Alkisah, di Sumatera Utara dahulu kala hidup seorang pemuda yatim piatu yang miskin bernama Toba. Ia hidup sendiri sebatang kara. Si pemuda miskin tinggal di sebuah lembah subur. Sehari-hari ia menghidupi dirinya dengan cara bertani dan mencari ikan di sungai yang letaknya tidak jauh dari rumahnya. Hasil bertani beserta ikan hasil memancing ia masak untuk dijadikan lauk makanannya sementara sisanya ia jual di pasar. Selama ini mudah saja baginya mendapatkan ikan dari sungai yang berair jernih tersebut. Suatu sore, sepulangnya dari ladang, si pemuda miskin pergi memancing di sungai. Setelah sekian lama memancing, ia tak kunjung mendapatkan ikan. Kejadian seperti ini belum pernah dialaminya. Ahirnya ia menarik pancingnya kemudian memutuskan pulang ke rumah. Namun anehnya ketika pancing ditarik, seekor ikan tiba-tiba menyambarnya. Hatinya senang ketika melihat seekor ikan mas cantik tergantung di ujung tali pancingnya. Sisik ikan mas tersebut sangat indah berwarna kuning keem...
Alkisah dahulu kala di Sumatera Utara, hidup seorang pembuat patung bernama Datu Panggana. Ia dikenal sebagai seorang pematung handal. Hasil patung buatannya sangat halus juga nampak sangat mirip aslinya. Seperti patung hewan, tumbuhan maupun patung berbentuk manusia, hasilnya pasti akan sangat mirip aslinya. Nama Datu Panggana menjadi sangat terkenal sehingga banyak penduduk memesan patung kepadanya. Menurut legenda, di suatu hari, Datu Panggana pergi ke hutan, mencari kayu untuk ia gunakan membuat patung. Setelah mendapat kayu sesuai keinginannya, Datu Panggana kemudian pulang ke rumahnya. Kemudian Ia mulai bekerja membuat patung berbentuk perempuan. Datu Panggana bekerja siang malam membuat patung tersebut tanpa melihat model. Dalam bekerja Ia hanya membayangkan sesosok perempuan cantik. Semua perhatiannya dicurahkan pada patung tersebut, hingga akhirnya selesai juga patung tersebut, sebuah patung berbentuk seorang perempuan sangat cantik wajahnya. Datu Pan...
Tari Piso Surit - Sumatera Utara Tari Piso Surit adalah salah satu tarian tradisional masyarakat suku Batak Karo di Sumatera Utara . Tarian ini termasuk tarian selamat datang yang biasanya ditampilkan secara berkelompok oleh para penari pria dan wanita. Tari Piso Surit ini merupakan salah satu tarian tradisional yang cukup terkenal di Sumatera Utara, terutama di daerah Karo sebagai daerah asalnya. Tarian ini sering ditampilkan di berbagai acara seperti penyambutan tamu agung, acara adat, dan acara budaya. Asal Usul Tari Piso Surit Tidak banyak sumber yang menjelaskan tentang asal mula dan sejarah Tari Piso Surit ini, sehingga masih belum bisa diketahui secara pasti. Namun dari beberapa sumber yang ada, Tari Piso Surit ini merupakan tarian yang tumbuh dan berkembang di masyarakat suku Batak Karo di Sumatera Utara. Nama tarian ini diambil dari kata “ peso surit ” yang dalam masyarakat Batak Karo merupakan sejenis...
Ura-ura ini adalah sejenis makanan yang bahanya berasal dari beberpa buah yang masih mentah, Disatukan, kemudian dihaluskan (tidak lumat ). Diberi cabai yang lumayan pedas, kemudian siap dihidangkan. Ini beberapa bahan membuat Ura-ura. Bahan-Bahan Bahan Mentah: Sera-sera (babal) Jantung Pisang Daun Pepaya Bumbu/ Bahan Alat Pengelohan: Garam Asam Cabai Cara Pengolahannya: Ditumbuk di lesung bersama-sama dengan bumbunya. Fungsi dan Cara Penyajiannya: Sebagai makanan wanita waktu mengandung, tetapi juga dimakan oleh orang-orang muda laki-laki dan wanita disajikan dalam piring atau dimakan langsung dari lesung. Cara Makan/ Pengkonsumsian: Sendiri-sendiri atau makan bersama-sama Referensi: E-book Makanan: Wujud, Variasi dan Fungsinya Serta Cara Penyajiannya Daerah Sumatera Utara
Suku bangsa Nias mempunyai adat dan upacara perkawinan yang khas. Pada suku bangsa ini peran seorang tetua adat yang dinamakan 'MADO' penting, karena ia menentukan apakah seorang pemuda dan seorang gaids menurut aturan adat boleh dikawinkan. namun syarat terberat bagi seorang pemuda Nias yang hendak kawin adalah soal mas kawinnya. Mas kawin amat besar dan sulit dipenuhi oleh kebanyakan pemuda. Umumnya mas kawin tersebut berupa 100 ekor babi dewasa. Pria yang belum sanggup membaar mas kawin, tetapi sudah hendak menikah boleh saja, namum sebagai gantinya ia harus bekerja mengabdi pada mertuanya, sampai mas kawinnya lunas. Adat perkawinan Nias dimulai dengan masa pertunangan. Masa ini ditandai dengan pengiriman sejumlah emas pada upacara mamebola dari pihak keluarga pria pada kelarga wanita. Sebagai imbalan, pihak wanita memerikan sekantong daging bai rebus yang mereka sebut simbi. Daging yang dikirim dipilihkan bagian rahang bawah, jantung, dan hati. Semuanya dibungkus dal...
tari tortor hata sopisik merupakan adanya interaksi antara penari pria dan wanita dalam pengungkapan perasaan cinta yang disimbolkan dengan berbisik. tari hata sopisik merupakan tari tortor kreasi yang kreatif dan dinamis,biasanya dipagelarkan dihadapan pada tamu agung sebagai rasa penghormatan yang tinggi. sumber : www.google.com/search?q=tortor+hata+sopisik&source=lnms&tbm=isch&sa=X&ved=0ahUKEwjYn7H08ejaAhWMpY8KHdzEBdIQ_AUICygC&biw=1366&bih=613#imgrc=O2Hb2IfmeeQfuM: sumber : https://m.youtube.com/watch?v=3M56D_SbNqY
Alkisah, ada sebuah kerajaan di daerah Simalungun. Kerajaan itu dipimpin oleh seorang raja yang arif dan bijaksana. Rakyatnya hidup makmur. Raja itu memiliki seorang putri yang luar biasa cantiknya. Kecantikannya bahkan terkenal sampai ke negeri seberang. Sayangnya, sang Putri memiliki sifat yang jelek. Ia suka mengucapkan kata-kata buruk. Orang menyebutnya putri yang latah.Jika ada kejadian yang tidak mengenangkan hatinya, ia dengan mudahnya berkata buruk. "Aih... air sungai Iebih enak rasanya dari teh buatanmu ini," katanya suatu hari pada salah seorang dayang istana. "Lebih baik jadi orang buta daripada harus memandangi wajahmu yang cemberut terus," katanya lagi di lain hari. Raja dan Ratu selalu mengingatkannya agar berhenti mengucapkan kata-kata buruk. Mereka takut, jika suatu saat ucapan Putri itu menjadi kenyataan. "Bagaimana jika kau benar-benar buta nanti?" tanya Ratu cemas. Putri tak peduli. Dari hari ke hari, perkataan buruknya bertambah banyak. Suatu hari, datanglah raja m...
Dikisahkan, perjalanan etnis Batak dimulai dari seorang raja yang bernama Siraja Batak , yang turun di Pusuk Buhit dan mempunyai dua orang putra yaitu Putra sulung diberi nama Guru Tatea Bulan dan kedua diberi nama Raja Isumbaon. Guru Tatea Bulan mempunyai isteri yang bernama Si Boru Baso Bolon , dan mempunyai keturunan 5 orang putra dan 5 orang putri, Putra (sesuai urutan): 1. Raja Uti (atau sering disebut Si Raja Biak-biak, Raja Sigumeleng-geleng), tanpa keturunan 2. Tuan Sariburaja (keturunannya Pasaribu) 3. Limbong Mulana (keturunannya Limbong). 4. Sagala Raja (keturunannya Sagala) 5. Silau Raja (keturunannnya Malau, Manik, Ambarita dan Gurning) Putri 1. Si Boru Biding Laut, (Diyakini sebagai Nyi Roro Kidul) 2. Si Boru Pareme (kawin dengan Tuan Sariburaja, ibotona) 3. Si Boru Anting Sabungan, kawin dengan Tuan Sorimangaraja, putra Raja Isombaon 4. Sinta Haumasan 5. Si Boru Nan Tinjo (tidak kawin). Ketika Sibaso Bolon hendak melahirkan Raja Uti, terjadi kejadian yang aneh, berki...
Aek Sipitu Dai, Cerita tentang Kehausan dan Pencarian 'Pariban' Aek Sipitu Dai atau Air Tujuh Rasa sudah menjadi lokasi wisata yang cukup ternama di Kabupaten Samosir, Sumatera Utara. Bagaimana tidak, tujuh pancur dari mata air ini bisa mengeluarkan air dengan rasa yang berbeda-beda. Entah apakah ada pendapat yang masuk akal untuk menjelaskan fenomena tersebut, namun yang jelas ada dua cerita yang melatarbelakangi lahirnya Air Tujuh Rasa. Menurut Ompung Bona br Sihotang, yang rumahnya persis di depan Aek Sipitu Dai, sumber air ini sudah ada sejak zaman dulu. Cerita berawal saat Ompung Langgat Limbong, generasi ke dua dari Marga Limbong, sedang kehausan dan pergi mencari air. "Namun dia ini tak kunjung mendapatkan mata air untuk diminum. Ia lalu berhenti persis di lokasi mata air yang ada saat ini,” cerita Ompung Bona br Sihotang kepada batakgaul.com di rumahnya, belum lama ini. Aek Sipitu Dai, Samosir/s...