Cerita Rakyat
Cerita Rakyat
Legenda Sumatera Barat Sumatera Barat
Asal Mula Nama Nagari Minang Kabau - Sumatera Barat - Sumatera Barat
- 28 Maret 2018

Suatu hari, pasukan kerajaan Majapahit hendak menyerang kerajaan Pagaruyung, di Sumatera Barat. Tujuan mereka hendak memperluas daerah kekuasaan. Kabar itu terdengar oleh Raja Pagaruyung. Beliau segera mengumpulkan para pegawai istana untuk meminta pendapat.

“Tuan-tuan sekalian, sebagaimana kita ketahui, prajurit Majapahit sudah sampai di Kiliran Jawo. Mereka sudah mendirikan tenda sebagai pusat pertahanan mereka di sana. Sebagai raja Pagaruyung, aku tidak ingin ada pertumpahan darah di kerajaanku. Apa yang harus kita lakukan?” tanya raja setelah semua pegawai istana berkumpul.

Ruangan rapat yang dipenuhi beberapa orang laki-laki itu menjadi hening. Mereka semua terlihat berpikir keras.

“Kita lawan saja menggunakan pasukan gajah dan kuda, yang mulia,” saran salah satu panglima.

“Peperangan adalah kata terakhir yang harus kita lakukan. Apa kalian punya rencana lain selain peperangan? Aku ingin perdamaian. Tapi rasanya mungkin mereka tidak akan mau berdamai,” ucap Raja sambil memegang keningnya. Beliau terlihat berpikir keras.

“Maaf yang mulia, bagaimana kalau kita minta para wanita kerajaan untuk menemui mereka? Kita utus tuan putri sebagai pemimpin pasukan wanita ini,” saran Penasehat Istana.

“Tugas mereka melakukan negosiasi damai. Semoga pasukan Majapahit, mau menerima utusan kita. Karena, hamba rasa, mereka pasti sungkan melawan pasukan wanita,” tambah Penasehat Istana.

“Usulanmu sangat bagus, penasehat,” ucap Raja sambil tersenyum. Beliau yakin, usul itu, akan berhasil. Setidaknya bisa menunda peperangan selama beberapa hari. Jika hal ini gagal, Raja akan berusaha mencari jalan lain selain perang.

“Pengawal, tolong panggil Puti Datuk Tantejo Garhano ke sini!” perintah Raja pada pengawalnya. Salah satu pengawal segera berlari ke ruangan tempat sang putri berada. Pengawal itu langsung meminta putri menghadap baginda raja di ruang pertemuan.

“Baiklah,” jawab Puti. Dia bergegas ke ruang pertemuan menemui ayahnya.

“Ananda, Puti, bersediakah kamu memimpin beberapa wanita untuk melakukan negosiasi ke sana?” tanya Raja setelah menjelaskan rencana beliau.

“Bersedia, Ayahanda,” jawab sang putri mantap.

Keesokan harinya, pasukan wanita yang dipimpin Puti Datuk Tantejo Garhano sudah sampai di Kiliran Jawo. Daerah perbatasan kerajaan Pagaruyung dengan kerajaan Majapahit. Sang putri mengajak serta beberapa dayang dan saudara perempuannya dari lingkungan istana. Mereka membawa makanan yang lezat sebagai hadiah.

Panglima perang kerajaan Majapahit terkejut melihat kedatangan pasukan kecil yang isinya wanita semua.

“Kenapa mereka menyuruh wanita berperang?” batin Raja Majapahit. Karena tak mau bingung terlalu lama, panglima menerima kehadiran mereka.

“Mohon ampun, Tuanku. Kedatangan kami ke sini ingin bernegosiasi.” Puti Datuk Tantejo pun menjelaskan maksud kedatangan mereka.

“Dengan ini, kami mohon agar tuanku bersedia mengganti peperangan dengan adu kerbau.” Puti mengakhiri diplomasinya.

Raja Majapahit terdiam. Lalu dia meminta waktu untuk berunding. Beberapa menit kemudian, Raja Majapahit pun membuat keputusan.

“Baiklah. Tantangan dari raja kalian, kami terima. Jika kerbau kami menang, maka kerajaan Pagaruyung akan menjadi kekuasaan Majapahit. Jika kami kalah, maka kami bersedia meninggalkan kerajaan Pagaruyung.”

Puti Datuk Tantejo Garhano senang mendengarnya. Mereka membuat kesepakatan tentang waktu dan tempat dilaksanakannya adu kerbau. Mereka tidak menentukan jenis kerbau yang akan digunakan dalam pertandingan.

Lalu pasukan wanita itu kembali ke istana mereka. mereka melapor pada Raja. Raja Pagaruyung segera memerintahkan pengawal untuk mencari anak kerbau yang masih menyusu.

Hari yang ditentukan pun tiba. Hampir seluruh rakyat Pagaruyung hadir menyaksikan pertandingan itu. Demikian juga dengan pasukan Kerajaan Majapahit. Mereka  membawa kerbau berukuran besar dan kuat ke dalam arena lomba. Mereka yakin, kerbau mereka yang akan memenangkan pertandingan.

Panglima perang Pagaruyung segera mengeluarkan kerbau andalannya. Kerbau kecil itu dibiarkan lapar dan tidak menyusu sebelum pertandingan. Semua penonton terkejut melihat ukuran kerbau yang dibawa panglima.

“Kenapa kerbau kecil yang dibawanya? Apa Raja ingin kita kalah?” gerutu beberapa penonton.

Ketika masuk arena pertandingan, anak kerbau mengamuk karena lapar. Panglima dan beberapa prajurit terlihat kesulitan menahan amukan kerbau kecil.

Peluit panjang tanda pertarungan pun ditiup. Panglima Pagaruyung melepas anak kerbau yang sudah sangat kelaparan. Anak kerbau itu melesat menuju kerbau besar yang dikira induknya. Dia langsung mencari susu di bagian perut kerbau besar. Kerbau besar jadi bingung dan berputar-putar untuk menyerang kerbau kecil. Karena lelah berputar, kerbau besar pun tumbang.

Semua rakyat pagaruyung bersorak gembira menyambut kemenangan itu. Mereka meneriakkan yel-yel, “Manang Kabau! Manang Kabau!”

Sejak saat itu Kerajaan Pagaruyung dan sekitarnya dikenal dengan nama Nagari  Minang Kabau.

 

 

Sumber: http://indonesianfolktales.com/id/book/asal-mula-nama-nagari-minangkabau/

Diskusi

Silahkan masuk untuk berdiskusi.

Daftar Diskusi

Rekomendasi Entri

Gambar Entri
Negeri antara: Jejak Putro aloh dan Manusia Harimau
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
Aceh

NEGERI ANTARA: JEJAK PUTRO ALOH dan MANUSIA HARIMAU Karya: Mahlil Azmi Di pagi yang cerah, saat embun masih menempel di daun-daun dan suara burung hutan bersahut-sahutan, aku bersama seorang teman bernama Jupri memulai perjalanan menuju Gunung Alue Laseh, tujuan kami sederhana menangkap si kicau, burung cempala yang terkenal lincah dan bernilai mahal di kampung kami. Bekal kami pun tak seberapa: nasi, sedikit ikan asin, dan air secukupnya. Namun jarak yang jauh dan medan yang berat tak membuat semangat kami luntur. “Lil, kalau dapat cempala besar, kau traktir kopi ya,” kata Jupri sambil tertawa, memikul tasnya yang tampak lebih besar dari isinya. “Kau tenang saja, asal jangan kau makan burungnya duluan,” balasku. Kami tertawa, tawa ringan khas dua pemuda kampung yang belum tahu apa yang menanti di depan. Gunung kami memang bukan gunung biasa. Ia bagian dari hutan pegunungan Leuser di barat selatan Aceh. Di sana hidup binatang buas, termasuk sang raja hutan—harimau. Tapi ba...

avatar
Mahlilazmi_02
Gambar Entri
Genggong
Alat Musik Alat Musik
Bali

Genggong merupakan alat musik tradisional khas Bali yang termasuk dalam jenis alat musik tiup. Alat musik ini terbuat dari bahan dasar bambu atau pelepah aren dan dimainkan dengan cara ditempelkan ke mulut, lalu dipetik menggunakan tali yang terpasang pada bagian ujungnya. Suara yang dihasilkan oleh genggong berasal dari getaran lidah bambu yang dipengaruhi oleh rongga mulut pemain sebagai resonator. Oleh karena itu, teknik memainkan genggong membutuhkan keterampilan khusus dalam mengatur pernapasan dan posisi mulut. Dalam kebudayaan Bali, genggong sering digunakan dalam pertunjukan seni tradisional maupun sebagai hiburan rakyat. Selain memiliki nilai estetika, alat musik ini juga mencerminkan kearifan lokal dan kreativitas masyarakat Bali dalam memanfaatkan bahan alam sekitar.

avatar
Yogaxd
Gambar Entri
Dari Rendang Hingga Gudeg: 10 Mahakarya Kuliner Indonesia yang Mengguncang Lidah
Makanan Minuman Makanan Minuman
DKI Jakarta

1. Rendang (Minangkabau) Rendang adalah hidangan daging (umumnya sapi) yang dimasak perlahan dalam santan dan bumbu rempah-rempah yang kaya selama berjam-jam (4–8 jam). Proses memasak yang sangat lama ini membuat santan mengering dan bumbu terserap sempurna ke dalam daging. Hasilnya adalah daging yang sangat empuk, padat, dan dilapisi bumbu hitam kecokelatan yang berminyak. Cita rasanya sangat kompleks: gurih, pedas, dan beraroma kuat. Rendang kering memiliki daya simpan yang panjang. Rendang adalah salah satu hidangan khas Indonesia yang paling terkenal dan diakui dunia. Berasal dari Minangkabau, Sumatera Barat, masakan ini memiliki nilai budaya yang tinggi dan proses memasak yang unik. 1. Asal dan Filosofi Asal: Rendang berasal dari tradisi memasak suku Minangkabau. Secara historis, masakan ini berfungsi sebagai bekal perjalanan jauh karena kemampuannya yang tahan lama berkat proses memasak yang menghilangkan air. Filosofi: Proses memasak rendang yang memakan waktu lama mela...

avatar
Umikulsum
Gambar Entri
Ayam Ungkep
Makanan Minuman Makanan Minuman
Jawa Barat

Ayam goreng adalah salah satu menu favorit keluarga yang tidak pernah membosankan. Namun, jika kamu ingin mencoba variasi yang lebih gurih dan harum, ayam goreng bawang putih renyah adalah pilihan yang tepat. Ciri khasnya terletak pada aroma bawang putih yang kuat serta kriukannya yang renyah saat digigit. Resep ini juga sangat mudah dibuat, cocok untuk menu harian maupun Bahan-Bahan Bahan Ayam Ungkep ½ kg ayam (boleh potong kecil agar lebih cepat matang) 5 siung bawang putih 4 siung bawang merah 1 sdt ketumbar bubuk 1 ruas kunyit (opsional untuk warna) Garam secukupnya Kaldu bubuk secukupnya Air ± 400 ml Bahan Kriuk Bawang 5–6 siung bawang putih, cincang halus 3 sdm tepung maizena ¼ sdt garam ¼ sdt lada Minyak banyak untuk menggoreng Cara Membuat Ungkep ayam terlebih dahulu Haluskan bawang putih, bawang merah, kunyit, dan ketumbar. Tumis sebentar hingga harum. Masukkan ayam, aduk rata, lalu tuang air. Tambahkan garam dan kaldu bubuk. Un...

avatar
Apitsupriatna
Gambar Entri
Resep Ayam Ungkep Bumbu Kuning Cepat, Praktis untuk Masakan Harian
Makanan Minuman Makanan Minuman
Jawa Barat

Ayam ungkep bumbu kuning adalah salah satu menu rumahan yang paling praktis dibuat. Rasanya gurih, aromanya harum, dan bisa diolah lagi menjadi berbagai hidangan seperti ayam goreng, ayam bakar, hingga pelengkap nasi kuning. Keunggulan lainnya, resep ini termasuk cepat dan cocok untuk kamu yang ingin memasak tanpa ribet namun tetap enak. Berikut resep ayam ungkep bumbu kuning cepat yang bisa kamu coba di rumah. Bahan-Bahan ½ kg ayam, potong sesuai selera 4 siung bawang putih 5 siung bawang merah 1 ruas kunyit 1 ruas jahe 1 ruas lengkuas (geprek) 2 lembar daun salam 2 lembar daun jeruk 1 batang serai (geprek) 1 sdt ketumbar bubuk (opsional) Garam secukupnya Kaldu bubuk secukupnya Air ± 400–500 ml Minyak sedikit untuk menumis Cara Membuat Haluskan bumbu Blender atau ulek bawang merah, bawang putih, kunyit, jahe, dan ketumbar bubuk (jika dipakai). Semakin halus bumbunya, semakin meresap ke ayam. Tumis bumbu hingga harum Panaskan sedikit m...

avatar
Apitsupriatna