PALLU CELLA Pallu Cella adalah makanan khas Makassar asli dari suku Bugis. Pallu Cella sendiri didefinisikan secara Bahasa yaitu “Pallu” yang berarti masak dan “Cella” yang berarti garam. Terdapat beberapa pilihan bahan utama untuk membuat Pallu Cella antara lain ikan cakalang, laying, bolu, sibula, atau tembang. Berdasarkan definisi secara Bahasa, dapat disimpulkan bahwa Pallu Cella memiliki rasa asin dengan aroma khas kunyit. Bahan yang digunakan: 2 ekor ikan bandeng 2 gelas air 1 sdm garam 1 sdt kunyit bubuk Penyedap rasa Cara membuat Pertama, Bersihkan ikan bolu, buang insang dan kotoran perut, biarkan sisiknya. Setiap ekor dipotong 4 bagian, kemudian dicuci bersih. Selanjutnya, masukkan ke dalam panci, tuang air, beri kunyit, dan garam. Setelah itu, didihkan ikan hingga berubah warna menjadi kuning dan mengental, beri pen...
Dampak perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta pengaruh globalisasi pada kalangan remaja, tak jarang membuat mereka tidak siap kehilangan identitas daerahnya masing-masing. Sebagai putra asli dari Sulawesi Selatan, tulisan ini diangkat karena tidak sedikit generasi muda sekarang sama sekali tidak mengetahui bahasa dan budaya mereka masing-masing, salah satunya adalah budaya Siri’ dan Pesse’ . Kedua kata ini menjadi pandangan hidup dan merupakan azimat kebanggaan daerah ini. Pemaknaan ini dapat dibuktikan dengan tingkah laku orang-orang Bugis, Makassar, Mandar, dan Tana Toraja. Pemaknaan yang cukup luas sehingga penulis hanya mengangkat makna Siri’ dan Pesse’ berdasarkan pandangan dan persepsi orang-orang Bugis saja. Nilai-nilai ini dianggap sudah terlanjur masuk ke dalam sumsum masyarakat daerah ini, sehingga mereka senantiasa menjaga dan memeliharanya dengan baik dan sudah identik dengan harga diri. Siri' dan Pesse’ memiliki ar...
Budaya Mattekkeng/ Mappattekkeng (terjemahan bebasnya menggunakan tongkat) dalam masyarakat Bugis merupakan upacara tradisional yang dilakukan ketika anak/bayi sudah berumur ±1 tahun atau sudah bisa berdiri dan melangkah sendiri tanpa bantuan. Upacara ini dilakukan sebagai bentuk rasa syukur kedua orang tua dan keluarga besarnya, yang ditandai dengan menyediakan ketan putih yang dibungkus dengan daun kelapa yang masih muda atau sering disebut Janur Kuning. Adapun prosesi pembuatannya yaitu ketan putih yang telah dimasak dan diberi santan kemudian dibungkus dengan daun Janur Kuning dan diikat tali dari daun lontar kering sehingga menyerupai sebuah tongkat. Tongkat ketan tersebut selanjutnya dimasak kembali sekitar 3 jam. Ada 2(dua) ukuran tongkat ketan yang disediakan yaitu (1) tongkat ketan dengan panjang ±1 meter dan diameter ±3 – 3,5 cm dan (2) tongkat ketan dengan panjang ±20 cm dan diameter ±2 cm. Tongkat ketan ini kemudian dikenal...
Ronto' adalah salah satu makanan khas Bugis yang berbahan pokok udang kecil mentah yang masih segar, alias hidup. Udang kecil tersebut dapat dijumpai di berbagai pasar tradisional Sengkang, dimana biasanya dijual dengan harga berkisar Rp.5.000 - Rp.10.000. Bahan ronto' sendiri terdiri dari udang kecil yang sudah dibersihkan, namun tidak dilepas dari kulit dan kepalanya. Yang kemudian dicampur dengan bahan-bahan yang telah dihaluskan dengan cara diulek hingga halus. Bahan-bahan tersebut yakni bawang merah, cabai, jahe, dan juga kemiri yang telah di goreng. Serta diberi perisa rasa (garam) dan perasan jeruk nipis sebagai penetrasi rasa udang. Makanan ini sering kita jumpai didaerah Bugis, khususnya Ibukota Kabupaten Wajo, Sengkang. Karena ronto' biasanya sering dikonsumsi oleh masyarakat Sengkang, maka makanan ini jarang dijumpai didaerah lainnya di Sulawesi Selatan. Rasa dari ronto' ini sendiri mirip seperti sambal udang mentah. Dengan perpaduan lembut antara daging udan...
Salah satu adat Suku Bugis yang jarang diketahui masyarakat luas adalah adat naik rumah atau adat saat memiliki rumah baru, adat ini juga sudah mulai luntur sedikit demi sedikit. Apabila seseorang memiliki rumah baru, dan memiliki anggota keluarga atupun tetangga yang masih bayi, maka anak bayi yang pertama kali masuk rumah baru tersebut disentuhkan tangannya dengan air yang ditampung di dalam rumah. Masyarakat Suku Bugis percaya bahwa apabila hal ini dilakukan maka tuan rumah bias mendapatkan rezeki yang bagus. Alasan ritual ini karena anak bayi dipercaya sebagai pembawa keberuntungan. Serta air yang sifatnya dingin, air yang dingin sebagai simbol rezeki dingin, artinya rezeki yang banyak, bagus, berkah, dan halal.
Massuro Baca Massuro baca merupakan salah satu budaya yang berasal dari suku Bugis, Sulawesi Selatan. Budaya ini merupakan ritual turun temurun yang sampai sekarang masih dilestarikan masyarakat, baik itu masyarakat pedesaan maupun masyarakat perkotaan. Massuro baca lebih dikenal dengan berdoa bersama untuk para leluhur dan juga sebagai bentuk rasa syukur kepada Yang Maha Kuasa. Ritual ini biasanya dilakukan pada saat menjelang bulan Ramadhan dan menjelang hari raya lebaran dengan cara menghidangkan aneka hidangan atau masakan seperti nasi, ayam goreng, sup, ikan bakar serta kemenyan dan dupa yang berasap. Semua ini dihidangkan dalam suatu wadah (baki) yang biasanya memuat 4-5 macam hidangan. Setelah semuanya dipersiapkan, para anggota keluarga dalam rumah tersebut akan duduk bersila mengelilingi hidangan sambil ikut membaca doa syukur dan mendoakan para leluhur. Selain itu, masyarakat percaya bahwa massuro baca ini juga bertujuan untuk mendoakan para anggota keluarga agar s...
Rumah dalam bahasa Makassar disebut Balla atau Bola dalam bahasa Bugis. Rumah khas Makassar berbentuk rumah panggung yang tingginya sekitar 3 meter dari tanah. Disanggah oleh tiang-tiang dari kayu yang berjejer rapih. Rumah atau balla berbentuk segi empat dengan lima tiang penyangga ke arah belakang dan 5 tiang penyangga ke arah samping. Untuk rumah milik bangsawan yang biasanya lebih besar, jumlah tiang penyangganya berjumlah lima ke samping dan enam atau lebih ke arah belakang. Atap rumah adat Makassar berbentuk pelana, bersudut lancip dan menghadap ke bawah. Biasanya bahannya terdiri dari nipah, rumbia, bambu, alang-alang. ijuk atau sirap. Jaman sekarang bahan penutup atapnya sudah lebih modern tentu saja. Bagian depan dan belakang puncak atap rumah yang berbatasan dengan dinding dan berbentuk segitiga disebut timbaksela. Dari timbaksela ini bisa dikenali derajat kebangsawanan pemiliknya. Timbaksela yang tidak bersusun menandakan pemiliknya adalah orang biasa,...
Massureq Tradisi seni dan kebudayaan dari Sulawesi Selatan Massureq berasal dari suku bugis. Massureq terdiri dari kata Ma dan Sureq . Ma dalam Bahasa Bugis adalah suku kata yang menandakan sebuah kegiatan, sementara Sureq disini adalah kata benda. Maka massureq jika diartikan secara keseluruhan adalah suatu kegiatan membaca sureq atau naskah. Adapun naskah yang biasanya dibacakan adalah semua episode atau tereng dalam epos I La Galigo, Meongpalo Karellae dan beberapa naskah lainnya. Filosofi terciptanya tradisi massureq berawal dari kebutuhan masyarakat bugis akan hiburan, dan pengetahuan terkait naskah-naskah Bugis. Massureq sendiri merupakan pendukung eksistensi atau keberadaan naskah-naskah Bugis. Karena melalui massureq , naskah tersebut dapat dengan mudah diwariskan dan dipahami isinya dengan cara yang lebih menghibur. Bahasa yang digunakan adalah bahasa suku bugis yaitu aksara lontara. Saat ini, massure q masih ser...
Cawiwi merupakan makanan khas dari Kabupaten Sidrap, Sulawesi Selatan. Cawiwi adalah istilah Bugis dari Belibis yang menjadi bahan utama makanan ini. Belibis sendiri termasuk dalam kelompok unggas yang sejenis dengan itik. Cawiwi khas Sidrap digoreng dan disajikan dengan sambal. Kuliner ini menjadi salah satu incaran pendatang yang berkunjung ke Sidrap.