Seni lukis orang Dayak dapat dilihat di pakaian dan tato. Tempat tinggal satu komunitas Dayak biasanya banyak ditemukan lukisan dan ukiran yang dapat dipercaya sebagai pelindung dari roh jahat yang mengganggu. Motif hias harimau dan pohon kehidupan diwarnai dengan kapur, jelaga dan karat merah pada masa lalu merupakan ciri tetua adat. Disetiap rumah orang Dayak biasanya dilukis dengan lambang-lambang roh pelindung seperti naga, burung enggang atau tanduk kerbau, pohon-pohon serta sulur-suluran yang dari pengerjaan sederhana sampai ukiran halus yang indah. Hiasan tersebut ditampilkan dalam aneka motif yang ada hubungannya dengan system kepercayaan setempat, seperti motif burung enggang, macan, wajah manusia (udoq), anjing, naga, monyet, tempayan dan motif-motif geometris. Hiasan burung enggang selalu ditempatkan paling atas baik itu pada hiasan lamin tau hiasan tiang totem. Pada bagian tengah ditempatkan motif manusia, binatang atau benda lainnya,...
Suku Dayak mengenal seni pahat patung yang berfungsi sebagai ajimat, kelengkapan upacara atau sebagai alat upacara. Patung Ajimat ini terbuat dari berbagai jenis kayu yang dianggap berkhasiat untuk menolak penyakit atau mengembalikan semangat orang yang sakit. Ada juga patung yang berfungsi sebagai kelengkapan upacara. Terdiri dari patung-patung kecil yang biasanya digunakan saat pelaksanaan upacara adat seperti pelas tahun, kwangkai, dan pesta adat lainnya. Patung kecil ini terbuat dari berbagai bahan, seperti kayu, bambu hingga tepung ketan. Selain itu ada juga Patung Alat Upacara. Patung sebagai alat upacara ini berupa patung blontang yang terbuat dari kayu ulin. Tinggi patung antara dua sampai empat meter dan dasarnya ditancapkan ke dalam tanah sedalam satu meter. Pahatan Suku Dayak memiliki pola-pola atau motif-motif yang unik. Umumnya polanya diambil dari bentuk-bentuk alam seperti tumbuhan, binatang serta bentuk-bentuk yang mereka percaya sebagai roh dari dewa-...
Tarian orang Dayak beragam ada yang masih tradisional bhakan ada yang sudah dikreasikan. Tarian tradisional berdasarkan fungsinya dapat dikelompokkan menjadi tiga jenis yakni (1) jenis tarian keagamaan seperti untuk pengobatan, atau mengundang roh gaib seperti tarian pada upacara Belian Bawo, Sentiyu dan Kwangkai ; (2) tarian adat biasanya dilaksanakan pada saat upacara adat ; (3) tarian hiburan/pergaulan seperti leleng. Tarian-tarian ini dimainkan baik oleh perempuan maupun laki-laki., tunggal maupun berkelompok. Kelengkapan tari lainnya adalah Mandau dan tameng ; bersunung, bahan yang dipakai di sekeliling bahu biasanya terbuat dari kulit macan atau beruang ; bulu burung enggang atau merak, biasanya digunakan untuk hiasan topi aatu hiasan besunung dan dipegang ditangan sebagai kelengkapan tari bagi perempuan. Sikap burung enggang sering digunakan dalam gerak tari, sedangkan paruhnya untuk hiasan kalung atau topi. Burung dalam kepercayaan masyarakat Dayak...
Tarian orang Dayak beragam ada yang masih tradisional bhakan ada yang sudah dikreasikan. Tarian tradisional berdasarkan fungsinya dapat dikelompokkan menjadi tiga jenis yakni (1) jenis tarian keagamaan seperti untuk pengobatan, atau mengundang roh gaib seperti tarian pada upacara Belian Bawo, Sentiyu dan Kwangkai ; (2) tarian adat biasanya dilaksanakan pada saat upacara adat ; (3) tarian hiburan/pergaulan seperti leleng. Tarian-tarian ini dimainkan baik oleh perempuan maupun laki-laki., tunggal maupun berkelompok. Kelengkapan tari lainnya adalah Mandau dan tameng ; bersunung, bahan yang dipakai di sekeliling bahu biasanya terbuat dari kulit macan atau beruang ; bulu burung enggang atau merak, biasanya digunakan untuk hiasan topi aatu hiasan besunung dan dipegang ditangan sebagai kelengkapan tari bagi perempuan. Sikap burung enggang sering digunakan dalam gerak tari, sedangkan paruhnya untuk hiasan kalung atau topi. Burung dalam kepercayaan masyarakat Dayak...
Ada beberapa aspek ilmu pengetahuan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat Dayak dan diwariskan secara turun-temurun yang dapat didukomentasikan, seperti arsitektur rumah lamin, obat tradisional dan kuliner. Hamper seluruh komunitas suku Dayak memiliki rumah adat Lamin sebagai tempat tinggal mereka. Pada masa dahulu, lamin ini diperuntukkan untuk satu kelompok suku Dayak sehingga dibuat berukuran sangat besar tergantung jumlah komunitas didalam suku tersebut. Tidak heran jika satu lamin ada yang berukuran mulai dari 30 meter sampai 100 meter. Lamin yang mereka bangun memiliki tiang antara 3-4 meter dari permukaan tanah, tingginya lamin ini berfungsi untuk menghindari binatang buas dimaksudkan untuk menghindari serangan dari musuh. Dalam lamin ini terdapat ruang/kamar yang disusun berderet, setiap kepala keluarga memiliki satu kamar selain dapur pada bagian paling ujung lamin. Lamin ini memiliki tangga naik yang jumlahnya bervaria...
Masyarakat Dayak Kenyah memiliki bibit padi abung dan bibit padi mayas, yang didapat secara turun-temurun dengan cara menyisihkan bibit padi terbaik untuk disemaikan lagi pada musim tanam nanti. Disela-sela ladang, mereka juga menanam palawija dan sayuran untuk memenuhi kebutuhan akan vitamin. Orang kenyah mengenal beberapa tahapan dalam bercocok tanam. Pertama ketua adat akan melakukan pertemuan untuk membagi lahan sekitar 1 – 2,5 hektare tiap keluarga agar tidak terjadi bentrok dalam mengusahakan lading, yang disebut tulat atau sa’ang uma. Kedua diadakan perintisan (midik) yaitu meninjau lokasi perladangan untuk melihat apakah lading yang akan dibuka keadaan tanahnya sudah kembali subur atau belum, yang ditandai dengan ukuran pohon yang ada. Ketiga penebangan pohon-pohon dan membersihkan lahan yang disebut nepeng, yang diadakan kurang lebih 15 hari. Batang pohon yang besar digunakan untuk memdirikan pondokan sebagai tempat tinggal sementara sampai...
Secara etimologis Dayak diartikan sebagai salah satu kelompok penduduk “asli” Pulau Kalimantan yang menempati hampIr seluruh bagian pulau ini bahkan sampai ke Malaysia. Pemukiman mereka berada dekat pantai, muara-muara sungai, percabangan anak sungai (besar maupun kecil) serta di daerah – daerah pedalaman. Suku Dayak yang tinggal di Kalimantan Timur khususnya di Kabupaten Kutai Kartanegara terdiri dari beberapa puak. Puak ini dibagi lagi dalam suku kecil seperti Dayak Kenyah, benuaq, Bahau, Tunjung, Tegalan, Tumbit, Pusuk, Malinau, Bau, Punan, Berusu, Kayan, Basap, Labbu, Penihing, Long Galat, Saputan, Modang, Bentian, Burotmata dan Busung. Namun jika dilihat dari jumlah komunitasnya hanya ada enam kelompok besar yakni Kenyah, Benuaq, Tunjung, Modang, Bahau dan Punan. Suku Dayak memanfaatkan sumber daya alam yang ada disekitarnya untuk pangan, sandang dan teknologi tertentu. Untuk kebutuhan social mereka mengembangkan berbagai macam adat, tradisi dan...
Pacar terbuat dari bahan daun pacar yang ditumbuk halus dan diberi bentuk bundar seperti kelereng kemudian dengan suatu upacara diletakan keujung jari telunjuk dan jari manis masing – masing mempelai, kemudian ( kurang lebih 6 jam ) bila pacar dilepas akan meninggalkan bekas warna merahBila pacar kemudian dilepas akan meninggalkan bekas warna merah. Pelaksanaan Upacara Bepacar adalah sebagai berikut: Pacar dari mempelai pria maupun mempelai wanita di tempatkan dalam wadah tradisional, kemudian dipertukarkan dan diarak ke tempat ketempat mempelai masing – masing yang diramaikan dengan barisan rabana/hadra. Kemudian kedua mempelai ditempat pelaminan masing-masing didudukan di atas tilam kasturi dengan segala kelengkapan adat lainnya. Sementara pembaca berjanji dilangsungkan. Makna Upacara adat Bepacar adalah: Sebagai kelengkapan hiasan untuk naik pengantin perkawinan. Sebagai Syi’ar kepada masyarakat sekitarnya, t...
1. Suku Benuaq/Tunjung Peran Api : Jika terjadi kematian, gong dibunyikan dengan irama paluan agak jarang yang disebut Titi sebagai tanda telah terjadi kematian. Maksudnya supaya segera diketahui oleh kaum familinya. Setelah mayat dimandikan, mayat tersebut diukir – ukir dengan darah ayam, kemudian dibungkus dengan kain sebanyak 7 helai. Mayat tersebut lalu dimasukan kedalam peti yang terbuat dari kayu bundar yang disebut Lungun. Kenyau : Bagi orang yang mampu, lungun itu dilapisi dengan lungun yang lebih besar dan diukir seindah mungkin serta diwarna – warnai. Lungun lapisan tersebut dinamakan Selong. Selanjutnya dilakukan pula upacara adat selama 9 hari dan memotong kerbau. Adat ini disebut Kenyu. Kuwangkai : Setahun atau dua tahun kemudian, mayat tersebut dibongkar dari dalam selong tersebut diatas dat tulang – menulangnya dikumpulkan lalu dibuat dalam tempayan. Orang mulai melakukan upacara Adat Kuwangkai yang berlangsung selama 14 hari deng...