Masyarakat Kecamatan Dongko mempunyai cerita sendiri mengenai munculnya kesenian Jaranan Turonggo Yakso dari Trenggalek. Pada awalnya daerah itu dikenal upacara adat yang biasa disebut Upacara Baritan yang diaadakan setahun sekali bertepatan dengan tanggal 1 longkang(jawa : 1 suro) atau 1 muharam. Tempat upacara adat ini biasanya dilakukan di sawah/ladang yang selesai dipanen. Upacara ini bertujuan untuk mengucapkan rasa syukur dan terima kasih kepada dewa pembagi rejeki yaitu Bathara Guru. Bentuk upacara masih sangat sederhana, hanya berupa sesajian yang diperuntukkan bagi nenek moyang dan pembawa rejeki. Menurut cerita rakyat setempat pada jaman dahulu kala, daerah Dongko khususnya dan Kabupaten Trenggalek umumnya adalah daerah yang sangat subur, panen selalu berhasil melimpah. Namun karena kemakmuran dan kehidupan yang berlebihan tersebut membuat warga melupakan upacara adat Baritan yang biasanya dilakukan setiap setahun sekali. OSKMITB2018
Asal Mula Padi Menurut cerita yang beredar di masyarakat, dahulu kala terdapat kerajaan-kerajaan yang di huni oleh raja beserta dewa dewi nya di khayangan.Pada salah satu kerajaan, konon ceritanyan memiliki putri yang cantik danterlahir dari butiran air mata dewa ular yang bernama Antaboga. Antaboga meneteskan air mata nya karena tidak memiliki tangan dan kaki sehingga tidak bisa memenuhi titah dewa penguasa langit,Batara Guru untuk membangun kerajaan. Alhasil tetesan air mata itu berbentuk seperti cangkang telur yang berkilauan, dengan inisiatif Antaboga memberikan itu ke Batara Guru sebagai permohonan maafnya. Batara Guru terpukau dengan keindahan telur itu karena ia temasuk dewa yang suka mengoleksi barang-barang unik, selama hidupnya ia tak pernah melihat telur seindah itu. Saat Batara Guru mencoba untuk memegang cangkang tersebut tiba-tiba muncullah pengelihatan seperti klise yang terus berputar, Batara melihat ia dan istri nya memiliki anak yang cantik dan b...
Budaya kerokan sudah ada sejak zaman kerajaan dahulu. Kerokan berasal dari kata bahasa Jawa yaitu kerok yang berarti garuk. Bahkan,raja-raja dan petinggi kerajaan Nusantara banyak yang melakukan terapi ini untuk kesehatan. Kerokan adalah sebuah terapi pengobatan alternatif untuk mengatasi gejala masuk angin dengan metode menggaruk sambil menekan bagian permukaan kulit menggunakan minyak dan benda tumpul seperti uang logam sebagai alat pengerok, yang selanjutnya menyebabkan guratan merah pada kulit. Semakin merah dan gelap tanda guratannya menandakan "angin" yang terdapat didalam tubuh sudah keluar. Pengobatan tradisional ini kebanyakan menggunakan semacam benda tumpul seperti koin, batu giok, gundu, potongan jahe, potongan bawang, atau benda tumpul lainnya yang digunakan untuk menggosok bagian punggung. Selain benda tumpul tadi, pengobatan kerokan ini juga menggunakan cairan licin seperti minyak telon, minyak kelapa, atau lotion. Cairan licin ini digunakan agar tidak terjadi iritas...
Tari Baris Kraras merupakan tarian tradisional yang berasal dari Bali, tepatnya dari Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung, Bali. Tarian ini termasuk tari wali, yaitu tarian upacara atau tarian sakral yang ditampilkan dalam upacara adat dan agama Hindu di Bali. Tarian ini biasanya dipentaskan di area terdalam suatu pura (jeroan). Tarian Baris Kraras merupakan tari Wali yang dipentaskan dalam upacara Piodalan atau Pujawali atau Aci Tulak Tunggul di Pura Taman Ayun yang jatuh pada hari Selasa Kliwon wuku Medangsia atau setiap 210 hari (enam bulan). Tari Baris adalah tarian yang menggambarkan ketangkasan pasukan, sesuai dengan namanya baris yang berasal dari kata bebaris yang dapat diartikan sebagai pasukan. Oleh karena itu, tarian ini menggambarkan ketangkasan pasukan prajurit. Hal unik dari tarian ini adalah iringannya menggunakan musik vokal dan busana yang digunakan terbuat dari pelepah pisang dan daun pisang tua (kraras) yang dihiasi dengan hiasa...
Masyarakat Kecamatan Dongko mempunyai cerita sendiri mengenai munculnya kesenian Jaranan Turonggo Yakso dari Trenggalek. Pada awalnya daerah itu dikenal upacara adat yang biasa disebut Upacara Baritan yang diaadakan setahun sekali bertepatan dengan tanggal 1 longkang(jawa : 1 suro) atau 1 muharam. Tempat upacara adat ini biasanya dilakukan di sawah/ladang yang selesai dipanen. Upacara ini bertujuan untuk mengucapkan rasa syukur dan terima kasih kepada dewa pembagi rejeki yaitu Bathara Guru. Bentuk upacara masih sangat sederhana, hanya berupa sesajian yang diperuntukkan bagi nenek moyang dan pembawa rejeki. Menurut cerita rakyat setempat pada jaman dahulu kala, daerah Dongko khususnya dan Kabupaten Trenggalek umumnya adalah daerah yang sangat subur, panen selalu berhasil melimpah. Namun karena kemakmuran dan kehidupan yang berlebihan tersebut membuat warga melupakan upacara adat Baritan yang biasanya dilakukan setiap setahun sekali. OSKMITB2018
ada tradisi yang dianggap masih melekat kuat ditengah masyarakat suku bugis pada saat ini yaitu "mabaca doang" dan "massiara kuburu". Mabaca doang sendiri dilakukan malam hari sebelum esoknya melaksanakan Sholat Id. sebagian masyarakat desa dan pedalaman suku bugis untuk menjalangkan tradisi dari nenek moyang yang berguna untuk mengirimkan doa kepada sanak keluarga yang telah mendahului ke hadirat tuhan(meninggal dunia) yang prosesinya menyiapkan makanan seperti sokko,ayam,ketam,udang dan sebagainya dan memanggil tuan guru(katakanlah orang tua kampung,yang dituakan,imam) dengan media dupa,hal ini sendiri dilakukan sebagai bentuk mengingat dan mendoakan walaupun itu lepas dari sisi keagamaan dari banyak pihak. Sementara setelah melaksanakan Sholat Id warga mendatangi kuburan sanak familinya untuk sekedar menyapa dengan doa,membersihkan,bersama dengan keluarga dan ini oleh sebagian warga merupakan satu rangkaian tradisi wajib dalam setiap bulan suci baik ramadhan maupun idhul adha nanti...
Guru Patimpus adalah orang terkenal di Medan. Dia mempunyai sejarah besar sebagai penemu Kota Medan. Berabad-abad yang lalu tepatnya pada tanggal 1 Juli 1560, Guru Patimpus, seorang keturunan Raja Singa Maharaja Negeri Bakerah di dataran tinggi Karo, membangun sebuah perkampungan yang disebut "Medan Putri" . Lokasi ini berada diantara pertemuan Sungai Deli dan Sungai Babura yang dahulu merupakan transportasi utama. Alamatnya adalah Jl. Kapten Maulana Lubis, Petisah Tengah, Medan Petisah, Kota Medan, Sumatera Utara 20231. OSKMITB2018
Tari topeng Klana menggambarkan sifat manusia yang penuh amarah, bertabiat buruk, dan serakah. Tari topeng Klana ini adalah salah satu dari lima topeng Panca Wanda (Panji, Rumyang, Tumenggung, Klana, dan Samba/Pamindo). Tari Topeng Cirebon sudah ada sejak abad 10 atau 11 Masehi. Dulu tari topeng hanya dipertunjukkan untuk kalangan tamu kerajaan dan para patih kerajaan, atau kalau ada tamu dari luar negeri, tari topeng Cirebon hanya ditonton oleh orang-orang tertentu. Sedangkan rakyat biasa hanya bisa menonton dari kejauhan atau kalau di dalam keraton tariannya. Masyarakat hanya melihat dari teralis jendela luar seperti mengintip. Pada masa itu kebanyakan masyarakat masih memeluk agama islam kejawen atau islam yg bercampur dengan kebudayaan hindu seperti membakar dupa dll. Pada zaman itu terdapat wali atau tokoh-tokoh pemimpin islam, mereka selain menyebarkan agama islam mereka juga mendalami kebudayaan masyarakatnya. Karena pada masa itu para wali/tokoh pemimpin agama islam...
Tidak ada sejarah yang pasti tentang kapan tenun songket mulai dikembangkan di Minangkabau atau di Pandai Sikek. Akan tetapi kepandaian menenun tetuntulah sudah dibawa oleh nenek moyang kita bangsa Austronesia atau yang disebut juga Malayo-Polynesia, dari Tanah Asal, ketika terjadi migrasi besar-besaran penduduk dari daratan Asia ke arah selatan dan timur beberapa ribu tahun yang lalu, bersamaan dengan segala kepandaian yang esensial untuk kehidupan, seperti kepandaian bercocok tanam, kepandaian membuat dan menggunakan alat-alat pertanian dan pertukangan dan senjata, dan sebagainya. Sesuai dengan fitrah manusia, kepandaian dasar pertukangan tentu mengalami pengkayaan estetika sehingga menjadi apa yang sekarang dikenal dengan istilah kerajinan, dan kemudian menjadi seni. Hal ini sejalan dengan perkembangan di bidang ekpresi lainnya seperti seni gerak, seni suara dan seni pementasan. Sebagai warisan demikian, tenun bisa dikatakan sama umurnya dengan stelsel matrilinial orang Minang,...