Sejumlah pria dewasa bertelanjang dada, mengenakan kain terlilit di pinggang hingga ke betis. Parang terselip pada ikatan sarung. Mereka berjalan beriringan, tanpa alas kaki, memasuki kompleks rumah tradisional Sasak di Karang Bajo, Kecamatan Bayan, Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat.
Di belakang mereka, tampak para perempuan dewasa, mengenakan kemben–kain melilit badan dari atas dada sampai atas mata kaki– membawa nampan di atas kepala mereka. Nampan terbuat dari anyaman bambu berisi padi dan beberapa hasil kebun.
Pria dewasa lain memikul padi belum ditumbuk, diikatkan pada sebilah tongkat bambu. Padi utuh dengan batang itu terikat pada kedua ujung tongkat, bagian depan dan belakang. Pria lain membawa kelapa terikat pada bilah bambu yang sama. Ada juga pria dan perempuan menggendong kambing. Beberapa anak-anak laki-laki mengenakan sarung dan sapu’ (ikat kepala khas Lombok) mengikuti dari belakang.
Sebagian besar tanpa alas kaki. Bagi yang beralas kaki, mereka letakkan sandal dengan rapi sebelum masuk ke kompleks itu. Ada batu pembatas dan pagar anyaman bambu mengelilingi kompleks. Kompleks itu tempat tinggal para tetua adat, disebut kampu.
Di setiap permukiman adat, ada beberapa rumah yang memiliki pagar keliling, membatasi dengan rumah-rumah adat di dalam kompleks itu. Itu merupakan tempat berlangsungnya berbagai ritual di masyarakat adat Bayan.
Pada beberapa kali ritual maulid adat, misal, saya pernah masuk ke kompleks ini. Dengan mengikuti aturan, mengenakan sarung panjang dililit, sapu’, dan tak boleh memakai celana.
Pagi itu, mereka melakukan ritual Selamat Asuh. Di sekitar kampung rumah adat itu berdiri tenda-tenda pengungsian. Tak ada suara tetabuhan gamelan. Tak ada suara kebisingan orang diskusi di berugak (gazebo), tak ada keributan anak-anak bermain seperti pada setiap ritual lain yang selalu ramai. Suasana sangat sunyi. Seorang tokoh adat yang saya kenal pun mengingatkan agar tak masuk ke kompleks, apalagi mengambil gambar.
Pukul 10.00 waktu setempat, para pria dewasa yang membawa parang keluar dari kompleks. Di kening mereka terlihat tanda sembeq (ramuan sirih dan bahan lain yang ditempelkan di kening), tanda sudah bertemu dan menghaturkan doa pada para tetua. Di satu pojok di perkampungan itu, mereka menyembelih kerbau.
Setelah penyembelihan, potongan daging dibawa sedikit demi sedikit ke kompleks. Dari luar terlihat, di salah satu berugak, para pria memotong kembali daging-daging itu. Aktivitas itu berlangsung sampai siang.
Hari itu, pekan terakhir masyarakat adat Bayan menggelar ritual Selamat Asuh. Ritual ini merupakan selamatan khusus ketika ada kerusakan besar. Musibah gempa yang meluluhlantakkan seluruh desa di Lombok Utara, dan semua kabupaten di Pulau Lombok, dinilai kerusakan besar. Gempa maupun bencana lain yang berdampak besar harus “dibersihkan” melalui ruwatan itu.
Sudah tiga kali Jumat ritual berlangsung di perkampungan tradisonal itu. Ritual setiap Jumat. Pada Jumat pertama, masyarakat adat Bayan menggelar “Selamat Asuh Gubug.” Gubug berarti kampung, bisa bermakna kampung secara harfiah, bisa juga lebih luas bumi.
Ritual kedua pada Jumat berikutnya, masyarakat adat Bayan menggelar “Selamat Asuh Gunung.” Jumat terakhir itu, digelar “Selamat Asuh Mesigit.” Mesigit artinya mesjid.
Secara kebetulan pada “Selamat Asuh Mesigit” itu, bertepatan dengan “Lebaran Pendek” atau hari Raya Idul Adha bagi masyarakat adat Bayan, dan masyarakat Wetu Telu umumnya. Perhitungan mereka berbeda dengan perhitungan pemerintah.
Perayaan Lebaran Pendek (Idul Adha) dan Lebaran Tinggi (Idul Fitri), digelar masyarakat adat tiga hari setelah Lebaran ketetapan pemerintah.
Bagi masyarakat adat Bayan, gempa dan bencana lain bukan semata peristiwa alam. Gempa merupakan peristiwa spiritual. Gempa merupakan peringatan dari Tuhan kepada manusia dan kepada seluruh makhluk.
Gempa kali ini, berlangsung cukup panjang, mereka tafsirkan sebagai petunjuk dari Yang Maha Kuasa, betapa sangat besar pelanggaran manusia terhadap alam.
“Selamat Asuh” atau disebut juga “Mengasuh” yang digelar masyarakat adat Bayan ini bukan sekadar perkara hasil rapat (gundem) para tetua adat. Sejak gempa pertama, sudah ada bisikan dari “roh” bahwa mereka harus menggelar ruwatan dan melakukan perintah “roh” itu.
Roh itu masuk ke tubuh warga adat. Tidak satu orang, tetapi beberapa. Permintaan dan perintah itu sama ke setiap orang yang kerasukan, akhirnya diputuskan “Selamat Asuh.”
Salah satu perintah “ekstrem” adalah membongkar beberapa bangunan di kompleks mesjid kuno. Mesjid Kuno Bayan yang ditetapkan pemerintah sebagai cagar budaya itu salah satu situs budaya, sekaligus wisata budaya. Setiap ada ritual adat, selalu ramai wisatawan, bahkan hingga mancanegara. Paling ramai ketika momen maulid adat.
sumber : http://www.mongabay.co.id/2018/09/05/sastra-kuno-ceritakan-bencana-masa-lampau-di-lombok-bagian-2/
Candi Miri: Peninggalan Arsitektur Hindu Kerajaan Mataram Kuno Candi Miri merupakan salah satu situs candi Hindu yang menjadi bagian dari warisan arsitektur religius Kerajaan Mataram Kuno di Pulau Jawa. Keberadaannya di wilayah Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, menunjukkan penyebaran pusat-pusat keagamaan yang strategis pada periode klasik Jawa. Sebagai candi Hindu, Candi Miri mencerminkan adaptasi tradisi arsitektur India yang dikembangkan dengan karakteristik lokal Jawa Kuno, berdiri sebagai saksi bisu kejayaan peradaban Hindu-Buddha di Nusantara. Sejarah & Latar Belakang Candi Miri didentifikasi sebagai peninggalan Kerajaan Mataram Kuno (Sumber 4). Letaknya berada di wilayah administratif Kecamatan Prambanan, Kabupaten Sleman, yang merupakan salah satu kawasan terpenting dalam sejarah peradaban Jawa klasik. Terdapat variasi dalam pencatatan lokasi spesifik candi ini. Beberapa sumber merujuk lokasi Candi Miri di Dusun Nguwot, Desa Sambirejo (Sumber 1, Sumber 2, Sumber...
Babi Panggang Karo: Simfoni Rasa dari Tanah Batak Di tengah kekayaan kuliner Indonesia yang tak terhingga, Babi Panggang Karo (sering disingkat BPK) muncul sebagai sebuah mahakarya rasa yang menghadirkan jejak budaya dan tradisi dari tanah Sumatera Utara. Lebih dari sekadar hidangan, BPK adalah manifestasi dari identitas masyarakat Karo, sebuah sajian yang kaya akan aroma, rempah, dan cerita. Mengapa BPK begitu istimewa, dan bagaimana ia menjadi simbol kebanggaan kuliner bagi suku Karo? Mari kita telusuri keunikan dan daya pikatnya. ## Andaliman: Jantung Rasa BPK Rahasia di balik kelezatan BPK terletak pada penggunaan rempah-rempah khas, dan yang paling menonjol adalah andaliman. Dikenal juga sebagai "merica Batak" atau "sichuan pepper"-nya Indonesia, andaliman memberikan sensasi rasa yang unik dan tak tertandingi: pedas, sedikit asam, dan yang paling khas adalah efek kebas atau "getar" di lidah (Sumber 2). Rasa yang identik dan aroma yang kuat dari andal...
Batik Kamoro: Mengenal Keindahan Seni Batik dari Papua Batik Kamoro merupakan salah satu jenis batik khas Papua yang dikenal dengan corak unik dan makna mendalam. Berbeda dengan batik dari daerah lain di Indonesia, batik Papua, termasuk Kamoro, memiliki ciri khas motif yang terinspirasi dari kekayaan alam dan budaya suku asli di sana (Sumber 1, Sumber 3). Batik ini secara spesifik menampilkan corak khas Timika, yang terinspirasi dari suku Kamoro dan keindahan alam sekitarnya (Sumber 1). Batik Kamoro tidak hanya sekadar kain bermotif, tetapi juga merupakan representasi semangat dan keberanian penduduk asli Papua (Sumber 2). Simbol-simbol yang terkandung di dalamnya merefleksikan kehidupan masyarakat adat, menjadikannya salah satu warisan budaya yang patut dilestarikan. ## Motif dan Makna Batik Kamoro Motif utama batik Kamoro sangat khas dan mudah dikenali. Corak yang sering ditemukan pada batik ini meliputi: ### Simbol Patung Salah satu motif yang paling menonjol pada batik Kamoro adal...
Karya: Mahlil Azmi Di sebuah perkampungan kecil bernama Desa Pucok Krueng, di Aceh bagian barat selatan, hiduplah sebuah keluarga kecil yang damai dan bahagia. Mereka berjumlah empat orang: sang ayah bernama Uda Bintang Puteh berumur 40 tahun, ibu Nyak Bulan berumur 30 tahun, anak pertama Rajo Puteh berumur 10 tahun, dan adik perempuannya bernama Nyak Puteh yang berumur 5 tahun.Kedua orang tua mereka adalah petani dan pekebun pala. Sementara itu, Rajo adalah anak yang nakal dan sering berkelahi dengan teman-temannya hingga meresahkan orang tuanya. Walaupun begitu, ia sangat menyayangi keluarganya, terutama adiknya. Nyak Puteh adalah anak yang ceria, patuh, rajin mengaji, dan suka membantu orang tua mencuci piring. Setiap menjelang pagi, ayah dan ibu berpamitan untuk bekerja di ladang memetik buah pala, dan terkadang menjadi buruh tani di sawah milik saudagar kampung. Walaupun upah yang mereka dapatkan sedikit, mereka tetap bersyukur.Beberapa tahun kemudian, saat Rajo berumur 17 tahun,...
Candi Miri: Peninggalan Sejarah di Yogyakarta Sejarah & Latar Belakang Candi Miri adalah salah satu candi Hindu yang terletak di Dusun Nguwot, Desa Sambirejo, Kapanewon Prambanan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Diperkirakan dibangun pada abad ke-9, Candi Miri merupakan bagian dari warisan budaya Kerajaan Mataram Kuno. Candi ini berdiri tidak jauh dari beberapa candi lain yang juga bersejarah, seperti Candi Banyunibo dan Candi Barong, menjadikannya sebagai bagian penting dari kompleks candi yang memiliki nilai arkeologis yang tinggi (Sumber 2, 4, 14). Candi Miri, yang terletak di bukit karst dengan ketinggian sekitar 300 meter, menjadi lokasi yang strategis untuk aktivitas keagamaan dan pemujaan. Meskipun saat ini kondisinya mengalami kerusakan dan belum dilakukan pemugaran, keberadaannya tetap menarik perhatian para peneliti dan wisatawan yang ingin menyelami sejarah kekayaan budaya Indonesia (Sumber 1, 8, 14). Karakteristik Arsitektur Candi Miri memiliki...