Persiapan Menuju Perkawinan a. Jak Keumalen Artinya mencari calon istri/suami. Jak Keumalen dilakukan melalui dua cara. Pertama, dilakukan langsung oleh orangtua laki-laki; atau, kedua, dilakukan oleh utusan khusus. Maksud Jak Keumalen ialah menjajaki kehidupan keluarga calon pengantin. Biasanya beberapa orang dari pihak mempelai pria datang bersilaturahmi sambil memperhatikan calon mempelai perempuan, suasana rumah, dan perilaku keluarga tersebut. Setelah kunjungan, keluarga calon mempelai pria bertanya kepada pihak orangtua perempuan, apakah putrinya sudah mempunyai calon suami. Bila sambutannya baik dan jawaban "ya", tahapan selanjutnya adalah Jak Ba Ranub. Jak Keumalen dilakukan karena pada silam hubungan laki-laki dan perempuan adalah tabu. Selain peran orang tua yang begitu dominan terhadap anak, termasuk urusan jodoh. b. Jak Ba Ranub Setelah melewati tahap Jak Keumalen, berikutnya adalah upacara Jak Ba Ranub atau upacara meminang calon pasangan. Dalam acara ini,...
Jenis permainan ini dapat dijumpai hampir di seluruh wilayah Daerah Istimewa Aceh. Namün, nama yang diberikan atau sebutannya berbeda-beda, sesuai dengan bahasa yang dimiliki oleh masing-masing kelompok etnis yang terdapat di Daerah Istimewa Aceh sekarang. Nama mesen-mesen khusus digunakan oleh kelompok etnis Aneuk Jame yang umumnya mendiami pesisir pantai Barat Aceh, terutama bagian pesisir Kabupaten Aceh Selatan sekarang. Tentang dari mana asal nama dan bagaimana mula timbulnya permainan ini di daerah tersebut, belum dapat dipastikan Sejarah Seperti telah disebutkan bahwa dari mana asal nama dan bagaimana mula adanya permainan ini di daerah Aceh, belum dapat diungkapkan. Menurut tradisi lisan, permainan ini sudah cukup lama terdapat di dalam masyarakat Aceh. Oleh karena permainan ini hampir menyerupai permainan Galah atau yang pada kelompok etnis Aceh disebut juga permainan Tak Tham (sejenis permainan yang juga terdapat di Daerah Aceh dan telah pern...
Suatu permainan lain yang juga terdapat di Daerah Istimewa Aceh, khususnya yang terdapat di kawasan Aceh Besar adalah permainan meuen geuti atau meu geuti. Seperti telah dijelaskan dalam permainan-permainan terdahulu bahwa pemberian nama berdasarkan cara melakukan permainan ini. Meuen artinya bermain dan geuti artinya tengki (dikenakan). Jadi, secara lengkap berarti permainan yang dilakukan anak-anak dengan cara menengki biji-bijian, seperti biji asam jawa, biji meninjau, buah kemiri, atau batu-batu kecil. Nama lain untuk permainan ini adalah meu teh, tetapi ada juga yang menyebutkan dengan meu keh. Baik meu teh maupun meu keh mempunyai arti yang sama dengan meu geuti. Penyebutan meu teh atau meu keh terdapat di beberapa daerah, dengan berdasarkan pada bunyi yang ditimbulkan biji-bijian atau batu-batu kecil yang mengena antara satu dengan yang lainnya pada saat biji itu ditengki. Demikianlah pemberian nama untuk permainan ini, baik meuen geuti maupun meu teh atau meu keh, yang sema...
Salah satu permainan yang berkembang di dalam masyarakat Aceh dan digemari anak-anak pada masa dahulu di dalam masyarakat Aceh adalah peh kayee. Nama permainan ini menurut hasil wawancara dengan masyarakat penggemarnya adalah berdasarkan kepada caranya melakukan permainan dan alat yang dipergunakan di dalam permainan tersebut. Meuen peh kayee terdiri atas tiga kata, yaitu meuen, peh, dan kayee. Meuen berarti bermain atau permainan, peh dapat berarti dengan memukul, dan kayee berarti kayu. Jadi, meuen peh kayee secara keseluruhannya berarti sejenis permainan yang mempergunakan kayu sebagai peralatan permainan dengan cara memukul kayu tersebut. Walaupun permainan ini disebut meuen peh kayee, tidak berarti mutlak harus mempergunakan kayu sebagai alatnya, kadang-kadang juga mempergunakan kayu sebagai alatnya, kadang-kadang juga mempergunakan rotan, pelepah rumbia, atau aur yang telah kering. Cara dan fungsinya akan dijelaskan di dalam jalannya permainan. Permainan ini selain disebut me...
Meuen som-som aneuk di dalam bahasa Indonesianya adalah permainan sembunyi-sembunyian anak. Meu berasal dari kata meuen artinya bermain, som-som berarti sembunyi-sembunyian, dan aneuk berarti anak. Diberi nama demikian karena di dalam permainan ini ada sebuah benda yang disebut anak, biasanya adalah batu kecil yang selalu disembunyikan untuk dicari oleh teman-teman bermain lainnya. Nama lain yang diberikan untuk permainan ini adalah meu somsom mie atau som-som mie. Yang dimaksud dengan mie yaitu aneuk atau anak yang harus dicari, som-som mie disebabkan pada waktu hendak menyembunyikan anak tersebut diucapkan dengan perkataan kusom mie, yang maksudnya aku sembunyikan anak. Hal ini akan dijelaskan dalam jalannya permainan. Baik yang menyebut permainan dengan som-som aneuk maupun som-som mie, cara melakukannya atau aturan-aturannya adalah sama. Permainan ini sering dimainkan anak-anak terutama di pedesaan pada zaman lampau pada masyarakat Aceh. Sejarah Beberapa informasi meny...
Awal mula Sumang tidak diketahui sejak kapan, karena sudah ada sejak jaman dahulu. Yang jelas Sumang lahir pada saat pemuda pemudi sudah mulai meninggalkan atau melanggar adat istiadat Gayo. Adapun pengertian dari Sumang adalah suatu aturan yang tidak boleh dilakukan atau dikerjakan. Macam-macam Sumang seperti Sumang Penengonen, Sumang Pelangkahan, Sumang Peceraken dan Sumang Pengunulen. Pada dasarnya hukum adat Sumang hanya berkembang di dataran tinggi Gayo, yaitu di Kabupaten Aceh Tengah dan Kabupaten Bener Meriah. Awalnya Sumang sangat berjalan kental pada masyarakatnya, namun akhir-akhir ini Sumang menjadi pudar. Hal ini dikarenakan masuknya budaya luar yang mempengaruhi orang Gayo itu sendiri. Disamping itu hukum Sumang menjadi luntur pada masyarkat Gayo karena kurangnya kesadaran akan menjaga serta memelihara betapa pentingnya hukum Adat itu. Sumang Penengonen adalah sesuatu perbuatan yang janggal untuk dilihat dan tidak layak untuk dikerjakan S...
Salah satu kenduri di Masyarakat Lamno, Aceh Jaya adalah Kaurie Beureuat . Kenduri ini dilaksanakan pada bulan suci Ramadhan dan berlangsung pada malam hari di pertengahan bulan Sya’ban. Malam berlangsungnya kenduri ini dikenal dengan istilah Malam Beureuat.Kenduri ini dilaksanakan oleh seluruh anggota masyarakat sebuah desa dan bertempat di meunasah yang dipimpin oleh teungku. Pada kenduri ini seluruh masyarakat datang ke meunasah dengan membawa sebuah idang (paket makanan yang terdiri dari nasi beserta lauk pauk dan ditempatkan dalam sebuah talam yang besar). Makanan tersebut disantap bersama anggota masyarakat lainnya yang hadir pada saat pelaksanaan kaurie beurat. Sumber : https://vennashintya.wordpress.com/2016/03/18/peninggalan-dan-acara-tradisi-islam-di-aceh/
Salah satu wilayah di Kabupaten Aceh Selatan, bernama Kluet, memiliki sebuah sistem sosial yang unik. Wilayahnya terdiri dari empat kecamatan, meliputi Kluet Selatan, Kluet Utara, Kluet Timur, dan Kluet Tengah. Keempat wilayah tersebut didiami oleh tiga suku besar, yaitu suku Aneuk Jamee di Kluet Selatan, suku Aceh di Kluet Utara, dan Suku Kluet di Kluet Timur dan Kluet Tengah. Walaupun mereka memiliki adat istiadat yang berbeda, tetapi dapat berinteraksi dengan baik di satu wilayah yang sama. Bakatuang adalah sebuah kegiatan adat yang bertujuan untuk mencari telur penyu. Katuang, oleh masyarakat Aceh disebut pinyie , atau dalam bahasa Indonesia berarti penyu. Bakatuang merupakan sebuah kebudayaan kuno yang dimiliki oleh masyarakat Aneuk Jamee di Kluet Selatan secara turun temurun. Tidak ada data sejarah yang jelas mengenai kapan dan oleh siapa kebudayaan tersebut ditemukan. Tapi yang jelas, tradisi tersebut masih dipelihara dengan b...
Salah satu tradisi menarik diberbagai literatur kawasan Aceh adalah adanya kenduri blang Aceh atau yang sering disebut Khanduri Tron U Blang . Ini merupakan salah satu bentuk kegiatan tradisional di Aceh yang melakukan makan-makan bersama di lingkunga persawahan dimana tempat para petani bercocok tanam. Zaman dulu, tradisi ini merupakan sebuah kewajiban bagi etnis petani Aceh. Bentuk implementasi terhadap rasa syukur dan pengharapan para petani kepada sang khaliq agar hasil panen nantinya berhasil dan memperoleh berkah. Walaupun pada dasarnya tradisi ini merupakan konversi dari budaya hindu yang sudah lebih dulu eksist di Indonesia termasuk di Aceh, namun dengan mengislamisasinya, maka tradisi ini merupakan kegiatan masyarakat yang dipandang boleh oleh para ulama fiqh dan ahli tasawuf di Aceh. Jika dahulu kenduri blang dilakukan untuk meminta rahmat dari alam, maka proses islamisasi mengubah cara pandang masyarakat sehingga syukuran ditujukan kepada sang pencipta alam,...