BOMBARDOM adalah alat musik tiup tradisional di Kabupaten Ngada yang masih eksis hingga generasi modern saat ini. Bombardom terbuat dari dua jenis bambu yang dalam bahasa daerah disebut Peri dan Ila. Bambu yang berukuran besar (peri) berfungsi menampung udara dan bambu berukuran kecil (ila) berfungsi meniup udara. Bambu penampung suara dibuat dalam dua bentuk, yaitu yang panjang berukuran 75 centimeter dan yang pendek 53 centimenter. Sedangkan bambu peniup suara (ila) lebih panjang tujuh centimeter dari ukuran bambu besar. Diameter lumbang pada bambu besar sekitar lima centimeter. Bombardom menghasilkan dua jenis suara yakni bariton dan sopran. lat musik yang diwariskan orangtua mereka sejak puluhan tahun lalu itu sebagai alat musik pendamping untuk alat musik lain seperti suling. Pada zaman manusia belum mengenal alat musik modern, bombardom menjadi alat musik yang selalu digunakan masyarakat untuk mengiringi lagu-lagu di setiap event, misalnya, saat kunjungan pejabat pemerintah ke...
SELAYANG PANDANG REBANA DI TANAH BETAWI PENGANTAR Mengungkap fakta sejarah masa lalu tentu harus memiliki bukti secara konkret baik itu berupa tuturan, tulisan maupun bekas peninggalan yang masih ada secara fisik. Artinya membutuhkan waktu yang tidak sebentar dan proses yang sungguh-sungguh dilakukan agar sejarah bisa terungkap. Meski tidak seutuhnya benar atau paling tidak mendekati kebenaran seperti yang dilakukan dalam menelusuri jejak kesenian rebana di Betawi. PENDAHULUAN Wan Abdurrahman dan anak kandungnya, Bang Budi selaku generasi IV Rebana Biang, Bung Dzun sebagai mahasiswa sejarah UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Bang Rojak Sabeni Tanah Abang serta Ketua RT setempat di Kelurahan Pondok Pucung, Kecamatan Pondok Aren, Tangerang Selatan beserta pengurus makam bersama rekan kampungsilat.com melakukan ziarah ke makam Pak kumis yang diyakini sebagai sang pembawa awal rebana ke tanah Betawi. Napak tilas tersebut dilakukan dalam rangka riset sejarah seni budaya Betawi Kam...
MUSIK REBANA WARISAN BUDAYA NUSANTARA Kalau secara musik bahwa rebana adalah salah satu warisan budaya Islam dan ada di seluruh masyarakat Nusantara yang menganut ajaran Islam. Namun yang menjadi perhatian dari sudut budaya bahwa kesenian ini memiliki gaya dan ciri. "Semua hal tersebut mewakili budaya masyarakat sebagai penerus budaya warisan ini," ungkap Deni selaku Dosen Musik Etnik Institut Kesenian Jakarta kepada kampungsilat.com pada Rabu, 8 Juli 2020 di ruang kerjanya Kantor Institut Kesenian Jakarta. Dijelaskannya bahwa bila dilihat secara esensi keilmuan makna nilai dan tujuan dari kesenian dapat di lihat dari dua sisi; 1. Nilai yang bertujuan ibadah, 2. Nilai dari sisi hiburan. Begitu secara umum tentang kesenian rebana. "Membahas seni dan budaya tak terlepas dari konsep masyarakat sebagai pendukung budayanya," jelasnya. REBANA ALAT DAKWAH ISLAM DI TANAH BETAWI Membahas sejarah rebana dan budaya Islam yang ada dan tersebar di wilayah Nusantara...
Umat Hindu Tengger mempercayai bahwa sembilan penjuru alam semesta ini dijaga oleh Manifestasi Sang Hyang Widhi Wasa dalam wujud Dewata Nawa atb Sanga yang meliputi Dewa Wisnu, Sambu, Iswara, Maheswara, Brahma, Rudra, Mahadewa, Sangkara dan Siwa. Upacara adat ini dilaksanakan tiap satu tahun sekali yang jatuh pada Panglong ke Sanga (9) setiap Bulan Kesanga menurut hitungan Kalender Tengger. Berbeda dengan Kasada, dalam upacara adat “Pujan Kasanga” terbagi menjadi 3 (tiga) sesi yaitu resik, puja mantra/bantenan dan mubeng dheso. Sarana yang dibutuhkan dalam sesi pertama adalah sesajen yang terdiri dari panggang ayam, tumpeng, bunga panca warna, pisang ayu, suruh dan jambe ayu. Selain itu, persembahan yang berupa beberapa ekor ayam utuh dan bahan pangan lainnya dan pada akhir upacara adat persembahan ini akan diserahkan kepada para sesepuh Desa. Semua dikumpulkan di rumah Kepala Desa untuk dibacakan japa mantra oleh Dukun Adat yang disebut Rama Dukun Pandito. Masyarakat tengger mempe...
Perwakilan dari Kota Bima memulai Karnaval Budaya Lombok Sumbawa dengan tradisi Dende Bunti. Ini merupakan proses pengantaran calon pengantin laki-laki ke rumah calon pengantian perempuan. Pengiringnya adalah tokoh agama dan sanak saudara yang mengenakan busana sesuai status sosialnya. Iring-iringan pengantin pria itu diiringi hadrah dan musik Arubana. sumber: https://travel.tempo.co/read/1242985/kenali-9-tradisi-masyarakat-ntb-di-karnaval-budaya-lombok-sumbawa/full&view=ok
Cin Mleng atau Nok Nik adalah kesenian rakyat yang berasal dari Kelurahan Kauman Kidul, Kecamatan Sidorejo, Kota Salatiga. Kesenian yang berkembang pada zaman Hindia Belanda ini mirip dengan Lenong dari Jakarta, Ludruk dari Surabaya, dan Ketoprak Mataram dari Surakarta dan Yogyakarta. Dialog yang dibawakan dalam kesenian tersebut merupakan cerita umum bertema mengenai kondisi sosial masyarakat. Kesenian ini merupakan salah satu alat perjuangan masyarakat setempat untuk menentang Belanda. Melalui kesenian itu, para pelaku menyampaikan pesan-pesan perjuangan melawan penjajah. Menurut Didik Indaryanto selaku ketua Forum Komunikasi Media Tradisional (FK Metra) Tri Sala Salatiga dan pemilik Sanggar Seni Tari Bibasari, kesenian ini juga berkembang di wilayah perbatasan antara Kota Salatiga dan Kabupaten Semarang, yaitu Desa Sendang, Kecamatan Bringin, Kabupaten Semarang. Ada beberapa orang di daerah itu yang masih hidup dan dahulu pernah menonton pementasan Cin Mleng. Dia menjelaskan bah...
Munthiet adalah kesenian yang dalam pementasannya memiliki keunikan tersendiri karena para pemain dalam menampilkan sambil memakan hidangan yang ada tanpa henti sampai perutnya menthelet (kekenyangan) sehingga penonton seringkali terheran. Dalam pertunjukan kesenian ini dipimpin oleh seorang dalang dengan beberapa pemain dan pengiring musik dengan irama dari mulut seperti iringan Jemblung. Adapun cerita yang diangkat sangat beragam dari kisah legenda, sejarah masa kerajaan serta lainnya. Pada saat ini Munthiet adalah salah satu kesenian yang keberadaannya sangat langka di Kabupaten Banyumas dan dapat dijumpai di desa Karang Duren, Kecamatan Sokaraja. sumber: http://dinporabudpar.banyumaskab.go.id/read/29564/munthiet#.X0ZC7MgzbIU
Buncisan merupakan nama salah satu kesenian lokal setempat yang dipentaskan dalambentuk seni pertunjukan di wilayah persebaran budaya Banyumasan. Pemain seni Buncisan terdiri dari 8 orang pemain yang melakukan tarian sambil bernyanyi sekaligus menjadi musisinya. Adapun nyanyian yang dibawakan oleh para pemain adalah lagu-lagu tradisional Banyumasan. Para pemain dalam pertunjukannya membawa alat musik angklung beralas slendro, masing-masing membawa satu buah alat musik yang berisi satu jenis nada berbeda, enam orang diantaranya memegang alat bernada 2 (ro) 3 (lu) 5 (ma) 6 (nem) 1 (ji tinggi) dan 2 (ro tinggi), dua orang yang lain memegang instrumen kendhang dan gong bumbung. Dalam membangun sajian musikal masing-masing pemain menjalankan fungsi nada sesuai dengan alur balungan gending. Dari alat-alat musik yang demikian mereka mampu menyajikan gending-gending Banyumasan. Buncisan di Banyumas memiliki beberapa karakter dan salah satu karakter Buncisan tersebut dapat dijumpai di desa...
Gandalia merupakan kesenian tradisional yang berasal dari masyarakat agraris di desa Tambaknegara, Kecamatan Rawalo. Pada mulanya seni musik ini dilakukan oleh Ki Bangsa Setra yang merupakan penduduk di dusun tersebut pada kisaran tahun 1925. Gandalia berasal dari kata Gandal/Gandol dan Lia yang bermakna Men Ora Digondong Neng Lia atau agar tidak dibawa orang lain hasil pertaniannya tersebut. Alat musik Gandalia sendiri memiliki bentuk yang mirip dengan angklung, akan tetapi Gandalia berisi empat nada, Ro, Lu, Ma, Nem dengan nada gamelan Slendro. Pada sekarang ini dalam penyajiannya Gandalia seringkali dikombinasikan dengan alat musik lainnya seperti Calung. Bagi para seniman Gandalia memiliki tingkat kesulitan yang cukup tinggi sehingga tak banyak orang yang bisa menguasai permainan alat musik tersebut. sumber: http://dinporabudpar.banyumaskab.go.id/read/29561/gandalia#.X0ZDAsgzbIU