ACEH TENGGARA merupakan daerah yang berada di pegunungan dengan ketinggian 1.000 meter di atas permukaan laut. Wilayah tersebut kaya akan potensi alam. Dengan kondisi daerah yang berhawa sejuk, pertanian tumbuh subur di sana. Kelebihan itu mendukung warga setempat meramu kuliner yang lezat. Salah satu makanan Alas yang tak tertinggal di meja hidangan masyarakat Aceh Tenggara adalah ayam labar. Kuliner di lembah alas ini disebut menu sehat. Sebab, pembuatannya tanpa menggunakan minyak. Biasanya, setiap ada pesta perkawinan atau sunatan rasul, makanan ini tetap terhidang sebagai menu utama. Sebagian besar masyarakat alas menyakini, Ayam Labar mampu mengobati penyakit mimbar akibat gangguan jin, sehingga menjadi bagian budaya mereka. Pada Serambi Kuliner edisi Sabtu ini, Darnawati, penduduk Kompleks Guru, Pango Raya, Kecamatan Ulee Kareng, Banda Aceh, berbagi resep ayam labar kepada pembaca. DUA perempuan muda cekatan memotong ayam kampung muda. Masing-masing mengambil per ekor ayam dan memotongnya menjadi 16 bagian. Usai itu, kakak-beradik itu berbagi tugas. Si Adik merebus ayam yang telah dipotong tadi dengan air. Kemudian menambah garam secukupnya hingga empuk.
Sementara si kakak mengambil peran lain. Dia mengambil satu ons kelapa yang telah diparut, kemudian digongseng. Sambil menunggu ayam yang direbus, si adik memarjut kelapa muda dan menyiapkan segelas santan yang diperas dengan air hangat. Selesai tugas menggongseng kelapa, kakak menggiling bawang putih, bawang merah, ketumbar, lada hitam, batang serai, dan lengkuas. Kemudian mengiris bawang merah dan jeruk nipis.
Usai itu, bumbu-bumbu yang telah dihaluskan diaduk dengan santan hangat. Dimasukkan irisan bawang merah, kelapa gongseng, ayam yang telah direbus, parutan kelapa muda, dan menambah garam serta jeruk nipis secukupnya.
Alhasil, ayam lebar pun tersajikan di meja hidangan. Aromanya yang wangimerangsang keinginan untuk lekas ke meja makan.
Kakak beradik tersebut adalah Hj Darnawati dan Farida Hanum. Sejak lama, mereka berdomisili daerah Pango Raya, Banda Aceh. Mereka sengaja menyibukkan diri membuat makanan ayam labar dan nasi kepel sebagai santapan di siang.
Ayam labar merupakan salah satu makanan tradisional khas Alas. Kakak-beradik tersebut sengaja membuat ayam labar dan nasi kepel karena rindu kampung halamannya. Untuk mengobati kerinduannya, mereka menyiapkan makanan tradisional yang biasa dinikmati di acara kenduri penamanan, sunatan rasul, maupun perkawinan di Aceh Tenggara.
Persiapan masak mulai dari mengukur kelapa muda dan tua, melayukan daun pisang, merebus ayam muda, mengupas bawang, dan menggiling bumbu-bumbu dikerjakan berdua. Sambil sesekali, gelak tawa mengenang masa 25 tahun silamterdengar dari dapur rumah.
Kenapa hanya berdua? Karena membuat ayam labar ini sangat simpel. Untuk mempersiapkan menu ini, tidak membutuhkan tempat yang luas. Waktu pengerjaannya pun tak terlalu lama: hanya 1 jam.
Ada yang unik dari pembuatan ayam labar ini. Proses memasaknya tanpa menggunakan minyak goreng. Karena itu, ayam labar ini diyakini sangat baik untuk kesehatan pencernaan. Untuk mengobati kerinduan akan kampung halaman, Hj Darnawati mengundang teman-teman dan sanak saudara serantauan di Banda Aceh, menikmati masakan tradisional khas suku Alas ini di kediamannya. Masyarakat suku Alas di Banda Aceh pun bisa merasakan keberadaan di kampung halamannya dari kuliner yang simpel ini.
Nah... bagi Anda yang penasaran dengan kelezatan ayam labar berbahan ayam kampung ini, silakan mencoba langsung di rumah. Sebagai pelengkap, menu ini cocok dinikmati dengan nasi putih yang dibungkus daun pisang, atau disebut nasi kepel.

Sumber : http://aceh.tribunnews.com/2013/12/14/ayam-labar-obat-rindu-kampung-halaman
Kidung Lakbok atau Wawacan Kidung Lakbok adalah karya sastra lama berbentuk wawacan yang berasal dari Kecamatan Lakbok, Kabupaten Ciamis. Naskah ini diterbitkan kembali dan disusun rapi oleh M. Karso Prawiraatmadja di Bandjar pada tanggal 31 Agustus 1956. Karya ini menyimpan nilai sejarah dan kearifan lokal masyarakat setempat. Dokumentasi digital dan data ini disusun serta disumbangkan oleh Henri Purwanto.
HUDON TANO (Periuk Tanah) Di bawah ini merupakan foto tua (foto jaman dulu) penjual Hudon Tano (Periuk Tanah) di Onan (Pasar) Tarutung di tahun 1930. Masyarakat Batak yang tinggal di Sipoholon, Tarutung, dahulu kala terkenal sebagai "Sitopa Hudon" (pembuat periuk tanah). Dahulu, Hudon Tano ini digunakan secara meluas di Tanah (Tano) Batak sebagai alat masak tradisional. Bisa dibayangkan betapa enak dan nikmat rasanya melihat dan menikmati arsik atau menggulai Ikan Mas atau Ikan Batak (Ihan Batak), Porapora (Ikan Air Tawar), Haruting (Ikan Gabus), SIbahut (Ikan Lele), dan Incor (Ikan Air Tawar Kecil) yang dimasak menggunakan Hudon Tano ini... Sumber Foto : KITLV 28692
Benda Magis Masyarakat Batak Toba : Pagar Jabu - Sahan - Pohung 3 benda magis ini termasuk kategori Ilmu Putih yang berfungsi sebagai pelindung dari sihir dari niat orang jahat. PAGAR JABU (Bahasa Batak Karo : Bekam-bekam), berbentu tanduk hewan berisi sibiangsa (ramuan magis) yang berfungsi sebagai pelindung rumah dari serangan sihir jahat. SAHAN, terbuat dari gading atau tanduk tempat menyimpan pupuk (abu jenazah) yang memiliki kekuatan magis sebagai pagar (pelindung) dan konon dapat diminta untuk membinasakan musuh. POHUNG, sejenis ukiran yang dibungkus ijuk lalu diisi ramuan magis. Pohung ditempatkan di dalam rumah dan / atau di kebun yang memiliki fungsi mencegah niat jahat / pencuri hasil kebun dan harta di rumah. Sumber Koleksi : Museum Negeri Provinsi Sumatera Utara
Ilmu Tamba Tua adalah Elmo Kuno Batak (Ilmu Putih), dahulu ilmu ini dipercaya jika diamalkan akan mendatangkan kemakmuran serta kekayaan. Transliterasi (alih aksara) : ahu debata ni raja di bindu jao raja ni tam (ba) tua raja on di sim- bora di bulung hayu na denggan go- rar pe i do jadi lapi ni ta- taring ni ru- manta jadi tondolan ni balatuk ni rumah bea la... Rajah "gambar" di bawah bernama dewa "bindu jao". Rajah ini ditulis pada timah dan daun kayu (jenis yang bisa dituliskan). Rajah ini akan membawa kemakmuran bagi penghuni rumah apabila dibuat menjadi alas tungku perapian dan jika diletakkan sebagai alas tangga rumah. Sumber Foto : Verzeichnis der orientalischen handschriften in Deutschland
Surat Tulisan Tangan Ompu i Pendeta Dr I.L. Nommensen tahun 1871 dengan Aksara Batak Toba dan Bahasa Batak Toba Klasik (na robi). Nommensen, Apostel Orang Batak dan Ephorus HKBP Pertama tahun 1881 - 1918, sangat fasih berbahasa Batak Toba klasik dan kontemporer (na imbaru), Nommensen juga sangat mengusai tulisan dan / atau aksara Batak Toba. Surat yang ditulis tangan Ompu i Nommensen di Pearaja, Tarutung, tanggal 02 Agustus 1871 ini merupakan dokumen dan bukti sejarah yang sangat penting, yang menunjukkan betapa Beliau menguasai serta menghormati adat, budaya, tradisi, dan literasi masyarakat Batak Toba. Beliau tidak memaksakan bahasa Jerman dan aksara Latin, tetap justru menggunakan bahasa dan aksara asli masyarakat Batak Toba untuk berkomunikasi dan mendokumentasi pelayanannya. Sumber Foto : Sopo Nommensen, Pearaja, Taruutung Sumatera Utara