Bahan-bahan 1 lembar lidah buaya ukuran besar dan tebal 1 lembar daun pandan sesuai selera Gula pasir Lemon sesuai selera Garam Langkah ( 30 menit) Satu lembar lidah buaya ukuran besar dan tebal, kupas, potong kecil tipis Cuci bersih smpe lendir hilang, cucinya di air mengalir Rebus lidah buaya, kasih daun pandan biar wangi, kasih garam Saring, buang airnya. Rebus gula pasir (takaran sesuai selera), masukin lagi lidah buaya dan daun pandan tadi Kalau udah mendidih, dinginin. Kasih sirup (boleh pake boleh gak), kasih lemon. Jadii deh! Sumber : https://cookpad.com/id/resep/894238-es-lidah-buaya-lemon
“Bura’, ayo kita pergi menangkap ikan!” seru Uhit Miou. Bura’ kaget. Dia sedang melamun di dekat jendela rumahnya.“Eh? Apa, Uhit Miou?” “Ayo kita pergi tangkap ikan! Ke Lluting sungai Sulling,” ulang Uhit Miou. Mereka berdua pun berangkat. Sejak kecil, mereka sering mengunjungi tempat ini. Mereka tahu tempat ikan dan udang berkumpul. Sebentar saja Bura’ sudah menangkap banyak ikan. Sedangkan Uhit Miou belum mendapat seekor pun. Ah, kasihan Uhit Miou. Nanti akan kubagi saja hasil tangkapan ini dengannya, batin Bura’. Namun, rupanya Uhit Miou merasa kesal. Timbul rasa iri di hatinya. Tiba-tiba, Bura’ berhenti. “Ada apa?” tanya Uhit Miou. “Lihat, tak terasa kita sudah jalan sejauh ini. Sekarang kita ada di dekat air terjun,” jelas Bura’ sambil berjalan menjauhi air terjun. Uhit Miou mencoba melongok dari dekat. “...
Home » Cerita Rakyat Kalimantan Barat » Asal Mula Nama Sintang Monday, 10 October 2016 Cerita Rakyat Kalimantan Barat Asal Mula Nama Sintang Alkisah Rakyat ~ Sungai Kapuas di propinsi Kalimantan Barat merupakan sungai yang terbesar dan terpanjang. Sungai ini merupakan urat nadi kehidupan rakyat di daerah itu sejak berabad-abad lamanya. Sungai ini menghubungkan daerah pedalaman Kalimantan dengan daerah-daerah pesisirnya. Salah satu kota yang terletak di ujung pedalaman sungai Kapuas adalah Kota Sintang, Kota Sintang terletak diatas tanah jepitan dua buah sungai. Sebelah kanan dengan sungai Melawi dan sebelah kiri dengan sungai Kapuas. Daerah ini disebut juga daerah Tanjung Puri. Dulunya kota Sintang terletak di seberang kanan hilir sungai Kapuas. Nama Sintang pada mulanya menurut istilh/bahasa suku-bangsa Dayak yang mendiami daerah sungai Kapuas pedalaman, bernama "SENENTANG." Karena sekitar dae...
Istana Amantubillah merupakan nama istana dari Kerajaan Mempawah. Nama Amantubillah berasal dari bahasa Arab, yang berarti “Aku beriman kepada Allah”. Istana yang didominasi oleh warna biru muda ini terletak di Jalan Adiwijaya RT.04 RW.12 Kelurahan Pulau Pedalaman, Kecamatan Mempawah Timur, Kabupaten Pontianak, Provinsi Kalimantan Barat. Berdasarkan catatan sejarah, Istana Amantubillah dibangun pada masa pemerintahan Gusti Jamiril pada tahun 1761. Setelah Gusti Jamiril dinobatkan menjadi raja di Kerajaan Mempawah untuk menggantikan ayahandanya yang bernama Upu Alinu Malinu Daeng Menambon yang kelak ketika menjadi raja bergelar Pangeran Mas Surya Negara. Saat Gusti Jamiril diangkat menjadi Raja Mempawah, beliau menyandang gelar sebagai Panembahan Adiwijaya Kesuma Jaya yang berkuasa atas seluruh rakyat yang berada di daerah Kerajaan Mempawah. Belum berapa lama usai Gusti Jamiril dinobatkan menjadi Raja Mempawah, atas nasihat Mufti K...
Lagu dengan judul "Insanak" ini berisikan tentang suasana hati seorang perempuan yang di satu sisi sedang berbunga-bunga karena jatuh cinta namun di sisi lain dia seperti kesal karena dia dengan mudahnya jatuh hati pada seorang pemuda yang baru dikenal olehnya. Berikut adalah lirik dari lagu daerah Sambas yaitu "Insanak" Lirik Lagu Insanak insanak bukan tappi jak barro' kannal ngape atiku tang sayang-sayang inyan insanak bukan tappi jak barro' kannal ngape atiku tang sayang-sayang inyan barro' lah ngan biak itto' nang rase kanna' di ati barro' lah ngan biak itto' nang rase kanna' di ati dari simari ku liat die jak gaiyye jua' dari simari ku liat die jak gaiyye jua' gaimane lah udde' gaimane lah udde' ndak tau, ndak tau rassenye ndak tau, ndak tau rassenye insanak bukan tappi jak barro' kannal ngape atiku tang sayang-sayang inyan insanak bukan tappi jak barro' kannal...
burung ruai ? burung apa itu. burung ruai adalah salah satu hewan endemik yang berasal dari kalimantan barat. burung ini terkenal akan keindahannya. seperti apasih burungnya ? jadi ada sebuah legenda dari mana burung ruai berasal. mau baca ? silahkan baca cerita di bawah ini. pada zaman dahulu tinggallah seorang raja yang memiliki tujuh orang putri. raja tersebut suda tidak memiliki istri lagi semenjak terakhirkali ia ditingga oleh permaisurinya di istana. dari seluruh putrinya, sang raja sangat menyayangi si bungsu. sang raja sangat menyayangi putri bungsunya dikarenakan si bungsu merupakan pribadi yang rajin, baik, suka menolong dan taat kepada orang tuanya. hal tersebutlah yang membedakannya dari keenak kakaknya. karena kasih sayang sang raja, keenam putri itupun iri dan merasa tidak senang dengan si bungsu dan perlahan lahan perasaan itu pun berubah menjadi rasa benci. suatu hari raja sedang pergi dan tidak ada di tempat. pada saat itu kebencian dari para sau...
Pada jaman dahulu, ada sebuah kerajaan milik orang-orang suku Dayak yang bernama Kembang Sari di pedalaman Binua Bantanan sebelah timur Kota Sekura, Ibukota Kecamatan Teluk Keramat, Kabupaten Sambas. Raja pemimpin kerajaan itu memiliki tujuh orang putri. Namun sayang, ibu dari anak-anaknya itu meninggal dunia saat si Bungsu masih kecil. Di antara ketujuh putri raja, anak yang paling bungsu adalah yang tercantik. Selain rupawan, si Bungsu juga memiliki budi pekerti yang luhur, rajin, suka menolong, dan taat kepada orang tua. Lain halnya dengan keenam kakaknya, perilaku mereka amat buruk. Mereka memiliki sifat angkuh, pemalas, dan suka membantah. Tidak mengherankan jika sang Ayah lebih sayang dan memanjakan si Bungsu. Rupanya, perlakuan sang Ayah terhadap si Bungsu membuat keenam kakaknya menjadi iri hati dan benci kepada adiknya. Setiap kali sang Ayah tidak berada di istana, mereka melampiaskan kebenciannya kepada si Bungsu dengan memerintahnya sesuka hati mereka. Bahkan, mer...
Dikisahkan hiduplah dua gadis kakak beradik. Si sulung bernama PUTRI ANAM, sedangkan adiknya bernama PUTRI BUSSU. Keduanya mempunyai sifat yang berbeda. Putri Anam gadis pemalas, serakah, dan tidak sabar, sedangkan Putri Bussu adalah gadis yang rajin, sabar, cerdik, dan luhur budi pekertinya. Suatu siang yang terik, Putri Bussu sedang duduk di teras rumah sambil mengipas-ngipas wajahnya karena kepanasan. Tanpa diduga, tiba-tiba kipasnya diterbangkan angin hingga tersangkut di atas pohon jeruk di halaman rumah PAK HARTAWAN, tetangganya. Maka, cepat-cepatlah ia mengejar kipas itu. Rupanya, kipas itu tersangkut di dahan pohon jeruk yang paling tinggi. Karena ia tidak kuat memanjat, ia pun bermaksud untuk meminta bantuan kepada Pak Hartawan. “Permisi…! Permisi… Pak Hartawan !“ teriak Putri Bussu di depan pintu rumah Pak Hartawan. Tak berapa kemudian, Pak Hartawan pun keluar dari dalam rumahnya. “Ada apa, Putri Bussu? Ada yang bisa saya bantu?&rd...
Konon menurut cerita orang-orang, nun dahulu kala di Gunung Pelanjau berdiamlah sebuah keluarga yang rukun dan bahagia. Sang suami bernama Nek Jage, sedangkan istrinya bernama Nek Sari. Mereka tinggal bersama anak dan menantunya. Anaknya bernama Amat dan menantunya bernama Minah. Di dalam keluarga itu, terdapat seorang cucu laki-laki yang lucu dan teramat manja, namanya Maman. Nek Jage dan istrinya sangat sayang pada cucunya itu. Begitu besar perhatian Nek Jage terhadap cucunya yang manis dan imut itu. Sehingga apa saja yang diminta oleh cucunya, Nek Jage selalu berusaha mencarinya demi kebahagiaan cucu satu-satunya itu. Orang bilang cucu semata wayang memang disayang. Pada suatu hari Nek Jage akan pergi berburu ke hutan. Ia bangun pagi-pagi sekali (dini hari sekitar jam 02-an), sebelum burung-burung berkicau dan ayam berkokok, dan sebelum sang surya mengintip di balik Gunung Pelanjau. Segala peralatan berburu segera disiapkan oleh Nek Jage. Sedangkan Nek Sari mempersiapkan bekal...