Produk Arsitektur
Produk Arsitektur
Istana Kalimantan Barat Pontianak
Istana Amantubillah
- 16 Juli 2018
Istana Amantubillah merupakan nama istana dari Kerajaan Mempawah. Nama Amantubillah berasal dari bahasa Arab, yang berarti “Aku beriman kepada Allah”. Istana yang didominasi oleh warna biru muda ini terletak di Jalan Adiwijaya RT.04 RW.12 Kelurahan Pulau Pedalaman, Kecamatan Mempawah Timur, Kabupaten Pontianak, Provinsi Kalimantan Barat.
 
Berdasarkan catatan sejarah, Istana Amantubillah dibangun pada masa pemerintahan Gusti Jamiril pada tahun 1761. Setelah Gusti Jamiril dinobatkan menjadi raja di Kerajaan Mempawah untuk menggantikan ayahandanya yang bernama Upu Alinu Malinu Daeng Menambon yang kelak ketika menjadi raja bergelar Pangeran Mas Surya Negara. Saat Gusti Jamiril diangkat menjadi Raja Mempawah, beliau menyandang gelar  sebagai Panembahan Adiwijaya Kesuma Jaya yang berkuasa atas seluruh rakyat yang berada di daerah Kerajaan Mempawah.
 
Belum berapa lama usai Gusti Jamiril dinobatkan menjadi Raja Mempawah, atas nasihat Mufti Kerajaan, Tuan Besar Habib Husain Alkadri, beliau memindahkan istana atau pusat pemerintahannya dari Sebukit Rama ke dekat Kampung Galahirang, di mana Sang Mufti bertempat tinggal. Disitulah istana pertama dari Panembahan Adiwijaya Kesuma Jaya berdiri tegak.
 
Berhubung Kerajaan Mempawah tidak mau takluk di bawah kekuasaan Belanda, maka dengan dalih untuk memulihkan ketentraman, Belanda menyerang Kota Mempawah pada tahun 1787 yang dipimpin Mayor Amral dan Katen Silviser atas nama Gubernur Jenderal di Batavia.
 
Pada tahun 1880, Istana Amantubillah mengalami kebakaran ketika tampuk kekuasaan istana dipegang oleh Gusti Ibrahim, yang bergelar Panembahan Ibrahim Mohammad Syafiuddin (1864-1892). Setelah itu, Istana Amantubillah mengalami beberapa kali direhabilitasi hingga Istana Amantubillah dapat berdiri kembali pada hari Kamis, 22 November 1922 pada masa Panembahan Mohammad Taufik Akkamadin.
Kompleks Istana Amantubillah dibagi dalam tiga bagian, yaitu bangunan utama, bangunan sayap kanan, dan sayap kir. Pada zaman dahulu, bagunan utama merupakan tempat singgasana raja, permaisuri, dan tempat tinggal keluarga raja. Bangunan sayap kana adalah tempat untuk mempersiapkan keperluan dan tempat untuk jamuan makan keluarga istana. Sedangkan bangunan sayap kiri merupakan aula dan tempat untuk mengurus segala seuatu yang berkaitan dengan administrasi pemerintahan.
Di kompleks istana, pengunjung dapat melihat kolam bekas pemandian raja beserta keluarganya yang berada di belakang bangunan istana. Sayang, kolam pemandian tersebut tidak berfungsi lagi, karena pendangkalan dan tertutupnya saluran air yang menghubungkan kolam tersebut dengan anak Sungai Mempawah.
Selain itu, pengunjung juga masih dapat melihat bekas tempat peristirahatan dan tempat bersantai (gazebo) raja beserta keluarganya, yang keberadaannya tak jauh dari kolam pemandian tersebut.
 
Raja-raja yang pernah bertahta
 
Gusti Jamiril (1761 – 1790)
Gusti Jamiril adalah anak kedua Upu Alinu Malinu Daeng Menambon (Pangeran Mas Surya Negara) dengan Putri Kesumba. Setelah dinobatkan menjadi Raja Mempawah, bergelar Panembahan Adiwijaya Kesuma Jaya.
 
Gusti Jati (1790 – 1826)
Gusti Jati adalah putra Gusti Jamiril dengan istri pertamanya yang bernama Daeng Nyonya binti Daeng Kelola. Setelah diangkat menjadi Raja Mempawah, bergelar Panembahan Surya Nata Kesuma. Namun, oleh GG Van Der Capelen, beliau diberi gelar Sultan Muhammad Zainal Abidin.
 
Gusti Amir (1826 – 1853)
Gusti Amir merupakan adik Gusti Jati dari istri kedua Gusti Jamiril yang bernama Daeng Laila binti Daeng Kelola. Daeng Laila merupakan adik kandung dari Daeng Nyonya. Baik Gusti Jati maupun Gusti Amir sama-sama putra dari Gusti Jamiril dengan istri yang berbeda. Setelah diangkat menjadi Raja Mempawah, beliau memakai gelar Panembahan Adinata Amar Kamaruddin.
 
Gusti Mukmin (1853 -1855)
Gusti Mukmin adalah putra dari Gusti Amir. Setelah dinobatkan menjadi Raja Mempawah, beliau menyandang gelar Panembahan Mukmin Nata Jaya Kesuma, sebelumnya lebih dikenal dengan nama Pangeran Daeng.
 
Gusti Mahmud (1855 – 1860)
Gusti Mahmud merupakan adik dari Gusti Mukmin. Setelah ditetapkan menjadi Raja Mempawah, beliau bergelar Panembahan Muda Mahmud Akkamadin, yang sebelumnya lebih dikenal dengan nama Pangeran Suta Negara.
 
Gusti Usman (1860 – 1864)
Gusti Usman adalah kemenakan dari Gusti Mahmud. Setelah Gusti Usman diangkat menjadi Raja Mempawah, beliau mengenakan gelar Panembahan Usman Nata Jaya Kesuma.
 
Gusti Ibrahim (1864 – 1887)
Gusti Ibrahim adalah putra dari Gusti Mahmud. Setelah dinobatkan menjadi Raja Mempawah, beliau bergelar Panembahan Ibrahim Muhammad Syafiuddin.
 
Gusti Iskandar (1887 – 1892)
Gusti Iskandar adalah putra dari Gusti Ibrahim. Setelah diangkat menjadi Raja Mempawah, beliau menyandang gelar sebagai Pangeran Pati Iskandar.
Semasa beliau menjadi Raja Mempawah, banyak tindakannya yang kurang berkenan di hati rakyat. Sepertinya Belanda mulai mencampuri urusan pajak terhadap rakyat di pedesaan, sehingga rakyat Sangking memberontak melawan pemerintah. Dan orang-orang Cina yang juga merasa tertekan di daerah Mentidong, lalu melawan pula yang menyebabkan terjadinya perang di daerah itu.
 
Gusti Intan (1892 – 1902)
Karena perlawanan rakyat Sangking dan Mentidong tersebut, menyebabkan Gusti Iskandar digantikan oleh Gusti Intan. Gusti Intan merupakan menantu Gusti Ibrahim. Setelah diangkat menjadi Raja Mempawah, beliau bergelar Pangeran Mangku Negara.
 
Gusti Muhammad Taufik (1902 – 1943)
Gusti Muhammad Taufik adalah putra dari Gusti Ibrahim. Setelah dinobatkan menjadi Raja Mempawah, beliau memakai gelar Panembahan Muhammad Taufik Akkamadin.
Pada waktu kepemimpinan Gusti Muhammad Taufik ini, Belanda berusaha menghapuskan seluruh kerajaan yang berada di daerah Kalimantan Barat.
Karena itu du belas kerajaan yang ada di daerah Kalimantan Barat ini, semuanya diminta oleh Belanda untuk menanda tangani plakad pendek. Dengan arti bahwa semua raja harus menyerahkan semua kekuasaannya dan mereka hanya berfungsi sebagai pegawai biasa yang digaji oleh Pemerintah Belanda. Jadi dengan sendirinya, raja tak punya hak lagi untuk menentukan hukum atau peraturan terhadap rakyat di daerah kerajaannya sendiri.
 
Pangeran Wira Negara (1943 – 1946)
Dari dua belas kerajaan yang ada di daerah Kalimantan Barat, akhirnya Mempawah berani menentang plakad pendek. Dan Kerajaan Mempawah statusnya masih tetap seperti di masa Gusti Ibrahim, yang hanya tunduk di bawah kekuasaan Ratu di Negeri Belanda. Pangeran Wira Negara adalah saudara Gusti Muhammad Taufik. Pangeran Wira Negara bertahta sebagai Raja Mempawah di kala masa pendudukan Jepang.
 
Gusti Mustaan (1946 – 1950)
Gusti Mustaan adalah cucu dari Panembahan Ibrahim Muhammad Syafiuddin. Gusti Mustaan diangkat menjadi Raja Mempawah setelah bangsa Indonesia menyatakan kemerdekaan dan ketika Belanda mengakui Kemerdekaan Indonesia pada tahun 1949, lalu Kerajaan Mempawah ikut menyatu dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia di tahun 1950.
Sehingga dengan sendirinya hapuslah Kerajaan Mempawah di saat itu, dan langsung daerah kerajaan berubah menjadi Kawedanan Mempawah, di mana Wedananya dijabat oleh Gusti Mustaan sendiri. *** [131112]
 
Kepustakaan:
  • Ellyas Suryani Soren, 2002, Sejarah Mempawah Tempo Doeloe, Mempawah: Kantor Informasi Arsip dan Perpustakaan Daerah Kabupaten Pontianak
  • Gusti Lahmudin Jia, 2007, Jejak Sejarah Pangeran Mas Surya Negara atau Upu Alinu Malinu Daeng Menambon, Sebukit Rama: __________

 

Sumber: http://kekunaan.blogspot.com/2012/11/istana-amantubillah.html

Diskusi

Silahkan masuk untuk berdiskusi.

Daftar Diskusi

Rekomendasi Entri

Gambar Entri
Candi Miri: Peninggalan Arsitektur Hindu Kerajaan Mataram Kuno
Produk Arsitektur Produk Arsitektur
Daerah Istimewa Yogyakarta

Candi Miri: Peninggalan Arsitektur Hindu Kerajaan Mataram Kuno Candi Miri merupakan salah satu situs candi Hindu yang menjadi bagian dari warisan arsitektur religius Kerajaan Mataram Kuno di Pulau Jawa. Keberadaannya di wilayah Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, menunjukkan penyebaran pusat-pusat keagamaan yang strategis pada periode klasik Jawa. Sebagai candi Hindu, Candi Miri mencerminkan adaptasi tradisi arsitektur India yang dikembangkan dengan karakteristik lokal Jawa Kuno, berdiri sebagai saksi bisu kejayaan peradaban Hindu-Buddha di Nusantara. Sejarah & Latar Belakang Candi Miri didentifikasi sebagai peninggalan Kerajaan Mataram Kuno (Sumber 4). Letaknya berada di wilayah administratif Kecamatan Prambanan, Kabupaten Sleman, yang merupakan salah satu kawasan terpenting dalam sejarah peradaban Jawa klasik. Terdapat variasi dalam pencatatan lokasi spesifik candi ini. Beberapa sumber merujuk lokasi Candi Miri di Dusun Nguwot, Desa Sambirejo (Sumber 1, Sumber 2, Sumber...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Babi Panggang Karo: Simfoni Rasa dari Tanah Batak
Makanan Minuman Makanan Minuman
Sumatera Utara

Babi Panggang Karo: Simfoni Rasa dari Tanah Batak Di tengah kekayaan kuliner Indonesia yang tak terhingga, Babi Panggang Karo (sering disingkat BPK) muncul sebagai sebuah mahakarya rasa yang menghadirkan jejak budaya dan tradisi dari tanah Sumatera Utara. Lebih dari sekadar hidangan, BPK adalah manifestasi dari identitas masyarakat Karo, sebuah sajian yang kaya akan aroma, rempah, dan cerita. Mengapa BPK begitu istimewa, dan bagaimana ia menjadi simbol kebanggaan kuliner bagi suku Karo? Mari kita telusuri keunikan dan daya pikatnya. ## Andaliman: Jantung Rasa BPK Rahasia di balik kelezatan BPK terletak pada penggunaan rempah-rempah khas, dan yang paling menonjol adalah andaliman. Dikenal juga sebagai "merica Batak" atau "sichuan pepper"-nya Indonesia, andaliman memberikan sensasi rasa yang unik dan tak tertandingi: pedas, sedikit asam, dan yang paling khas adalah efek kebas atau "getar" di lidah (Sumber 2). Rasa yang identik dan aroma yang kuat dari andal...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Batik Kamoro: Mengenal Keindahan Seni Batik dari Papua Batik Kamoro merupakan salah satu jenis
Motif Kain Motif Kain
Papua

Batik Kamoro: Mengenal Keindahan Seni Batik dari Papua Batik Kamoro merupakan salah satu jenis batik khas Papua yang dikenal dengan corak unik dan makna mendalam. Berbeda dengan batik dari daerah lain di Indonesia, batik Papua, termasuk Kamoro, memiliki ciri khas motif yang terinspirasi dari kekayaan alam dan budaya suku asli di sana (Sumber 1, Sumber 3). Batik ini secara spesifik menampilkan corak khas Timika, yang terinspirasi dari suku Kamoro dan keindahan alam sekitarnya (Sumber 1). Batik Kamoro tidak hanya sekadar kain bermotif, tetapi juga merupakan representasi semangat dan keberanian penduduk asli Papua (Sumber 2). Simbol-simbol yang terkandung di dalamnya merefleksikan kehidupan masyarakat adat, menjadikannya salah satu warisan budaya yang patut dilestarikan. ## Motif dan Makna Batik Kamoro Motif utama batik Kamoro sangat khas dan mudah dikenali. Corak yang sering ditemukan pada batik ini meliputi: ### Simbol Patung Salah satu motif yang paling menonjol pada batik Kamoro adal...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Dendam Rajo sang Manusia Harimau Putih
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
Aceh

Karya: Mahlil Azmi Di sebuah perkampungan kecil bernama Desa Pucok Krueng, di Aceh bagian barat selatan, hiduplah sebuah keluarga kecil yang damai dan bahagia. Mereka berjumlah empat orang: sang ayah bernama Uda Bintang Puteh berumur 40 tahun, ibu Nyak Bulan berumur 30 tahun, anak pertama Rajo Puteh berumur 10 tahun, dan adik perempuannya bernama Nyak Puteh yang berumur 5 tahun.Kedua orang tua mereka adalah petani dan pekebun pala. Sementara itu, Rajo adalah anak yang nakal dan sering berkelahi dengan teman-temannya hingga meresahkan orang tuanya. Walaupun begitu, ia sangat menyayangi keluarganya, terutama adiknya. Nyak Puteh adalah anak yang ceria, patuh, rajin mengaji, dan suka membantu orang tua mencuci piring. Setiap menjelang pagi, ayah dan ibu berpamitan untuk bekerja di ladang memetik buah pala, dan terkadang menjadi buruh tani di sawah milik saudagar kampung. Walaupun upah yang mereka dapatkan sedikit, mereka tetap bersyukur.Beberapa tahun kemudian, saat Rajo berumur 17 tahun,...

avatar
Mahlil Azmi
Gambar Entri
Candi Miri: Peninggalan Sejarah di Yogyakarta
Produk Arsitektur Produk Arsitektur
Daerah Istimewa Yogyakarta

Candi Miri: Peninggalan Sejarah di Yogyakarta Sejarah & Latar Belakang Candi Miri adalah salah satu candi Hindu yang terletak di Dusun Nguwot, Desa Sambirejo, Kapanewon Prambanan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Diperkirakan dibangun pada abad ke-9, Candi Miri merupakan bagian dari warisan budaya Kerajaan Mataram Kuno. Candi ini berdiri tidak jauh dari beberapa candi lain yang juga bersejarah, seperti Candi Banyunibo dan Candi Barong, menjadikannya sebagai bagian penting dari kompleks candi yang memiliki nilai arkeologis yang tinggi (Sumber 2, 4, 14). Candi Miri, yang terletak di bukit karst dengan ketinggian sekitar 300 meter, menjadi lokasi yang strategis untuk aktivitas keagamaan dan pemujaan. Meskipun saat ini kondisinya mengalami kerusakan dan belum dilakukan pemugaran, keberadaannya tetap menarik perhatian para peneliti dan wisatawan yang ingin menyelami sejarah kekayaan budaya Indonesia (Sumber 1, 8, 14). Karakteristik Arsitektur Candi Miri memiliki...

avatar
Kianasarayu