Pada upacara Mabua diadakan setiap dua belas tahun, imam dengan hiasan kepala kerbau tarian di sekitar pohon suci. The Ma'bua merupakan upacara besar yang terjadi pada interval 12 tahun, tarian spiritual dan ekologis yang tak ternilai ke Toraja. Bulan kerja yang terlibat bersiap-siap untuk ini ritual malam yang panjang, yaitu menyiapkan lapangan upacara, kostum, dan miniatur menerapkan kehidupan sehari-hari. Ada penyanyi wanita megah, tiang festival, perang berteriak, dan api unggun yang meledak batang bambu. Para imam mengenakan hiasan kepala kerbau terburu-buru tentang pohon suci. Sumber: http://kampoeng-heber.blogspot.com/2011/04/tarian-toraja.html
Sebuah tarian disertai dengan sebuah elegi (pa'marakka) dinyanyikan oleh seorang wanita dan disertai dengan seruling dalam ritual timur dan persembahan kepada para dewa. Sumber: http://kampoeng-heber.blogspot.com/2011/04/tarian-toraja.html
Datu Luwu La Bustana Datu Maongge, raja kerajaan Luwu yang terkenal bijaksana dan gagah berani, hari itu terlihat bingung. Pagi ini dia baru menerima utusan Raja Bone yang ingin melamar putrinya yang cantik jelita, Putri Tadampalik untuk pangeran Bone. Datu Luwu berada dalam posisi yang sulit. Di satu pihak jika ia menerima lamaran tersebut, artinya dia melanggar adat yang tidak memperbolehkan putri Luwu menikah dengan lelaki di luar sukunya. Namun jika menolak, dia khawatir kerajaan Bone yang terkenal kuat akan menyerang negerinya dan membuat rakyat menderita. Setelah mempertimbangkan masak-masak akhirnya Datu Luwu memutuskan untuk menerima pinangan raja Bone. Maka para utusan raja Bone pun pulang ke negerinya dengan membawa berita bahagia. Namun beberapa hari kemudian tiba-tiba putri Tadampalik jatuh sakit. Penyakitnya sangat aneh. Kulit sang putri yang tadinya putih dan mulus, kini dipenuhi benjolan-benjolan yang mengeluarkan nanah dan berbau amis. Sangat menjijikan. Tabi...
Pada jaman dahulu kala di kota Makasar terdapat sebuah kerajaan yang besar. Rajanya sangat masyhur dan gagah perkasa, bergelar Daeng Sinaroja. Sedang patihnya bernama Daeng Magang. Bala tentaranya sangat banyak dan pemberani. Pada suatu malam, sang raja bermimpi yang sangat berkesan. Dalam mimpinya beliau bertemu dengan seorang putri yang sangat cantik rupawan. Putri itu mengaku bernama Dewi Ratna Sari, putri dari Tawang Alun adipati Kabonan. Daeng Sinaroja menginginkan agar mimpinya itu menjadi kenyataan. Maka disebarlah bala tentaranya ke seluruh penjuru Nusantara di bawah pimpinan patih Daeng Magang. Setelah beberapa minggu berlayar, sampailah mereka di Pulau Madura. Di sana mereka mendapat kabar bahwa yang dimimpikan rajanya itu ada. Kadipaten Kabonan itu terletak di ujung Pangkah. Dengan diantar oleh Pangeran dari Madura meryeberangi selat Madura, akhirnya sampailah di pesisir Ujung Pangkah. Mereka beristirahat di pantai untuk membuat pesanggrahan. Daeng Magang berniat...
Main Ilu Apui Nama permainan ini adalah “Ilu Apui” (bahasa Lampung yang artinya sebagai berikut Ilu = minta, Apui = api. Jadi dapat diartikan ke dalam bahasa Indonesia = “Minta Api”). Permainan ini dilakukan oleh anak laki-laki dan anak perempuan, tetapi lebih sering dilakukan oleh anak-anak perempuan. Usia para peserta permainan ini adalah berkisar antara 7 sampai dengan 12 tahun dan dimainkan oleh paling sedikit 4 (empat) orang anak. Tidak dipergunakan alat, tetapi dapat pula digunakan alat bantu berupa sepotong kayu atau sepotong tongkat pendek. Kadang kala tanpa memerlukan sama sekali alat bantu tersebut di atas. Jalannya Permainan Mula-mula peserta permainan ini berkumpul dan mengadakan undian atau suit. Mereka yang terakhir kalah dalam suit maka dialah yang menjadi “tukang rampas” dalam permainan ini. Kalau misalnya terdapat 5 orang anak yang mengikuti permainan ini, berarti ada 4 orang anak yang menang dan yang terakhir 1 (satu) orang anak....
Kajang merupakan salah satu kecamatan yang ada di kabupaten bulukumba provinsi Sulawesi selatan. Bulukumba dari kota Makassar berjarak kurang lebih 140 km, kecamatan kajang terbagi beberapa desa yang desa tersebut terdapat sebuah komunitas kajang yang mendiami wilayah tersebut. Komunitas ini menolak keras yang namanya modernisasi, tidak ada penerangan listrik dan alat-alat yang di anggap modern. Oleh karena ini banyak yang meningingkan untuk mengunjungi tempat tersebut di karenakan untuk penelitian ataupun yang lainnya. Berbicara tentang komunitas ini banyak yang menjadi pertanyaan di sebabkan karena mindset (pemikran) masyarakat sekang yang tidak percaya akan adanya komunitas yang belum modernisasi. Di komunitas ini mempunyai 2 hukum yakni hukum adat dan hukum Negara, serta di hukum adat mempunyai 9 pasal yang harus dijalankan untuk kehidupan meraka. Komunitas ini merupakan komunitas yang menjaga alam sert...
Paraga merupakan permainan dan olah raga, sekaligus kesenian tradisional asal Bugis-Makassar, Sulawesi Selatan. Berbeda dengan permainan dan olahraga tradisional sepak takraw, paraga dimainkan tidak untuk dipertandingkan, melainkan sebagai atraksi unjuk kebolehan. Paraga juga dimainkan secara beregu dengan jumlah anggota minimal 6 (enam) orang. Dalam paraga, bola rotan dipantul-pantulkan tidak hanya menggunakan kaki, tapi juga kepala dan tangan. Keberadaan passapu, topi segitiga yang diberi lapisan kanji agar mampu menegak, sangat membantu para pemain paraga saat melakukan olah bola dengan kepala. Para pemain paraga juga kerap memanfaatkan sarung yang menjadi bagian dari kostum mereka untuk mengolah bola paraga. Posisi pemain dalam mengolah bola paraga pun beragam. Mulai dari berdiri, duduk, jongkok, hingga berbaring! Paraga pun dimainkan dalam berbagai formasi. Salah satunya, formasi menara yang terbentuk dari tumpukan para pemain yang berdiri di atas bahu pemain lainnya hi...
Berbicara mengenai Masjid Taqwa Tompong, Tentu tak terlepas dengan nilai sejarah perkembangan Islam di Butta Toa itu sendiri. Untuk mengetahui perkembangan Agama Islam di Butta Toa, maka tak salah jika Masjid Taqwa Tompong, yang terletak di Jalan Bete-bete No 11 kelurahan Letta, Kecamatan Bantaeng ini, menjadi salah satu pilihan referensi kita menyelusuri perkembangan islam di Kabupaten ini. Tak hanya itu, kita juga bisa menjadikan wisata spritual. Memasuki Masjid ini, kita akan disamput dengan dua gapura. Gapura ini berbentuk setengah lingkaran.Di dalam mesjid, mata kita akan terpesona dengan relief kuno serta kaligrafi yang diukir di sejumlah sudut masjid ini. Mesjid kuno ini, memiliki atap yang berbentuk tumpang tiga dan berwarna Merah ,Khas bangunan jaman dulu, yang juga mirip atap Masjid Agung Demak. Tak hanya itu, masjid yang didirikan Tahun 1885 ini, dengan panjang sekitar 31 Meter ,serta le...
Wai daun kawa adalah minuman berwarna merah kecoklatan hasil rebusan daun kopi dari daerah Duri Kabupaten Enrekang. Rasanya hambar, justru masyarakat Duri meyakini khasiatnya untuk menambah stamina dalam bekerja di kebun. Para bapak-bapak di daerah ini sehabis sholat subuh di masjid akan berkumpul disalah satu rumah warga untuk menyeduh wai dun kawa. Biasanya jumlah mereka sebanyak 5 orang hingga berlebih. Mereka duduk di beranda rumah lengkap dengan pakaian baju kokoh dan sarung menunggu pagi menjelang sembari bercerita perihal pertanian dan kondisi masyarakat. Memandangi hamparan perkebunan dan gunung di Desa. Setelah itu mereka akan ke rumah masing-masing bersiap-siap berangkat ke kebun. Daerah duri memang terkenal sebagai penghasil kopi di Provinsi Sulawesi Selatan, ada salah satu kopi yang sangat terkenal hingga manc...