Datu Luwu La Bustana Datu Maongge, raja kerajaan Luwu yang terkenal bijaksana dan gagah berani, hari itu terlihat bingung. Pagi ini dia baru menerima utusan Raja Bone yang ingin melamar putrinya yang cantik jelita, Putri Tadampalik untuk pangeran Bone. Datu Luwu berada dalam posisi yang sulit. Di satu pihak jika ia menerima lamaran tersebut, artinya dia melanggar adat yang tidak memperbolehkan putri Luwu menikah dengan lelaki di luar sukunya. Namun jika menolak, dia khawatir kerajaan Bone yang terkenal kuat akan menyerang negerinya dan membuat rakyat menderita.
Setelah mempertimbangkan masak-masak akhirnya Datu Luwu memutuskan untuk menerima pinangan raja Bone. Maka para utusan raja Bone pun pulang ke negerinya dengan membawa berita bahagia.
Namun beberapa hari kemudian tiba-tiba putri Tadampalik jatuh sakit. Penyakitnya sangat aneh. Kulit sang putri yang tadinya putih dan mulus, kini dipenuhi benjolan-benjolan yang mengeluarkan nanah dan berbau amis. Sangat menjijikan. Tabib-tabib yang mencoba mengobati sang putri pun angkat tangan.
Khawatir penyakit putrinya akan menular dan menjadi wabah, dengan berat hati Datu Luwu memutuskan untuk mengasingkan putrinya keluar dari Luwu. Dibuatkanlah sebuah rakit raksasa untuk membawa sang putri yang hanya ditemani oleh beberapa pengawal dan dayang setianya.
Pada hari yang ditentukan, Datu Luwu memberikan sebilah keris pusaka kepada putrinya dan berpesan untuk selalu menjaga diri. Rakit itu pun meluncur ke arah muara diiringi tangis kesedihan rakyat Luwu.
Setelah berhari-hari berlayar, mereka menemukan sebuah tempat yang sangat subur dan memutuskan untuk berlabuh. Di sana mereka membuatkan bangunan untuk putri Tadampalik, mendirikan pemukiman dan mulai bercocok tanam. Karena di daerah itu banyak ditemukan pohon Wajo maka mereka menamakan tempat itu desa Wajo dan putri Tadampalik diberi gelar putri Wajo.
Suatu hari, ketika putri Tadampalik sedang duduk di beranda, tiba-tiba seekor kerbau bule datang menghampirinya dan lalu menjilati kulitnya. Air liur kerbau bule tersebut terasa sejuk sehingga sang putri membiarkan kerbau itu menjilatinya.
Sejak itu, setiap hari kerbau bule tersebut selalu datang dan menjilati kulit putri Tadampalik hingga lama kelamaan kulit sang putri yang membusuk mulai mongering dan akhirnya benar-benar sembuh. Bahkan kulit putri Tadampalik semakin putih dan mulus. Putri tadampalik mengucap syukur kepada Tuhan yang telah mengirim kerbau bule tersebut. Sebagai tanda syukurnya putri Tadampalik melarang rakyat dan keturunannya mengganggu apalagi menyembelih kerbau bule. Suatu hari pangeran Bone yang sedang berburu bersama para pengikutnya tersesat dan terpisah dari rombongannya. Dia masuk jauh ke dalam hutan hingga dia tidak tahu lagi arah mana yang harus ditempuh. Tiba-tiba dia melihat cahaya lampu di kejauhan. Maka dipacunya kudanya menuju arah cahaya tersebut.
Ternyata itu adalah perkampungan putri Tadampalik. Maka dia pun dibawa menghadap sang putri. Pangeran sangat terpesona dengan kecantikan putri Tadampalik dan ia pun jatuh cinta. Pangeran tidak mengetahui bahwa sebenarnya dia telah ditunangkan dengan putri Tadampalik.
Maka setelah beberapa hari tinggal di pemukiman tersebut dan pangeran bersiap-siap untuk kembali ke negerinya, dia mengungkapkan keinginannya untuk memperisteri putri Tadampalik. Keinginan pangeran Bone itu tidak main-main. Beberapa hari kemudian pangeran dan beberapa utusannya kembali datang dan meminang putri Tadampalik secara resmi. Putri lalu menyerahkan keris pusaka kerajaan Luwu dan meminta pangeran untuk menyerahkan keris itu kepada ayahandanya. Jika keris itu diterima dengan baik oleh ayahnya, artinya lamaran pangeran diterima.
Perjalanan itu ditempuh oleh pangeran dengan penuh semangat. Di hadapan Datu Luwu diceritakannya pertemuannya dengan putri Tadampalik dan niatnya untuk memperistri sang putri. Datu Luwu sangat gembira mendengar kesembuhan puterinya. Itu artinya Tuhan pun telah merestui hubungan putrinya dengan pangeran Bone. Maka Datu Luwu menerima pinangan pangeran Bone.
Sepekan kemudian dilangsungkanlah pesta pernikahan yang meriah antara putri Tadampalik dengan pangeran Bone. Akhirnya pangeran Bone memboyong putri Tadampalik ke Bone dimana mereka hidup bahagia selamanya.
Referensi:
Kidung Lakbok atau Wawacan Kidung Lakbok adalah karya sastra lama berbentuk wawacan yang berasal dari Kecamatan Lakbok, Kabupaten Ciamis. Naskah ini diterbitkan kembali dan disusun rapi oleh M. Karso Prawiraatmadja di Bandjar pada tanggal 31 Agustus 1956. Karya ini menyimpan nilai sejarah dan kearifan lokal masyarakat setempat. Dokumentasi digital dan data ini disusun serta disumbangkan oleh Henri Purwanto.
HUDON TANO (Periuk Tanah) Di bawah ini merupakan foto tua (foto jaman dulu) penjual Hudon Tano (Periuk Tanah) di Onan (Pasar) Tarutung di tahun 1930. Masyarakat Batak yang tinggal di Sipoholon, Tarutung, dahulu kala terkenal sebagai "Sitopa Hudon" (pembuat periuk tanah). Dahulu, Hudon Tano ini digunakan secara meluas di Tanah (Tano) Batak sebagai alat masak tradisional. Bisa dibayangkan betapa enak dan nikmat rasanya melihat dan menikmati arsik atau menggulai Ikan Mas atau Ikan Batak (Ihan Batak), Porapora (Ikan Air Tawar), Haruting (Ikan Gabus), SIbahut (Ikan Lele), dan Incor (Ikan Air Tawar Kecil) yang dimasak menggunakan Hudon Tano ini... Sumber Foto : KITLV 28692
Benda Magis Masyarakat Batak Toba : Pagar Jabu - Sahan - Pohung 3 benda magis ini termasuk kategori Ilmu Putih yang berfungsi sebagai pelindung dari sihir dari niat orang jahat. PAGAR JABU (Bahasa Batak Karo : Bekam-bekam), berbentu tanduk hewan berisi sibiangsa (ramuan magis) yang berfungsi sebagai pelindung rumah dari serangan sihir jahat. SAHAN, terbuat dari gading atau tanduk tempat menyimpan pupuk (abu jenazah) yang memiliki kekuatan magis sebagai pagar (pelindung) dan konon dapat diminta untuk membinasakan musuh. POHUNG, sejenis ukiran yang dibungkus ijuk lalu diisi ramuan magis. Pohung ditempatkan di dalam rumah dan / atau di kebun yang memiliki fungsi mencegah niat jahat / pencuri hasil kebun dan harta di rumah. Sumber Koleksi : Museum Negeri Provinsi Sumatera Utara
Ilmu Tamba Tua adalah Elmo Kuno Batak (Ilmu Putih), dahulu ilmu ini dipercaya jika diamalkan akan mendatangkan kemakmuran serta kekayaan. Transliterasi (alih aksara) : ahu debata ni raja di bindu jao raja ni tam (ba) tua raja on di sim- bora di bulung hayu na denggan go- rar pe i do jadi lapi ni ta- taring ni ru- manta jadi tondolan ni balatuk ni rumah bea la... Rajah "gambar" di bawah bernama dewa "bindu jao". Rajah ini ditulis pada timah dan daun kayu (jenis yang bisa dituliskan). Rajah ini akan membawa kemakmuran bagi penghuni rumah apabila dibuat menjadi alas tungku perapian dan jika diletakkan sebagai alas tangga rumah. Sumber Foto : Verzeichnis der orientalischen handschriften in Deutschland
Surat Tulisan Tangan Ompu i Pendeta Dr I.L. Nommensen tahun 1871 dengan Aksara Batak Toba dan Bahasa Batak Toba Klasik (na robi). Nommensen, Apostel Orang Batak dan Ephorus HKBP Pertama tahun 1881 - 1918, sangat fasih berbahasa Batak Toba klasik dan kontemporer (na imbaru), Nommensen juga sangat mengusai tulisan dan / atau aksara Batak Toba. Surat yang ditulis tangan Ompu i Nommensen di Pearaja, Tarutung, tanggal 02 Agustus 1871 ini merupakan dokumen dan bukti sejarah yang sangat penting, yang menunjukkan betapa Beliau menguasai serta menghormati adat, budaya, tradisi, dan literasi masyarakat Batak Toba. Beliau tidak memaksakan bahasa Jerman dan aksara Latin, tetap justru menggunakan bahasa dan aksara asli masyarakat Batak Toba untuk berkomunikasi dan mendokumentasi pelayanannya. Sumber Foto : Sopo Nommensen, Pearaja, Taruutung Sumatera Utara