Dalam pagelaran ritual adat Supi Tawa, etnis Tanai Ai, Sikka, Flores Timur, di hutan tempat awal ditemukan keris pusaka, setelah memberikan Piong atau persembahan berupa telur ayam serta beras, sirih pinang dan Arak kepada sang pencipta dan penguasa langit dan bumi serta para leluhur, hewan sembelihan berupa ayam semuanya dibakar di tempat ritual dan dimakan bersama nasi. Selama ritual berlangsung, makanan yang dimakan tidak diperkenankan menggunakan piring tetapi diletakan di dedaunan serta minum air atau arak pun harus menggunakan tempurung kelapa atau gelas bambu yang bahannya diambil di sekitar hutan tempat ritual berlangsung. Sejak dahulu ada pantangan untuk menggunakan piring dan gelas, hanya boleh mempergunakan bahan-bahan dari alam yang ada di sekeliling tempat ritual. Nasi dimasak di dalam bambu lalu dibakar hingga matang sedangkan hewan sembelihan pun dibakar dan dipotong kecil-kecil untuk dijadikan persembahan yang diletakan di tempat tersebut serta sisanya...
Konsumsi pangan lokal seperti ubi dan singkong bagi warga kabupaten Sikka maupun provinsi NTT, mulai digandrungi sejak Gubernur NTT, Drs. Frans Lebu Raya, gencar mempromosikan gerakan mengkonsumsi pangan lokal sejak sekitar 2015. Meski demikian, konsumsi ubi hitam bagi warga kabupaten Sikka dan di Flores Timur hampir sering dilakukan, mengingat makanan ini selalu dijual setiap sore di sepanjang jalan Gajah Mada, Kota Maumere, bersama aneka makanan lokal lainnya seperti singkong rebus, pisang, kacang rebus dan lainnya. Makanan lokal sudah menjadi konsumsi masyarakat Sikka setiap hari. Ubi hitam paling banyak dibeli masyarakat, sebab rasanya yang beda dan hanya beberapa warung senja yang jual makanan lokal saja yang menjualnya. Dalam membuatnya, ubi direndam semalam dan dibuang airnya, lalu ditutup dengan daun Reo atau Turi selama satu atau dua malam hingga tumbuh jamur dan berwarna kehitaman. Kalau sudah berwarna hitam, baru direbus hingga matang, lalu diangkat dan biasan...
Sombu diolah memakai parutan kelapa dan gula merah dari Aren. Setelah matang dan masih panas, dipotong memakai benang sehingga berbentuk bulat ceper Sombu biasanya dihidangkan saat acara-acara adat seperti Penti atau pesta panen serta bisa pula dihidangkan pada acara-acara resmi pemerintahan dan even besar yang dihadiri tamu dari luar daerah. Proses pembuatannya pun tidak lama sebab hanya sekitar 15 sampai 30 menit sudah matang asal apinya diatur agar menyalanya tidak terlalu besar serta merata sehingga proses matangnya pun sempurna. Dulu Sombu hanya dihidangkan saat acara adat saja sehingga jarang yang mengkonsumsi sebab tidak dijual umum sumber: https://www.cendananews.com/2017/07/sombu-makanan-lokal-manggarai-dari-singkong.html
Mage Wair atau Kuah Asam merupakan salah satu makanan khas masyarakat Sikka. Makanan sederhana ini biasa dihidangkan setiap hari di kebanyakan keluarga. Mempergunakan bumbu-bumbu tradisional rasa Mage Wair tetap lezat dan aromanya memikat di tengah cuaca panas yang melanda kota Maumere. Memasak Mage Wair gampang dilakukan, bumbu–bumbu yang dipergunakan mudah dijumpai dan dibeli di kios atau pasar. Pertama, kita perlu menyediakan bumbunya terlebih dahulu. Bawang putih, bawang merah, kunyit, halia, daun sere atau kemangi,asam, garam dan lombok.Bawang putih dan bawang merah diiris. Kunyit dan halia di memarkan. Lombok kecil dihaluskan atau jika memakai lombok besar maka sebaiknya diiris saja. Garam dan asam disiapkan secukupnya. jika mau asamnya lebih terasa, sebaiknya memakai asam kering. Daun Kemangi bisa ditambahkan sedikit buat pengharum. Bila memakai ikan basah ukuran besar maka saran Maria,ikannya dipotong kecil– kecil sesuai selera.Tapi kalau ikannya seleba...
Saat digelar ritual Gole Mati di rumah adat Korke di Desa Lewokluok, semua suku terlihat membawa Beloma masing–masing untuk diletakan diatas pelataran Korke. Beloma ini yang nantinya dimakan oleh para tetua adat dan kepala suku dari 18 suku yang ada di komunitas adat Demon Pagong. Beloma adalah makanan lokal masyarakat Flores Timur yang jarang sekali dijumpai kecuali saat–saat pagelaran ritual adat maupun saat pesta syukuran. Itu pun hanya dijumpai di pelosok desa saja sementara di kota Larantuka jarang sekali makanan ini disajikan. Pembuatannya yang lama dan membutuhkan bambu, jadi penyebab makanan ini jarang disajikan. Beloma dibuat dari otak dan sedikit hati babi yang dicampur lemak, jantung, lidah, usus yang diiris kecil – kecil dan dimasukan ke dalam bambu. Di dalam bambu tersebut juga dimasukan darah babi bekas penyembelihan pagi tadi yang terlihat mulai menggumpal. Untuk menjaga agar uap panas dari bambu yang dibakar tidak keluar, bagian...
Etnis Tana Ai di wilayah timur Kabupaten Sikka dikenal masih kental mempertahankan adat dan budaya. Makanan lokal sederhana namun terasa memanjakan lidah sering kali disajikan setiap ada perhelatan pernikahan, sambut baru (komuni pertama) maupun ritual adat. Ohu Ai Prungan salah satunya, kuliner dari Ubi kayu kering (gaplek) yang diambil dari kebun menjadi bahan dasar untuk pembuatan Ohu Ai Prungan. Langkah awal, ubi dikupas dan dikeringkan dengan cara dijemur minimal dua minggu. Ubi kayu ditumbuk di Lesung hingga halus lalu ditapis memakai Nyiru. Ubi yang ditumbuk harus sampai halus menyerupai tepung. Persiapan lainnya, yakni parutan kelapa. Kelapa yang dipakai sebaiknya jangan terlalu tua biar hasilnya lebih renyah dan baunya lebuh harum. Kelapa parut dan tepung ubi kayu (Ohu Ai) diaduk merata di Nyiru (Lida) seraya diremas kedua tangan. Saat diaduk tambahkan sedikit air saja biar legket. Biasanya cuma dicampur kelapa saja tanpa dicampur gula. Tapi kadang juga campur denga...
Bahan: Daging sapi yang masih muda 1 kg Bumbu-bumbu: Serai 1 batang Bawang merah 10 buah Lombok rawit 15 biji Garam 1 sdm Cara membuatnya: Bumbu ditumbuk sedikit halus. Daging dipotong-potong kecil, dicuci, lalu dicampur dengan bumbu. Campuran ini dibakar sampai matang. Keterangan: Cara membakarnya sebagai berikut: Dipilih beberapa butir batu kali sebesar bola pingpong. Batu ini dibakar sampai menajdi merah, kemudian dimasukkan ketengah-tengah campuran daging. Semuanya dimasukkan dalam bambu atau dibungkus daun lontar atau pelepah pisang yang basar. Setelah diikat erat-erat, dipanggang diatas bara. Sumber : Buku Mustika Rasa Sukarno Halaman 755
Buras adalah salah satu makanan khas etnis Tidung Bajo di perkampungan nelayan Wuring merupakan satu keharusan, di mana kuliner ini selalu disuguhkan kepada para tamu yang berkunjung ke kampung ini sebagai sebuah penghormatan. Buras sering dijual di pasar senja Wuring dimana empat buahnya dijual seharga 5 ribu rupiah. Hampir semua masyarakat Wuring yang merupakan suku pelaut selalu menyajikan makanan khas ini terlebih saat hari raya Lebaran dan saat pesta. Buras dibuat dari beras ketan atau beras biasa yang dimasak dengan santan dan dibungkus di daun pisang lalu dikukus. Ada juga yang membungkusnya di daun bambu lalu dibakar agar bisa tahan lama. Cara membuat Buras, yakni kelapa yang sudah tua diparut dan diambil santannya. Santan dimasak hingga mendidih lalu beras yang sudah dicuci dan direndam di air dimasukan ke dalam santan. Beras yang sudah dicampur santan tersebut terus diaduk hingga merata sampai santannya mengering. Setelah dibiarkan dingin, Buras tersebut dibung...
Bahan : 400 gram beras ketan, dicuci bersih 150 ml santan dari 1/2 butir kelapa 1 sdt garam Daun pisang untuk membungkus Cara membuat : Kukus beras ketan 10 menit. Rebus santan dan garam sampai medidih. Masukkan beras ketan, aduk sampai terserap. Angkat. Bungkus beras ketan dengan daun pisang. Ikat dengan tali sambil dipadatkan. Rebus sampai matang. RM/Toko yang Menyediakan : Subasuka Paradise Restoran Alamat: Jl. Timor Raya, Klp. Lima, Kota Kupang, Nusa Tenggara Tim. Telepon: (0380) 833968 sumber: http://resepmasakanlengkap.blogspot.co.id/2009/10/kalesong.html