Celana Cekak Musang Secara umum, celana yang dikenakan pada pakaian adat Aceh untuk pria dan wanita sama saja. Celana Cekak musang dilengkapi dengan lilitan sarung sepanjang lutut sebagai penghiasnya. Kita akan dengan mudah melihat wanita Aceh menggunakan celana ini terutama saat ada pertunjukan tari saman. https://www.silontong.com/2018/07/27/pakaian-adat-aceh/
Penutup Kepala dan Perhiasan Sesuai dengan julukan Serambi Mekkah yang di sandangnya, pakaian adat dari Provinsi Aceh untuk wanita sebisa mungkin dibuat menutup seluruh auratnya, termasuk pada bagian kepalanya. Bagian kepala wanita Aceh ditutup dengan kerudung bertahtakan bunga-bunga segar yang disebut Patham Dhoi. Kepala dan bagian tubuh lainnya juga akan dilengkapi dengan beragam pernik perhiasan seperti Tusuk Sanggul Anting, Gelang, Kalung, dan lain sebagainya. https://www.silontong.com/2018/07/27/pakaian-adat-aceh/
Dalam kalender Aceh, ada tiga bulan berturut yang disebut dengan bulan maulod, yaitu padabulan Rabiul Awal disebut Maulod Awai (Maulid Awal) yang dimulai dari tanggal 12 Rabiul Awal sampai berakhir bulan Rabiul Awal. Sedangkan Kenduri Maulid yang dilaksanakan pada bulan Rabiul Akhir disebut Maulod Teungoh (Maulid Tengah) yang dimulai dari tanggal 1 bulan Rabiul Akhir sampai berakhirnya bulan Rabiul Akhir tersebut. Selanjutnya, Kenduri Maulid pada bulan Jumadil Awal disebut Maulod Akhee (Maulid Akhir) yang dilaksanakan sepanjang bulan Jumadil Awal. Kenapa dikatakan tradisi terbesar? Karena tidak ada desa (Gampong) yang tidak merayakannya meskipun dalam skala kecil. Kemudian dilaksanakan juga di tingkat kecamatan, kabupaten dan provinsi yang dilakukan secara besar-besaran. Pada setiap perayaan maulid itu dan sudah menjadi tradisi hampir dapat dipastikan ada penyembelihan sapi atau kerbau. Penyembelihan sapi atau kerbau itu sampai puluhan ekor tergantung tingkatanny...
BANDA ACEH - Dinas Pariwisata Aceh akan menggelar Festival Pulo Aceh 2017 selama dua hari yakni 22-23 Juli 2017 di Pulo Breuh dan Pulo Nasi, yang berada dalam Kecamatan Pulo Aceh , Aceh Besar. Kegiatan itu dilaksanakan atas kerja sama dengan Badan Pengusahaan Kawasan Sabang (BPKS), Dinas Pariwisata, Pemuda dan Olah Raga (Disparpora) Aceh Besar dan Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Kemendikbud Aceh. Festival itu mengangkat tema “Explorasi Destinasi Pulo Aceh ”. Sejumlah agenda kegiatan eksplorasi wisata alam dan kebudayaan akan mewarnai festival itu, di antaranya Pentas Seni dan Budaya, Pulo Aceh Photo Hunting, Camping, Lomba Mewarnai, Permainan Rakyat “Ceria Bersama Anak Pulo”, Fun Bike, Jet Ski dan Fun Dive, Paramotor Show, Lomba Mancing, Pameran/Bazaar, Sosialisasi Sapta Pesona, Aksi Bersih Pantai, dan Penanaman Mangrove. “Tidak hanya memberikan hiburan kepada masyarakat setempat,...
Warna yang berani menjadi ciri khas dari batik asal Aceh ini. terkait corak, batik Aceh lebih sering menggunakan motif yang berkaitan dengan budaya masyarakat yang dikombinasikan dengan unsur-unsur alam. Pengaruh agama Islam yang kuat berimbas pada bentuk motif batik yang dihasilkan. Dalam hal ini, batik Aceh tidak menggunakan gambar binatang. Alasannya, karena dalam ajaran Islam makhluk hidup tidak boleh digambar. Sumber : https://fnrbatik.com/motif-batik/
HABADAILY.COM - Pemerintah Kota Banda Aceh menggelar event berskala Internasional, Festival Kopi dan Kuliner Aceh tahun 2016. Event yang dibuka Staf Ahli Bidang Kemaritiman, Kementerian Pariwisata Republik Indonesia, Syamsul Lussa, Selasa (10/05/2016) mendapat antusias yang luar biasa dari wisatawan manca Negara dan wisatawan lokal. Festival ini juga mendapat perhatian besar dari ribuan Warga Banda Aceh yang memadati lapangan Blang Padang, Banda Aceh. Pembukaan Festival Kopi dan Kuliner Aceh 2016 ini ditandai dengan proses penyaringan kopi bersama yang dilakukan oleh Wali Kota Banda Aceh Illiza Sa'aduddin Djamal SE, Sekretaris Jenderal Kota Serikat Turki, Hayrettin Gungor dan Staf Ahli Bidang Kemaritiman Pariwisata, Syamsul Lussa. Sesaat sebelum pembukaan, panitia menampilkan sejumlah penampilan di panggung utama, mulai dari Rara Tarmizi dan Rahmi, kolaborasi tarian tradisional Aceh dan Bali hingga tarian kolosal Keumalahayati yang melibatkan 200-an penari. Penam...
BLANGPIDIE -- Krueng Baro di Kecamatan Lembah Sabil, Kabupaten Aceh Barat Daya menjadi tujuan utama masyarakat untuk memperingati tradisi tolak bala yang dilakukan di pengujung bulan Safar pada Rabu, 15 November 2017. Tradisi ini telah dilakukan secara turun temurun bagi warga Abdya dan sekitarnya. Hanya saja saat ini tidak ada ritual-ritual khusus yang dilakukan, selain hanya sebagai ajang berkumpul dengan keluarga atau piknik sambil makan bersama. Salah satu warga setempat, Ernawati, mengatakan, tradisi tolak bala ini menjadi tradisi tahunan bagi masyarakat setempat. Kemeriahan menyambut tradisi ini tak ubahnya seperti menyambut kedatangan bulan Ramadan. "Sehari sebelumnya warga khususnya perempuan sudah sibuk mempersiapkan masakan untuk dibawa ke sungai atau ke pantai. Biasanya ada yang memasak daging, atau ketupat," ujar Erna kepada portalsatu.com . Amatan portalsatu.com di lokasi, Rabu, 15 November 2017, sungai yang bermuara ke Samudera H...
ACEH TENGGARA merupakan daerah yang berada di pegunungan dengan ketinggian 1.000 meter di atas permukaan laut. Wilayah tersebut kaya akan potensi alam. Dengan kondisi daerah yang berhawa sejuk, pertanian tumbuh subur di sana. Kelebihan itu mendukung warga setempat meramu kuliner yang lezat. Salah satu makanan Alas yang tak tertinggal di meja hidangan masyarakat Aceh Tenggara adalah ayam labar. Kuliner di lembah alas ini disebut menu sehat. Sebab, pembuatannya tanpa menggunakan minyak. Biasanya, setiap ada pesta perkawinan atau sunatan rasul, makanan ini tetap terhidang sebagai menu utama. Sebagian besar masyarakat alas menyakini, Ayam Labar mampu mengobati penyakit mimbar akibat gangguan jin, sehingga menjadi bagian budaya mereka. Pada Serambi Kuliner edisi Sabtu ini, Darnawati, penduduk Kompleks Guru, Pango Raya, Kecamatan Ulee Kareng, Banda Aceh, berbagi resep ayam labar kepada pembaca. DUA perempuan muda cekatan memotong ayam kampung muda. Masing-masing mengambil per ek...
Pada Hari yang telah disepakati, datanglah beberapa orang perwakilan dari pihak laki-laki ke rumah pihak perempuan, pihak laki-laki yang datang yaitu : Wali, Theulangke, Keuchik, Teungku. Dan di rumah perempuan, telah ada wakil dari pihak perempuan, yaitu: wali, Theulangke dan orang yang dituakan, yang menunggu kedatangan utusan pihak laki-laki. Pihak laki-laki datang dengan membawa sirih dalam cerana “Batee Ranup” serta penganan ringan (Bungong jaroe) yang bertujuan sebagai penguat ikatan kedua belah pihak. Setelah acara lamaran ini selesai, maka perwakilan pihak laki-laki akan mohon pamit untuk pulang. Sementara itu keluarga pihak wanita meminta waktu untuk bermusyawarah, mengenai diterima-tidaknya lamaran tersebut. Keputusan tidak diberikan pada saat itu, melainkan dilakukan musyawarah (Duek Pakat) terlebih dahulu dengan sanak family dalam keluarga anak gadis itu, Dan apabila lamaran tersebut diterima maka baru disampaikan pada Theulangke pihak laki-laki,...