Sejumlah pria dewasa bertelanjang dada, mengenakan kain terlilit di pinggang hingga ke betis. Parang terselip pada ikatan sarung. Mereka berjalan beriringan, tanpa alas kaki, memasuki kompleks rumah tradisional Sasak di Karang Bajo, Kecamatan Bayan, Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat. Di belakang mereka, tampak para perempuan dewasa, mengenakan kemben–kain melilit badan dari atas dada sampai atas mata kaki– membawa nampan di atas kepala mereka. Nampan terbuat dari anyaman bambu berisi padi dan beberapa hasil kebun. Pria dewasa lain memikul padi belum ditumbuk, diikatkan pada sebilah tongkat bambu. Padi utuh dengan batang itu terikat pada kedua ujung tongkat, bagian depan dan belakang. Pria lain membawa kelapa terikat pada bilah bambu yang sama. Ada juga pria dan perempuan menggendong kambing. Beberapa anak-anak laki-laki mengenakan sarung dan sapu’ (ikat kepala khas Lombok) mengikuti dari belakang. Sebagian besar tanpa alas kaki. Bagi yang beralas kaki...
Kisah cinta nan mengharukan antara Datu Museng dan Maipa Deapati ini berangkat dari cerita rakyat yang sangat populer dikalangan masyarakat Makassar, yang dituturkan oleh orang-orang tua kepada anak cucu mereka, agar mereka dapat memetik hikmah dari pendidikan, perjuangan dan kesetiaan. Begitu hebatnya cerita antara Datu Museng putra bangsawan kerajaan Gowa dan Maipa Deapati Putri bangsawan Kerajaan Sumbawa ini tertanam di dalam benak orang-orang makasar, sehingga kemudian nama dari kedua tokoh legendaris ini diabadikan sebagai nama jalan di Kota Makassar. Nama jalan itu seakan sengaja dibuat berdampingan saling berdekatan seakan-akan Pemerintah Kota Makassar turut merestui hubungan percintaan abadi mereka berdua. Jalan Maipa berada di sisi kanan Hotel Imperial Aryaduta Makassar.Pada ujung barat jalan Datu Museng, terdapat situs makam dengan dua nisan kayu yang bersanding kukuh, yang konon katanya itulah makam kedua pasangan cinta ini dimakamkam, Datu Museng dan kekasihnya Maipa Dea...
Ratusan tahun yang lalu tersebutlah seorang pemuda bernama Jompong Suar wajahnya tampan tubuhnya kekar berisi walaupun umurnya baru menginjak lima belas tahun. Dari penuturan orang, keluarga Jompong Suar adalah keluarga pendatang. Mereka bukan asli dari desa itu. Ayahnya bernama Pandelala dan ibunya dipanggil orang Dendelawi. Dahulunya mereka hanya sekedar mengungsi akibat terusur dari tempat asalnya. Jompong Suar tiada beradik kakak. Ia adalah anak tunggal. Tidak mengeherankan kalau ia menjadi anak yang manja. Permintaanya kerap dikabulkan hampir tidak pernah ditolak. Kepadanya harapan masa depan orangtuanya ditumpahkan. Namun pada diri Jompang Suar terdapat watak yang kurang baik. Ibarat kata pepatah, tiada gading yang tak retak. Ia suka sekali mengganggu anak - anak di dasarnya. Tak jarang menampar dan memukuli anak - anak seumurnya. Kelakuannya tidak saja mengusik tetapi bahkan merampas dan menjarah sesuatu yang bukan miliknya sering pula dilakukan. Akibatnya teman sebabnya me...
Tersebutlah kisah seorang raja yang memiliki sepasang putera kembar. Raja tersebut menguasai daerah kerajaan yang cukup luas, dengan keadaan rakyat yang aman, damai dan makmur. Karena keadaan itulah maka raja sangat dicintai oleh rakyatnya. Akan halnya putera raja yang kembar tadi memilki kebiasaan yang unik yakni bila makan maka lauknya harus menggunakan gula merah, dank arena rasa saying raja terhadap kedua puteranya maka persediaan kerajaan akan gula merah tetap menjadi perhatian. Hal ini mengingat kelangsungan hidup dari kedua putera raja sangat bergantung dengan adanya gula merah. Karena jika tanpa gula merah kedua putera raja tidak mau makan. Salah satu upaya dari kerajaan untuk meningkatkan pembuatan gula merah adalah dengan menganjurkan kepada rakyatnya untuk menanam pohon aren yang nantinya dapat dijadikan bahan pembuat gula merah. Hari berganti bulan, bulan berganti tahun, pohon aren seluruh masyarakat tumbuh subur. Hal ini membuat hati sang raja berg...
Di jaman yang telah lampau tersebutlah didalam kisah seorang putera raja yang konon berasal dari Gowa Sulawesi Selatan. Ia datang ke tempat ini bukan untuk memerintah tetapi untuk menyebarkan Agama Islam. Tempat ini dinamakan Bekat Loka , suatu tempat yang dijadikan tempat tinggal dan lama kelamaan menjadi sebuah dusun. Bekat asal katanya adalah berkat . Dusun yang diberkati Allah tempat bermukim seorang alim dari Putera Raja Gowa. Di Dusun Bekat Loka inilah akhirnya Putera Raja Gowa wafat. Kini lokasi itu dapat dilihat lebih kurang seratus depa sebelah tenggara sebuah bukit kecil yang dikenal dengan Ponan . Bukit Ponan sendiri terletak diantara tiga buah dusun yaitu Dusun Poto, Dusun Malili, dan Dusun Lengas . Di Dusun Bekat Loka inilah lahir seorang putera yang dikenal oleh penduduk setempat dengan nama Haji Batu yang makamnya sekarang dapat dilihat dipuncak Bukit Ponan. Bekat Loka merupakan asal muasal munculnya ketiga dusun yang disebutkan diatas yaitu Dusun...
masyarakat Lombok Barat mengadakan ritual tradisional Roah Segare di Pantai Kuranji, desa Kuranji Dalang, Kabupaten Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat (NTB). Roah Segare adalah ritual tahunan yang diadakan pada bulan Muharram dari kalender Islam oleh nelayan dan penduduk lokal di Lombok Barat. Namanya berarti "merawat laut", dan tujuan dari tradisi ini adalah untuk menjaga keseimbangan alam dan hubungan yang harmonis antara manusia dan alam. Roah Segare adalah tradisi yang diturunkan dari generasi ke generasi sebagai warisan dari kearifan lokal. Ini adalah cara untuk berterima kasih kepada Tuhan atas makanan yang kami sediakan dan untuk menjauhkan kami dari bahaya. Ratusan penduduk setempat mengumpulkan hasil panen dan makanan di atas nampan bambu yang disebut penulang dulang, yang kemudian mereka pasang di pantai Kuranji pada pagi hari. Setelah memberkati persembahan dengan sholat Barzanji, Selakaran, dan Zikir, mereka membiarkan nampan larut ke laut, sebuah langka...
Upacara ini dilakukan ketika akan membuat rumah bagi mereka yang telah berkeluarga. Dalam membuat rumah mereka melakukan dengan cara bergotong-royong dan bentuk rumah yang mereka buattampak persegi empat dilihat dari depan sampai kebelakang. Rumah umumnya bertiang antara 16 sampai 20 buah ini tergantung dari besar tidaknya bangunan yang dibuat. Dari sekian banyaknya tiang yang ada di dalam kerangka rumah maka ada satu tiang yang dijadikan sebagai dasar atau tiang utama. Istilah local menyebut tiang guru. Tiang guru ini akan dapat diidentifikasi dengan melihat posisi kayu bakau dalam kerangka bangunan rumah tersebut. Tiang guru ini biasanya diletakan pada posisi nomer dua dilihat dari kiri pada jajaran tiang kedua dari depan. Dalam hal ini tiang guru merupakan kayu yang memiliki kualitas baik dan merupakan kayu pilihan sebagai penyangga utama dari bangunan rumah tersebut. Dalam pemasangan tiang guru ini dilakukan oleh orang tertentu saja, yakni orang yang memiliki pendalaman spir...
Upacara Nampo Tawar merupakan suatu bentuk upacara yang sangat terkait dengan persembahan kepenguasa laut. Ini sering disebut upacara turun ke laut. Upacara ini juga sangat disakralkan. Sacral dalam arti ini mengandung makna suci (Agus, 2007: 80). Upacara Nampo Tawar dilakukan sebelum akan berangkat menangkap ikan atau bagi generasi mudannya yang akan berangkat merantau keluar pulau menyeberangi lautan, maka suatu upacara menurut kepercayaan masyarakat setempat mengadakan ritual yang disebut upacara turun laut. Khusus bagi nelayan yang akan berangkat menangkap ikan, maka pada malam sebelum berangkat, di rumah pada salah satu warga pemilik perahu (juragan) akan diadakan suatu upacara keagamaan yakni melakukan pembacaan doa bersama, pengajian, dan selain itu juga disertai dengan ritual persembahan berupa sesajian yang di dalamnya berisi bunga tiga macam dengan warna yang berbeda. Sesajian juga berisi bubur putih, tumpeng, ketan, tumpeng ketan warna kuning. Sesajian ini akan dipersemba...
Upacara ancak merupakan salah satu ritual yang sifatnya komunal. Kegiatan ini dilakukansecara bersama dengan menggunakan berbagai peralatan dan perlengkapannya. Upacara ancak sering disebut “bebalian”, dalam bebalian tersebut berisi tentang sesajian dengan rangkaian yang sederhana. Dalam sesajian itu, terbuat dari rangkaian daun kelapa mudayang berisi serangkaian bunga atau kembang dan juga berisi berbagai perlengkapan pendukung seperti buah pisang, beras kuning, beras putih, kemenyan dan lainnya. Selain itu disertai juga dengan satu ekor ayam yang masih hidup sebagai hewan kurban. Kesemuanya itu merupakan peralatan dan perlengkapan pendukung dalam rangkaian sesajian upacara tiba ancak. Prosesi upacara dilakukan dengan diawali pembuatan tempat ancak. Semua perlengkapan dan sesajian yang akan dipersembahkan di letakan di atas kayu denganketinggian tiga meter. Kayu tersebut diletakan diperbatasan desa atau digerbang masuk ke pulau Bungin. Upacara ritual ancak dilaksana...