Meuen som-som aneuk di dalam bahasa Indonesianya adalah permainan sembunyi-sembunyian anak. Meu berasal dari kata meuen artinya bermain, som-som berarti sembunyi-sembunyian, dan aneuk berarti anak. Diberi nama demikian karena di dalam permainan ini ada sebuah benda yang disebut anak, biasanya adalah batu kecil yang selalu disembunyikan untuk dicari oleh teman-teman bermain lainnya.
Nama lain yang diberikan untuk permainan ini adalah meu somsom mie atau som-som mie. Yang dimaksud dengan mie yaitu aneuk atau anak yang harus dicari, som-som mie disebabkan pada waktu hendak menyembunyikan anak tersebut diucapkan dengan perkataan kusom mie, yang maksudnya aku sembunyikan anak. Hal ini akan dijelaskan dalam jalannya permainan. Baik yang menyebut permainan dengan som-som aneuk maupun som-som mie, cara melakukannya atau aturan-aturannya adalah sama.
Permainan ini sering dimainkan anak-anak terutama di pedesaan pada zaman lampau pada masyarakat Aceh.
Sejarah
Beberapa informasi menyebutkan sejarah lahirnya permainan ini merupakan suatu ciptaan agar anak-anak tidak membuat keributan pada setiap perayaan atau keramaian, misalnya pada perkawinan, kenduri, dan lain-lain.
Setelah bermain tentu saja keributan dapat diatasi, dan mereka berkumpul di suatu tempat yang agak jauh dari keramaian. Mereka bermain sampai tiba waktu makan dan setelah makanan tersaji. Selesai makan biasanya mereka akan melanjutkan permainannya lagi. Kapan permainan ini ada, tidak ada informasi yang mengetahui dan menurut mereka permainan ini sudah dikenal sejak lama.
Perkembangan permainan ini mempunyai masa pasang dan surut. Pada waktu yang lampau sebelum banyak diperkenalkan permainan modern, permainan ini sangat digemari anak-anak. Pada masa itu sampai dengan tahun 50-an, meuen som-som aneuk masih terdapat di setiap kampung. Bila bulan purnama, di tempat-tempat pengajian anak-anak akan memanfaatkan waktu yang baik. Setelah tahun 50-an permainan ini mengalami masa surut, dan akhir-akhir ini sudah agak dilupakan.
Waktu Pelaksanaan
Permainan ini sama halnya dengan jenis permainan anak-anak lainnya tidak terikat dengan waktu, dapat dilakukan pada waktu pagi, siang, atau malam hari, bergantung pada hadirnya para pemain.
Waktu untuk melakukan permainan ini, bila anak-anak berkumpul atau bila ada upacara-upacara seperti perkawinan, keagamaan, dan lain-lain, atau pada malam hari pada waktu bulan purnama setelah mereka belajar. Dengan demikian unsur waktu di dalam permainan ini tidak mutlak harus diperhitungkan atau dengan kata lain waktu yang diperlukan untuk melakukan permainan ini tidak terikat dan dimainkan bila ada waktu senggang. Pemain
Peserta meuen som-som mie tidak dibatasi, semakin banyak semakin baik karena suasana akan lebih meriah. Sesuai dengan sifat permainan, tentu saja para pemain berusaha untuk menarik anggotanya sebanyak mungkin.
Permainan ini dapat dilakukan oleh anak laki-laki dan atau anak perempuan, yang berusia antara 6 sampai 15 tahun. Usia di bawah 6 tahun dianggap masih kanak-kanak sekali oleh teman-temannya, dan yang telah melewati di atas 15 tahun tidak dilarang untuk bermain. tetapi pada dasarnya mereka sendiri telah malu. Namun, tidak dapat disangkal kadang-kadang anak-anak yang telah lewat dari usia itu masih juga turut bermain.
Permainan ini baru dapat dilakukan sekurang-kurangnya empat orang pemain. Misalnya pemain hanya terdiri dari tiga orang, yaitu A , B, dan C. Si A bertindak sebagai penyembunyi dan B serta C sebagai pencari anak yang disembunyikan. Tentu saja kalau disembunyikan pada C dan yang ditanya pada siapa anak itu disembunyikan pada B tentu saja jawabnya pada C. Bila dalam melakukan permainan terdapat banyak peserta dan di samping itu terdapat variasi usia yang berbeda, dengan sendirinya akan dibagi menjadi dua kelompok. Mereka yang di bawah 10 tahun akan mengelompokkan sendiri, demikian pula yang telah 10 tahun akan membuat kelompok tersendiri pula. Harus diingat bahwa permainan ini bukan permainan yang dapat dipertandingkan antar kelompok. Jadi, masing-masing kelompok bermain sendiri.
Peralatan atau Perlengkapan Permainan
Seperti telah dijelaskan di atas, permainan lebih dititikberatkan pada unsur kegembiraan, sedangkan peralatan yang dipergunakan boleh dikatakan tidak ada. Satu-satunya yang diperlukan adalah yang disebut anak, baik berupa batu kecil maupun kayu, atau dapat juga semua benda untuk anak dengan syarat dapat digenggam di dalam tangan dengan tidak nampak. Anak (aneuk) atau apa yang disebut mie memegang peranan dalam permainan. Lapangan untuk bermain tidak diperlukan, mereka dapat bermain di mana saja, di bawah rumah, di bawah pohon kayu asal dapat menampung mereka yang turut bermain untuk membentuk sebuah lingkaran.
Jalannya Permainan
Setelah beberapa orang anak berkumpul pada suatu tempat dan mereka sepakat untuk melakukan permainan barulah permainan dapat dimulai. Seperti yang telah dijelaskan di atas bahwa permainan ini baru dapat dilakukan apabila pemain yang telah berkumpul lebih dari tiga orang atau dengan kata lain minimal ada empat orang. Misalkan pemain yang telah berkumpul lima orang, yaitu si A, B, C, D, dan E. Sebelum melakukan permainan mereka secara bersama-sama menetapkan benda yang akan dijadikan anak untuk disembunyikan. Hal ini perlu untuk menjaga jangan terjadi kekeliruan, misalnya ditukar oleh seorang teman atau ditambah dengan anak yang lain. Setelah mereka bersepakat menentukan benda yang dijadikan anak, batu dan identitas dari batu itu telah dikenal bersama oleh para pemain dan tidak mungkin lagi terjadi kekeliruan, barulah permainan dimulai.
Dalam melakukan permainan som-som aneuk ini, seorang di antara pemain bertindak sebagai penyembunyi dan yang lainnya sebagai orang/pemain yang mencari tempat persembunyian anak tersebut. Untuk memulai permainan dan untuk menentukan orang pertama menjadi penyembunyi dilakukan undian sesama mereka. Cara melakukan undian melalui sut. Misalkan yang keluar sebagai pemenang adalah si B, berarti dialah yang bertindak sebagai penyembunyi aneuk.
Setelah ada pemain yang bertindak sebagai penyembunyi, yaitu pemenang dari hasil undian seperti yang telah dijelaskan di atas, langkah kedua yang diambil adalah membentuk lingkaran untuk memulai 'permainan. Kalau tidak dalam bentuk lingkaran, para pemain dapat pula berbaris pada suatu garis. Kegunaan lingkaran atau garis ini untuk memudahkan penyembunyi menyembunyikan aneuk di antara sesama teman yang kalah dalam undian. Setelah si A, C, D, dan E membentuk lingkaran dengan menghadap keluar, selanjutnya mereka membungkuk dengan tangan-tangan mereka menelentang di atas tulang belakang (punggung). Demikian pula apabila si A, C, D, dan E tadi berbaris, mereka juga harus membungkuk dengan tangan menelentang di atas tulang belakang (punggung).
Langkah selanjutnya yang dilakukan sekarang, si B sebagai penyembunyi aneuk atau mie, mengambil aneuk/mie untuk disembunyikan di antara si A, C, D, atau E. Aneuk dipegang oleh si B, sedangkan si A, C, D, dan E membungkuk dengan tangan menelentang di atas tulang belakang untuk memudahkan menyembunyikan aneuk oleh B. Kemudian B dengan menyanyikan jel-jel sambil berputar di luar lingkaran atau sambil berjalan di depan barisan dengan batu di tangan dan meletakkan tangannya yang berisi batu satu per satu di atas tangan A, C, D, dan E. Untuk menetapkan pada siapa batu tersebut disimpan di antara A, C, D, atau E bergantung pada B. Selanjutnya yang harus mencari tempat aneuk tersebut disembunyikan adalah pemain yang kejatuhan tangan B, setelah jel-jel berakhir diucapkan. Setelah B menanyakan misalnya pada A, di mana aneuk disembunyikan tentu saja A harus menerka pada siapa aneuk itu berada di antara C, D, dan E. Misalkan aneuk berada di tangan C, lalu A menyebut pada D atau E, dengan demikian B masih memimpin permainan kembali. Perlu diingat setelah jel-jel berakhir diucapkan oleh B, kemudian A, C, D, dan E berdiri tegak dengan tangan digenggam, kecuali A karena ia pemain yang harus mencari aneuk. Bila A berhasil 62 menebak tempat atau pemain yang menggenggam aneuk dengan benar, maka yang memimpin permainan selanjutnya adalah A karena ia telah berhasil sedangkan B sekarang menjadi orang/pemain yang harus masuk ke dalam barisan atau lingkaran.
Jel-jel yang diucapkan oleh penyembunyi, kadang-kadang diikuti diikuti oleh seluruh pemain yang berbunyi: "Crok-crok encing, ku peucrok ku peu ranteng, jinoe ku som mie saboh, ka beudoh bak soo meun". Sambil mengucapkan jel-jel ini si penyembunyi aneuk dengan aneuk di dalam tangan terus memegang tangan pemain lainnya yang terlentang di atas tulang belakang satu per satu. Apabila aneuk atau mie telah diletakkan pada salah seorang, tangannya harus terus menggenggam agar aneuk tersebut tidak jatuh dan tidak pula diketahui oleh teman di sampingnya. Orang yang harus mencari aneuk adalah orang yang kena pegang tangannya pada saat ucapan "bak soo meuh" berakhir. Demikianlah permainan ini dilakukan secara terus menerus, bila yang menerka menang, dia yang kemudian menjadi penyembunyi dan jika kalah permainan masih tetap dipimpin oleh penyembunyi terdahulu.
Sumber: https://gpswisataindonesia.info/2018/02/meu-som-som-aneuk-nad/
Naskah Nusantara • Sunda Kuno Kidung Lakbok Kisah Kerajaan Banjarpatroman, Ramalan Abadi, dan Kelahiran Wayang Kila Kidung Lakbok adalah sebuah karya sastra lama berbentuk prosa naratif atau puisi naratif dalam bahasa Sunda yang menceritakan tentang sejarah dan legenda Kerajaan Banjarpatroman. Kerajaan tersebut dipercaya pernah berdiri di wilayah yang kini dikenal sebagai Kecamatan Lakbok, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat. Naskah ini sempat nyaris hilang, kemudian ditulis ulang dan dilestarikan kembali pada tahun 2013 melalui publikasi daring. 📜 Sejarah dan asal-usul Menurut naskah Kidung Lakbok, Kerajaan Banjarpatroman mengalami masa kejayaan sebelum akhirnya runtuh akibat perang saudara atau perebutan kekuasaan. Peristiwa tersebut dianggap sebagai dosa besar yang menimbulkan kutukan. Akibat perbuatan tersebut, turunlah azab berupa bencana alam besar, seperti gempa bumi, letusan gunung berapi, dan banjir bandang. Kerajaan yang dahsyat itu akhirnya tenggelam dan berubah menja...
📜 KIDUNG LAKBOK & WAYANG KILA Kidung Lakbok Kidung Lakbok adalah sebuah karya sastra lama berbentuk prosa naratif atau puisi naratif dalam bahasa Sunda yang menceritakan tentang sejarah dan legenda Kerajaan Banjarpatroman. Kerajaan tersebut dipercaya pernah berdiri di wilayah yang kini dikenal sebagai Kecamatan Lakbok, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat. Naskah ini sempat nyaris hilang, kemudian ditulis ulang dan dilestarikan kembali pada tahun 2013 melalui publikasi daring. Sejarah dan Asal-Usul Menurut naskah Kidung Lakbok, Kerajaan Banjarpatroman mengalami masa kejayaan sebelum akhirnya runtuh akibat perang saudara atau perebutan kekuasaan. Peristiwa tersebut dianggap sebagai dosa besar yang menimbulkan kutukan. Akibat perbuatan tersebut, turunlah azab berupa bencana alam besar, seperti gempa bumi, letusan gunung berapi, dan banjir bandang. Kerajaan yang dahsyat itu akhirnya tenggelam dan berubah menjadi rawa-rawa luas yang dikenal sebagai Rawa Lakbok hingga saat ini. Rama...
Rasa Sayange: Filsafat Kebersamaan dalam Senandung Anak-Anak Maluku Bagaimana mungkin sebuah lagu yang kerap dinyanyikan anak-anak sambil bertepuk tangan dan bersantai di pekarangan rumah bisa mengandung cetak biru lengkap tentang etika lingkungan dan tata krama bermasyarakat? Rasa Sayange , warisan lisan dari Kepulauan Maluku (Sumber 1, Sumber 2, Sumber 3), ternyata bukan sekadar lagu permainan tradisional dengan melodi ceria yang mudah dihafal. Di balik bait-baitnya yang singkat, tersimpan sistem pengetahuan tentang hubungan manusia dengan sesama dan alam—sebuah bukti bahwa pendidikan karakter di Nusantara tidak selalu memerlukan kelas formal, melainkan bisa tumbuh dari ruang-ruang bersantai yang penuh keakraban. Warisan Lisan dan Ritual Penyambutan Di Maluku, Rasa Sayange bukan lagu asing yang hanya muncul dalam buku teks pelajaran seni budaya. Lagu ini telah diwariskan secara turun-temurun dalam kehidupan masyarakat, menjadi bagian tak terpisahkan dari ritus sosial seha...
Langkah Awal Hubungi Costumer Service Melalui WhatsApp Di Nomor📲(0813•3056•2323) Atau (0821•1212•730). Siapkan Ktp, Jelaskan Alasan Pembatalan Pinjaman Lalu Ikuti Instruksi Yg Diberikan Oleh Costumer Service Untuk Proses Pembatalan Pinjaman.
Pamali: Ketika Larangan Tak Tertulis Mengatur Kehidupan Mengapa sebagian masyarakat Indonesia yang telah mengenyam pendidikan modern dan hidup di tengah kemajuan teknologi masih enggan memotong kuku di malam hari, bersiul saat senja tiba, atau menanam pohon kelapa di depan rumah? Fenomena ini bukan sekadar sisa primitivisme yang tertinggal, melainkan manifestasi dari pamali —sistem norma yang secara mengejutkan masih eksis sebagai pengatur sosial yang efektif. Pada titik tertentu, pamali menghadirkan paradoks budaya yang menarik: ia adalah "hukum" tanpa tulisan, "polisi" tanpa seragam, namun memiliki kekuatan mengikat yang seringkali lebih efektif dari peraturan tertulis. Kearifan Ekologis dalam Selubung Larangan Di tataran praktis, pamali seringkali berfungsi sebagai mekanisme pelestarian alam yang diselimuti narasi mistis. Masyarakat Sunda, misalnya, mengenal berbagai bentuk pamali yang sejatinya merupakan bentuk adaptasi terhadap lingkungan dan ekosiste...