kawi.

Di sisi lain, aksara gunung Merapi-Merbabu tetap mempertahankan keaslian bunyi dan kelengkapan set karakter aksara Kawi, karena memang lebih banyak ditujukan untuk menulis dalam bahasa Kawi.

Jaman berjalan, sampai suatu ketika para ahli yang ingin menyalin naskah kakawin berbahasa kawi ke dalam naskah beraksara Jawa agak terkendala keterbatasan aksara Jawa. karena tentu saja aksara jawa jaman Demak tak selengkap aksara Kawi, ditambah ada distorsi bunyi. Maka para ahli menjadikan aksara Bali lontar kakawin sebagai rujukan untuk menyusun aksara Jawa lengkap dengan urutan “kaganga” sesuai karakter set aksara Kawi, dimana memang aksara Bali sudah terlebih dahulu melengkapi aksaranya untuk menyalin kakawin bahasa Kawi aksara kawi ke dalam lontar aksara Bali, karena memang Bali sangat kuat dalam tradisi penyalinan naskah kuna ke dalam lontar.

Aksara itu hidup dan berkembang sangat tergantung kepada penggunanya. Oleh Van der Molen (ahli naskah kuno) Aksara Merapi-Merbabu diperkiraan berhenti pada akhir abad 18 karena tidak ada lagi penggunanya.

Aksara-aksara lokal di nusantara, jika tak ada lagi “penggunanya”, maka juga tinggal menunggu saatnya untuk tidur panjang, atau mati suri, atau bahkan betul-betul mati, dan akhirnya tinggal sejarah.

Aksara Jawa masih digunakan pada saat ini, bahkan sudah terdaftar di UNICODE.  Tetapi, sekali lagi, perkembangannya akan ditentukan oleh penggunanya sendiri.

Aksara jawa yang berkembang saat ini seolah menjadi ada dua.

  1. Aksara Jawa dengan urutan “hanacaraka” sebagai perkembangan dari aksara Jawa naskah Sunan Bonang di atas, dan masih aktif diajarkan di sekolah2.
  2. Aksara jawa yang digunakan untuk menyalin naskah kuna  berbahasa Jawa kuna., dalam hal ini saya sebut aksara jawa “kaganga” karena menganut urutan dan kelengkapan aksara Kawi, sebagai aksara induknya, dimana bentuk-bentuk karakter untuk melengkapinya merujuk kepada aksara Bali lontar (yang digunakan untuk menyalin turun temurun naskah lontar Bali yang pada aslinya naskah berupa aksara Kawi).

Aksara Jawa hanacaraka (carakan) dengan aksara Jawa ‘kaganga’ bisa jadi bentuknya sama, tetapi bisa jadi pula bunyi/pelafalannya serta fungsinya sudah berbeda.

Sumber: Kaligrafijawa.com

 

 

 

Diskusi

Silahkan masuk untuk berdiskusi.

Daftar Diskusi

Rekomendasi Entri

Gambar Entri
HUDON TANO (PERIUK TANAH)
Ornamen Ornamen
Sumatera Utara

HUDON TANO (Periuk Tanah) Di bawah ini merupakan foto tua (foto jaman dulu) penjual Hudon Tano (Periuk Tanah) di Onan (Pasar) Tarutung di tahun 1930. Masyarakat Batak yang tinggal di Sipoholon, Tarutung, dahulu kala terkenal sebagai "Sitopa Hudon" (pembuat periuk tanah). Dahulu, Hudon Tano ini digunakan secara meluas di Tanah (Tano) Batak sebagai alat masak tradisional. Bisa dibayangkan betapa enak dan nikmat rasanya melihat dan menikmati arsik atau menggulai Ikan Mas atau Ikan Batak (Ihan Batak), Porapora (Ikan Air Tawar), Haruting (Ikan Gabus), SIbahut (Ikan Lele), dan Incor (Ikan Air Tawar Kecil) yang dimasak menggunakan Hudon Tano ini... Sumber Foto : KITLV 28692

avatar
Hokker
Gambar Entri
BENDA MAGIS MASYARAKAT BATAK
Ornamen Ornamen
Sumatera Utara

Benda Magis Masyarakat Batak Toba : Pagar Jabu - Sahan - Pohung 3 benda magis ini termasuk kategori Ilmu Putih yang berfungsi sebagai pelindung dari sihir dari niat orang jahat. PAGAR JABU (Bahasa Batak Karo : Bekam-bekam), berbentu tanduk hewan berisi sibiangsa (ramuan magis) yang berfungsi sebagai pelindung rumah dari serangan sihir jahat. SAHAN, terbuat dari gading atau tanduk tempat menyimpan pupuk (abu jenazah) yang memiliki kekuatan magis sebagai pagar (pelindung) dan konon dapat diminta untuk membinasakan musuh. POHUNG, sejenis ukiran yang dibungkus ijuk lalu diisi ramuan magis. Pohung ditempatkan di dalam rumah dan / atau di kebun yang memiliki fungsi mencegah niat jahat / pencuri hasil kebun dan harta di rumah. Sumber Koleksi : Museum Negeri Provinsi Sumatera Utara

avatar
Hokker
Gambar Entri
ILMU TAMBA TUA
Naskah Kuno dan Prasasti Naskah Kuno dan Prasasti
Sumatera Utara

Ilmu Tamba Tua adalah Elmo Kuno Batak (Ilmu Putih), dahulu ilmu ini dipercaya jika diamalkan akan mendatangkan kemakmuran serta kekayaan. Transliterasi (alih aksara) : ahu debata ni raja di bindu jao raja ni tam (ba) tua raja on di sim- bora di bulung hayu na denggan go- rar pe i do jadi lapi ni ta- taring ni ru- manta jadi tondolan ni balatuk ni rumah bea la... Rajah "gambar" di bawah bernama dewa "bindu jao". Rajah ini ditulis pada timah dan daun kayu (jenis yang bisa dituliskan). Rajah ini akan membawa kemakmuran bagi penghuni rumah apabila dibuat menjadi alas tungku perapian dan jika diletakkan sebagai alas tangga rumah. Sumber Foto : Verzeichnis der orientalischen handschriften in Deutschland

avatar
Hokker
Gambar Entri
Tulisan Tangan Ompu i Pendeta Dr I.L. Nommensen (Aksara dan Bahasa Batak Toba)
Naskah Kuno dan Prasasti Naskah Kuno dan Prasasti
Sumatera Utara

Surat Tulisan Tangan Ompu i Pendeta Dr I.L. Nommensen tahun 1871 dengan Aksara Batak Toba dan Bahasa Batak Toba Klasik (na robi). Nommensen, Apostel Orang Batak dan Ephorus HKBP Pertama tahun 1881 - 1918, sangat fasih berbahasa Batak Toba klasik dan kontemporer (na imbaru), Nommensen juga sangat mengusai tulisan dan / atau aksara Batak Toba. Surat yang ditulis tangan Ompu i Nommensen di Pearaja, Tarutung, tanggal 02 Agustus 1871 ini merupakan dokumen dan bukti sejarah yang sangat penting, yang menunjukkan betapa Beliau menguasai serta menghormati adat, budaya, tradisi, dan literasi masyarakat Batak Toba. Beliau tidak memaksakan bahasa Jerman dan aksara Latin, tetap justru menggunakan bahasa dan aksara asli masyarakat Batak Toba untuk berkomunikasi dan mendokumentasi pelayanannya. Sumber Foto : Sopo Nommensen, Pearaja, Taruutung Sumatera Utara

avatar
Hokker
Gambar Entri
Cara menghubungi call center ayopinjam
Seni Pertunjukan Seni Pertunjukan
DKI Jakarta

Hubungi Call Center AyoPinjam Resmi Di Nomor ☎ 0831•6926•5049, Kontak WhatsApp Cs AyoPinjam 📞0857•5833•7054 Layanan Bantuan Kendala. Live Chat AyoPinjam Menyediakan Layanan Kontak Percakapan Atau Live Chat Yang Terdapat Pada Aplikasi AyoPinjam. Layanan Ini Tersedia Setiap Hari Online 24 jam.

avatar
Pinjamflexi1999