Durian Bertebaran, kenapa bertebaran? Durian?! Saya datang dari Batam, Kepulauan Riau. Budaya asli dari Batam tidaklah banyak, dan hampir semua yang terkenal sudah dibahas, contohnya jembatan barelang, tari zapin, rumah limas potong. Karena itu, bagaimana kalau kita bahas saja kebiasaan yang sangat populer bagi mayoritas masyarakat Batam, tidak dibatasi oleh apapun sukunya, apapun agamanya. Pembangunan di Batam dipelopori oleh Presiden ke-3 Republik Indonesia, Pak B.J. Habibie pada tahun 1998. Batam dibangun dengan harapan bisa menyaingi pulau seberang yang sangat sukses dan maju, kita kenal juga dengan sebuah negara yang kecil tetapi sangat pesat perkembangannya, Singapura. Jika kita lihat kembali ke tahun 1998, Batam penuh dengan hutan, penduduk nya jarang. Yang artinya, kebanyakan penduduk di Batam adalah pendatang dari luar, dan kebanyakan dari mereka adalah orang-orang yang berasal dari daerah lain di Provinsi Kepulauan Riau yang datang demi...
Pada suatu hari di pulau Batam, terdapat sebuah desa yang didiami oleh seorang gadis yatim piatu bernama Mah Bongsu. Ia menjadi pembantu rumah tangga dari seorang majikan yang bernama Mak Piah. Mak Piah mempunyai seorang putri bernama Siti Mayang. Pada suatu hari, Mah Bongsu pergi mencuci pakaian majikannya di sungai. “Ular…!” teriak Mah Bongsu ketakutan ketika melihat seekor ular besar mendekat. Ternyata ular tersebut tidaklah berbahaya, ia berenang ke sana ke mari sambil menunjukkan luka di punggungnya. Mah Bongsu memberanikan diri mengambil ular yang kesakitan itu dan membawanya pulang ke rumah. Mah Bongsu merawat ular tersebut hingga sembuh. Tubuh ular tersebut menjadi sehat dan bertambah besar. Kulit luarnya mengelupas sedikit demi sedikit. Mah Bongsu memunguti kulit ular yang terkelupas itu, kemudian dibakarnya. Ajaib… setiap kali Mah Bongsu membakar kulit ular tersebut, timbul asap yang sangat besar. Jika asap tersebut mengarah ke&nb...
“Indonesia, satu kata berjuta makna” Mungkin inilah kata yang paling tepat untuk menggambarkan negeri yang amat kaya akan perbedaan yang meciptakan keanekaragaman yang terjalin dengan indahnya. Tidak bisa kita pungkiri bahwa negara kita Indonesia, merupakan negara yang sangat kaya, mulai dari alamya termasuk flora dan fauna, tradisi dan budaya yang diturunkan leluhur yang masih terjaga keasliannya dengan harmonis, serta masih banyak lagi yang tidak dapat kita tuliskan satu persatu. Begitulah ungkapannya. Setiap wilayah di Indonesia pasti memiliki ciri khas yang melukiskan pesona alam daerahnya, Salah satunya ialah Kota Pangkalpinang. Mendengar tentang Kota Pangkalpinang yang merupakan ibu kota Provinsi Kepulauan Bangka Belitung pasti yang langsung terlintas di benak kita adalah tentang keindahan alamnya, terlebih lagi bagi para penggemar film Laskar Pelangi, dimana film tersebut menceritakan kehidupan anak pinggir pantai yang berjuang untuk mempertahankan kehidupan s...
Masjid Muhammad Cheng Ho ini terletak di Bengkong Laut, Bengkong, Batam. Masjid ini merupakan replika dari Masjid Laskamana Cheng Ho yang ada di Surabaya. Masjid ini diprakarsai dan dibiayai oleh seorang pengusaha di Batam. Masjid ini diresmikan pada hari Sabtu tanggal 21 Februari 2015, dua hari setelah perayaan Imlek 2015 pada tanngal 19 Februari. Cheng Ho adalah seorang laksamana yang datang dari Tiongkok yang memimpin pelayaran ke Indonesia. Ia pernah singgah di beberapa daerah seperti Aceh dan Palembang. Beliau merupakan anak dari Haji Ma Ha Zhi. Kedatangannya ke Indonesia sekaligus untuk mengembangkan Agama Islam. Masjid ini dibangun untuk mengenang perjalanan Laksamana Cheng Ho ke Indonesia. Selain sebagai tempat ibadah untuk umat Islam, masjid ini juga menjadi destinasi wisata yang diminanti oleh berbagai kalangan. Perdaduan antara gaya Tionghua dan Islam memberi masjid ini keunikan tersendiri. Selain masjid, terdapat juga replika dari kapal Laksamana Cheng Ho. Masjid...
Pulau Penyengat adalah sebuah pulau kecil berukuran kurang lebih panjang 2.000 meter dan lebar 850 meter, yang terletak 2 km dari pusat Kota Tanjung Pinang. Kota Tanjung Pinang sendiri merupakan ibukota dari Provinsi Kepulauan Riau. Untuk menuju Pulau Penyengat para wisatawan biasanya menaiki Pompong yaitu sebuah kapal kayu kecil yang dimodifikasi dengan mesin bermotor tempel (outboard engine) berbahan bakar solar. Di Pulau Penyengat ini banyak terdapat sisa-sisa peninggalan sejarah, dan yang paling terkenal adalah sebuah masjid bernama Masjid Raya Sultan Riau Pulau Penyengat yang biasa disebut Masjid Pulau Penyengat. Masjid Pulau Penyengat ini memiliki cerita unik tersendiri, pasalnya bahan perekat yang digunakan untuk membangun masjid ini bukanlah semen melainkan putih telur. Masjid ini berwarna kuning khas melayu dengan perpaduan warna hijau dimana Pulau Penyengat sendiri kental dengan adat melayunya. Jika dilihat dari depan masjid ini memliki dua menara dan dua ru...
Pedek adalah salah satu makanan khas natuna. Bahan-bahan yang digunakan untuk membuat pedek sangatlah sederhana yaitu ikan teri, garam, dan asam kandis. Pedek ini sejenis makanan yang biasa di konsumsi oleh masyarakat natuna sebagai sambal untuk mencolek (mencocol) makanan. Cara membuat pedek adalah dengan memfermentasikan campuran ikan teri, garam, dan asam kandis dalam sebuah tempayan atau tong dalam waktu berhari-hari.Kemudian, setelah cukup lama disimpan pedek dapat dikeluarkan dan dimasak sesuai selera. Makanan pedek itu dijadikan masyarakat Natuna sebagai pengganti ikan. Biasanya makanan Pedek itu sebagai alternatif bagi masyarakat Natuna pada saat harga ikan mahal. Pada kondisi seperti itu masyarakat lebih memilih membuat pedek dari pada membeli ikan. Makanan itu memiki aroma yang sangat menyengat dan bagi orang belum terbiasa mengkonsumsinya, bisa saja merasa jijik dan bahkan muntah bila mencium baunya. Namun menurut warga yang sudah terbiasa menikmatinya...
Jika Anda mengunjungi Kabupaten Natuna, maka Anda bisa menikmati Kesenian Tradisional Mendu yang dimainkan secara kolosal selama tujuh malam. Permainan ini pada saat itu menggunakan syeh-syeh orang kayangan, dimana syeh-syeh tersebut dibangkitkan atau dipanggil oleh orang Kaya Maddun sebagai seorang bangsawan. Karena bermain dengan syeh atau orang halus maka orang-orang itu atau masyarakat sangat tertarik melihat dan mendengar alat musik dan nyanyian mendu tersebut. Panggung dibuat dengan sangat sederhana hanya menggunakan atap daun sagu dan batasan kiri dan kanannya terbuat dari daun kelapa, bunga daun gading dan daun pinang. Kesemuanya di hias di sekitar tempat bermain. Anyaman ketupat digantung pada setiap tempat, terutama tempat duduk Dewa Mendu berlandun memberi titah dan sebagainya. Cerita Mendu menurut yang tertulis dalam kamus WJS. Poerwadinata edisi tahun 1976 adalah semacam sandiwara yang mengisahkan tentang raja-raja di sebuah kerajaan Antapura, Langkadura dan Astas...
Festival Duan Wu atau yang biasa dikenal sebagai Hari Bakcang merupakan perayaan tradisional warga Tionghoa yang dirayakan pada tanggal 5 bulan 5 dalam penanggalan lunar China. Biasanya warga Tionghoa merayakannya dengan memakan Bakcang. Bakcang itu sendiri merupakan makanan khas dimana terdapat nasi pulut yang berisi daging dan dibungkus dengan daun bambu. Hal ini sesuai dengan asal kata 'Bak' yang berarti daging. Seiring perkembangan zaman , bakcang tidak hanya berisi daging namun bisa digantikan dengan sayur atau kacang sesuai selera. Umumnya perayaan Hari Bakcang ini sama dari satu daerah ke daerah lainnya di Indonesia, namun di Kabupaten Natuna warga Tionghoa merayakannya dengan sedikit berbeda. Warga Tionghoa di Natuna akan berbondong-bondong mandi(berenang) di laut pada tengah hari di Hari Bakcang tersebut. Mandi di laut dipercaya dapat membersihkan diri dan membuang kesialan yang ada. Biasanya warga Tionghoa di ibukota Kabupaten Natuna yaitu Kota Ranai akan merayakannya di...
Joget Mak Dangkong Joget Mak Dangkong adalah tarian yang berasal dari Karimun, Kepulauan Riau. Joget Dangkog awalnya dalah kesenian melayu yang sering di gelar di Kecamatan Moro. Tidak diketahui dengan jelas siapa penciptanya. Joget Mak Dangkong dinamakan demikian karena bunyi music pengiring joget tersebut adalah dang dang kung dang dang kung. Joget mak Dangkong biasanya dimainkan dalam upacara perkawinan tradisional masyarakat Kepulauan Riau. Joget ini biasanya dimainkan pada saat malam hari sebelum atau sesudah perkawinan. Joget ini dikhususkan untuk menghibur keluarga mempelai. Pertunjukan ini lebih mengutamakan unsur hiburannya, hal ini terlihat jelas dalam music, nyanyian dan tarian yang tidak memiliki tujuan khusus. Gerakan Joget Mak Dangkong dicirikan dengan gerak hentakan kaki yang sesuai dengan irama gong dan gendang. Namun, seiring dengan perkembangan zaman. Geraka...