Wayang Kancil diciptakan oleh Sunan Giri, kira-kira akhir abad 15, sebagai media penyebaran agama Islam di Jawa. Akan tetapi, wayang Kancil tidak berkembang pesat sebagaimana wayang kulit Purwa. Wayang kancil dipopulerkan kembali oleh seorang Tionghoa yang bernama Bo Liem pada 1925. Wayang kancil yang dibuat dari kulit kerbau tersebut ditatah oleh Lie Too Hien. Sejalan dengan waktu, wayang kancil disempurnakan kembali oleh Raden Mas Sayid pada 1943. Wayang Kancil pada waktu itu dipentaskan dengan memakai kelir (layar yang berupa kain putih untuk menangkap bayangan pada wayang kulit) sebagaimana wayang kulit purwa.
Pasang surut keberadaan wayang kancil terjadi bersama dengan perkembangan kebudayaan yang ada pada masyarakatnya. Pada tahun 1980, akhirnya wayang kancil di Yogyakarta menjadi populer kembali berkat seorang dalang dan ahli tatah sungging yang bernama Ki Ledjar Subroto. Penciptaan pengembangan wayang kancil tahun 1980 ini, didasarkan atas keprihatinan Ki Ledjar Subroto pada minat anak-anak akan seni pewayangan yang kian hari kian memudar. Sebenarnya gejala anak-anak meninggalkan seni tradisional wayang sudah terjadi pada 1970. Wayang kancil menjadi jawaban yang tepat untuk menjembatani anak-anak untuk kembali menggemari wayang.
Wayang kancil adalah pertunjukan yang dipandang sesuai dipentaskan untuk anak-anak, dan dapat dijadikan media mengenalkan wayang kepada anak-anak. Selain itu, Wayang kancil juga dapat dimanfaatkan sebagai media pendidikan budi pekerti dan menanamkan kesadaran anak-anak pada lingkungan. Di mana pada akhirnya Wayang kancil tidak semata-mata sebagai pertunjukan hiburan untuk anakanak, tetapi memiliki nilai edukatif yang lebih luas.
Serat Kancil yang dijadikan sumber lakon wayang kancil, yang dikembangkan Ki Ledjar Subroto ditafsirkan kembali sesuai kebutuhan zaman. Sosok Kancil ditafsir kembali secara lebih luas sehingga Kancil menjadi sosok yang dapat dijadikan panutan oleh anak-anak. Dalam cerita “Kancil”, digambarkan bahwa Kancil adalah binatang yang cerdik; akan tetapi, kecerdikan Kancil untuk membebaskan diri dari ancaman binatang lain, lebih identik dengan menipu atau memperdaya.
Dalam cerita Kancil mencuri timun, Ki Ledjar Subroto mencoba untuk memberikan tafsir bahwa Kancil bukan tokoh yang yang mencuri dan menipu. Kancilmencuri karena hutan dirusak manusia, sehingga Kancil terpaksa mencuri timun untuk bertahan hidup. Tafsir ini menunjukkan bahwa tokoh Kancil bukan tokoh yang memiliki karakter buruk. Tafsir ini juga memberikan edukasi tentang kerusakan lingkungan. Kancil mencuri karena ulah manusia yang merusak hutan. Selain itu, pada cerita dijelaskan juga sikap para warga yang melarang membunuh Kancil. Warga memilih melakukan diskusi untuk menyelesaikan masalah. Putusan warga juga menunjukkan bahwa dalam menyelesaikan masalah lebih mengedepankan pikiran dengan cara diskusi. Tafsir Ki Ledjar Subroto terhadap kisah Kancil mencuri timun ini memberikan perspektif yang menonjolkan nilai-nilai kebaikan yang bersifat edukatif.
Pesan moral yang ada pada wayang Kancil dapat menjadi sarana dalam menanamkan budi pekerti, yang digabungkan dengan pendidikan tentang lingkungan hidup untuk anak-anak sejak dini. Selain itu, wayang Kancil juga memiliki unsur hiburan bagi para penontonnya, terutama anak-anak. Cerita wayang Kancil yang ‘segar’ dengan bahasan binatang, membuat anak-anak tertarik tanpa kantuk untuk belajar dan menikmati pertunjukan wayang. Wayang kancil juga berguna untuk mendorong regenerasi wayang di Yogyakarta, karena wayang kancil membuka peluang bagi anakanak untuk menjadi dalang cilik/kecil.
Sumber : Buku Pentapan WBTB 2018
Pengenalan Bekam, yang dalam bahasa Arab dikenal sebagai hijamah, adalah terapi tradisional yang sudah dikenal sejak ribuan tahun lalu. Terapi ini dilakukan dengan cara mengeluarkan darah kotor dari dalam tubuh melalui pemvakuman kulit. Di Bali, bekam menjadi salah satu metode pengobatan alternatif yang populer, dengan berbagai manfaat kesehatan yang dipercaya oleh masyarakat setempat. Terapi ini bukan hanya dianggap sebagai metode penyembuhan, tetapi juga memiliki nilai budaya yang dalam. Sejarah Sejarah bekam dapat ditelusuri hingga ke zaman Mesir Kuno, namun penggunaannya telah menyebar ke berbagai belahan dunia, termasuk Asia Tenggara. Di Indonesia, termasuk Bali, bekam telah menjadi bagian dari praktik pengobatan tradisional yang diwariskan dari generasi ke generasi. Dalam konteks masyarakat Bali, bekam sering kali dipadukan dengan spiritualitas dan ritual adat, menjadikannya lebih dari sekadar terapi fisik. Beberapa sumber menyebutkan bahwa terapi bekam telah digunakan di Bali s...
Pengenalan Bekam, yang dalam bahasa Arab dikenal sebagai hijamah, adalah terapi tradisional yang sudah dikenal sejak ribuan tahun lalu. Terapi ini dilakukan dengan cara mengeluarkan darah kotor dari dalam tubuh melalui pemvakuman kulit. Di Bali, bekam menjadi salah satu metode pengobatan alternatif yang populer, dengan berbagai manfaat kesehatan yang dipercaya oleh masyarakat setempat. Terapi ini bukan hanya dianggap sebagai metode penyembuhan, tetapi juga memiliki nilai budaya yang dalam. Sejarah Sejarah bekam dapat ditelusuri hingga ke zaman Mesir Kuno, namun penggunaannya telah menyebar ke berbagai belahan dunia, termasuk Asia Tenggara. Di Indonesia, termasuk Bali, bekam telah menjadi bagian dari praktik pengobatan tradisional yang diwariskan dari generasi ke generasi. Dalam konteks masyarakat Bali, bekam sering kali dipadukan dengan spiritualitas dan ritual adat, menjadikannya lebih dari sekadar terapi fisik. Beberapa sumber menyebutkan bahwa terapi bekam telah digunakan di Bali s...
NEGERI ANTARA: JEJAK PUTRO ALOH dan MANUSIA HARIMAU Karya: Mahlil Azmi Di pagi yang cerah, saat embun masih menempel di daun-daun dan suara burung hutan bersahut-sahutan, aku bersama seorang teman bernama Jupri memulai perjalanan menuju Gunung Alue Laseh, tujuan kami sederhana menangkap si kicau, burung cempala yang terkenal lincah dan bernilai mahal di kampung kami. Bekal kami pun tak seberapa: nasi, sedikit ikan asin, dan air secukupnya. Namun jarak yang jauh dan medan yang berat tak membuat semangat kami luntur. “Lil, kalau dapat cempala besar, kau traktir kopi ya,” kata Jupri sambil tertawa, memikul tasnya yang tampak lebih besar dari isinya. “Kau tenang saja, asal jangan kau makan burungnya duluan,” balasku. Kami tertawa, tawa ringan khas dua pemuda kampung yang belum tahu apa yang menanti di depan. Gunung kami memang bukan gunung biasa. Ia bagian dari hutan pegunungan Leuser di barat selatan Aceh. Di sana hidup binatang buas, termasuk sang raja hutan—harimau. Tapi ba...
Genggong merupakan alat musik tradisional khas Bali yang termasuk dalam jenis alat musik tiup. Alat musik ini terbuat dari bahan dasar bambu atau pelepah aren dan dimainkan dengan cara ditempelkan ke mulut, lalu dipetik menggunakan tali yang terpasang pada bagian ujungnya. Suara yang dihasilkan oleh genggong berasal dari getaran lidah bambu yang dipengaruhi oleh rongga mulut pemain sebagai resonator. Oleh karena itu, teknik memainkan genggong membutuhkan keterampilan khusus dalam mengatur pernapasan dan posisi mulut. Dalam kebudayaan Bali, genggong sering digunakan dalam pertunjukan seni tradisional maupun sebagai hiburan rakyat. Selain memiliki nilai estetika, alat musik ini juga mencerminkan kearifan lokal dan kreativitas masyarakat Bali dalam memanfaatkan bahan alam sekitar.
1. Rendang (Minangkabau) Rendang adalah hidangan daging (umumnya sapi) yang dimasak perlahan dalam santan dan bumbu rempah-rempah yang kaya selama berjam-jam (4–8 jam). Proses memasak yang sangat lama ini membuat santan mengering dan bumbu terserap sempurna ke dalam daging. Hasilnya adalah daging yang sangat empuk, padat, dan dilapisi bumbu hitam kecokelatan yang berminyak. Cita rasanya sangat kompleks: gurih, pedas, dan beraroma kuat. Rendang kering memiliki daya simpan yang panjang. Rendang adalah salah satu hidangan khas Indonesia yang paling terkenal dan diakui dunia. Berasal dari Minangkabau, Sumatera Barat, masakan ini memiliki nilai budaya yang tinggi dan proses memasak yang unik. 1. Asal dan Filosofi Asal: Rendang berasal dari tradisi memasak suku Minangkabau. Secara historis, masakan ini berfungsi sebagai bekal perjalanan jauh karena kemampuannya yang tahan lama berkat proses memasak yang menghilangkan air. Filosofi: Proses memasak rendang yang memakan waktu lama mela...