Banten merupakan provinsi yang baru lahir pada tahun 2000 hasil pecahan dari Provinsi Jawa Barat. Sebagai provinsi yang baru terbentuk, tentu saja kebudayaannya merupakan hasil dari adaptasi kebudayaan Jawa Barat. Selain itu, budaya Banten pun juga dipengaruhi oleh daerah lain, seperti Sumatra. Hal ini dikarenakan, Banten merupakan sebuah kota pelabuhan yang sangat maju pada zaman dahulu sehingga memungkinkan terjadinya pertukaran, asimilasi, dan akulturasi budaya. Baju tradisional Banten juga merupakan hasil adaptasi dari daerah lain, terutama Jawa Barat. Hal ini dapat diketahui dari motif dan corak dari pakaian adat Banten yang memiliki banyak kemiripan dengan Jawa Barat (Suku Sunda). Secara umum, busana adat Banten terbagi menjadi tiga berdasarkan fungsinya. Diantaranya adalah pakaian adat pengantin, baju pangsi, dan pakaian adat Baduy (salah satu suku yang mendiami wilayah Banten). Berikut ini penjelasannya: 1. Pakaian Adat P...
Masyarakat Tionghua yang sudah bergenerasi-generasi di Tangerang Kota sering disebut dengan panggilan Ciben yang memiliki kepanjangan Cina Benteng. Cina Benteng memiliki tradisi dan budaya yang merupakan gabungan dari tradisi Cina dan juga tradisi setempat, tradisi Betawi. Karena itu banyak budaya Ciben yang terlihat seperti campuran. Salah satunya adalah pakaian adatnya. Pakaian adat Ciben untuk pria berupa baju koko hitam dan celana panjang, juga di sertai topi yang menyerupai caping. Sedangkan untuk perempuan memiliki nama hwa kun (dari bahasa hokkien). Hwa kun merupakan blus, bawahan lengkap, hiasan kepala dan tirai penutup wajah. Selain Hwa Kun, Kebaya Encim juga sering digunakan oleh perempuan Ciben. OSKMITB2018
Suku Badui tak jarang kita temui di wilayah Banten. Biasanya mereka berpakaian hitam dan berjalan tanpa menggunakan alas kaki. Mereka menyebut diri mereka Urang Kanekes atau Orang Kanekes yang mengacu pada nama wilayah mereka “Kanekes”. Bermukim di kaki pegunungan Kendeng di desa Kanekes, Kabupaten Lebak, Rangkasbitung, Banten, populasi Urang Kanekes berjumlah sebesar 26.000 jiwa. Mereka hidup dengan mengisolasi diri dari pengaruh dunia luar dan menjaga cara hidup tradisional mereka. Suku yang termasuk dari etnis Sunda ini dibagi menjadi dua kelompok, yaitu Badui Luar dan Badui Dalam. Suku Badui Luar lebih membuka dirinya terhadap pengaruh dari luar. Mereka sudah mengenal teknologi berupa barang elektronik, berpakaian lebih modern, dan beberapa sudah memeluk agama Islam. Masyarakat Badui Luar berciri khas mengenakan pakaian dan ikat kepala berwarna hitam. Sementara itu, Orang Kanekes Dalam adalah mereka yang masih sangat memegang adat istiadat dari nenek moyang m...
seperti yang kita ketahui bahwa negara Indonesia yang kita cintai ini terdiri dari berbagai suku, golongan dan ras yang berbeda-beda. salah satu faktor yang menyebabkan keberagaman ini adalah perbedaan daerah dari tempat tinggal masyarakat Indonesia itu sendiri. masyarakat Indonesia tersebar dari Sabang sampai Merauke, maka tidak heran jika negara yang kita cintai ini memiliki berbagai budaya yang berbeda-beda dengan asal daerah yang berbeda pula. terkait dengan hal tersebut, saya akan membahas salah satu budaya yang ada di kota Tangerang yang menjadi tempat tinggal saya yaitu berupa makanan. mungkin dalam hal ini, ada sedikit perbedaan isi artikel saya dengan yang lainnya yang berkaitan dengan makanan, karena makanan yang akan saya bahas ini berupa penembah rasa yang kerap kali dipakai dan menjadi ciri khas dari masyarakat kota Tangerang. mungkin ada beberapa dari kita yang belum mengetahui kecap khas kota Tangerang yang sangat terkenal serta disukai oleh masyarakat setempat. s...
Ngiring pengantin adalah suatu tradisi nenek moyang yang masih di laksanakan oleh masyarakat kota Cilegon, salah satunya adalah warga kecamatan Ciwandan. Ngiring pengantin bertujuan untuk keselamatan dan kelanggengan sepasang pengantin. Tradisi itu dilaksanakan pada saat malam resepsi pernikahan kedua mempelai. Ngiring pengantin bukanlah tarian untuk mengiring sepasang pengantin ke pelaminan, namun ngiring pengantin adalah tradisi untuk mengantar pengantin wanita. Proses ngiring pengantin dimulai saat malam resepsi pernikahan. Pengantin wanita diiringi oleh warga dengan berjalan kaki untuk menjemput pengantin pria di rumahnya. Jika rumah pengantin pria jauh, mempelai pria dapat di jemput di rumah saudara mempelai pria. Setelah mempelai wanita dan pria bertemu, mereka berjalan bersama dengan bergandengan tangan menuju rumah pengantin perempuan dan diiringi oleh alat musik tradisional, yaitu kendang. Sesampainya di rumah mempelai wanita, ada prosesi yalil atau buka tutup pintu. pr...
Apakah itu Tari Cokek? Tari Cokek merupakan tarian yang berasal dari budaya Betawi tempo dulu. Dewasa ini orkes (gambangkromong) biasa digunakan untuk mengiringi tari pertunjukan kreasi baru, seperti tari Sembah Nyai, Sirih Kuning dan sebagainya, di samping sebagai pengiring tari pergaulan yang disebut tari cokek. Tari cokek ditarikan berpasangan antara laki-laki dan perempuan. Tarian khas Tangerang ini diwarnai budaya Tiongkok. Penarinya mengenakan kebaya yang disebut cokek. Tarian cokek mirip sintren sinetron dari Cirebon atau sejenis ronggeng di Jawa Tengah. Tarian ini kerap identik dengan keerotisan penarinya, yang dianggap tahu oleh sebagian masyarakat. Pembukaan pada tari cokek ialah wawayangan. Penari cokek berjejer memanjang sambil melangkah maju mundur mengikuti irama gambang kromong. Rentangan tangannya setinggi kepala meningkah gerakan kaki. Setelah itu mereka mengajak tamu untuk menari bersama, dengan mengalungkan selendang. pertama-tama kepada tamu...
1. Dayung Sampan Lagu ini diciptakan oleh Osman Ahmad. Lagu ini cukup terkenal di daerah Banten. Lagu ini pernah dimasukkan ke dalam film yang berjudul Aloha. Lagu ini menceritakan tentang kehidupan nelayan dan biduan. Adapun lirik lagu tersebut yaitu: Dayung Sampan Mencari Ikan Ikan Di cari Hai Nelayan Ditengah Muara Kalau Tuan Mencari Makan Cari Makan Jual Suara Menjual Suara Lay lay la la la la lay menjual suara lay lay laylay lay lay lay lay lay lay lay lay Dayung dayung dayung dayung dayung sampan Dayung sampan sampan didayung sampan Didayung hai nelayang ke tengah lautan Kalau tuan mencari jodoh Jangan mencari hai nalayan hai nelayan Lay layLay lay la la la la lay hai nelayan Lay lay laylay lay lay lay lay lay lay lay lay Dayung dayung dayung dayung dayung sampan #OSKMITB2018 Dayung sampan mencará&...
Mapag Penganten merupakan ritual yang sudah cukup terkenal di tanah Sunda dan sekitarnya. Dalam Bahasa Sunda, Mapag artinya menentang dan Penganten artinya ya penganten jadi dalam bahasa kasarnya kedua belah pohak saling berhadapan atau "menentang". Mapag Pengantin dilakukan sebelum akad pernikahan yang biasa dilakukan warga Tangerang Selatan dimana pihak pengantin laki-laki disambut meriah oleh pihak pengantin perempuan dengan sambutan yang spesial. Pihak pengantin laki-laki akan disuguhi tarian yang merupakan bentuk penghormatan dan penerimaan yang paling dalam oleh pihak pengantin perempuan kepada tamu spesial yakni pihak pengantin laki-laki. Mapag Pengantin ini dilakukan sebelum akad pernikahan dilakukan oleh pihak mempelai pengantin. Pakaian yang digunakan juga merupakan pakaian adat Jawa Barat dan sekitarnya karena daerah Tangerang Selatan masih memiliki banyak kesamaan adat dengan Jawa Barat
Ngalaksa adalah sebuah ritual lanjutan/pasca upacara Kawalu. Dalam upacara ini, masyarakat melakukan berbagai kegiatan dan ritual untuk membuat laksa, sebuah makanan adat yang berbentuk mie namun terbuat dari tepung beras. Ritual ini wajib diikuti oleh seluruh Masyarakat Baduy, sehingga keterlibatan masing-masing individu sangatlah dijunjung tinggi di dalam ritual sakral ini. Kesempatan ini juga dimanfaatkan oleh pemimpin daerah untuk menjadi sarana sensus penduduk. Jumlah warga, termasuk bayi dan janin yang masih dalam kandungan dihitung satu per satu sehingga kepala desa atau pemimpin lokal dapat mengontrol laju pertumbuhan penduduk. Setelah upacara Kawalu dan Ngalaksa dilaksanakan, rangkaian ritual akan ditutup dengan upacara Seba. #OSKMITB2018