Disadari atau tidak, Lumajang menyimpan segudang peninggalan bersejarah dan cerita-cerita rakyat yang menyisakan kenangan-kenangan akan kebesaran masa lalu yang terkadang diiringi dengan rangkaian cerita tentang perlawanan terhadap kekuasaan yang selalu ingin menghabisi kemajemukan dan keragaman politik yang berbeda-beda. Perlawanan-perlawanan khas Lumajang ini dapat ditelusuri sampai sekarang pada nama-nama desa yang sesuai dengan cerita Babad seperti daerah Pajarakan (Randu Agung), Padali (Ranu Bedali/ Ranu Yoso), Arnon (Kutorenon/Sukodono) dan masih banyak lagi yang lainnya. Disamping itu kita dapat menemukan desa-desa yang namanya tetap dipakai sampai sekarang dan dapat dijadikan sebagai bukti perlawanan yang ada di Lumajang. Nama-nama desa yang merupakan tempat pengungsian ketika Minak Koncar (Penguasa Lumajang) mengungsi ke daerah-daerah yang dianggap aman seperti desa “Bodang” yang merupakan kepanjangan dari “mbok-mb...
Terdapat dua kisah berbeda dari asal-usul tentang Sungai Bondoyudo. Yang pertama adalah dikisahkan terdapat sungai terpanjang di Kota Lumajang bernama sungai Bondoyudo. Sungai itu membelah kota Lumajang menjadi dua bagian. Konon mitosnya apabila sesorang tidak melemparkan koin ke dalam sungai itu saat melewatinya, maka ia akan mendapatkan jodoh oran Lumajang. Karena Bondoyudo sendiri berasal dari kata "Bondo" yang artinya terikat. Maka si pendatang tersebut akan terikat dengan Lumajang. Tetapi mitos tersebut hanyalah mitos yang tidak pasti kebenarannya. Kisah kedua menceritakan bahwa pada zaman dahulu terdapat perang yang sangat besar dan mengerikan di Kota Lamajang yang sekarang berubah nama menjadi Kota Lumajang. Perang tersebut terjadi di sekitar sungai Bondoyudo yang membelah Kota Lumajang menjadi dua. Perang itu sangat mengerikan, sehingga nama dari perang tersebut diabadikan menjadi nama sungai tempat perang itu berlangsung. Perang dimana memakan korban...
Dalam cerita sejarah Gunung Lawu, memang gunung ini menyimpan banyak sekali misteri didalamnya. Gunung Lawu menjadi salah satu tempat yang disejarahkan dalam legenda dan mitos sebagai salah suatu tempat yang memang bisa dibilang sangat sakral yang ada di Pulau Jawa. Puncak Hargo Dalem di Gunung Lawu diyakini sebagai salah satu tempat yang digunakan untuk pamoksan sang Kanjeng Prabu Bhrawijaya Pamungkas. Selain itu juga di Puncak Hargo Dumiling diyakini juga oleh para masyarakat sebagai salah satu tempat untuk pamoksan Ki Sabdopalon. Konon dalam kisah cerita sejarah Gunung Lawu, Gunung Lawu adalah salah satu tempat dan pusat adanya kegiatan berjenis spiritual yang ada di Tanah Jawa. Dan kegiatan itu ada hubungan erat dengan adanya tradisi serta budaya dari Praja Mangkunegaran. Bagi setiap orang yang hendak melakukan pendakian dan pergi menuju puncak Gunung Lawu harus tahu serta memahami betul akan berbagai adanya hukum larangan yang tidak tertulis. Larangan yang ada t...
Mojokerto pada zaman dahulu merupakan pusat dari pemerintahan kerajaan Majapahit. Lokasi dari kerajaan Majapahit sendiri diperkirakan sekitar 10 km dari letak Mojokerto sekarang. Perkiraan ini diambil karena banyaknya peninggalan-peninggalan kerajaan Majapahit seperti candi, umpak-umpak, gapura, saluran air, dan sebagainya. Masa kejayaan Majapahit merupakan periode yang sangat mengesankan dalam sejarah Indonesia. Alasannya adalah karena pada masa ini Majapahit menjadi kerajaan yang paling besar dan mempunyai pengaruh yang begitu luar biasa. Tak hanya di nusantara, di luar negeri pun nama kerajaan Majapahit ini dikenal. Mojokerto yang memiliki banyak peninggalan bersejarah dari kerajaan Majapahit ini sering dikait-kaitkan dengan kerajaan tersebut. Hari jadi Mojokerto pun berkaitan dengan Majapahit. Konon, hari jadi Mojokerto yaitu tanggal 9 Mei merupakan hari saat Raden Wijaya mengatur strategi dalam perlawanannya melawan pasukan Tar-Tar. Keme...
Perangkat Sirih dari Emas merupakan salah satu benda cagar budaya yang masih tersisa dari ratusan benda-benda pusaka peninggalan Kerajaan dan Kesultanan Bima. Pusaka ini masih ada dan tersimpan sebagai koleksi Museum Asi Mbojo. Pembuatan perangkat sirih ini diperkirakan dibuat seiring masuknya Islam di Bima pada abad XVII. Karena perangkat sirih merupakan salah satu kelengkapan Upacara Adat Hanta UA PUA. Dalam lingkungan Istana Bima, perangkat sirih merupakan salah satu kelengkapan untuk upacara adat maupun hajatan Istana. Ada dua tempat sirih yang dimiliki Kesultanan Bima. Keduanya terbuat dari emas lengkap dengan tempat tembakaunya. Ada juga tempat ludah dari emas yang disebut “ Boko “. Kelengkapan Sirih mencakup empat cerek. Dua di antaranya terbuat dari emas dan lainnya dari perak. Sementara penutupnya terbuat dari emas. Sejumlah perangkat makan juga hampir semuanya dari emas. Terdapat dua gelas besar (Ngamo atau Muk), yang satu emas dan dari kaca namun berpe...
Sepintas kita lihat bangunan ini adalah sebuah rumah panggung seperti rumah masyarakat Bima pada umumnya. Bangunan yang terkonstruksi dari kayu jati alam Bima ini adalah sebuah Istana yang disebut ASI BOU atau Istana Baru. Istana ini terletak di samping timur Istana Bima (Sekarang Museum Asi Mbojo). Dinamakan ASI BOU karena didirikan belakangan setelah pendirian Istana Bima pada tahun v1927, tepatnya pada masa Pemerintahan Sultan Ibrahim (1881 – 1936). ASI BOU Dibangun untuk putera Mahkota Muhammad Salahuddin. Namun setelah dinobatkan menjadi sultan, Muhammad Salahuddin memilih tinggal di Istana lama. Akhirnya ASI BOU ini ditempati oleh adiknya Haji Abdul Azis atau yang dikenal dengan nama Ruma Haji. Bangunan ini menghadap ke arah utara dengan panjang sekitar 16 Meter dan lebar 8 meter. Terdiri dari Sancaka Tando (Emperan Depan ) yang berfungsi sebagai ruang tamu. Ada juga beberapa kamar tidur sultan dan keluarganya. Kemudian dibelakangnya terdapat Sancaka Kontu (Serambi B...
Syair dan senandung adalah bagian dari kehidupan masyarakat Bima tempo dulu. Di peradaban tanah Donggo, syair dan senandung melingkupi seluruh rangkaian prosesi daur hidup masyarakatnya. Salah satu syair dan senandung yang masih eksis hingga saat ini adalah Inambaru. Senandung ini adalah ratapan yang menyayat hati sebagai ritual pelepasan terhadap seseorang yang dicintai yang pergi jauh dan meninggal dunia. Ketua Sanggar Ncuhi Mbawa, Ignasius Ismail mengungkapkan bahwa pada masa lalu, Inambaru dilantunkan khusus dalam peristiwa sakral, namun saat ini hanya untuk hiburan saja.” Pada masa lalu, ketika ada keluarga yang meninggal dunia, seorang perempuan melantunkan Inambaru sambil meracau dan menyebut kebaikan-kebaikan si mayat. “ Ungkap Ignasius Ismail yang juga pendeta gereja setempat. Ketika Inambaru dilantunkan, para pelayat menggerakkan tangan seperti mengelus si mayit. Orang Donggo memang memiliki tata cara sendiri dalam menguburkan mayat. Sebelum mayat dikub...
Mpa’a Karumpa, demikianlah nama permainan yang dalam bahasa Indonesia dikenal dengan Engrang ini. Mpa'a dalam bahasa Bima berarti permainan. Pada masa lalu, permainan ini ditemukan di berbagai daerah di nusantara. Mpa’a Karumpa cukup terkenal di Bima. Permainan ini sering dilakukan oleh anak-anak usia 7 sampai 13 tahun(anak SD, SMP). Tetapi tidak jarang anak yang duduk di bangku TK pun sudah bisa memainkannya dan orang dewasa pun ikut memainkan permainan Karumpa ini. Cara memainkan permainan ini sebenarnya beragam, yang dilakukan anak-anak di desa Sambori ini hanyalah salah satu dari banyak cara yang lainnya. Mpa’a Karumpa ini dipandang sebagai permainan yang menyenangkan, menantang, dan tidak memakan biaya yang mahal untuk membuat alat permainan tersebut. Cara membuatnya pun mudah. Mula-mula bambu dipotongmenjadi dua bagian yang panjangnya masing-masing sekitar 2½-3 meter. Setelah itu, dipotong lagi bambu yang lain menjadi dua bagian dengan ukuranmasing...
Air Terjun Roro Kuning berada di ketinggian 600 m dpl dan memiliki tinggi antara 10-15 m. Air terjun ini mengalir dari tiga sumber dari Gunung Wilis yang mengalir merambat di sela-sela bebatuan padas di bawah pepohonan hutan pinus. Kemudian menjadi air terjun yang membentuk trisula . Dan karena proses mengalirnya itulah maka masyarakat Desa Bajulan menamakan air terjun merambat. Di sekitar lokasi air terjun ini juga bisa dijumpai Air Terjun Ngunut setinggi ± 55 m, Air Terjun Pacoban Ngunut setinggi ± 95 m dan Air Terjun Pacoban Lawe setinggi ± 75 m. Jarak dari air terjun Roro Kuning menuju air terjun Pacoban Ngunut sekitar 4 km. Sedangkan untuk Coban Lawe dan Air Terjun Ngunut, harus berjalan kurang lebih 3 km lagi. Untuk menuju ke tiga air terjun tersebut sebaiknya mempersiapkan fisik sebelum kesana, karena jalannya cukup terjal. Selain keindahan alam, air terjun Roro Kuning juga memiliki ni...