budaya
679 entri ditemukan

Entri per provinsi
Entri per provinsi

Entri Terkait

Gambar Entri
Sejarah Desa Tugu, Indramayu
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
Jawa Barat

Satu legenda yang umum diketahui masyarakat Tugu adalah tokoh tunggal Nyi Lapda Kriya. Konon pusaka beliau adalah selendang, yang apabila dikibaskan maka muncullah nyala api. Berangkat dari versi itu, baik adanya kita urai kembali sejarah Tugu. Konon, Tersebutlah tiga pendekar, Ki Maya, Ki Nampa Subaya, dan Nai Lapda Kriya. Tiga pendekar seperguruan ini, setelah dirasa cukup memiliki ilmu. Merekapun ingin mengamalkan ilmunya di timur Kali Cimanuk, yang disebut juga Alas Kedung Penjalin. Ki Maya dan Ki Nampa Subaya dikarenakan seorang laki-laki maka dibekalilah perkakas seperti golok, pedang, wadung. dan lainnya. Nai Lapda Kriya ditugaskan hanya membantunya. Nantinya digunakan sebagai alat membabad alas. Lantas mereka bertiga pamit undur diri kepada sang guru. Setelah beberapa hari babad alas, satu persatu pohon pun bertumbangan, dan menjadi kering. Nai Lapda Kriya pun tak mau hanya berdiam diri. Pikirnya, kenapa daun yang kering ini tidak dibakar saja, supaya lebih cepet dan meringa...

avatar
Deni Andrian
Gambar Entri
Sejarah Desa Sumuradem, Sukra, Indramayu
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
Jawa Barat

Pada zaman dahulu, saat cerita Legenda Asal Mula Desa Sumuradem berlangsung, daerah sumuradem dan sekitarnya merupakan daerah yang belum terjamah oleh kecanggihan teknologi. Contoh konkret, sumur merupakan satu-satunya alat yang digunakan sebagai penanganan sir bersih. Tidak ada listrik, pam, dan sejenis alat yang digunakan untuk menghasilkan air bersih. Saat ini berbagai peralatan teknologi super canggih yang biasanya hanya ditemukan di daerah perkotaan, sudah mulai menyentuh salah satu daerah terpencil kabupaten indramayu ini, sebagai alat penunjang kehidupan. Jika pada zaman dahulu, penduduk indramayu termasuk desa sumuradem merupakan penduduk yang memiliki kestabilan ekonomi merata. Tidak ada penduduk sangat kaya atau sangat miskin, semuanya penduduk berpenghasilan hampir sama. Namun, pada saat ini, keadaan tersebut berbalik arah. Sebagian besar penduduk indramayu termasuk desa sumuradem adalah seorang petani dan nelayan, baik sebagai pemilik maupun pekerja (buruh). Petani yang...

avatar
Deni Andrian
Gambar Entri
Tradisi Munjungan
Ritual Ritual
Jawa Barat

Dari tinjauan kebahasaan, istilah munjung atau ngunjung memiliki arti mengunjungi, menghadiri atau dalam bahasa agama berziarah. Munjung secara bahasa berarti juga memuja atau melakukan persembahan. Istilah lain yang juga merupakan perkembangan makna dan memiliki arti sama adalah sedekah makam. Namun, bagi masyarakat Leuwimunding, Majalengka, istilah yang telah lazim penyelenggaraan ritual ini disebut munjung. Ritual munjung secara teknis dilakukan dengan melakukan ziarah ke makam para leluhur. Karena kondisi geografis pemakaman di desa ini memiliki lima area pemakaman, penyelenggaraan munjung dipusatkan di lima tempat tersebut. Istilah pemakaman di desa ini banyak juga yang menyebut maqbaroh, sebuah istilah serapan dari bahasa Arab yang memiliki arti sama dengan tempat kubur atau pemakaman. Kelima tempat itu adalah kompleks pemakaman Jagakerti, Cibatur, Caruy, Karamat, dan Pengkeur Masjid (di sebelah belakang masjid).   Semua tempat yang men...

avatar
Arum Tunjung
Gambar Entri
Budaya jaringan
Ritual Ritual
Jawa Barat

Indramayu memang memiliki tradisi yang unik, terutama di daerah Pamanukan, Lebak, dan Parean Bulak, sangat akrab dengan tradisi mencari jodoh. Tradisi mencari jodoh ini biasa disebut Jaringan. Biasanya di daerah ini terdapat pasar jodohnya. Pasar jodoh ini selalu ramai oleh muda-mudi, hingga janda dan duda pun ikut berkumpul mencari jodoh. Jika merasa ada kecocokan, mereka akan mulai pacaran dan kemudian berlanjut pada proses lamaran untuk menikah. Uniknya lagi di prosesi Jaringan ini, pihak lelaki menggunakan sarung untuk menggaet wanita yang diinginkannya. Siapapun boleh ikut dalam prosesi Jaringan ini, siapa tahu bisa bertemu jodoh disana. Sebab, biasanya banyak pasangan mendapat jodoh dalam tradisi Jaringan ini. Jika berminat, Jaringan ini diadakan pada malam bulan purnama. Pasalnya bagi warga, jika melaut pada malam purnama biasanya ikan sulit didapatkan, sehingga tidak ada yang melaut, dan itu waktu yang dimanfaatkan oleh masyarakat untuk berkumpul di pasar jodoh. Sum...

avatar
Jiyadfauzan
Gambar Entri
Lepet Kuningan - Makanan Khas Tanah Sunda
Makanan Minuman Makanan Minuman
Jawa Barat

Lepet adalah sejenis makanan khas Jawa Barat. Lepet ini sendiri berasal dari Kabupaten Kuningan dan Kabupaten Sumedang. Lepet terbuat dari beras ketan yang ditambahkan kacang tanah sebagai isian, biasanya dibungkus dengan daun janur. Selain menggunakan kacang, isian lepet juga dapat divariasi dengan mengganti kacang tanah menjadi jagung atau jenis kacang-kacangan yang lain. Lepet masih dapat kita jumpai di seluruh daerah Jawa Barat, walaupun umumnya banyak dijual di daerah Kuningan dan Sumedang. Konon, orang Sumedang biasa memakan lepet ini dengan didampingi dengan tahu Sumedang yang juga makanan khas dari daerah tersebut.   Berikut merupakan resep lepet yang dapat dijumpai di tanah Sunda. Bahan: Beras ketan putih 1/2 kg Parutan kelapa 1/2 butir Kacang tanah atau kacang tolo (optional) 1 sendok teh garam Daun janur Tali pengikat (bambu tali / rafia)   Cara Membuat: Beras ketan dicuci bersih dan dan rendam...

avatar
OSKM18_16018060_Jessica Belicia Cahyono
Gambar Entri
Budaya Jaringan
Ritual Ritual
Jawa Barat

Indramayu memang memiliki tradisi yang unik, terutama di daerah Pamanukan, Lebak, dan Parean Bulak, sangat akrab dengan tradisi mencari jodoh. Tradisi mencari jodoh ini biasa disebut Jaringan. Biasanya di daerah ini terdapat pasar jodohnya. Pasar jodoh ini selalu ramai oleh muda-mudi, hingga janda dan duda pun ikut berkumpul mencari jodoh. Jika merasa ada kecocokan, mereka akan mulai pacaran dan kemudian berlanjut pada proses lamaran untuk menikah. Uniknya lagi di prosesi Jaringan ini, pihak lelaki menggunakan sarung untuk menggaet wanita yang diinginkannya. Siapapun boleh ikut dalam prosesi Jaringan ini, siapa tahu bisa bertemu jodoh disana. Sebab, biasanya banyak pasangan mendapat jodoh dalam tradisi Jaringan ini. Jika berminat, Jaringan ini diadakan pada malam bulan purnama. Pasalnya bagi warga, jika melaut pada malam purnama biasanya ikan sulit didapatkan, sehingga tidak ada yang melaut, dan itu waktu yang dimanfaatkan oleh masyarakat untuk berkumpul di pasar jodoh. Sum...

avatar
Oskm18_16718431_jiyad
Gambar Entri
Situs Budaya Dayeuhluhur Sumedang
Naskah Kuno dan Prasasti Naskah Kuno dan Prasasti
Jawa Barat

Situs Dayeuhluhur berada di Kabupaten Sumedang berupa Makam Raja dan Bangsawan Kerajaan Sumedang Larang. Disini terdapat makam raja terakhir Kerajaan Sumedang Larang, yaitu Prabu Geusan Ulun putra dari Pangeran Santri. Prabu Geusan Ulun juga mendapat gelar jabatan 'Nalendra' dari Kerajaan Padjajaran atau bisa dibilang sebagai penerus sah dari Kerajaan Padjajaran. Selain makam Prabu Geusa Ulun, disini juga terdapat napak tilas dari "Kandaga Lente" atau dalam Bahasa Indonesia bisa disebut Patih Kerajaan Sumedang Larang sendiri, yaitu Eyang Jaya Perkasa (Mama Jaya Perkosa). Napak tilasnya berupa sebuah batu di puncak bukit. Eyang Jaya Perkasa menjabat sebagai patih pada masa Prabu Geusan Ulun dan kemudian mengundurkan diri setelah perang dengan Kerajaan Cirebon. Konon katanya, Mbah Jaya Perkasa wafat tanpa meninggalkan jasad, dalam ajaran Hindu disebut "Moksa", dalam Bahasa Sunda " Ngahyang". Dan ada beberapa larangan ketika hendak mengunjungi napak tilasnya, salah satunya yaitu ti...

avatar
Oskm18_16718422_lathif
Gambar Entri
Goa Langkop
Naskah Kuno dan Prasasti Naskah Kuno dan Prasasti
Jawa Barat

Goa langkop terletak di Kampung Tapos, Desa Sukaharja, Kecamatan Cijeruk, Kabupaten Bogor.  Situs Goa Langkop merupakan temuan Arkeologi yang sudah tercatat pada Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala Serang ,sehinga situs ini telah dilindungi, dipelihara dan dibina menurut ketentuan Undang-Undang No 5 tahun 1993 dan telah masuk dalam daftar Inventaris dari Berbagai Benda Cagar Budaya yang di lindungi. Keberadaan Situs secara Keseluruhan terdiri dari : 1.    Batuan Menhir. 2.    Batuan Berudak masing-masing mempunyai Teras. 3.    Goa yang berdinding Batu sebanyak 2 Buah. 4.    Batu kubur / Batu Alta. Menhir sebagai pelambang batu tegak, mempunyai fungsi sebagai tempat Upacara Pemujaan, maka dengan demikian adanya bukti bahwa Goa Langkop adalah sebuah warisan dari kondisi lama yang hidup pada masa Kebudayaan prasejarah, jika mungkin dapat dikatakan sejaman dengan masa Megalitik mu...

avatar
OSKM18_16618345_Virel Fauzan Mufarrizal Novian
Gambar Entri
Hompilah
Permainan Tradisional Permainan Tradisional
Jawa Barat

Hompilah (atau lebih dikenal dengan "Hompimpa") merupakan salah satu lagu permainan asal Sunda yang sudah tidak asing lagi di telinga kita. Hompilah biasanya dilakukan anak-anak sebelum melakukan suatu permainan. Caranya adalah anak-anak berkumpul lalu membolak-balikkan telapak tangannya sambil bersama menyerukan "Hompilah/hompimpah alaium gambreng". Setelah itu setiap anak menunjukkan antara punggung tangan atau telapak tangan (posisi tangan menghadap atas atau bawah). Apabila seorang anak posisi tangannya berbeda sendiri, maka anak tersebut menang atau kalah, sesuai kesepakatan yang telah ditentukan. Jika tersisa dua anak dengan posisi tangan yang sama, maka dilakukan suit. Selain di tataran Sunda, hompimpah juga terkenal sebagai budaya Jawa dan Betawi, dengan nyanyian yang lebih panjang, "Hompimpa alaium gambreng, Mpok Ipah pake baju rombeng" Saat ini hompilah/hompimpah masih banyak diterapkan bahkan oleh remaja sekalipun. Hompilah biasa dilakukan dalam permainan, olahra...

avatar
Oskm18_stei_christovito