Salah satu ritual adat yang wajib dihelat Keraton Mangkunegaran adalah malam pergantian tahun baru Jawa atau malam 1 suro. Prosesi acara biasa digelar sejak pukul 7 malam. Sesi Kirab Pusaka menjadi ritual utama dalam acara malam 1 suro. Kirab Pusaka pun ditandai dengan keluarnya 7 pusaka dari dalam istana. Ketujuh pusaka dibawa oleh para abdi dalem dan diapit dengan iring-iringan pembawa ratus atau wewangian. Selama dilangsungkannya prosesi kirab, para peserta dilarang menggunakan alas kaki dan mengeluarkan suara. Kirab pusaka akan memutari istana Mangkunegaran selama 1 kali atau sepanjang 3 kilometer.
Tradisi ini dilaksanakan pada saat akan melangsungkan pernikahan, tetapi yang melakukan tradisi ini hanya calon pengantin wanitanya saja, calon pengantin pria tidak melakukan tradisi ini. Tradisi mutih dilaksanakan sampai tiga hari, Calon pengantin wanita tidak di perbolehkan makan dengan lauk yang enak, mereka hanya di perbolehkan makan dengan nasi putih dan tahu yg tidak di goreng saja. bukan hanya mutih saja yang dilakukan tetapi calon pengantin tidak boleh di pertemukan satu sama lain, mereka di perbolehkan berkomunikasi dengan menggunakan hp saja tidak boleh berkomunikasi secara langsung. mereka dapat bertemu kembali setelah ijab qobul dilaksanakan. Tujuan mutih oleh calon pengantin wanita supaya bila di rias menjadi cantik jelita atau orang-orang jawa menyebutnya dengan manglingi dan supaya calon pengantin laki-laki menjadi terpesona setelah melihat wajah calon pengantin wanita. Sumber: http://blog.unnes.ac.id/aenunanisastuti/2017/12/03...
Tradisi ini dilaksanakan pada saat akhir tahun, warga berbondong-bondong membuat gunungan sedekah bumi yang isinya buah-buahan dan sayur-sayuran. Buah-buahannya seperti pisang, apel, jeruk, mangga, bengkuang, belimbing, jambu air dan sayur-sayurannya berupa terong, kacang panjang, tomat, cabe, timun, pare. Lalu di tengah tengah gunungan tersebut di taruh kepala sapi. Banyak warga yang membuat gunungan sedekah bumi, mereka sangat antusias dalam melaksanakan tradisi tersebut. Lalu gunungan sedekah bumi tersebut di angkut dengan menggunakan kapal-kapal besar, ada banyak kapal yang mengangkut, gunungan sedekah bumi tersebut akan di buang di tengah laut dengan menggunakan kapal-kapal tadi. Bapak-bapak, ibu-ibu serta anak-anakpun diperbolehkan untuk menaiki kapal-kapal tersebut. Setelah kapal-kapal tersebut kembali biasanya di sambut dengan tanggapan orjen-orjen dangdut. Banyak di sekitar pantai yang berjualan, ada yang berjualan pakaian, mainan, makan an dan minuman. B...
Rebo Wekasan atau bisa juga disebut Rebo Pungkasan merupakan salah satu tradisi masyarakat yang dilaksanakan pada hari Rabu terakhir di bulan Safar kalender lunar versi Jawa dengan tujuan untuk 'talak bala' (menolak bencana). Kegiatan yang dilakukan berkisar pada berdoa, Shalat Sunnah, bersedekah. Selain itu ada juga kegiatan mencukur beberapa helai rambut dan membuat bubur merah dan putih yang kemudian dibagikan kepada tetangga. Di Kabupaten Tegal tradisi Rebo Wekasan dilaksanakan di dua tempat, yaitu Kecamatan Suradadi dan Kecamatan Lebaksiu. Meskipun pada dasarnya mempunyai tujuan sama, tetapi ritual kegiatan yang dilaksanakan berbeda. Haul Desa Suradadi Saat Rebo Wekasan Di Desa Suradadi, yang terletak di jalur antara Tegal dan Pemalang sekitar 17 kilometer timur Kota Tegal, tradisi Rebo Wekasan dilaksanakan dengan cara menyelenggarakan Haul sebagai momentum mengenang kembali para ulama yang telah berjasa menyebarkan Islam di daerah tersebut. Hau...
Ilir merupakan kipas yang terbuat dari anyaman bambu melambangkan seseorang yang sudah berkeluarga agar dapat membedakan perbuatan baik dan buruk sehingga dapat mengambil keputusan yang bijak saat sudah berumah tangga. Sumber: http://ariskaputri88.blogspot.co.id/2016/03/kebudayaan-masyarakat-tegal-jawa-tengah.html
Cething adalah alat yang digunakan untuk tempat nasi yang terbuat dari bambu. Maksudnya bahwa manusia hidup di masyarakat tidak boleh semuanya sendiri tanpa mempedulikan orang lain dan lingkungannya. Manusia adalah makhluk sosial yang butuh orang lain. Sumber: http://ariskaputri88.blogspot.co.id/2016/03/kebudayaan-masyarakat-tegal-jawa-tengah.html
Centhong adalah alat untuk mengambil nasi pada saat disiangi, yang terbuat dari kayu atau hasil tempurung kelapa. Maksudnya seorang yang sudah berumah tangga mampu mengoreksi diri sendiri atau introspeksi sehingga ketika mendapatkan perselisihan antara kedua belah pihak (suami dan istri) dapat terselesaikan dengan baik. Selalu mengadakan musyawarah yang mufakat sehingga terwujudlah keluarga yang sejahtera, bahagia lahir dan batin. Sumber: http://ariskaputri88.blogspot.co.id/2016/03/kebudayaan-masyarakat-tegal-jawa-tengah.html
Cerita tentang Mardiyah tokoh legendaris asal Tegal yang kaya raya menurut sumber yang bisa dipertanggung jawabkan (menurut Dasuki Raswadi) adalah Hj. Mardiyah. Wanita kaya itu lahir sekitar tahun 1908 dan memiliki adik yang bernama Zainnudin Yasin, Zainurridho, Kapsah, dan A. Wahid. Beliau hidup dan meninggal di Desa Bandasari Kec. Dukuhturi Kab. Tegal. Dimakamkan di pemakaman umum Kemasanijo Bandasari Kec. Dukuhturi Kab. Tegal. Kekayaan yang dimilikinya antara lain beberapa hotel (konon memiliki hotel juga di Makkah), kapal untuk memberangkatkan jemaah haji. Mardiyah sendiri memiliki sosok tubuh agak kurus kecil kulit sawo matang namun tiap hari selalu memakai perhiasaan emas yang full (penuh) sekujur tubuhnya dan tidak pelit. Mardiah bangkrut karena anak laki-lakinya memiliki hobi berganti-ganti wanita dan rata-rata wanita yang bersamanya matre. Ditambah lagi suami Mardiah juga menikah kembali dengan Fatma. Akibat kakaknya dimadu, seluruh adik-adik Mardiah mulai menjauh d...
Suniarsih merupakan nama resmi dalam administrasi pemerintahan sedangkan sebagian masyarakat banyak yang menyebut dengan nama Simpar. Mengapa terjadi demikian? Karena pada mulanya desa Suniarsih sekarang merupakan gabungan dua Pedukuhan yaitu Suniarsih itu sendiri yang awalnya berada di sebelah barat tepatnya di lokasi sawah sekarang dengan Simpar yang berada di sebelah timur tepatnya di sekitar mata air kali Rambut. Nama Suniarsih di ambil dari nama seorang putri dari kerajaan Singosari di Jawa timur yaitu Dewi Suniarsih . Konon ceritanya beliau pergi dari istana karena akan di jodohkan dengan orang yang tidak dicintainya. Sepanjang perjalanannya beliau selalu membantu orang yang kesusahan terutama orang yang sakit. Ya selain seorang putri yang sangat cantik dia juga mempunyai keahlian dalam bidang pengobatan. Setelah sampai di sebelah barat wilayah desa (sawah Suniarsih sekarang) dia kemudian tinggal di sebuah rumah milik pasangan suami is...