tahun baru
369 entri ditemukan

Entri per provinsi
Entri per provinsi

Entri Terkait

Gambar Entri
Brongkos Tahu & Telur
Makanan Minuman Makanan Minuman
Daerah Istimewa Yogyakarta

Bahan-bahan   2 kotak tahu (belah 4 dpt 8) 5 butir telur (rebus) 5 lembar daun jeruk 3 lembar daun salam 1 batang serai (geprek) 1 ruas lengkuas (geprek) 2 sdm kecap manis (sesuai selera) 500 ml santan kekentalan sedang 8 buah cabe rawit merah utuh Secukupnya garam, royco & gula merah Bumbu Halus : 12 buah cabe merah keriting 6 buah bawang merah 3 buah bawang putih 4 buah kemiri...

avatar
Aze
Gambar Entri
Sayur Bayam Labu
Makanan Minuman Makanan Minuman
Daerah Istimewa Yogyakarta

Bahan-bahan 4 porsi 1 ikat  bayam 2  labu mini 3  daun salam 2  bawang merah 2  bawang putih 1 sendok teh  garam 500 ml  air Langkah   Rebus air, bila sudah mendidih masukan labu Bila rebusan labu sudah mendidih, masukan daun salam, bawang merah dan bawang putih, Tunggu sampai matang, baru masukan bayam dan garam secukupnya, diamkan s...

avatar
Admin Budaya
Gambar Entri
Kiai Kanjeng
Musik dan Lagu Musik dan Lagu
Daerah Istimewa Yogyakarta

G amelan Kiai Kanjeng bukan nama grup musik, melainkan nama sebuah konsep nada pada alat musik “tradisional” gamelan yang diciptakan oleh Novi Budianto. Kalau dalam khasanah musik Jawa terutama pada gamelan lazimnya sistem tangga nada yang dipakai adalah laras pentatonis yang terbagi ke dalam dua jenis nada yakni pelog dan slendro, maka gamelan yang digubah oleh Novi ini tidak berada pada jalur salah satunya, alias bukan pelog bukan slendro. Disebut demikian karena memang bila ditilik dari konsep tangga nadanya, ia berbeda dengan gamelan-gamelan pentatonis baik yang pelog maupun slendro. Meskipun bila ditinjau dari segi bahan dan bentuknya gamelan KiaiKanjeng tetaplah sama dengan gamelan Jawa pada umumnya. Dan perbedaan nada tersebut terletak pada jumlah bilahannya serta kenyataan bahwa gamelan KiaiKanjeng juga merambah ke wilayah diatonis, meski tidak sepenuhnya. Tepatnya: sel-la-si-do-re-mi-fa-sol, dengan nada dasar G=do atau E Minor. K onsep n...

avatar
Deni Andrian
Gambar Entri
Dhayoh dhayohan
Permainan Tradisional Permainan Tradisional
Daerah Istimewa Yogyakarta

Suatu jenis permainan anak-anak dengan melakukan suatu kegiatan yang menyerupai cara orang bertamu ataupun menerima tamu. Biasanya permainan ini dilakukan oleh anak-anak perempuan yang berusia kurang dari 10 tahun. Tahap pertama adalah menentukan peraturan permaian, yang dibuat dan disetujui oleh para pemain. Bila pemain hanya seorang diri, maka peraturan ditentukannya sendiri, yaitu menyangkut tentang peran, tema, dan tempat bermain. Setelah itu anak-anak mulai membangun rumah-rumahan dengan mengerudungkan kain diantara dua kursi sebagai rumahnya, atau apa saja yang mereka imajinasikan sebagai rumah tangga dan segala isinya. Setelah itu mereka mulai berdandan menurut peran masing-masing, misalnya peran ibu mengenakan kebaya, membawa tas dan payung, serta mengenakan sepatu dengan tumit tinggi. Dalam melakukan permaian ini tentu saja menggunkan bahasa karma ingil ( bahasa karma halus ). Pmbicaraan merekapun dapat berkisar menjenguk bayi yang baru lahir, menjenguk orang tua, d...

avatar
Abdulcahyo
Gambar Entri
Kisah gua Kiskendo
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
Daerah Istimewa Yogyakarta

"Konon menurut cerita yang tersebar di masyarakat, dahulu dari Kahyangan mengadakan sebuah sayembara. Barang siapa yang bisa membunuh Mahesasura, akan mendapatkan imbalan, yaitu kalau seorang perempuan akan dijadikan saudara kembar dewi torokasih, dan jika laki-laki akan dijadikan suaminya," papar Suisno.Dari cerita yang beredar di masyarakat majulah Subali dan Sugriwo dalam sayembara tersebut. Keduanya adalah sosok manusia Kera. Suisno memaparkan ceritanya sore itu, yang masuk terlebih dahulu ke dalam kerajaan Kiskendo ialah Subali, yang kemudian meninggalkan pesan kepada Sugriwo."Saat itu mitos yang beredar ialah Subali meninggalkan pesan kepada Sugriwo yang berada di luar Kiskendo. Jika ada aliran air dan bercampur darah berwarna putih berati Subali yang mati, namun kalau yang keluar air bercampur darah merah berati Mahesasura yang telah mati," cerita Suisno.Ia melanjutkan, yang dilihat Sugriwo saat itu ialah darah bercampur air yang berwarna putih dan merah. "Anggapan Sugriw...

avatar
Roro
Gambar Entri
Tari Beksan Lawung Ageng Yogyakarta
Tarian Tarian
Daerah Istimewa Yogyakarta

Tari Beksan Lawung Ageng Tarian adat Yogyakarta ini juga sering disebut dengan tari beksan lawung yang menjadi tari tradisional Keraton Yogyakarta. Tarian ini biasanya akan ditampilkan oleh 16 orang penari yang semuanya pria terdiri dari 4 orang jajar, 2 orang botoh, 4 orang pengampil, 4 orang lurah dan juga 2 orang salaotho. Dari catatan sejarah, salah satu dari tarian beksan ini diciptakan Sri Sultan Hamengku Buwono I atau Pangeran Mangkubumi antara tahun 1755 hingga 1792. Beksan terinspirasi dari kondisi kegiatan para prajurit sebagai abdi dalem raja yang secara rutin melakukan latihan watangan. Latihan watangan adalah latihan ketangkasan dalam berkuda dengan membawa sebuah lawing atau watang yakni tongkat panjang berukuran sekitar 3 meter yang bagian ujungnya tumpul dan saling menyodok untuk menjatuhkan lawan. Tarian Yogyakarta ini menjadi bentuk usaha Sang Sultan untuk mengalihkan perhatian para penjajah Belanda pada kegiatan prajurit di Keraton Yogyakarta sebab...

avatar
Roro
Gambar Entri
wayang beber remeng mangunjoyo
Seni Pertunjukan Seni Pertunjukan
Daerah Istimewa Yogyakarta

Pada umumnya, pertunjukan wayang menggunakan boneka sebagai wujud dari tokoh. Boneka-boneka dalam wayang bisa berbentuk dua dimensi seperti wayang kulit purwa, atau wayang berbentuk tiga dimensi seperti wayang klithik. Salah satu bentuk wayang yang tidak berwujud boneka adalah wayang beber. Wayang beber mewujudkan tokoh-tokohnya dengan cara digambar pada selembar kertas. Bentuknya dua dimensi. Lembaran kertas tersebut melukiskan peristiwa yang terjadi dalam lakon yang dimainkan. Pada awal kemunculannya, wayang beber merupakan pertunjukan yang bersifat ritual. Sebagaimana pertunjukan ritual, wayang beber digelar dalam konteks upacara tertentu di mana pertunjukan menjadi media yang menautkan antara yang profane dan yang transendental. Dunia profan berhubungan dengan fungsi-fungsi sosial dan hiburan bagi masyarakat. Dunia transendental berhubungan dengan hal-hal spiritual yang mengubungkan dunia mikrokosmos dan makrokosmos. Di mana manusia berada dalam sistem yang dipengaruhi oleh...

avatar
Sri sumarni
Gambar Entri
Wayang Wong Gaya Yogyakarta
Seni Pertunjukan Seni Pertunjukan
Daerah Istimewa Yogyakarta

Wayang wong gaya Yogyakarata disebut dengan wayang mataraman, karena historis terciptanya wayang wong ini berada pada masa peralihan dari kerajaan Mataram sebelum pecah menjadi dua. Menurut perjanjian Giyanti 1755, di mana kesepakatan dicapai antara Pangeran Mangkubumi dengan Sinuwuh Paku Buwono III saat itu. Pangeran Mangkubumi dipersilakan melanjutkan tradisi budaya Mataram, maka kesenian yang berada di Keraton Kasultanan menggunakan istilah Mataraman. Wayang wong sendiri secara bertahap mengalami perkembangan luar biasa. Pada masa Sultan Hamengku Buwono I, lakon Gondowerdaya sangat populer dikenal masyarakat. Bentuk penyajian dan kostum serta properti yang digunakan masih sangat sederhana, yakni dengan iket tepen, sinjang, selana panji, dan sonder gendhalagiri. Di samping itu, Sultan selalu menyebut seni pertunjukan sebagai focus utama dalam memperbesar kewibawaan Keraton dan pemerintahannya melalui pergelaran wayang wong. Pada kenyataannya menunjukkan bahwa status seni p...

avatar
Sri sumarni
Gambar Entri
Wayang Kancil Yogyakarta
Seni Pertunjukan Seni Pertunjukan
Daerah Istimewa Yogyakarta

Wayang Kancil diciptakan oleh Sunan Giri, kira-kira akhir abad 15, sebagai media penyebaran agama Islam di Jawa. Akan tetapi, wayang Kancil tidak berkembang pesat sebagaimana wayang kulit Purwa. Wayang kancil dipopulerkan kembali oleh seorang Tionghoa yang bernama Bo Liem pada 1925. Wayang kancil yang dibuat dari kulit kerbau tersebut ditatah oleh Lie Too Hien. Sejalan dengan waktu, wayang kancil disempurnakan kembali oleh Raden Mas Sayid pada 1943. Wayang Kancil pada waktu itu dipentaskan dengan memakai kelir (layar yang berupa kain putih untuk menangkap bayangan pada wayang kulit) sebagaimana wayang kulit purwa. Pasang surut keberadaan wayang kancil terjadi bersama dengan perkembangan kebudayaan yang ada pada masyarakatnya. Pada tahun 1980, akhirnya wayang kancil di Yogyakarta menjadi populer kembali berkat seorang dalang dan ahli tatah sungging yang bernama Ki Ledjar Subroto. Penciptaan pengembangan wayang kancil tahun 1980 ini, didasarkan atas keprihatinan Ki Ledjar Subroto...

avatar
Sri sumarni