Cerita Rakyat
Cerita Rakyat
Cerita Rakyat Sulawesi Utara Sibolga
Legenda Putri Rubiah Menjadi Batu di Teluk Karang Ujung Sibolga
- 22 November 2018 - direvisi ke 2 oleh Niarara pada 6 Mei 2026

Beberapa abad yang lalu, di sebuah desa yang bernama Kalangan, hidup seorang gadis cantik. Gadis itu bernama Putri Rubiah. Selain berwajah cantik, Putri Rubiah juga bertabiat baik dan taat menjalankan ibadat agama. Kecantikan dan kesalehan gadis Rubiah ini terdengar sampai ke tempat-tempat jauh dan menjadi bahan pembicaraan rakyat banyak. Banyak sudah pemuda yang datang untuk melamar Rubiah. Di antara mereka ada yang kaya raya, ada yang gagah perkasa, ada pula yang keturunan bangsawan.

Akan tetapi, tidak ada seorang pun yang berkenan di hati Rubiah. Pada suatu hari datanglah seorang kiai bernama Alwi ke Desa Kalangan. Kyai Alwi berasal dari Sumatera Barat. Kedatangan Kyai Alwi ke Desa Kalangan adalah untuk menyebarkan agama, bukan untuk melamar Rubiah. Akan tetapi, setelah Alwi menyaksikan kecantikan dan kesalehan perilaku Rubiah, ia jatuh cinta. Ia ingin mengambil Rubiah sebagai istri. Ternyata cinta Alwi ini disambut baik oleh Rubiah.

Kisah Putri Rubiah

Pada suatu hari yang baik, Alwi dan Rubiah menikah. Mereka saling mencintai. Kehidupan mereka sebagai suami-istri sangat manis dan selalu dijadikan contoh oleh rakyat Kalangan dan sekitarnya. Beberapa tahun telah lewat. Kehidupan suami-istri itu tetap mesra. Bahkan pada waktu mereka berangkat tua, cinta kasih di antara mereka masih tetap tidak berubah. Sayang mereka belum juga dikaruniai anak. Keadaan ini memang suatu penderitaan, tetapi tidak membuat cinta mereka menj adi berkurang.

Pada suatu hari, mereka menyadari bahwa mereka termasuk berasal dari marga yang sama, yaitu marga Tanjung. Menurut adat Tapanuli, laki-laki dan perempuan yang semarga tidak dibenarkan kawin. Perkawinan semarga dianggap sebagai perkawinan antar saudara kandung. Benar-benar suatu yang aib. Alwi maupun Rubiah sangat bersedih hati mendapati kenyataan demikian. Kesedihan mereka berdua inilah yang akan menjadi isi cerita rakyat dari Sumatera Utara ini.

Setelah penduduk Desa Kalangan mengetahui bahwa mereka semarga, penderitaan Putri Rubiah dan Kyai Alwi makin bertambah-tambah. Setiap hari mereka mendengar sindiran, ejekan, bahkan makian masyarakat sekitarnya. Masyarakat menghina mereka karena menganggap pernikahan Putri Rubiah dan Kyai Alwi tidak sah. Putri Rubiah dan Kyai Alwi merasa tidak dapat bertahan hidup lebih lama lagi di Kalangan. Rupa-rupanya tidak ada kemungkinan lain bagi kedua suami-istri itu untuk bertempat tinggal disana kecuali meninggalkan desa Kalangan secepatnya. Akan tetapi, ke mana mereka akan pergi? Rasa malu mencegah mereka pergi ke tempat-tempat yang penduduk mengenalnya.

Alwi merasa kasihan apabila istrinya juga harus pergi. “Biar aku saja yang pergi,” katanya dalam hati. “Memang aku yang membawa sial. Jika aku pergi, tentunya keadaan menjadi baik. Rubiah pasti akan diterima kembali oleh orang-orang disini. Ia sama sekali tidak bersalah.”

Setelah berpikir masak-masak, Alwi mengambil keputusan penting. Pada suatu malam, secara diam-diam ia meninggalkan desa Kalangan. Ia membulatkan tekad untuk meninggalkan Putri Rubiah agar bisa mengakhiri hinaan masyarakat desa setempat. Dengan mengendap-endap, Kyai Alwi berjalan menuju ke pantai. Kebetulan di sana ada sebuah kapal yang akan berlayar. Kyai Alwi merasa bersyukur ada kapal yang siap berangkat ke tengah lautan.

 

Kyai Alwi Berlayar

Alwi mendekat ke arah kapal dengan perasaan ragu-ragu. Di satu pihak, ia merasa harus pergi meninggalkan Putri Rubiah karena masyarakat Kalangan mengutuknya. Di lain pihak, berat sekali rasanya meninggalkan Rubiah yang amat dicintainya. Putri Rubiah telah mencintainya dengan sepenuh hati. Ia tidak meragukan hal itu. Semakin ia mencintai Putri Rubiah, semakin ia ingin meninggalkannya karena ia tidak mau Putri Rubiah terus menerus dihina warga Desa Kalangan.

Alwi tersadar dari lamunannya. Ia mempercepat langkah menuju kapal yang siap berlayar. Alwi menemui nakoda kapal itu. Ia mengatakan akan ikut berlayar dengan kapal itu. “Ke mana Saudara akan pergi?” tanya nakoda dengan nada ingin tahu.

“Ke mana saja kapal ini berlayar, saya akan ikut,” jawab Alwi cepat. Nakoda kapal tidak langsung menjawabnya. Rupanya sang nakoda menaruh curiga kepada Kyai Alwi.

“Tolonglah, Pak,” sambung Alwi, “pendeknya saya harus secepat mungkin meninggalkan tempat ini.”

Nakoda kapal itu menjadi ragu-ragu. Ia curiga, jangan-jangan orang ini pencuri atau perampok, bahkan barangkali seorang pembunuh. Nakoda masih mempertimbangkan maksud hati Alwi. Dipanggilnya dua orang pembantunya. Mereka membicarakan permintaan Alwi yang aneh itu.

Merasa dicurigai, Alwi berkata, “Demi Allah, saya bukan orang jahat, Pak. Bukan pencuri atau pembunuh.” Nakoda kapal dan para pembantunya saling berpandangan.

Sebelum mereka bertanya, Alwi sudah menceritakan keadaannya. Ia harus meninggalkan tempat itu karena telah melakukan suatu tindakan yang dianggap tercela. Tanpa mengetahui sebelumnya, ia telah kawin dengan seorang perempuan semarga. Nakoda kapal itu berunding lagi dengan para pembantunya.

“Seandainya engkau menjadi dia, apa yang akan kamu lakukan?” tanya nakoda itu kepada kedua pembantunya. Kedua pembantu nakoda menyetujui keinginan Kyai Alwi untuk ikut berlayar. Akhirnya mereka sepakat untuk mengizinkan Alwi menumpang kapal. Maka kapal itu lalu membongkar sauh, dan mulai berlayar ke tengah lautan.

Penderitaan Putri Rubiah

Kisah legenda Putri Rubiah dari Sumatera Utara berlanjut. Ketika kapal itu mulai bergerak meninggalkan pantai, terlihat ada seorang perempuan tua berlari-lari mendekati pantai. Dengan teriakan yang keras disertai isak tangis, perempuan itu memanggil-manggil nama Alwi. “Suamiku! Kembalilah kesini! Apapun yang terjadi aku tetap mencintaimu,” ujar Putri Rubiah sambil berlari menuju dermaga tempat kapal bergerak dengan perlahan.

Akan tetapi, tidak ada seorang pun penumpang kapal itu yang mendengarnya. Perempuan tua itu memang Rubiah. Tadi ketika terbangun ia merasakan bahwa Alwi tidak ada. Setelah gagal mencari suaminya di sekitar rumah, Rubiah menuju ke pantai. Dari kejauhan ia melihat suaminya naik ke kapal dan berbicara dengan beberapa orang. Kini mereka telah pergi meninggalkannya sendiri.

Dengan bercucuran air mata, Putri Rubiah menyaksikan kapal yang ditumpangi suaminya makin menjauh. Makin lama kapal itu terlihat makin kecil. Untuk dapat melihat dengan lebih jelas, Rubiah naik ke sebuah batu karang yang agak tinggi. Ia berdiri di sana dengan hampir tidak berkedip. Dengan pilu dilihatnya kapal itu makin jauh, dan akhirnya lenyap dari pandangan.

Sehari semalam sudah Rubiah berdiri di atas batu karang itu. Ia selalu berharap bahwa suaminya kembali lagi ke desa itu. Berkali-kali ia melambaikan tangan ke laut lepas. Dingin di malam hari dan panas matahari tidak dirasakannya. Yang ada dalam pikiran Rubiah hanya harapan bahwa suaminya pulang. Atau setidak-tidaknya orang yang dicintainya itu mengajaknya pergi.

Putri Rubiah berharap dapat mengikuti ke mana pun suaminya pergi. Setelah sadar ternyata bahwa suaminya tidak kunjung datang, Putri Rubiah pulang ke rumah dengan perasaan sedih dan kecewa. Tetangga-tetangganya masih tetap menyindir dan mengejek. Tidak ada seorang pun yang peduli dengan kepergian suaminya. Tentu saja keadaan ini membuatnya tidak betah tinggal di rumah.

Maka setelah sejenak beristirahat, Rubiah pergi lagi ke batu karang itu. Di sana ia mengamati laut dan sekali-sekali melambaikan tangannya. Itulah yang dikerjakan Rubiah setiap hari. Berlama-lama menanti suami di batu karang telah menjadi kegiatan sehari-hari Putri Rubiah. Kadang ia pulang sebentar ke rumah. Kemudian Rubiah merasakan bahwa ia akan lebih terhibur jika ada di batu karang itu. Setidak-tidaknya ia dapat memandang jauh ke laut, dan berharap akan ada kapal datang membawa suaminya.

Sebaliknya, di rumah hanya kesedihanlah yang ada. Setiap kali didengarnya para tetangga masih saja menyindir dan mengejek. Setelah mempertimbangkan masakmasak, Putri Rubiah memutuskan untuk tinggal di batu karang saja. Ia hanya membawa sehelai mukena dan sajadah untuk mengerjakan ibadah shalat. Yang dilakukan di atas karang itu ialah termenung, melamun, sembahyang, berdendang, berdoa, tidur, dan bangun lagi.

Cerita rakyat dari Sumatera Utara menyebutkan bahwa dari hari ke hari itulah kerjaan yang dilakukan Putri Rubiah. Kalau merasa lapar, ia akan makan apa saja yang terdapat di sekitarnya. Ia selalu membayangkan suaminya yang alim, tampan, dan kekar duduk disampingnya. Kadang-kadang seperti didengarnya, suaminya itu memanggil-manggil. Tubuh Rubiah makin kurus kering. Karena kesehatan yang makin menurun, ia lebih sering berbaring daripada berdiri atau duduk.

Akibat kurang menjaga kesehatan, Putri Rubiah mengalami sakit parah. Tidak ada seorang pun yang peduli kepadanya. Sampai pada suatu hari ia tidur untuk selamalamanya alias meninggal dunia di atas batu karang. Dengan kuasa Tuhan, tubuhnya yang mengenakan mukena itu berubah menjadi batu. Itulah Keramat Ujung Sibolga yang sampai sekarang batu itu masih dikeramatkan orang. Keramat Ujung Sibolga menjadi semacam batu peringatan. Tiap kali melihat batu karang Ujung Sibolga, orang menjadi ingat akan cinta dan kesetiaan abadi yang ditunjukkan oleh Putri Rubiah. Demikian kisah legenda rakyat Sumatera Utara yang mengkisahkan asal-usul batu keramat di Ujung Sibolga. Kisah legenda Putri Rubiah ini menjadi pengingat kita bersama agar lebih bijak dalam mengambil keputusan penting dalam membangun pernikahan.

Diskusi

Silahkan masuk untuk berdiskusi.

Daftar Diskusi

Rekomendasi Entri

Gambar Entri
HUTING-HUTING
Ornamen Ornamen
Sumatera Utara

Di masa lalu, masyarakat Batak mengenal sebuah peti penyimpanan berharga yang disebut Huting-Huting. Huting-huting berfungsi sebagai tempat menyimpan benda-benda berharga milik raja atau keluarga bangsawan, seperti perhiasan, pusaka, hingga barang bernilai lainnya. Karena fungsinya yang penting, huting-huting sering disebut sebagai "brankas tradisional" dalam budaya Batak. Yang membuatnya istimewa adalah ukiran pada bagian tutupnya. Berbagai ornamen, termasuk motif bintang dan makhluk simbolis (pinatang), dipahat dengan sangat detail. Menurut kepercayaan masyarakat dahulu, ukiran-ukiran tersebut memiliki kekuatan magis sebagai penjaga isi peti. Konon, apabila seseorang berniat mencuri isi huting-huting, maka roh penjaga yang disimbolkan melalui ukiran pinatang akan melindungi harta yang tersimpan di dalamnya. Kepercayaan ini menunjukkan bagaimana seni ukir, spiritualitas, dan sistem keamanan tradisional berpadu dalam kehidupan masyarakat Batak. Karena nilai dan kesak...

avatar
Hokker
Gambar Entri
SALE-SALEAN
Makanan Minuman Makanan Minuman
Sumatera Utara

Di rumah adat Batak tradisional, terdapat sebuah bagian penting yang disebut Sale-salean. Sale-salean merupakan rak atau ukiran berbentuk segi empat yang digantung di atas tungku perapian (tataring). Fungsinya sangat praktis sekaligus mencerminkan kearifan leluhur dalam memanfaatkan ruang di dalam rumah. Di tempat inilah masyarakat Batak dahulu mengeringkan ikan, daging, hasil pertanian, hingga kayu bakar. Asap dari tungku yang terus menyala membantu proses pengeringan sekaligus membuat bahan makanan lebih awet untuk disimpan. Bagi masyarakat Batak masa lalu, dapur bukan sekadar tempat memasak. Dapur adalah pusat kehidupan keluarga, tempat berkumpul, berbagi cerita, dan menjaga persediaan pangan. Sale-salean menjadi bukti bahwa arsitektur tradisional Batak dibangun berdasarkan pengalaman, kebutuhan hidup, dan pengetahuan yang diwariskan dari generasi ke generasi. Warisan budaya tidak selalu berupa benda mewah. Kadang ia hadir dalam benda sederhana yang menjadi bagian dari kehidu...

avatar
Hokker
Gambar Entri
Eksplorasi Seni Ornamen Rumah Gadang: Simbolisme dan Warisan Budaya Minangkabau
Ornamen Ornamen
Sumatera Barat

Eksplorasi Seni Ornamen Rumah Gadang: Simbolisme dan Warisan Budaya Minangkabau Identitas dan Asal-Usul Seni ornamen Rumah Gadang merupakan manifestasi kebudayaan masyarakat Minangkabau yang berfungsi sebagai media penyampaian nilai-nilai filosofis dan tradisi leluhur [S1]. Ornamen ini bukan sekadar elemen dekoratif, melainkan representasi mendalam dari cara hidup dan pandangan dunia suku Minangkabau yang diwariskan secara turun-temurun [S1]. Keberadaannya menjadi jendela utama untuk memahami kekayaan warisan budaya yang melekat pada arsitektur tradisional di wilayah Sumatera Barat [S1]. Secara konseptual, eksplorasi terhadap seni ornamen ini merupakan upaya penyelidikan dan penemuan pengetahuan baru mengenai simbolisme yang terkandung di dalamnya [S2], [S5]. Kegiatan eksplorasi dalam konteks budaya ini melibatkan proses penjelajahan lapangan untuk memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif mengenai bentuk, makna, dan fungsi ornamen tersebut dalam kehidupan masyarakat [S4], [S...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Cerita Rakyat dari Jawa Tengah: Kisah Timun Mas
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
Jawa Tengah

Cerita Rakyat dari Jawa Tengah: Kisah Timun Mas Lead Kisah Di balik rimbunnya hutan Jawa Tengah, tersimpan sebuah narasi tentang keberanian yang melampaui usia. Kisah ini berpusat pada sosok gadis kecil bernama Timun Mas, yang namanya kini tak hanya dikenal sebagai tokoh dalam buku cerita anak-anak, tetapi telah menjadi bagian dari ingatan kolektif masyarakat Indonesia [S2], [S3]. Ia bukan sekadar karakter fiktif, melainkan simbol perjuangan yang gigih melawan ancaman raksasa yang hendak merenggut kebebasannya [S3], [S4]. Sebagai bagian dari kekayaan tradisi lisan yang diwariskan turun-temurun, legenda ini memiliki daya pikat yang tak lekang oleh waktu [S1], [S2]. Di wilayah Jawa Tengah, cerita ini sering pula disebut dengan nama Mentimun Emas, sebuah variasi penamaan yang menunjukkan betapa luasnya penyebaran kisah ini dalam berbagai versi di tengah masyarakat [S2], [S5], [S5]. Keberadaannya yang populer membuktikan bahwa narasi tradisional ini tetap hidup dan relevan, bahkan h...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Keris Jawa: Lebih dari Sekadar Senjata, Simbol Budaya dan Pusaka
Senjata dan Alat Perang Senjata dan Alat Perang
Jawa Tengah

Keris Jawa: Lebih dari Sekadar Senjata, Simbol Budaya dan Pusaka Identitas dan Asal-Usul Keris merupakan pusaka masyarakat Jawa yang memiliki bentuk khas dan makna filosofis mendalam [S1]. Senjata tradisional ini diakui sebagai simbol budaya Nusantara dengan nilai sejarah, seni, dan filosofi yang tinggi [S3]. Keris Jawa secara spesifik merupakan salah satu simbol budaya yang sangat penting dalam sejarah dan tradisi Jawa [S2, S7]. Pengakuan UNESCO terhadap keris sebagai warisan dunia menegaskan statusnya yang berasal dari zaman logam [S4]. Secara historis, keris tidak hanya berfungsi sebagai senjata tradisional untuk peperangan [S2, C2], tetapi juga sebagai benda pusaka warisan nenek moyang [C3]. Lebih dari itu, keris juga menjadi simbol spiritual, status sosial, dan warisan keluarga [C12]. Keris Jawa sendiri memiliki banyak jenis dengan fungsi dan makna yang berbeda, mencerminkan kekayaan tradisi yang menyertainya [C8]. Keberadaannya juga meluas sebagai alat perlengkapan dalam b...

avatar
Kianasarayu