Susur adalah makanan wajib yang dibawa pada saat proses pinangan (oleh keluaraga pihak laki-laki). Susur berwarna putih yang berarti putih hati dengan maksud bahwa kedatangan pihak keluarga untuk meminang adalah di dasari dengan niat yang bersih. Susur biasanya disajikan dengan lemang. Jumlah susur pada saat meminang adalah 12 susur. Angka 12 adalah simbol dari niatan pinangan. Selain untuk pinangan, susur disajikan pada saat maulid dan Hari Raya Idul Fitri/ Idul Adha. Bahan makanan: - Beras (yang di tumbuk) - Gula (dari Nira) - Air perasan talas Sumber: https://warisanbudaya.kemdikbud.go.id/wbtb/?newdetail&detailCatat=6863
Payung mesikhat merupakan perlengkapan adat yag dibuat oleh suku bangsa Alas di kabupaten Aceh Tenggara dan dipergunakan untuk upacara adat tertentu antara lain, adat perkawinan, adat upacara peusijuk, adat upacara peseunat (sunat rasul), dan lan-lain. Payung ini dibuat dari kain hitam yang tidak tembus air. Pada kain tersebut dibuat sulaman yang mempunyai arti tertentu. Seperti payung pengantin, terdapat motif dan gambar yang menceritakan tentang perjalanan kehidupan dari masih lajang sampai meninggal. Payung ini melindungi pengantin dari sinar matahari, yang secara ritual mendandakan status sebagai raja dan ratu dari pasangan pengantin di hari spesial mereka Tiap kolom mempunyai ceritera tersendiri beserta dihiasi dengan ukiran-ukiran motif yang menarik. Bagian atas penuh dengan motif. Pada bagian tengah motif gambar bersambung, sedangkan bagian bawah dibuat bermacam-macam motif yang disesuaikan dengan keinginan atau permintaan para si pemesan ataupun tergantung kepada si pembuatn...
Bahan bakunya adalah kulit kerbau, hati kerbau, dan jeroan yang direbus dengan sedikit garam. Kemudian dirajang halus. Dicampurkan dengan bumbu yang juga sudah digiling halus. Serai, jahe, empan (andaliman), lengkuas, bawang merah, bawang putih, dan garam. Bumbu halus ini mentah, tidakk ditumis lagi sehingga rasanya segar. Rajangan halus bahan rebusan tadi, dicampurkan dengan bumbu, lalu ditambahi air perasan kayu weng (wing/ uweng) dan air jeruk. Kabarnya ini adalah hidangan khas dari wilayah Toa. Dan menjadi hidangan wajib saat hari raya. Sumber: http://helloacehku.com/8-masakan-yang-hanya-ada-di-dataran-tinggi-gayo/
Bahan-bahan 2 potong keumamah/daging ikan tuna besar yg direbus Ï dijemur (300 gr) 1 buah belimbing sayur 3 buah cabe ijo 1 buah kentang (sy skip) 2 siung bawang merah iris tipis 2 buah jeruk nipis 1 batang daun temurui (daun kari) 2 batang daun pandan (boleh diskip) secukupnya garam secukupnya minyak goreng bumbu halus: 1 sdm bawang merah giling (5-6 siung) 1/2 sdm bawang putih giling (2-3 siung) 1 sdm cabe merah giling (5 merah + 2 kering) 1/2 sdm cabe rawit ijo giling (8-10 buah) 1/2 sdm kunyit bubuk (2 ruas jari) 3/4 sdm ketumbar giling/bubuk 1/4 sdt merica giling/bubuk sejumput jintan ikan/hitam 1 sdm asam sunti giling (asam aceh/belimbing wuluh yg dijemur sampai kering) Langkah Ikan tuna besar, pisahkan kulit dan tulangnya, ambil dagingnya aja (Dipasar tinggal kita bilang aja, ga perlu repot filet sndr. Sy pun ga pandai file...
Di beberapa daerah, pliek-ue juga dikenal dengan nama patarana . Kalau orang Jawa melihat sayur ini, pastilah akan segera menduga bahwa sayur ini mirip sayur lodeh - hidangan sehari-hari masyarakat Jawa. Tetapi, begitu mencicipinya, akan segera tahu bahwa gulee pliek-ue sangat beda dari segi citarasa bila dibandingkan dengan lodeh. Yang jelas, bila lodeh memakai santan, maka gulee pliek-ue tidak memakai santan, melainkan memakai parutan kelapa yang sudah difermentasikan. Parutan kelapa "busuk" inilah yang sebenarnya disebut pliek-ue . Lagi-lagi, ini akan mengingatkan kita pada sayur lodeh yang dalam beberapa resep rumahan juga melibatkan penggunaan tempe "busuk". Di pasar tradisional di Aceh, aroma khas pliek-ue ini selalu menguar di mana-mana dan membuat kita lapar. Dalam proses memasaknya, pliek-ue ini direndam air sekitar sepuluh menit, kemudian ditiriskan. Selain berfungsi untuk melembabkan kembali (rehidrasi), perendaman...
Puteri Pukes tinggal di Kampung Nosar, sebuah kampung di daerah Aceh bagian tengah. Dia baru saja menikah dengan seorang lelaki dari Samar Kilang, yang berjarak cukup jauh dari Kampung Nosar. Lelaki baik hati itu adalah keturunan saudagar kaya. Sesuai adat Gayo, setiap perempuan yang menikah harus ikut ke kampung suaminya dan tinggal di sana selama-lamanya. Hal ini sungguh menyiksa perasaan Puteri Pukes. “Anakku, Ibu tahu perasaanmu. Engkau pasti merasa berat untuk meninggalkan kampung kita ini, juga meninggalkan ibu dan ayahmu,” ucap ibu Puteri Pukes sambil mendekati puteri semata wayangnya. Diusapnya kepala Puteri Pukes dengan perasaan sayang. Perasaan Puteri Pukes mulai bergejolak. Sebelumnya Puteri pernah mengutarakan keberatannya apabila menikah dan harus meninggalkan keluarganya. Tetapi hal ini adalah adat-istiadat mereka. Siapa yang menentang adat konon akan celaka. “Ibu, kalau aku pergi, siapa yang akan menjaga Ibu? Siapa yang akan...
Masyarakat Aceh membagi dapur ke dalam tiga tipe berdasarkan fungsi dan bentuknya. Ketiga tipe dapur tersebut adalah dapur rumah tangga, dapur umum dan dapur produksi. Dapur rumah tangga Dapur rumah tangga berfungsi sebagai tempat mengolah makanan yang diperlukan oleh anggota rumah tangga. Dapur rumah tangga hanya digunakan oleh anggota rumah tangga yang bersangkutan. Selain sebagai ruang untuk memasak makanan sehari-hari, dapur rumah tangga juga digunakan untuk memasak keperluan upacara yang diselenggarakan oleh rumah tangga. Sumber: http://melayuonline.com/ind/culture/dig/2612
Tayeun yang disebut di dalam istilah bahasa Aceh mempunyai makna kendi. Pada masyarakat Gayo menyebutnya labu. Pemberian nama terhadap kendi di Aceh didasarkan kepada bahan yang dibuatnya. Ada yang disebut teyeun tanah (kendi yang dibuat dari tanah liat) ada pula tayeun teumaga sejenis kendi yang bahannya dibuat dari tembaga. Tayeun mempunyai ukuran standar yang berisi sekitar sepuluh liter air ke atas. Bila kendi tersebut ukurannya kecil tidak lagi disebut tayeun, akan tetapi berubah namanya menjadi keutuyong. Tayeun teumaga berfungsi untuk mengangkut air dari perigi guna diisi ke dalam guci dan secara insidental dipergunakan pula sebagai tempat menyimpan air yang dipakai pada waktu memasak sehari-hari. Tayeun tanoh selain berfungsi seperti tayeun teumaga, masih mempunyai fungsi yang lain dalam kaitannya dengan masak-memasak. Tayeun tanoh sering dipakai untuk memasak nasi ketan dalam ukuran yang banyak, sedang dalam ukuran sedikit dimasak pada kanet...
Alat memasak tradisional lainnya yang terdapat dalam dapur rumah tangga tradisional yang terdapat di Aceh disebut sikin. Pada masyarakat gayo disebut lapah dan masyarakat Aneuk Jamee disebut sakin. Pengertiannya di dalam bahasa Indonesia adalah pisau. Di dalam masyarakat Aceh terdapat berbagai jenis pisau seperti sikin blati, sikin lipat, sikin mudroih, sikin panyang, sikin cut, dan lain-lain. Maka pisau yang dipergunakan di dapur umumnya dipakai sikin mandroih atau sikin cut, yang sering diistilahkan di dalam bahasa Indonesia dengan pisau dapur. Pisau dapur bentuknya seperti pisau belati dengan ukuran yang kecil. Sebuah pisau dibuat dari dua jenis bahan baku yang terdiri dari besi dan kayu. Untuk mata pisau dibuat dari besi sedangkan gagangnya dibuat dari kayu. Pisau dalam ukuran apapun besarnya harus dibuat oleh utoih (tukang) besi. Pisau dapur dalam kegiatan dapur sehari-hari dipergunakan untuk memotong sayursayüran, membersihkan ikan...