Mandoran, bukan kepala pengawas saat ada pengerjaan rumah lho. Mandoran di sini adalah salah satu tradisi yang mengiringi hajatan seperti khitnanan dan pernikahan. Namun apa sih sebenarnya Mandoran itu, kami juga sebenarnya baru mendengar tradisi tersebut setahun yang lalu. Karena memang tidak semua daerah mengenal istilah ini. Mandoran sendiri adalah salah satu tradisi “salam tempel” pada si-empunya hajat. Sejumlah uang dimasukan ke dalam amplop lalu diberikan secara langsung sembari bersalaman. Lalu dimana uniknya? Pada jaman dahulu, bagi yang memberi mandoran (pada anak kecil atau sepantaran), nanti akan diberi imbalan beberapa buah permen. Namun sekarang ini berubah menjadi beberapa makanan kecil yang dibungkus menarik dalam sebuah kantong plastik, layaknya sebuah bungkus jajanan ulang tahun. Jika tidak, terkadang diberi berkat. Nah hal inilah yang membuat anak-anak suka dengan tradisi ini. Karena dapet jajan! Ada tata krama sendiri seperti di daerah l...
Meskipun usia mereka tidak lagi muda tapi semangat mereka untuk menjadi salah satu peserta yang ambil bagian dalam Solo Karnaval tidak kalah dari anak-anak muda. Inilah Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Kejawen yang turut meramaikan parade Solo Karnaval yang tahun ini mengambil tema Merayakan Kostum Jawa. Sambil memegang alu atau alat penumbuk padi dan memakai topi caping khas ibu-ibu yang akan berangkat ke sawah, ibu-ibu ini berjalan perlahan dalam barisan parade Solo Karnaval yang mengambil tempat di sepanjang jalan dari Ngarsupura hingga ke Jalan Sudirman lokasi puncak acara Solo Karnaval digelar. Baju lurik beraneka warna yang mereka kenakan terlihat memberikan warna tersendiri dalam rombongan arak-arakan Solo Karnaval. Meskipun perjalanan arak-arakan yang harus dilalui menempuh jarak yang lumayan jauh, tapi mereka tetap berjalan kaki dengan penuh semangat. " Kita senang bisa ikut parade ini" begitu ungkap salah satu peserta dari Pokdarwis Kejawen ini. Sesekali...
Tradisi ini sudah ada sejak dahulu kala sampai sekarang masyarakat kota tegal masih tetap melaksanakannya. Tradisi ini dilakukan pada saat bayi berusia satu tahun. Pada usia setahun ibu dari anak tersebut membuat bubur sumsum dan bubur cadil untuk dibagikan kepada para warga. Dan juga menyiapkan buku, kaca, emas, uang, padi, pulpen yang ditaruh di atas piring dengan nasi kuning. Sebelum bubur tersebut di bagikan akan ada serangkaian acara. Acaranya nanti si bayi akan di pangku dengan anggota keluarganya kecuali ibu dan bapak kandung, nanti bayi tersebut di masukkan ke dalan kurungan ayam dengan posisi yang sudah di pangku. Nanti di luar kurungan si nenek dari bayi tersebut memutari kurungan tersebut dengan membawa ceplik dan sambil membacakan doa-doa, setelah itu kurungan di buka lalu si bayi di perbolehkan untuk mengambil barang-barang yang sudah di sediakan ibunya tadi. Barang-barang tadi mempunyai makna tersendiri buku dan pulpen bermakna bahwa nanti kalau bayi...
Salah satu ritual adat yang wajib dihelat Keraton Mangkunegaran adalah malam pergantian tahun baru Jawa atau malam 1 suro. Prosesi acara biasa digelar sejak pukul 7 malam. Sesi Kirab Pusaka menjadi ritual utama dalam acara malam 1 suro. Kirab Pusaka pun ditandai dengan keluarnya 7 pusaka dari dalam istana. Ketujuh pusaka dibawa oleh para abdi dalem dan diapit dengan iring-iringan pembawa ratus atau wewangian. Selama dilangsungkannya prosesi kirab, para peserta dilarang menggunakan alas kaki dan mengeluarkan suara. Kirab pusaka akan memutari istana Mangkunegaran selama 1 kali atau sepanjang 3 kilometer.
Tradisi ini dilaksanakan pada saat akhir tahun, warga berbondong-bondong membuat gunungan sedekah bumi yang isinya buah-buahan dan sayur-sayuran. Buah-buahannya seperti pisang, apel, jeruk, mangga, bengkuang, belimbing, jambu air dan sayur-sayurannya berupa terong, kacang panjang, tomat, cabe, timun, pare. Lalu di tengah tengah gunungan tersebut di taruh kepala sapi. Banyak warga yang membuat gunungan sedekah bumi, mereka sangat antusias dalam melaksanakan tradisi tersebut. Lalu gunungan sedekah bumi tersebut di angkut dengan menggunakan kapal-kapal besar, ada banyak kapal yang mengangkut, gunungan sedekah bumi tersebut akan di buang di tengah laut dengan menggunakan kapal-kapal tadi. Bapak-bapak, ibu-ibu serta anak-anakpun diperbolehkan untuk menaiki kapal-kapal tersebut. Setelah kapal-kapal tersebut kembali biasanya di sambut dengan tanggapan orjen-orjen dangdut. Banyak di sekitar pantai yang berjualan, ada yang berjualan pakaian, mainan, makan an dan minuman. B...
Masyarakat kota tegal biasa membuat nasi kuning yang isinya telur dadar, urab (sayuran yang di masak menggunakan bumbu kelapa), terong mentah, wortel mentah, cabe, pete, timun, ikan gesek, tahu goreng, tempe goreng. Lalu di masukkan ke dalam mika plastic yang berukuran sedang, masyarakat kota tegal biasa menyebutnya dengan sega onggal anggil. tradisi ini dilaksanakan pada awal tahun, tidak ada doa-doa khusus di dalamnya, setelah semuanya matang bisa langsung di bagikan kepada warga sekitar. Sumber: http://blog.unnes.ac.id/aenunanisastuti/2017/12/03/kebudayaan-pada-masyarakat-kota-tegal/
Rebo Wekasan atau bisa juga disebut Rebo Pungkasan merupakan salah satu tradisi masyarakat yang dilaksanakan pada hari Rabu terakhir di bulan Safar kalender lunar versi Jawa dengan tujuan untuk 'talak bala' (menolak bencana). Kegiatan yang dilakukan berkisar pada berdoa, Shalat Sunnah, bersedekah. Selain itu ada juga kegiatan mencukur beberapa helai rambut dan membuat bubur merah dan putih yang kemudian dibagikan kepada tetangga. Di Kabupaten Tegal tradisi Rebo Wekasan dilaksanakan di dua tempat, yaitu Kecamatan Suradadi dan Kecamatan Lebaksiu. Meskipun pada dasarnya mempunyai tujuan sama, tetapi ritual kegiatan yang dilaksanakan berbeda. Haul Desa Suradadi Saat Rebo Wekasan Di Desa Suradadi, yang terletak di jalur antara Tegal dan Pemalang sekitar 17 kilometer timur Kota Tegal, tradisi Rebo Wekasan dilaksanakan dengan cara menyelenggarakan Haul sebagai momentum mengenang kembali para ulama yang telah berjasa menyebarkan Islam di daerah tersebut. Hau...
Cerita tentang Mardiyah tokoh legendaris asal Tegal yang kaya raya menurut sumber yang bisa dipertanggung jawabkan (menurut Dasuki Raswadi) adalah Hj. Mardiyah. Wanita kaya itu lahir sekitar tahun 1908 dan memiliki adik yang bernama Zainnudin Yasin, Zainurridho, Kapsah, dan A. Wahid. Beliau hidup dan meninggal di Desa Bandasari Kec. Dukuhturi Kab. Tegal. Dimakamkan di pemakaman umum Kemasanijo Bandasari Kec. Dukuhturi Kab. Tegal. Kekayaan yang dimilikinya antara lain beberapa hotel (konon memiliki hotel juga di Makkah), kapal untuk memberangkatkan jemaah haji. Mardiyah sendiri memiliki sosok tubuh agak kurus kecil kulit sawo matang namun tiap hari selalu memakai perhiasaan emas yang full (penuh) sekujur tubuhnya dan tidak pelit. Mardiah bangkrut karena anak laki-lakinya memiliki hobi berganti-ganti wanita dan rata-rata wanita yang bersamanya matre. Ditambah lagi suami Mardiah juga menikah kembali dengan Fatma. Akibat kakaknya dimadu, seluruh adik-adik Mardiah mulai menjauh d...
Permaian tradisional ini dulu sangat di gemari oleh anak umur 5-12 tahun termasuk kita saat itu. Biasanya permainan ini dimainkan lebih dari 7 anak, 2 anak sebagai penjaga dan sisanya akan berjalan melewati penjaga. Untuk menentukannya biasanya kita terlebih dahulu hompimpa. Setelah ditentukan siapa yang menjadi penjaganya, maka sisanya secara otomatis berbaris dengan posisi tangan diletakkan diatas pundak temannya didepan. Kemudian sambil berjalan melewati penjaga dan sambil menyanyikan lagu ular naga panjang. Jika lagu atau nyanyian tadi sudah selesai maka sang penjaga akan salah satu orang dan orang yang tertangkap haruslah keluar dari barisannya.