Situs Batu Megalit Saita Garamba Situs peninggalan sejarah ini terletak di Desa Saita Garamba Kec. Gdö (± 6 km dari jalan raya lintas arah Gunungsitoli-Teluk Dalam). Strukturnya cukup beragam, ada yang berbentuk kuburan leluhur dari tumpukan batu-batu, bentuk "ni'ogadi" dan ada juga berbentuk "behu". Lokasi situs ini berada ± 15 km dari Bnadara Udara Binaka atau ± 34 km dari Kota Gunungsitoli dan dapat dicapai dengan kendaraan roda dua dan roda empat, lalu berjalan kaki ± 100 m dari pinggir jalan. Narasumber : http://fonasolaolinias.blogspot.co.id/2011/07/budaya-nias-dan-pariwisata.html?m=1
Situs Batu Megalit Maliwa'a Situs peninggalan sejarah ini terletak di Desa Maliwa'a Kec. Idanögawo ± 42 km dari Kota Gunungsitoli (± 25 km dari Bandara Udara Binaka). Strukturnya cukup bervariasi, ada yang berbentuk "ni'ogadi" dan ada juga yang berbentuk "behu". K.M. Fondrakö Untuk mendukung pengembangan destinasi tujuan wisata di Kabupaten Nias, Direktorat Jenderal Pengembangan Destinasi Pariwisata Departemen Kebudayaan dan Pariwisata RI telah menghibahkan 1 (satu) unit kapal motor pariwisata yaitu K.M. Fondrakö. Kapal motor ini memiliki 2 mesin 170 PK dengan kecepatan 25 knot per jam atau 26-30 mil laut per jam dengan fasilitas AC, kabin eksekutif, pelampung, toilet, radio panggil dan kapasitas penumpang 12 orang. Narasumber : http://fonasolaolinias.blogspot.co.id/2011/07/budaya-nias-dan-pariwisata.html?m=1
Suatu malam seekor kelalawar terbang mencari buah-buahan untuk dia makan, kelalawar pergi ke sebuah hutan yang sangat lebat dan dia menemukan sebuah pohon mangga yang sangat besar dan buahnya sangat lebat dan alangkah senangnya kelalawar itu karena buah-buah mangga telah matang, sang kelalawar sangat lapar dia makan dengan santainya menikmati manisnya buah mangga sampai pertunya kenyang. Setelah perutnya kenyang sang kelalawar meninggalkan pohon mangga itu menuju sarangnya yang terletak di sebuah gua, saat dia terbang tiba-tiba angin datang dengan sangat kencang hingga sang kelalawar terlempar sangat jauh lalu jatuh. Sang kelalawar mencoba bangun dari tempatnya jatuh namun badannya terasa sangat sakit hingga sang kelalawar tak mampu menggerakan sayap-sayapnya, sang kelalawar beristirahat sejenak untuk memulihkan badannya yang masih terasa sakit. Ketika dia beristirahat tiba-tiba terdengar suara kucing mendekat sang kelalawar mencoba untuk terbang namun dia kalah cepat dengan...
Rumah ini ditempati 4 - 6 keluarga, dengan bentuk persegi memanjang. Jika ingin memasuki rumah ini, harus melalui tangga berjumlah ganjil yang terletak di bagian depan rumah dan harus menunduk dikarenakan ukuran pintunya yang rendah. Pintu yang rendah pada rumah adat Batak yang membuat para tamu yang mengunjunginya menunduk melambangkan kesopanan. Seseorang harus menunduk agar bisa masuk rumah tersebut, sama halnya dengan keharusan tamu menghormati pemilik rumah. Rumah Bolon termasuk dalam ketegori rumah panggung, namun mempunyai fungsi yang cukup berbeda dari rumah panggung seperti yang ada di Sunda (Jawa Barat). Jika di Jawa Barat rumah panggung bertujuan untuk menghindari serangan binatang buas, rumah Bolon berdiri hampir 2 meter di atas tanah dan permukaan atas tanah langsung, digunakan sebagai tempat untuk memelihara binatang ternak seperti ayam atau babi. Bagian Dalam Rumah Beberapa bagian dari rumah adat Batak mempunyai fungsi tersendiri, terkait dengan penghuni dan statu...
Rumah Adat Batak Mandailing disebut sebagai Bagas Godang sebagai kediaman para raja, terletak disebuah kompleks yang sangat luas dan selalu didampingi dengan Sopo Godang sebagai balai sidang adat. Bangunannya mempergunakan tiang-tiang besar yang berjumlah ganjil sebagaimana juga jumlah anak tangganya. Bangunan arsitektur tradisional Mandailing adalah bukti budaya fisik yang memiliki peradaban yang tinggi. Sisa-sisa peninggalan arsitektur tradisional Mandailing masih dapat kita lihat sampai sekarang ini dan merupakan salah satu dari beberapa peninggalan hasil karya arsitektur tradisional bangsa Indonesia yang patut mendapat perhatian dan dipertahankan oleh Pemerintah dan masyarakat baik secara langsung baik tidak langsung. Bagas Godang biasanya juga dibangun berpasangan dengan sebuah balai sidang adat yang terletak dihadapan atau persisnya bersebelahan dengan rumah Raja. Balai sidang adat tersebut dinamakan Sopo Godang. Bangunan pada Bagas Godang mempergunakan tiang-tiang besar yang...
Alat-Alat Pertanian Tradisional Nias 1. Söu Bagoa (Kerudung pelindung kepala) 2. Daga (Keranjang) 3. Balu-Balu Hulu (Pelindung punggung dari terik matahari) Naha Danömö (Tempat bibit tanaman) 2 Lou (Tabung tempat hasil pertanian) 3. Töwa (Karung tempat hasil pertanian) 4. Sölu (Tabung tempat menyimpan daging yang diasapi atau digarami) 5. Rumbi (Guci tempat menyimpan daging yang digarami) Fogo'o Gowi (Alata untuk mencungkil ubi dar tanah) 2. Naha Danömö (Tempat bibit) 3. Sundru Dambu (Tembilang-Alat untuk menggali tanah) Narasumber : http://fonasolaolinias.blogspot.co.id/2011/07/budaya-nias-dan-pariwisata.html?m=1
Pada masyarakat Melayu Deli, peristiwa perkawinan mendapatkan banyak tempat yang tinggi dalam adat istiadat. Bila sebuah keluarga mencapai usia "pantas" dan telah memenuhi syarat dalam ajaran Islam maka ia disarankan untuk segera memasuki gerbang perkawinan. Bahkan pada masa lalu tradisi yang dilakukan oleh calon pengantin Melayu Deli sangat beragam karena harus melewati serangkaian prosesi adat yang cukup panjang. Tercatat sekurangnya ada 27 tahapan yang harus dilalui oleh calon mempelai sebelum dan sesudah hari perkawinanya. Namun di masa sekarang-dimana segala sesuatunya ingin serba praktis, tetapi tetap tidak mengesampingkan nilai-nilai tradisi-maka rangkaian prosesi perkawinan lebih disederhanakan, disesuaikan dengan situasi dan kondisi. Berikut beberapa prosesi adat perkawinan yang masih terus dilestarikan oleh masyarakat Melayu Deli. Tahapan Merisik Dalam tata cara perkawinan masyarakat Melayu Deli yang pertama kali dilakukan adalah tahapan merisik yaitu pihak keluarga...
"Magodang anak, pangolihononhon, magodang boru pahutaon (pamulion)". Artinya: Jika putra sudah dewasa, ia akan dicarikan istri (dinikahkan) dan jika putri sudah dewasa dia patut bersuami (tinggal di kampung suaminya). Masyarakat Batak, tak terkecuali di kota-kota besar termasuk Jakarta, masih memegang kuat nilai-nilai budaya. Mulai dari sistem kekerabatan, hingga adat istiadat (termasuk ruhut paradaton dalam perhelatan adat mulai dari bayi, anak, remaja, perkawinan dan kematian) tetap terpelihara dalam kehidupan sehari-hari. A. Patiur Baba Ni Mual (permisi dan mohon doa restu Tulang) Prosesi ini merupakan langkah pertama yang dilakukan oleh orangtua terhadap hula-hula (kelompok marga asal sang istri) sebelum putranya menikah. Menurut adat, putri tulang (saudara kandung laki-laki dari pihak ibu) adalah jodoh pertama dari putranya. Apabila pasangan hidup yang dipilih bukan putri tulang, maka orang tuanya perlu membawa putranya permisi dan mohon doa restu tulang. Adat ini hanya dil...
Pernikahan atau perkawinan dalam Batak Toba merupakan tahapan awal dimana kedua mempelai mulai memasuki adat Batak secara penuh. Seperti pada suku lain, Batak Toba menempatkan proses dan tahapan pernikahan merupakan sesuatu ritual yang sakral dan penuh makna. Sebab memulai suatu keluarga dalam adat Batak Toba berarti memulai suatu tahapan pembentukan lingkungan sosial adat kecil yang nantinya mampu menyokong adat horja yang lebih besar dalam ruang lingkup Dalihan na Tolu (baca Sekilas tentang Dalihan na Tolu ) dan bentuk pelaksanaannya dalam tata cara Suhi ni Ampang na Opat (baca Apa arti Suhi ni Ampang na Opat? ) . Adapun tata cara adat Batak dalam pernikahan yang disebut dengan adat na gok, yaitu pernikahan orang Batak secara normal berdasarkan ketentuan adat terdahulu seperti tahap-tahap berikut ini: 1. Mangaririt Sekarang ini ada yang melaksanakan acara paulak une dan maningkir tangga &nb...