Kuliner Sari Kayo Sipuluik ini hampir ada di seluruh kabupaten dan kota di Sumatera Barat, hanya saja untuk kreasi tampilannya hampir berbeda, seperti yang ada di Kabupaten Limapuluh Kota, Sari Kayo Sipuluik nya disajikan secara terpisah. Untuk sari kayonya dibuat secara tradasional yakni dibungkus menggunakan daun pisang, lalu disajikan pula Sipuluik atau nasi ketan putihnya. Cara makannya, mengambil bagian Sari Kayo dengan Sipuluik sedikit demi sedikit, dan memakannya secara bersamaan. Sementara untuk membuat Sari Kayo ini yang dikenal dengan rasa manisnya itu, menggunakan bahan gula merah bersama santan kelapa. Rasa manis gula merah dimasak dengan putihnya santan kelapa. Perpaduan warna gula merah dan putihnya santan kelapa, melahirkan warna coklat yang bercita rasa yang manis, itu lah yang disebut dengan Sari Kayo. Sementara untuk di Ibu Kota Provinsi Sumatera Barat, yakni Kota Padang, juga memiliki jajanan yang disebut Sari Kayo Sipuluik, namun berbeda dengan Sari K...
Bahan: daging sapi 1/2 kg. Bumbu-bumbu: bawang merah 5 bh. bawang putih 4 siung lombok merah 12 bh. laos 1 pt. jae 1 pt. sereh 1 btg. daun jeruk purut 4 lbr. daun kunyit 1 lbr. asam kandis 7 bh. garam 1/2 sdm. Cara membuatnya: Daging dibersihkan, dipotong-potong. Bumbu dihaluskan kecuali laos dan sereh, daun jeruk, daun kunyit, asam kandis. Daging dicampur dengan bumbu-bumbu, ditambah air 2,5 gelas, direbus dampai dagingnya empuk dan airnya tinggal 1 gelas. Keterangan: Asam kandis dapat diganti dengan cuka. Sumber: Buku Mustika Rasa Sukarno, hlm. 374 TEMPAT RUMAH MAKAN: Restoran Sederhana, Jl. Ampera Raya No. 99 Jakarta Selatan, +(021) 78840042 Restoran Sederhana, Pasar Bendungan Hilir Los H Blok A 47/51 Jakarta Pusat, +(021) 5736810 / 5705049...
Bahan-bahan: ikan tongkol 1/2 kg. minyak goreng 3 sdm. Bumbu-bumbu: bawang merah 10 bh. bawang putih 3 siung lombok merah giling 1 sdm. jae 1 rsd. laos 1 iris kunyit 1 rsd. daun kunyit 1/2 hl. asam kandis 2 bh. asam 3 mata garam 1 sdm. Cara membuatnya: Ikan dibersihkan, dipotong 5, diberi asam dan garam. Bumbu digiling halus, kecuali daun kunyit dan asam kandis. Ikan, bumbu, minyak dan 1/2 gelas air sekaligus dimasak dalam panci dengan api kecil hingga empuk. Keterangan: Ikan tongkol dapat diganti dengan ikan laut lainnya. Sumber: Buku Mustika Rasa Sukarno, hlm. 374-375 TEMPAT RUMAH MAKAN: Restoran Sederhana, Jl. Ampera Raya No. 99 Jakarta Selatan, +(021) 78840042 Restoran Sederhana, Pasar Bendungan Hilir Los H Blok A 47/51 Jakarta Pusat,...
Bahan-bahan: daging 1/2 kg. minyak goreng 1 gls. Bumbu-bumbu: bawang merah 5 bh. lombok merah 1 ons tomat 1 bh. garam 2 sdm. Cara membuatnya: Daging dipotong seperti untuk dibikin dendeng, diberi garam dan diungkep. Bawang merah dan lombok merah digiling kasar bersama tomat. Bila daging telah kering, dimasukkan minyak goreng. Daging digoreng sebentar, ditumbuk, dan digoreng, hingga warna kuning. Bumbu ditumiskan dalam separo dari minyak, hingga matang. Daging dicampurkan ke dalam bumbu hingga rata, diangkat. Keterangan: Cara membuat seperti di atas menghasilkan dendeng yang basah. Dendeng kering didapat bila daging sebelumnya tidak diungkep tetapi dijemur. Bumbu dapat pula sebelum digiling digoreng dahulu atau direbus. Dengan cara ini warna bumbu akan menjadi lebih merah. Kecuali daging dapat digunakan: ikan, udang, telur, kentang...
Sungai Raya, secara geografis masih ada dalam tanah milik Sumatera Barat, namun budaya yang dipakai didesa ini adalah budaya dari batak lebih tepatnya Mandailing sebab seluruh warga didesa tersebut berasal dari mandailing dan semuanya memiliki marga. didesa tersebut ada sebuah ritual yang disebut "Marpangir", secara keseluruhan marpangir sama dengan ritual "Balimau" yang dilakukan warga sumatera barat pada umumnya. marpangir dapat diartikan sebagai mandi dengan air campuran dari jeruk nipis atau jeruk lainnya, hal tersebut dilakukan sehari sebelum ramadhan tiba, nilai filosopi yang terkandung adalah bahwa para warga ingin mensucikan diri sebelum kehadiran bulan ramadhan yang merupakan bulan suci dalam agama Islam. hampir seluruh orang melakukannya dan biasanya seluruh sungai akan ramai sebab dijadikan tempat mandi untuk warga, namun untuk sekarang pemuda tidak lagi ikut mandi mereka hanya berkumpul dengan teman atau lawan jenis mereka saja dan hanya itu tidak ada l...
S uatu hari, pasukan kerajaan Majapahit hendak menyerang kerajaan Pagaruyung, di Sumatera Barat. Tujuan mereka hendak memperluas daerah kekuasaan. Kabar itu terdengar oleh Raja Pagaruyung. Beliau segera mengumpulkan para pegawai istana untuk meminta pendapat. “Tuan-tuan sekalian, sebagaimana kita ketahui, prajurit Majapahit sudah sampai di Kiliran Jawo. Mereka sudah mendirikan tenda sebagai pusat pertahanan mereka di sana. Sebagai raja Pagaruyung, aku tidak ingin ada pertumpahan darah di kerajaanku. Apa yang harus kita lakukan?” tanya raja setelah semua pegawai istana berkumpul. Ruangan rapat yang dipenuhi beberapa orang laki-laki itu menjadi hening. Mereka semua terlihat berpikir keras. “Kita lawan saja menggunakan pasukan gajah dan kuda, yang mulia,” saran salah satu panglima. “Peperangan adalah kata terakhir yang harus kita lakukan. Apa kalian punya rencana lain selain peperangan? Aku ingin perdamaian. Tapi rasanya mungkin mereka tid...
Seusai akad nikah yang dilanjutkan dengan acara basandiang atau bersanding di kediaman mempelai wanita, bukan berarti rangkaian tradisi perayaan pengantin Minangkabau telah selesai. Ada sebuah acara lagi yang dikategorikan sebagai perhelatan besar dalam tata cara adat istiadat perkawinan di Minangkabau yakni Manjalang . Acara ini mungkin bisa disamakan dengan Ngunduh Mantu yang berlaku menurut adat Jawa. Pelaksanaan acara beserta siapa saja tamu yang akan diundang seluruhnya dilakukan oleh pihak keluarga mempelai pria. Pada beberapa nagari di Sumatera Barat, tradisi ini istilahnya berbeda-beda. Ada yang menyebut dengan Menjalang Mintuo , Mahanta Nasi , Manyaok Kandang atau Mahanta Nasi Katunduakan , Mahanta Bubue , dan lain-lain. Namun maksud tujuannya sama, yaitu kewajiban untuk melaksanakan tradisi adat setelah akad nikah dari pihak keluarga mempelai wanita kepada keluarga mempelai pria. Dalam tradisi Minang...
Dahulu kala, ada seorang pemuda tampan dan gagah bernama Datu Awang Sukma. Suatu hari, Datu Awang Sukma melihat ada 7 bidadari cantik sedang mandi di telaga. Para bidadari itu tidak tahu jika Awang Sukma sedang mengintip mereka dan membiarkan selendang mereka yang digunakan untuk terbang, bertebaran di sekitar telaga. Awang Sukma lalu mencuri salah satu selendang terbang milik bidadari itu. Selesai mandi para bidadari itu kemudian mengenakan selendangnya masing-masing dan bersiap-siap terbang pulang ke kayangan. Namun sayang, selendang milik Putri Bungsu sudah dicuri Awang Sukma, sehingga ia tak bisa terbang kembali ke kayangan. Dengan sedihnya keenam kakaknya pergi meninggalkannya sendirian di bumi. Datu Awang Sukma pun segera keluar menemui Putri Bungsu dan mengajaknya tinggal bersamanya. Karena tidak ada pilihan lain, maka Putri Bungsu akhrinya terpaksa menerima pertolongan Awang Sukma. Kemudian Putri Bungsu dinikahi Awang Sukma dan melahirkan seorang bayi...
Dulu, ada seorang ketua kampung yang tinggal di tepi sungai bernama Lebai. Ia sangat dikenal di seluruh kampung yang berada di hulu sampai hilir sungai tersebut. Suatu hari, Pak Lebai mendapat dua undangan pesta pernikahan yang bersamaan waktunya. Undangan pertama, rumahnya ada di hulu sungai, sedangkan undangan kedua, rumahnya di hilir sungai. Pesta di hulu akan memotong dua ekor kerbau, dan ia akan mendapat bagian dua kepala kerbau. Tapi, masakannya kurang enak dan ia kurang akrab dengan tuan rumahnya. Sedangkan pesta di hilir, hanya akan menyembelih satu ekor kerbau dan ia akan mendapat satu kepala kerbau saja. Namun masakannya sangat enak dan ia juga kenal baik dengan tuan rumahnya. Pak Lebai masih bingung. Ia pun pergi ke sungai mengayuh perahunya ke arah hulu. Pak Lebai masih berpikir, bahwa di sana ia akan mendapat dua kepala kerbau. Tapi di tengah jalan, ia berbalik arah menuju pesta di hilir. Tapi, setibanya di hilir, pesta telah usai. Kepala kerbau dan makanan...