Pada jaman dahulu kala di kota Makasar terdapat sebuah kerajaan yang besar. Rajanya sangat masyhur dan gagah perkasa, bergelar Daeng Sinaroja. Sedang patihnya bernama Daeng Magang. Bala tentaranya sangat banyak dan pemberani.
Pada suatu malam, sang raja bermimpi yang sangat berkesan. Dalam mimpinya beliau bertemu dengan seorang putri yang sangat cantik rupawan. Putri itu mengaku bernama Dewi Ratna Sari, putri dari Tawang Alun adipati Kabonan. Daeng Sinaroja menginginkan agar mimpinya itu menjadi kenyataan. Maka disebarlah bala tentaranya ke seluruh penjuru Nusantara di bawah pimpinan patih Daeng Magang.
Setelah beberapa minggu berlayar, sampailah mereka di Pulau Madura. Di sana mereka mendapat kabar bahwa yang dimimpikan rajanya itu ada. Kadipaten Kabonan itu terletak di ujung Pangkah. Dengan diantar oleh Pangeran dari Madura meryeberangi selat Madura, akhirnya sampailah di pesisir Ujung Pangkah. Mereka beristirahat di pantai untuk membuat pesanggrahan. Daeng Magang berniat akan meminang putri Tawang Alun yaitu Dewi Ratna Sari. Tiba-tiba Daeng Magang melihat tiga orang putri sedang bersenda gurau di tepi pantai. Dia mendekati putri tersebut. Karena tidak mengerti bahasanya maka ketiga putri itu ditangkap Ialu dibawa ke sanggarnya.
Dengan perantaraan Pangeran dari Madura bisalah diadakan tanya jawab. Ternyata seorang dari ketiga putri itu adalah Dewi Ratna Sari. Dia tidak mau dibawa ke Makasar sebab dia sudah bersuami dan mempunyai seorang anak laki-laki. Daeng Magang memaksanya. Dewi Ratna Sari dibawa ke kapal layar kemudian berlayar. Sedang kedua orang putri lainnya dilepaskan pulang. Sampai di Madura, Pangeran Madura turun dan mengirimkan seorang putri sebagai teman Dewi Ratna Sari. Sampai di Makasar sang Dewi dipersembahkan kepada Daeng Sinaroja raja Makasar. Sang putri tetap menolak permintaan Daeng Sinaroja. Karena marahnya raja itu, Dewi Ratna Sari dimasukkan ke dalam penjara.
Syahdan keadaan di Kabonan menjadi kacau dengan hilangnya Dewi Ratna Sari itu. Suaminya belum tahu sebab sudah lama mengembara. Sedang Jaka Cinde anak sang Dewi berusaha mencarinya sampai di Madura. Di sana ia mendapat teman akrab yang bersedia ikut mencari ibunya sampai ketemu. Mereka berdua berlayar ke timur menuju Makasar.
Kedua satria itu sangat pandai dan berani mengarungi samudera luas. Sampai di Makasar mereka membuka permainan sulap dan silat. Penduduk Makasar sangat kagum melihat ketangkasan kedua satria itu. Berita itu sampai pula ke istana raja Makasar. Daeng Sinaroja ingin melihat bagaimana permainan sulap dan silat yang dimainkan kedua pemuda dari pantai seberang. Jaka Cinde dan sahabatnya dipanggil ke istana untuk bermain sulap. Pada suatu pagi diadakanlah permainan sulap dan silat oleh dua satria dari pantai seberang. Segala perlengkapannya dilayani oleh putri dari Madura yang sudah agak lama di situ. Dengan diam-diam putri dari Madura itu bisa mengerti tujuan utama dari kedua pemuda itu. Dia bersedia membantunya. Tidak lama kemudian Jaka Cinde mulai dengan permainan sulapnya. Para penonton beserta rajanya sangat senang.
Permainan dilanjutkan. Tiba-tiba Jaka Cinde mengeluarkan sebuah selendang Cinde. Dengan seketika sang raja tertidur nyenyak, sedang para penonton menjadi panik yang akhirnya berkelahi satu sama lain. Kesempatan itu dipakai oleh Jaka Cinde untuk melepaskan ibunya dari penjara. Kemudian kedua satria dan dua orang putri pergi ke pantai. Mereka terus berlayar pulang. Belum jauh dari pantai itu terjadilah badai yang ganas. Tetapi kapal Jaka Cinde selamat bahkan lebih cepat sampai di pantai Ujung Pangkah.
Jaka Cinde membimbing ibunya dan sahabatnya membimbing putri dari Madura teman Dewi Ratna Sari. Baru saja sampai di tepi jalan tiba-tiba Jaka Cinde diserang oleh seorang tua yang gagah perkasa. Mereka sangat marah dan terjadilah perkelahian yang hebat. Hampir sehari penuh perkelahian itu berlangsung. Jaka Cinde agak payah dan kalah.
Akhirnya dia mengeluarkan senjata pusakanya yang berupa Selendang Cinde. Seketika itu juga lawannya tercengang dan berkata, “Hai anak muda, siapakah sebenarnya engkau?”
“Aku adalah putra satu-satunya dari ibu Dewi Ratna Sari,” jawab Jaka Cinde.
“Oh anakku. Ketahuilah bahwa ayahmu. Namaku Raden Simbar.” Dewi Ratna Sari mendengar nama Raden Simbar, matanya membelalak dan datang bersimpuh sambil berkata, “Oh kakanda, lawanmu itu adalah anakmu sendiri.Hentikanlah perkelahian ini.”
Mereka berkumpul lalu Dewi Ratna menceritakan tentang dirinya, Jaka Cinde juga bercerita perjuangannya mencari ibu dan ayahnya, sedang Raden Simbar juga demikian. Mereka pulang dengan penuh bahagia.
Mereka menghadap kepada Sang Adipati Tawang Alun. Alangkah bahagianya Tawang Alun setelah keluarganya berkumpul. Selang beberapa hari kemudian di pantai Ujung Pangkah mendaratlah Daeng Sinaroja bersama bala tentaranya akan menggempur Kabonan tempat Adipati Tawang Alun berkuasa. Maka terjadilah pertempuran sengit di pantai Ujung Pangkah. Daeng Sinaroja beserta tentaranya dapat dikalahkan oleh Kabonan.
Kini Jaka Cinde menggantikan kakaknya menjadi raja, sebab ayahnya yaitu Raden Simbar meneruskan berkelana mencari Guru Utama. Di Ujung Pangkah hingga kini masih terdapat petilasan berupa sendang yang airnya jernih kadang-kadang berubah menjadi warna merah seperti darah. Konon sendang itu adalah tempat mencuci keris yang berlumuran darah setelah perang melawan tentera dari Makasar.
Pesan moral yang bisa kita ambil dari kisah legenda Jaka Cinde dari Madura adalah jangan berhenti berbakti kepada orang tua apapun keadaan kita. Kesulitan hidup bukanlah alasan untuk mengabaikan darma bakti kepada orang tua. Amanat cerita rakyat Makassar ini mengajarkan agar kita tidak menuruti hawa nafsu dan keinginan pribadi karena bisa membahayakan keselamatan bersama.
sumber : http://agussiswoyo.com/cerita-rakyat/legenda-daeng-sinaroja-jaka-cinde-dan-dewi-ratna-sari-dari-makassar/
Eksplorasi Seni Ornamen Rumah Gadang: Simbolisme dan Warisan Budaya Minangkabau Identitas dan Asal-Usul Seni ornamen Rumah Gadang merupakan manifestasi kebudayaan masyarakat Minangkabau yang berfungsi sebagai media penyampaian nilai-nilai filosofis dan tradisi leluhur [S1]. Ornamen ini bukan sekadar elemen dekoratif, melainkan representasi mendalam dari cara hidup dan pandangan dunia suku Minangkabau yang diwariskan secara turun-temurun [S1]. Keberadaannya menjadi jendela utama untuk memahami kekayaan warisan budaya yang melekat pada arsitektur tradisional di wilayah Sumatera Barat [S1]. Secara konseptual, eksplorasi terhadap seni ornamen ini merupakan upaya penyelidikan dan penemuan pengetahuan baru mengenai simbolisme yang terkandung di dalamnya [S2], [S5]. Kegiatan eksplorasi dalam konteks budaya ini melibatkan proses penjelajahan lapangan untuk memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif mengenai bentuk, makna, dan fungsi ornamen tersebut dalam kehidupan masyarakat [S4], [S...
Cerita Rakyat dari Jawa Tengah: Kisah Timun Mas Lead Kisah Di balik rimbunnya hutan Jawa Tengah, tersimpan sebuah narasi tentang keberanian yang melampaui usia. Kisah ini berpusat pada sosok gadis kecil bernama Timun Mas, yang namanya kini tak hanya dikenal sebagai tokoh dalam buku cerita anak-anak, tetapi telah menjadi bagian dari ingatan kolektif masyarakat Indonesia [S2], [S3]. Ia bukan sekadar karakter fiktif, melainkan simbol perjuangan yang gigih melawan ancaman raksasa yang hendak merenggut kebebasannya [S3], [S4]. Sebagai bagian dari kekayaan tradisi lisan yang diwariskan turun-temurun, legenda ini memiliki daya pikat yang tak lekang oleh waktu [S1], [S2]. Di wilayah Jawa Tengah, cerita ini sering pula disebut dengan nama Mentimun Emas, sebuah variasi penamaan yang menunjukkan betapa luasnya penyebaran kisah ini dalam berbagai versi di tengah masyarakat [S2], [S5], [S5]. Keberadaannya yang populer membuktikan bahwa narasi tradisional ini tetap hidup dan relevan, bahkan h...
Keris Jawa: Lebih dari Sekadar Senjata, Simbol Budaya dan Pusaka Identitas dan Asal-Usul Keris merupakan pusaka masyarakat Jawa yang memiliki bentuk khas dan makna filosofis mendalam [S1]. Senjata tradisional ini diakui sebagai simbol budaya Nusantara dengan nilai sejarah, seni, dan filosofi yang tinggi [S3]. Keris Jawa secara spesifik merupakan salah satu simbol budaya yang sangat penting dalam sejarah dan tradisi Jawa [S2, S7]. Pengakuan UNESCO terhadap keris sebagai warisan dunia menegaskan statusnya yang berasal dari zaman logam [S4]. Secara historis, keris tidak hanya berfungsi sebagai senjata tradisional untuk peperangan [S2, C2], tetapi juga sebagai benda pusaka warisan nenek moyang [C3]. Lebih dari itu, keris juga menjadi simbol spiritual, status sosial, dan warisan keluarga [C12]. Keris Jawa sendiri memiliki banyak jenis dengan fungsi dan makna yang berbeda, mencerminkan kekayaan tradisi yang menyertainya [C8]. Keberadaannya juga meluas sebagai alat perlengkapan dalam b...
Lontar Usada Bali: Warisan Pengobatan Nusantara yang Terlupakan? Identitas dan Asal-Usul Lontar Usada Bali adalah naskah klasik yang mengkategorikan diri dalam ranah pengetahuan dan praktik pengobatan tradisional (usada) di Nusantara [S1], [S3]. Naskah-naskah ini secara spesifik ditulis di atas daun lontar dengan menggunakan aksara dan bahasa Bali Kuna hingga Bali Tengahan [S1]. Kategorinya dalam sistem Warisan Budaya Takbenda Indonesia masuk dalam domain "Pengetahuan dan kebiasaan perilaku mengenai alam dan semesta," sejalan dengan penetapan praktik serupa seperti Pengobatan Tradisional Raksa Jasad [S2]. Asal-usul historisnya di Bali seringkali dilekatkan pada periode pengaruh Majapahit dan penyebaran agama Hindu, meskipun sayangnya, belum ada sumber dari daftar yang secara pasti mengungkap waktu dan tokoh awal penciptaan teks-teks ini. Salah satu versi mengaitkan proses kodifikasi dan pengembangan sistem pengobatan ini dengan peran Dang Hyang Nirartha, seorang tokoh...
Kedatuan Luwu: Salah satu peradaban tertua di Sulawesi Selatan yang jejak sejarahnya berkelindan erat dengan mitolo Identitas dan Asal-Usul Kedatuan Luwu diidentifikasi sebagai salah satu peradaban tertua di Sulawesi Selatan, dengan jejak sejarah yang terjalin erat dengan mitologi, tradisi lisan, dan bukti arkeologis [C11]. Sejarah awal Luwu tidak terlepas dari kisah kosmologis mengenai kedatangan manusia pertama ke bumi, yang menjadi dasar pembentukan tatanan sosial dan kekuasaan di wilayah tersebut [C12]. Kedatuan ini merupakan salah satu dari tiga kerajaan Bugis pertama yang tercatat dalam epik I La Galigo , bersama dengan Wewang Nriwuk dan Tompotikka [S1]. Pendirian Kedatuan Luwu diperkirakan terjadi pada abad ke-14 [C4], dengan Tumanurung sebagai Datu Mappanjunge' ri Luwu pertama pada tahun 1300-an [C3]. Kedatuan ini berlanjut hingga sekarang [C1], meskipun tidak memiliki mata uang sendiri dan menggunakan sistem barter [C5]. Luwu bersama kerajaan-kerajaan lain diakui sebag...