masyarakat adat
248 entri ditemukan

Entri per provinsi
Entri per provinsi

Entri Terkait

Gambar Entri
Tradisi Memindahkan Rumah (Merawale)
Ritual Ritual
Sulawesi Utara

Tradisi memindahkan rumah, oleh masyarakat Minahasa dikenal dengan sebutan Merawale. Rumah yang dipindahkan itu tanpa harus dibongkar, namun secara utuh digotong secara bersama-sama. Tradisi ini telah turun temurun dilakukan oleh masyarakat Minahasa. Masyarakat di Kelurahan Bitung – Amurang Minahasa Selatan rupanya masih ada yang mempertahankan tradisi merawale ini. Kebersamaan dalam kehidupan sosial di Minahasa, salah satunya diwujudkan dengan tradisi merawale. Baik anak-anak, remaja, pemuda maupun orang tua terlibat dalam tradisi ini tanpa memandang status sosial. Merawale biasanya dikomandoi oleh seseorang agar rumah yang akan dipindahkan dapat diangkat secara lebih mudah. Merawale juga adalah simbol kepolosan dan rasa kebersamaan masyarakat tanpa rekayasa dalam kehidupan sosial di Minahasa. Siapa saja yang terlibat dalam merawale tidak dibayar dengan uang, akan tetapi hanya mendapat ucapan terima kasih dari yang empunya rumah. Salah satu bentuk ucapan terima kasih diwujudk...

avatar
Abdulcahyo
Gambar Entri
Mutimualo, Tradisi Mandi Bersama Masyarakat Gorontalo
Ritual Ritual
Sulawesi Utara

Mandi bersama Mutimualo. Jika salah satu anggota keluarga masyarakat Gorontalo ada yang meninggal dunia dan menimbulkan kesedihan mendalam, dalam situasi seperti itu, keluarga Gorontalo biasanya segera menyelenggarakan tradisi Mutimualo. Prosesi itu dilakukan tepat tujuh hari sejak meninggalnya anggota keluarga yang bersangkutan. Caranya, seluruh anggota keluarga yang ditinggalkan mandi bersama. Tidak sembarang mandi, acara itu harus dilakukan pemuka adat. Satu demi satu anggota keluarga mendapat siraman air dari sang pemuka adat. Ada kepercayaan, kesedihan akibat kehilangan anggota keluarga bisa larut dalam air yang disiramkan saat mandi. Selain itu, selesai mandi, badan terasa segar sehingga pikiran segar dan kesedihan pun terhapuskan. Ada beberapa aturan yang harus diterapkan saat Mutimualo. Selain harus dilaksanakan saat tujuh hari meninggalknya sang anggota keluarga, lebih afdol jika prosesinya dilakukan sore. Sebelumnya, pihak keluarga harus menyediakan tiga butir kela...

avatar
Abdulcahyo
Gambar Entri
Legenda Putri Rubiah Menjadi Batu di Teluk Karang Ujung Sibolga
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
Sulawesi Utara

Beberapa abad yang lalu, di sebuah desa yang bernama Kalangan, hidup seorang gadis cantik. Gadis itu bernama Putri Rubiah. Selain berwajah cantik, Putri Rubiah juga bertabiat baik dan taat menjalankan ibadat agama. Kecantikan dan kesalehan gadis Rubiah ini terdengar sampai ke tempat-tempat jauh dan menjadi bahan pembicaraan rakyat banyak. Banyak sudah pemuda yang datang untuk melamar Rubiah. Di antara mereka ada yang kaya raya, ada yang gagah perkasa, ada pula yang keturunan bangsawan. Akan tetapi, tidak ada seorang pun yang berkenan di hati Rubiah. Pada suatu hari datanglah seorang kiai bernama Alwi ke Desa Kalangan. Kyai Alwi berasal dari Sumatera Barat. Kedatangan Kyai Alwi ke Desa Kalangan adalah untuk menyebarkan agama, bukan untuk melamar Rubiah. Akan tetapi, setelah Alwi menyaksikan kecantikan dan kesalehan perilaku Rubiah, ia jatuh cinta. Ia ingin mengambil Rubiah sebagai istri. Ternyata cinta Alwi ini disambut baik oleh Rubiah. Kisah Putri Rubiah Pada suatu h...

avatar
Aze
Gambar Entri
Gordang Sembilang
Alat Musik Alat Musik
Sulawesi Utara

Sesuai dengan namanya Gordang Sambilan terdiri dari sembilan buah gendang dengan ukuran yang relatif besar dan panjang. Adapun kesembilan gendang tersebut mempunyai ukuran yang berurutan dari yang besar ke ukuran yang paling kecil. Gordang Sambilan  dikenal pada masa sebelum Islam yang mempunyai fungsi untuk upacara memanggil roh nenek moyang apabila diperlukan pertolongannya. Upacara tersebut dinamakan paturuan Sibaso yang berarti  memanggil roh untuk merasuki/menyurupi medium Sibaso). Tujuan pemanggilan ini adalah untuk minta pertolongan roh nenek moyang untuk mengatasi kesulitan yang sedang menimpa masyarakat. Misalnya penyakit yang sedang mewabah karena adanya suatu penularan  penyakit yang menyerang suatu wilayah. Di samping itu Gordang Sambilan juga digunakan untuk upacara meminta hujan (mangido udan) agar hujan turun sehingga dapat mengatasi kekeringan yang menganggu aktivitas pertanian. Juga bertujuan untuk  menghentikan hujan yang telah berlangsu...

avatar
Roro
Gambar Entri
Sirang-sirang
Ritual Ritual
Sulawesi Utara

Sirang-sirang adalah salah satu upacara pemakaman dengan cara dibakar yang terjadi di Sumatra khususnya Batak Sembiring. Di masa lalu, saat pengaruh Hindu masih melekat dengan kuat, masyarakat di sini melakukan upacara pembakaran jenazah dengan cukup besar. Biasanya jenazah akan dibakar di dekat dengan sungai. Setelah jenazah menjadi abu, beberapa orang akan melarungnya ke dalam air sungai. Oh ya, pelarung abu harus mandi dengan bersih agar tidak kena sial atau diikuti roh dari jasad yang dibakar. Sumber: https://www.boombastis.com/pemakaman-unik-indonesia/78979

avatar
Hamzahmutaqinf
Gambar Entri
Laku Tepu
Pakaian Tradisional Pakaian Tradisional
Sulawesi Utara

Pada umumnya, masyarakat suku Sangihe Talaud mengenakaian pakaian adatnya ketika pelaksanaan upacara Tulude.Keunikan dari pakaian adat mereka yaitu terbuat dari serat tanaman pisang yang disebut dengan serat kofo.Tanaman ini ternyata memiliki serat batang yang kuat sehingga mudah untuk dipintal dan ditenun.Hasil kainnya kemudian dijahit menjadi pakaian adat yang disebut dengan Laku Tepu. Ciri khas dari pakaian adat Sulawesi Utara ini adalah penggunaan warna-warna dasarnya yang cerah seperti kuning, hijau, dan merah.Pakaian Laku Tepu ini memiliki lengan yang panjang dan untaian yang mencapai tumit.Agar lebih meriah, pakaian dilengkapi dengan aksesoris meliputi paporong sebagai penutup kepala, bandang sebagai selendang di bahu, kahiwu yaitu rok rumbai, serta popehe sebagai ikat pinggang. Sumber: https://adatindonesia.com/pakaian-adat-sulawesi-utara/

avatar
Hamzahmutaqinf
Gambar Entri
Festival Figura
Ritual Ritual
Sulawesi Utara

Festival Figura merupakan kalender kegiatan pariwisata yang dilaksanakan secara rutin setiap tahun di kota Manado untuk mengakhiri tahun lama dan memasuki tahun yang baru. Sebagai kesenian rakyat, Figura berasal dari bahasa Latin yakni Figur atau Sosok. Kesenian rakyat ini telah muncul beberapa ratus tahun lalu dijazirah pesisir teluk Manado. Ditilik dari perjalannya figura merupakan seni budaya yang diadopsi dari kesenian Yunani Klasik. Seni ini lebih dekat dengan seni pantomim atau seni menirukan laku atau watak dari seorang tokoh yang dikenal atau diciptakan. Kesenian ini dibawa oleh pelaut Spanyol (conquistadores) yang singgah dan tinggal disekitar pelabuhan Manado. Figura merupakan kesenian yang dapat menghadirkan dramaturgi pendek terhadap sosok atau perilaku tokoh-tokoh yang dianggap berperan dalam mengisi tradisi baik buruk dari sosok dan watak manusia. Figura oleh masyarakat Kota Manado saat ini diselenggarakan dalam bentuk festival pada setiap minggu ke-4 b...

avatar
Aze
Gambar Entri
MANGARONTAS
Ritual Ritual
Sulawesi Utara

Ritual ini dilengkapi dengan masakan-masakan khas batak dengan masing-masing nilainya, seperti Manuk napinadar agar sehat jasmani saat bekerja menggarap kemenyan, selain itu untuk mendapat berkat dari yang maha kuasa agar dilindungi dari roh-roh yang ada di dalam hutan; Itak gurgur agar hasil getah kemenyan keluar melimpah; dan terakhir adalah Sagu-sagu. Semua makanan ini harus di santap pada saat ritual berdoa selesai dilakukan. Kemenyan yang dalam bahasa lokal sering disebut haminjon (Styrax Paralleloneurum), adalah komoditi yang sangat dibanggakan oleh masyarakat Batak, terutama yang berdomisili di kawasan Humbang Hasundutan, Tapanuli Utara, Tapanuli Tengah, Barus, dan wilayah sekitarnya. Dahulu sekitar abad ke-5 (bahkan jauh sebelumnya), kemenyan pernah menjadi komoditi yang nilainya setara atau bahkan lebih bernilai dari emas. Keahlian turun-temurun serta ritual terkait dengan pemanfaatan tumbuhan kemenyan melekat pada masyarkat (petani) sekitar. Legenda terkait kemenyan...

avatar
Sri sumarni
Gambar Entri
Permainan Palapudu
Permainan Tradisional Permainan Tradisional
Sulawesi Utara

Istilah kata palapudu sampai saat ini belum diketahui dengan pasti. Hanya yang jelas motif alat ini dimainkan adalah untuk menembak. Menurut penuturan informan yang bernama Kasim Langgapa (57 tahun) tinggal di desa Molu'o Kecamatan Kwandang, bahwa permainan Palapudu sudah dikenalnya sejak kecil, dan ayahnya pernah membuat palapudu ini. Alat Palapudu ini terbuat dari bulu (bambu) dengan menggunakan peluru dari ketumbar (ketumbari). Mainan ini, adalah mainan yang paling digemari pada waktu itu dan pada umumnya sangat diminati oleh anak laki-laki, namun demikian tidak menutup kemungkinan anak perempuan juga dapat memainkan permainan tersebut. Munculnya permainan ini menurut informasi yang didapati, pada waktu masih zaman penjajahan belanda, warga masyarakat gorontalo menggunakan alat palpudu ini sebagai senjata seadanya untuk menembak musuh-musuh yang ada, dan akhirnya alat palapudu ini berkembang menjadi mainan anak-anak, namun saat ini permaianan palapudu sudah mulai hilang dri peredar...

avatar
Roro