Peninggalan sejarah menjadi barometer peradaban suatu penduduk, tingkat sosial, teknologi dan politik sebagian besar dipelajari dengan peninggalan-peninggalan sejarahnya. Salah satu hasil budaya manusia sebagai bukti dari perwujudan ide, perasaan, keterampilan dan daya imajinasi adalah dihasilkannya bermacam-macam kerajinan fungsional salah satunya adalah kande (lampu). Kande atau Lampu yang biasa digunakan zaman kerajaan Aceh sebagai penerang baik dalam ruangan maupun diluar. Bentuk-bentuk kande pun berbeda-beda biasanya tergantung golongan yang menggunakannya, Dilihat dari segi perkembangan teknik, motif atau ornamen serta bahan pembuatannya tentu terkandung makna filosofis bagi masyarakat pemakainya/pendukungnya. Jenis-jenis kande yang dikenal di aceh antaralai: Pertama ada namanya, Lampu gantung 5 sumbu (panyot limong dan tujoh mata) . Sebuah lampu duduk bertingkat, terbuat dari tembaga. Tiang serta tempat sumbu berukir. Tingkat pertama terdiri dar...
Rukon on atau tembakau dari daun nipah dulu paling dikenal para nelayan-nelayan di pantai selatan karena merupakan salahsatu kebutuhan sekunder masyarakat pesisir dalam keseharian bekerja. rukok on dikenal sebagai rokok tradisional yang diambil dari daun nipah muda dijemur dibawah matahari dan dibalut dengan tembakau dihisap dikala waktu santai atau pada saat bekerja. Rukok on kini sudah jarang ditemukan digantikan dengan rokok yang diproduksi massal oleh perusahaan-perusahaan rokok nasional maupun internasional
Aceh tediri dari masyarakat mulikultural dengan berbagai ragam budaya yang unik dan variatif, meskipun secara umum budaya aceh hampir sama disetiap daerahnya namun ada beberapa bagian tertentu disetiap daerah terdapat keunikan tersendiri sehingga menjadi keanekaragaman yang mencitrakan identitas daerah tertentu, salahsatunya adalah tradisi peutroen aneuk (turun mandi). Sebelum prosesi berlansung, bayi akan di peusunteng (ditepung tawar) oleh pihak keluarga. Masyarakat adat yang masih kental dengan tradisi, akan terus melestarikan budaya dengan cara melaksanakan setiap tradisi dengan sentuhan budaya yang diwariskan turun temurun dari generasi ke generasi. Begitu juga dalam melaksanakan acara “Peutron Aneuk U Tanoh” atau dikenal dengan turun mandi yang biasaya dilakukan setelah umur 44 hari si bayi. Rangkaian tradisi turun mandi diawali dengan acara peucicap, dimana tokoh agama setempat akan mengoles madu, makanan dan...
Reuhab adalah adat yang sangat kental dengan budaya masyarakat Alue Tuho, Nagan Raya, Nangroe Aceh Darussalam. Reuhab berarti kamar sakral yang didiami pada saat ada seseorang meninggal dunia. Tradisi ini sangat berpengaruh terhadap dalam kehidupan masyarakat Alue Tuho karena dianggap suatu penghinaan jika tidak melakukan ritual kematian ini. Selain dianggap sebagai kamar sakral untuk orang yang meninggal, Reuhab juga berarti barang yang ditinggalkan oleh orang yang meninggal. Biasanya barang yang ditinggalkan adalah pakaian terakhir yang dipakaioleh yang meninggal dan disimpan di dalam kamar yang di sakralkan selama 40 hari. Tatacara Reuhab dengan melakukan pengajian yang mengundang tokoh agama setempat. Dalam pengajian tersebut, keluarga yang ditinggalkan juga menyertakan benda-benda wajib yang turut didoakan dalam pengajian tersebut, seperti baju yang terakhir, kain, dan tikar pandan yang dipakai untuk mengangkut mayat. Selain itu, disertakan juga dua buah bantal guling,...
Uroe Tulak bala atau dikenal dengan Rabu Abeh merupakan tradisi sebagian masyarakat pantai barat selatan Aceh yang dilaksanakan setiap tahunnya. Rabu Aceh dilaksanakan pada akhir bulan Safar tepatnya di Tanggal 29 Safar 1435 Hijriyah dengan tujuan sebagai ritual untuk menolak bala atau musibah yang dipercaya oleh “ sebagian” masyarakat sebagai bulan dimana bala Diturunkan oleh Allah SWT ke dunia. Tradisi ini sudah berkembang sejak lama dan pada awalnya ritual tulak bala dilakukan kegiatan-kegiatan doa bersama di pantai yang diikuti oleh seluruh masyarakat desa. Saat ini, kegiatan tulak bala tak ubah sebagai ajang rekreasi keluarga, termasuk anak-anak yang suka meliburkan diri pada hari tulak bala untuk ikut bermain dipantai. Pada dasarnya tradisi tulak bala dilaksanakan pada akhir bulan safar kelander hijriyah karena pada bulan tersebut Nabi Muhammad SAW mulai jatuh sakit dan tidak lama kemudian pada bulan kegita pada tahun itu, beliau wa...
Kebiasaan dalam bermasyarakat yang dilaksanakan secara rutin menjadi tradisi yang kemudian diwariskan turun temurun seperti halnya tradisi kuah beulangong dalam seremonial kenduri blang yang sudah hampir ditinggalkan zaman dan bahkan semakin langka dilaksanakan di Aceh. Tradisi kuah beulangong biasa juga disebut sebagi tradisi gulai sawah biasanya diadakan setiap musim tanam padi tiba dalam kegiatan kenduri Blang (Turun ke Sawah), kuah beulangong merupakan menu kuah daging sapi atau kerbau yang dimasak dengan bumbu-bumbu khusus kedalam belanga besar kemudian disantap dengan penuh rasa kebersamaan. Tradisi ini kerap dilaksanakan di beberapa daerah aceh seperti Banda Aceh, Aceh Besar, Pidie dan wilayah Aceh Barat sebelum turun kesawah sebagai selamatan memohon kepada Allah SWT agar hasil panen bagus dan terhindar dari gangguan hama. Saat ini tradisi saat ini sudah semakin ditinggalkan dan jarang dilaksanakan, namun menu kuah beulanggong masih terus bertahan menjadi...
Masyarakat Aceh juga memiliki tradisi yang unik dalam memuliakan Nabi Saw dan merayakan hari kelahiran pemimpin umat ini. Tradisi ini dapat kita lihat pada penamaan bulan menurut kalender Aceh, yang mengikuti hitungan Qamariyah sebagaimana kalender Hijriyah. Penamaan bulan pada kalender Aceh untuk bulan ketiga adalah Buleun Maulod (Bulan Maulid), bulan yang keempat Buleun Adoe Maulod, dan bulan yang kelima Buleun Keumun Maulod. Jadi menurut kalender ini, tradisi perayaan maulid di Aceh dilaksanakan dalam rentang waktu tiga bulan tersebut. Apabila kita urutkan berdasarkan kalender Hijriyah, maka perayaan maulid Aceh berlangsung antara bulan Rabiul Awal, Rabiul Akhir, dan Jumadil Awal.
Aceh begitu terkenal dengan penduduknya yang religious . Bahkan provinsi terujung Indonesia bagian barat ini pun memiliki julukan “Serambi Mekkah.” Jika ditelisik, ritual prosesi pernikahan Adat Aceh memang sarat akan makna budaya dan agama. Meskipun demikian, beberapa prosesi pernikahan ditinggalkan oleh penduduk setempat lantaran tidak sesuai dengan syariat Islam. Namun itu semua dikembalikan lagi kepada sang pemangku hajat untuk mengikuti atau tidak. Bagi Anda yang hendak menggelar pernikahan Adat Aceh berikut adalah urutan prosesi pernikahan yang bisa dijadikan sebagai panduan. Melamar (Ba Ranub) Selayaknya upacara pernikahan di daerah lainnya, prosesi pernikahan diawali dengan lamaran atau ba ranub dalam istilah Aceh. Pada zaman dahulu, prosesi ini diserahkan oleh theulangke (orang yang dirasa bijak) untuk mencari tahu seputar gadis yang hendak dipinang. Apabila sudah dirasa cocok, maka pihak pria akan datang melamar gad...
Geunteut adalah sebuah sebutan dari masyarakat di Provinsi Aceh guna menamai suatu makhluk gaib yang pada masa lalu secara umum diyakini ada di tengah kehidupan masyarakat tradisional Aceh. Geunteut adalah semacam makhluk gaib berupa hantu dengan wujud hitam dan berukuran sangat tinggi. Geunteut biasa ditemui ditengah jalan, menghadang perjalanan orang diwaktu malam hari. Geunteut bergerak dengan melangkahkan kakinya yang panjang dan menghilang dibalik rumpun bambu maupun semak belukar. [1] Geuntuet adalah makhluk halus yang berukuran sangat panjang, rambutnya keriting, dan terkadang membawa periuk yang disebut “kanet geunteut” (periuk geunteut). Sumber: https://id.wikipedia.org/wiki/Geunteut