Cerita Rakyat
Cerita Rakyat
Cerita Rakyat Sulawesi Selatan Bugis, Makassar
Putri Tadampalik
- 17 November 2018

Datu Luwu La Bustana Datu Maongge, raja kerajaan Luwu yang terkenal bijaksana dan gagah berani, hari itu terlihat bingung. Pagi ini dia baru menerima utusan Raja Bone yang ingin melamar putrinya yang cantik jelita, Putri Tadampalik untuk pangeran Bone. Datu Luwu berada dalam posisi yang sulit. Di satu pihak jika ia menerima lamaran tersebut, artinya dia melanggar adat yang tidak memperbolehkan putri Luwu menikah dengan lelaki di luar sukunya. Namun jika menolak, dia khawatir kerajaan Bone yang terkenal kuat akan menyerang negerinya dan membuat rakyat menderita.

Setelah mempertimbangkan masak-masak akhirnya Datu Luwu memutuskan untuk menerima pinangan raja Bone. Maka para utusan raja Bone pun pulang ke negerinya dengan membawa berita bahagia.

Namun beberapa hari kemudian tiba-tiba putri Tadampalik jatuh sakit. Penyakitnya sangat aneh. Kulit sang putri yang tadinya putih dan mulus, kini dipenuhi benjolan-benjolan yang mengeluarkan nanah dan berbau amis. Sangat menjijikan. Tabib-tabib yang mencoba mengobati sang putri pun angkat tangan.

Khawatir penyakit putrinya akan menular dan menjadi wabah, dengan berat hati Datu Luwu memutuskan untuk mengasingkan putrinya keluar dari Luwu. Dibuatkanlah sebuah rakit raksasa untuk membawa sang putri yang hanya ditemani oleh beberapa pengawal dan dayang setianya.

Pada hari yang ditentukan, Datu Luwu memberikan sebilah keris pusaka kepada putrinya dan berpesan untuk selalu menjaga diri. Rakit itu pun meluncur ke arah muara diiringi tangis kesedihan rakyat Luwu.

Setelah berhari-hari berlayar, mereka menemukan sebuah tempat yang sangat subur dan memutuskan untuk berlabuh. Di sana mereka membuatkan bangunan untuk putri Tadampalik, mendirikan pemukiman dan mulai bercocok tanam. Karena di daerah itu banyak ditemukan pohon Wajo maka mereka menamakan tempat itu desa Wajo dan putri Tadampalik diberi gelar putri Wajo.

Suatu hari, ketika putri Tadampalik sedang duduk di beranda, tiba-tiba seekor kerbau bule datang menghampirinya dan lalu menjilati kulitnya. Air liur kerbau bule tersebut terasa sejuk sehingga sang putri membiarkan kerbau itu menjilatinya.
Sejak itu, setiap hari kerbau bule tersebut selalu datang dan menjilati kulit putri Tadampalik hingga lama kelamaan kulit sang putri yang membusuk mulai mongering dan akhirnya benar-benar sembuh. Bahkan kulit putri Tadampalik semakin putih dan mulus. Putri tadampalik mengucap syukur kepada Tuhan yang telah mengirim kerbau bule tersebut. Sebagai tanda syukurnya putri Tadampalik melarang rakyat dan keturunannya mengganggu apalagi menyembelih kerbau bule. Suatu hari pangeran Bone yang sedang berburu bersama para pengikutnya tersesat dan terpisah dari rombongannya. Dia masuk jauh ke dalam hutan hingga dia tidak tahu lagi arah mana yang harus ditempuh. Tiba-tiba dia melihat cahaya lampu di kejauhan. Maka dipacunya kudanya menuju arah cahaya tersebut.

Ternyata itu adalah perkampungan putri Tadampalik. Maka dia pun dibawa menghadap sang putri. Pangeran sangat terpesona dengan kecantikan putri Tadampalik dan ia pun jatuh cinta. Pangeran tidak mengetahui bahwa sebenarnya dia telah ditunangkan dengan putri Tadampalik.

Maka setelah beberapa hari tinggal di pemukiman tersebut dan pangeran bersiap-siap untuk kembali ke negerinya, dia mengungkapkan keinginannya untuk memperisteri putri Tadampalik. Keinginan pangeran Bone itu tidak main-main. Beberapa hari kemudian pangeran dan beberapa utusannya kembali datang dan meminang putri Tadampalik secara resmi. Putri lalu menyerahkan keris pusaka kerajaan Luwu dan meminta pangeran untuk menyerahkan keris itu kepada ayahandanya. Jika keris itu diterima dengan baik oleh ayahnya, artinya lamaran pangeran diterima.

Perjalanan itu ditempuh oleh pangeran dengan penuh semangat. Di hadapan Datu Luwu diceritakannya pertemuannya dengan putri Tadampalik dan niatnya untuk memperistri sang putri. Datu Luwu sangat gembira mendengar kesembuhan puterinya. Itu artinya Tuhan pun telah merestui hubungan putrinya dengan pangeran Bone. Maka Datu Luwu menerima pinangan pangeran Bone.

Sepekan kemudian dilangsungkanlah pesta pernikahan yang meriah antara putri Tadampalik dengan pangeran Bone. Akhirnya pangeran Bone memboyong putri Tadampalik ke Bone dimana mereka hidup bahagia selamanya.

 

 

Referensi:

  1. Indotim (https://indotim.wordpress.com/cerita-rakyat-nusantara-2/cerita-rakyat-nusantara-ii/9/)

Diskusi

Silahkan masuk untuk berdiskusi.

Daftar Diskusi

Rekomendasi Entri

Gambar Entri
Cara Aktivasi BNIdirect bisnis
Alat Musik Alat Musik
Bali

Layanan Halo BNI tersedia selama 24 jam penuh setiap hari dan dapat diakses melalui WhatsApp ( 081252934601 ) info lebih lanjut.Layanan Halo BNI tersedia selama 24 jam penuh setiap hari dan dapat diakses melalui WhatsApp ( 081252934601 ) info lebih lanjut.

avatar
Bungacentika baru
Gambar Entri
PELARIAN MAJAPAHIT DI PACITAN
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
Jawa Timur

GELOMBANG EKSODUS I. Pelarian Di Pacitan Ketika panji-panji emas Majapahit tercabik oleh perang perebutan warisan dinasti, sejarah arus utama seolah menoleh ke arah lain. Yang tercatat kemudian hanyalah runtuhnya tiga pusat kekuasaan besar secara beruntun: Wilwatikta-Trowulan yang ambruk pada 1478 M, Kediri di bawah Girindrawardhana yang tumbang dua dasawarsa kemudian, serta: Lenyapnya benteng pertahanan terakhir Patih Mahodara pada 1527 M. Di balik kronik pergantian rezim itu, tersimpan kisah lain yang jauh lebih megah dan tragis: kisah manusia-manusia yang terseret arus perubahan kekuasaan baru, Demak Bintoro. Seusai kemenangan Ranawijaya atas kubu Bhre Kertabhumi, muncul kebutuhan mendesak untuk membangun dasar legitimasi baru. Upaya itu dijalankan melalui jejaring brahmana, penetapan tanah-tanah sima yang dibebaskan dari kewajiban pajak, penguatan tradisi Buddha-Siwa, serta pembentukan identitas Keling yang berpusat di Daha. Dalam pandangan para pendukungnya, ide...

avatar
Kangnurofficial
Gambar Entri
SENJAKALA MAJAPAHIT II (Keling Daha Kediri)
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
Jawa Timur

Sejarah Senjakala Majapahit-Daha II. Patih Udara/Mahodara Berkuasa (1498 M) A. Krisis Demi mempertahankan kekuasaan di tengah impitan ekonomi dan bayang-bayang kehancuran, Ranawijaya memperlakukan rakyat kecil pedalaman sebagai sapi perah guna mendanai prajurit yang butuh logistik besar menghadapi kelompok pembangkang yang mulai tumbuh kembali. Pembangunan Kedaton baru beserta sistem pertahanan militer di Daha dalam waktu delapan tahun membawa kesengsaraan yang luar biasa bagi kaum tani di sepanjang aliran Sungai Brantas yang subur. Dinasti Girindrawardhana memberlakukan sistem kerja paksa, yang dikenal sebagai kerja gaga, secara militeristik demi mendirikan kompleks istana bata merah yang megah serta jaringan perbentengan baru. Di sisi lain, ribuan petani dipaksa meletakkan bajak dan cangkul mereka untuk mengangkut batu kapur dari perbukitan selatan, menebang pohon jati di belantara, serta mencetak jutaan bata merah untuk dinding pertahanan. Kesengsaraan ini kian mencekik...

avatar
Kangnurofficial
Gambar Entri
SENJAKALA MAJAPAHIT I (Brawijaya V - Trowulan)
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
Jawa Timur

SENJAKALA MAJAPAHIT I (1478 M) > Senjakala Majapahit bukanlah sebuah cerita tentang kelanjutan kemaharajaan yang tenang di bawah asuhan para resi yang bijaksana. Sebaliknya, ia merupakan sebuah panggung sejarah yang rapuh, berdarah, dan diperebutkan oleh kelompok-kelompok politik yang haus akan pengakuan kekuasaan. Demi melunasi dendam masa lalu, menegakkan kehormatan keluarga, dan mengejar ego dinasti, faksi-faksi pemberontak ini tanpa sadar telah memeras keringat rakyat, merampas hak atas tanah perdikan, dan mengirim ribuan rakyat jelata (kawula) Jawa ke lubang kematian yang sia-sia. I. Senjakala Pertama Majapahit Trowulan (1478 M) A. Pemberontakan Ranawijaya (Keling-Daha) Brawijaya IV saat bertakhta sebagai Maharaja Majapahit bergelar Sri Adi Suraprabhawa Singhawikramawardhana Singhawikramawardhana terpaksa mundur ke basis pertahanan keluarganya di Kediri. Setelah terusir dari Trowulan oleh kudeta Bhre Kertabhumi (Brawijaya V) pada tahun 1468 M, Brawijaya IV menyelamat...

avatar
Kangnurofficial
Gambar Entri
HUTING-HUTING
Ornamen Ornamen
Sumatera Utara

Di masa lalu, masyarakat Batak mengenal sebuah peti penyimpanan berharga yang disebut Huting-Huting. Huting-huting berfungsi sebagai tempat menyimpan benda-benda berharga milik raja atau keluarga bangsawan, seperti perhiasan, pusaka, hingga barang bernilai lainnya. Karena fungsinya yang penting, huting-huting sering disebut sebagai "brankas tradisional" dalam budaya Batak. Yang membuatnya istimewa adalah ukiran pada bagian tutupnya. Berbagai ornamen, termasuk motif bintang dan makhluk simbolis (pinatang), dipahat dengan sangat detail. Menurut kepercayaan masyarakat dahulu, ukiran-ukiran tersebut memiliki kekuatan magis sebagai penjaga isi peti. Konon, apabila seseorang berniat mencuri isi huting-huting, maka roh penjaga yang disimbolkan melalui ukiran pinatang akan melindungi harta yang tersimpan di dalamnya. Kepercayaan ini menunjukkan bagaimana seni ukir, spiritualitas, dan sistem keamanan tradisional berpadu dalam kehidupan masyarakat Batak. Karena nilai dan kesak...

avatar
Hokker