Suniarsih merupakan nama resmi dalam administrasi pemerintahan sedangkan sebagian masyarakat banyak yang menyebut dengan nama Simpar. Mengapa terjadi demikian?
Karena pada mulanya desa Suniarsih sekarang merupakan gabungan dua Pedukuhan yaitu Suniarsih itu sendiri yang awalnya berada di sebelah barat tepatnya di lokasi sawah sekarang dengan Simpar yang berada di sebelah timur tepatnya di sekitar mata air kali Rambut.
Nama Suniarsih di ambil dari nama seorang putri dari kerajaan Singosari di Jawa timur yaitu Dewi Suniarsih. Konon ceritanya beliau pergi dari istana karena akan di jodohkan dengan orang yang tidak dicintainya. Sepanjang perjalanannya beliau selalu membantu orang yang kesusahan terutama orang yang sakit. Ya selain seorang putri yang sangat cantik dia juga mempunyai keahlian dalam bidang pengobatan.
Setelah sampai di sebelah barat wilayah desa (sawah Suniarsih sekarang) dia kemudian tinggal di sebuah rumah milik pasangan suami isri yang terkenal dengan sebuatan ki Makemdan Ni Makem. Di rumah itulah ia gunakan sebagai tempat istirahat dan digunakan untuk melayani pengobatan.
Karena terkenal kecantikan dan ahli dalam mengobati berbagai macam penyakit akhirnya banyak berdatangan orang-orang baik dari daerah sekitar maupun yang datang dari daerah yang jauh. Tujuan mereka sebagian ada yang ingin mempersuntingnya,tetapi dia selalu menolaknya dengan halus. Konon sampai akhir hayatnya tidak pernah menikah. Sedangkan bagi yang datang dengan tujuan untuk berobat di selalu berusaha mengobatinya dengan senang hati hingga sembuh.
Diantara orang-orang yang berdatangan tersebut banyak diantaranya akhirnya tinggal dan menetap di daerah ini. Mereka membangun rumah dan mempunyai keluarga hingga akhirnya terbentuklah sebuah pedukuhan yang ramai.
Karena yang pertama kali tinggal dan karena jasa-jasanya yang sangat banyak maka masyarakat menamai daerah tersebut dengan namanya yaitu Suniarsih.
Setelah sekian lama menjadi sebuah pedukuhan bahkan menjadi desa yang semakin ramai terjadilah musibah tanah longsor yaitu waktu di bawah pimpinan Bekel (sebutan Kepala Desa masa itu) bernama Cara. Pada waktu itu sang bekel sering mengadakan pesta Ronggeng dan pertunjukan wayang kulit yang merupakan larangan dari Dewi Suniarsih yang diwasiatkan di waktu hidupnya. Tanah longsor tersebut menyebabkan korban yang tak sedikit.
Melihat keadaan yang demikian membuat warga mempunyai gagasan untuk pindah dan mulai menyadari bahwa tanah yang mereka tempati ternyata tanah yang labil. Mereka mulai mencari tempat yang lebih aman. Sebagian besar diantara mereka berpindah ke sebelah barat pedukuhan Simpar masa itu (sekarang sekitar Masjid).Mereka kemudian berbaur dengan warga pedukuhan Simpar hingga sekarang menjadi satu desa dengan nama resmi desa Suniarsih.
Bagi sebagian besar masyarakat baik warga desa Suniarsih Sendiri maupun warga desa lainnya menyebut desa ini dengan sebutan Simpar. Bahkan nama pasar , terminal dan lainnya di sebut namanya dengan Simpar.Bahkan untuk trayek angkutanpun tidak ada yang menyebut Suniarsih melainkan Simpar.
Memang secara nyata bahwa yang disebut dengan desa Suniarsih sekarang adalah wilayah Simpar.
Simpar diambil dari nama seorang yang konon berasal dari Cirebon. Beliau orang yang pertama kali menetap di wilayah ini tepatnya di sebelah timur Kuburan Arca sekarang. Masyarakat menyebutnya dengan Mbah Simpur. Beliau terkenal sangat piawai dalam membuat aneka barang-barang dari besi.
Mbah Simpur juga terkenal seorang yang bijaksana dan ahli agama Islam. Sehingga banyak orang yang berguru padanya. Diantaranya ada yang tinggal dan menetap di daerah ini.
Mereka membuat bangunan untuk tinggal di sekitar mata air sungai Rambut. Karena semakin banyak yang membuat bangunan maka terbentuklah perkampungan yang di sebut dengan nama Simpar yang di ambil dari nama Mbah Simpur.
Sumber :
https://infotegal.com/2013/09/sejarah-asal-usul-desa-suniarsih/
Pengenalan Bekam, yang dalam bahasa Arab dikenal sebagai hijamah, adalah terapi tradisional yang sudah dikenal sejak ribuan tahun lalu. Terapi ini dilakukan dengan cara mengeluarkan darah kotor dari dalam tubuh melalui pemvakuman kulit. Di Bali, bekam menjadi salah satu metode pengobatan alternatif yang populer, dengan berbagai manfaat kesehatan yang dipercaya oleh masyarakat setempat. Terapi ini bukan hanya dianggap sebagai metode penyembuhan, tetapi juga memiliki nilai budaya yang dalam. Sejarah Sejarah bekam dapat ditelusuri hingga ke zaman Mesir Kuno, namun penggunaannya telah menyebar ke berbagai belahan dunia, termasuk Asia Tenggara. Di Indonesia, termasuk Bali, bekam telah menjadi bagian dari praktik pengobatan tradisional yang diwariskan dari generasi ke generasi. Dalam konteks masyarakat Bali, bekam sering kali dipadukan dengan spiritualitas dan ritual adat, menjadikannya lebih dari sekadar terapi fisik. Beberapa sumber menyebutkan bahwa terapi bekam telah digunakan di Bali s...
Pengenalan Bekam, yang dalam bahasa Arab dikenal sebagai hijamah, adalah terapi tradisional yang sudah dikenal sejak ribuan tahun lalu. Terapi ini dilakukan dengan cara mengeluarkan darah kotor dari dalam tubuh melalui pemvakuman kulit. Di Bali, bekam menjadi salah satu metode pengobatan alternatif yang populer, dengan berbagai manfaat kesehatan yang dipercaya oleh masyarakat setempat. Terapi ini bukan hanya dianggap sebagai metode penyembuhan, tetapi juga memiliki nilai budaya yang dalam. Sejarah Sejarah bekam dapat ditelusuri hingga ke zaman Mesir Kuno, namun penggunaannya telah menyebar ke berbagai belahan dunia, termasuk Asia Tenggara. Di Indonesia, termasuk Bali, bekam telah menjadi bagian dari praktik pengobatan tradisional yang diwariskan dari generasi ke generasi. Dalam konteks masyarakat Bali, bekam sering kali dipadukan dengan spiritualitas dan ritual adat, menjadikannya lebih dari sekadar terapi fisik. Beberapa sumber menyebutkan bahwa terapi bekam telah digunakan di Bali s...
NEGERI ANTARA: JEJAK PUTRO ALOH dan MANUSIA HARIMAU Karya: Mahlil Azmi Di pagi yang cerah, saat embun masih menempel di daun-daun dan suara burung hutan bersahut-sahutan, aku bersama seorang teman bernama Jupri memulai perjalanan menuju Gunung Alue Laseh, tujuan kami sederhana menangkap si kicau, burung cempala yang terkenal lincah dan bernilai mahal di kampung kami. Bekal kami pun tak seberapa: nasi, sedikit ikan asin, dan air secukupnya. Namun jarak yang jauh dan medan yang berat tak membuat semangat kami luntur. “Lil, kalau dapat cempala besar, kau traktir kopi ya,” kata Jupri sambil tertawa, memikul tasnya yang tampak lebih besar dari isinya. “Kau tenang saja, asal jangan kau makan burungnya duluan,” balasku. Kami tertawa, tawa ringan khas dua pemuda kampung yang belum tahu apa yang menanti di depan. Gunung kami memang bukan gunung biasa. Ia bagian dari hutan pegunungan Leuser di barat selatan Aceh. Di sana hidup binatang buas, termasuk sang raja hutan—harimau. Tapi ba...
Genggong merupakan alat musik tradisional khas Bali yang termasuk dalam jenis alat musik tiup. Alat musik ini terbuat dari bahan dasar bambu atau pelepah aren dan dimainkan dengan cara ditempelkan ke mulut, lalu dipetik menggunakan tali yang terpasang pada bagian ujungnya. Suara yang dihasilkan oleh genggong berasal dari getaran lidah bambu yang dipengaruhi oleh rongga mulut pemain sebagai resonator. Oleh karena itu, teknik memainkan genggong membutuhkan keterampilan khusus dalam mengatur pernapasan dan posisi mulut. Dalam kebudayaan Bali, genggong sering digunakan dalam pertunjukan seni tradisional maupun sebagai hiburan rakyat. Selain memiliki nilai estetika, alat musik ini juga mencerminkan kearifan lokal dan kreativitas masyarakat Bali dalam memanfaatkan bahan alam sekitar.
1. Rendang (Minangkabau) Rendang adalah hidangan daging (umumnya sapi) yang dimasak perlahan dalam santan dan bumbu rempah-rempah yang kaya selama berjam-jam (4–8 jam). Proses memasak yang sangat lama ini membuat santan mengering dan bumbu terserap sempurna ke dalam daging. Hasilnya adalah daging yang sangat empuk, padat, dan dilapisi bumbu hitam kecokelatan yang berminyak. Cita rasanya sangat kompleks: gurih, pedas, dan beraroma kuat. Rendang kering memiliki daya simpan yang panjang. Rendang adalah salah satu hidangan khas Indonesia yang paling terkenal dan diakui dunia. Berasal dari Minangkabau, Sumatera Barat, masakan ini memiliki nilai budaya yang tinggi dan proses memasak yang unik. 1. Asal dan Filosofi Asal: Rendang berasal dari tradisi memasak suku Minangkabau. Secara historis, masakan ini berfungsi sebagai bekal perjalanan jauh karena kemampuannya yang tahan lama berkat proses memasak yang menghilangkan air. Filosofi: Proses memasak rendang yang memakan waktu lama mela...