“Bura’, ayo kita pergi menangkap ikan!” seru Uhit Miou.
Bura’ kaget. Dia sedang melamun di dekat jendela rumahnya.“Eh? Apa, Uhit Miou?”
“Ayo kita pergi tangkap ikan! Ke Lluting sungai Sulling,” ulang Uhit Miou.
Mereka berdua pun berangkat. Sejak kecil, mereka sering mengunjungi tempat ini. Mereka tahu tempat ikan dan udang berkumpul. Sebentar saja Bura’ sudah menangkap banyak ikan. Sedangkan Uhit Miou belum mendapat seekor pun.
Ah, kasihan Uhit Miou. Nanti akan kubagi saja hasil tangkapan ini dengannya, batin Bura’.
Namun, rupanya Uhit Miou merasa kesal. Timbul rasa iri di hatinya.
Tiba-tiba, Bura’ berhenti.
“Ada apa?” tanya Uhit Miou.
“Lihat, tak terasa kita sudah jalan sejauh ini. Sekarang kita ada di dekat air terjun,” jelas Bura’ sambil berjalan menjauhi air terjun.
Uhit Miou mencoba melongok dari dekat. “Wah, tinggi sekali!!” batinnya.
“Bura’,” serunya. “Cobalah kamu lihat sini. Di bawah itu bagus sekali!” bujuknya sambil menunjuk ke arah bawah.
“Tidak, ah! Aku takut Uhit Miou. Ngeri!”
“Buat apa takut? Lihat! Air yang jatuh itu sangat indah. Ada kabut yang muncul setiap air itu jatuh. Dan lihat, ada pelangi kecil. Percikan air yang terkena sinar matahari itu membuat pelangi yang sangat indah. Ayo, sini, kamu lihat sendiri jika tidak percaya!” bujuk Uhit Miou dengan semangat.
Bura’ pun terpengaruh ajakan Uhit Miou. Benar yang dikatakan Uhit Miou. Indah sekali pemandangannya. Air terjun itu mengalir ke bawah dan membuat gelombang, lalu menyembur tanpa lelah. Daun-daun kayu di sekitar sini juga melambai-lambai tertiup angin sepoi. Sesaat Bura’ lupa akan ketakutannya.Namun, itu membuatnya kurang hati-hati.
“CEBYUURR!!”
Bura’ jatuh ke dasar air terjun.
Bukannya menolong, Uhit Mio malah mengambil hasil tangkapan ikan dan udang Bura’ dengan gembira.
Badan Bura’ hanyut dibawa arus sungai, dan melewati anak ayam dan induknya yang sedang mematuk biji-bijian. Anak ayam melihat tubuh Bura’ dan berkata, “Ibu! Bura’ terbawa arus sungai, ayo kita tolong!”.
Induk ayam menggelengkan kepalanya, “Untuk apa kita tolong manusia? Mereka sering menangkap kita untuk dimakan.”
Anak-anak ayam tidak berani membantah induknya.
Tubuh Bura’ kembali terbawa arus sungai, dan melewati anak anjing dan induknya.
“Ibu!” teriak anak-anak anjing itu. “Lihat, tubuh Bura’ hanyut terbawa arus sungai. Mari kita tolong dia!”
Induk anjing menggelengkan kepala, “Manusia makhluk yang serakah. Kita sering membantu mereka berburu. Namun, apakah mereka membagi hasilnya dengan adil? Tidak! Kita hanya diberi tulangnya saja. Jadi, untuk apa kita menolong manusia,” jelas induk anjing kepada anaknya.
Sama seperti anak-anak ayam, para anak anjing ini juga tidak berani membantah ibunya.
Tubuh Bura’ terbawa arus sungai melewati tempat sapi dan induknya yang sedang merumput.
“Bu, lihat! Itu Bura’. Kasihan sekali tubuh Bura’ penuh luka. Kita tolong, yuk!” bujuk anak sapi.
“Anakku yang baik, untuk apa kamu capek-capek menolong manusia? Saat anak-anak mereka menikah, tubuh kita jadi sasaran tombak, kemudian dihidangkan untuk makanan pesta,” kata induk sapi sambil mengeluarkan suara lenguhan keras. Anak sapi diam.
Tubuh Bura’ melewati tempat anak kerbau dan induknya yang sedang berkubang. “Eh, Ibu! Lihat! Tubuh Bura’ hanyut terbawaarus. Kita tolong dia, ya?” kata anak kerbau.
“Buat apa kamu tolong manusia yang suka menyembelih kita. Biarkan saja!” seru induk kerbau.
Anak kerbau pun diam dan tidak berani menatap induknya.
“Ibu, sini, sini, lihat! Di sana!” seru anak-anak kucing.
“Ada apa?” tanya induknya.
“Bukankah itu Bura’? Dia hanyut terbawa arus. Kita tolong, yuk!”
“Ayo, anakku. Mari kita tolong Bura’. Memang banyak manusia yang jahat. Tetapi Bura’ sangat baik. Dia tidak pernah memukul kita,” ujar induk kucing.
Mereka pun segera menarik tubuh Bura’ dan berdoa kepada Tuhan yang Mahakuasa. Berkat doa tulus induk kucing dan anaknya, maka Tuhan pun berkenan dan meniupkan roh kehidupan kepada Bura’.
Bura’ sangat berterima kasih kepada induk kucing dan anak-anaknya. Mereka diajak tinggal bersama Bura’. Setelah dewasa dan menikah, Bura’ selalu berpesan kepada anak cucunya untuk bersikap baik kepada semua binatang, khususnya kucing.
Sumber: http://indonesianfolktales.com/id/book/bura-dan-uhit-miou/
Eksplorasi Seni Ornamen Rumah Gadang: Simbolisme dan Warisan Budaya Minangkabau Identitas dan Asal-Usul Seni ornamen Rumah Gadang merupakan manifestasi kebudayaan masyarakat Minangkabau yang berfungsi sebagai media penyampaian nilai-nilai filosofis dan tradisi leluhur [S1]. Ornamen ini bukan sekadar elemen dekoratif, melainkan representasi mendalam dari cara hidup dan pandangan dunia suku Minangkabau yang diwariskan secara turun-temurun [S1]. Keberadaannya menjadi jendela utama untuk memahami kekayaan warisan budaya yang melekat pada arsitektur tradisional di wilayah Sumatera Barat [S1]. Secara konseptual, eksplorasi terhadap seni ornamen ini merupakan upaya penyelidikan dan penemuan pengetahuan baru mengenai simbolisme yang terkandung di dalamnya [S2], [S5]. Kegiatan eksplorasi dalam konteks budaya ini melibatkan proses penjelajahan lapangan untuk memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif mengenai bentuk, makna, dan fungsi ornamen tersebut dalam kehidupan masyarakat [S4], [S...
Cerita Rakyat dari Jawa Tengah: Kisah Timun Mas Lead Kisah Di balik rimbunnya hutan Jawa Tengah, tersimpan sebuah narasi tentang keberanian yang melampaui usia. Kisah ini berpusat pada sosok gadis kecil bernama Timun Mas, yang namanya kini tak hanya dikenal sebagai tokoh dalam buku cerita anak-anak, tetapi telah menjadi bagian dari ingatan kolektif masyarakat Indonesia [S2], [S3]. Ia bukan sekadar karakter fiktif, melainkan simbol perjuangan yang gigih melawan ancaman raksasa yang hendak merenggut kebebasannya [S3], [S4]. Sebagai bagian dari kekayaan tradisi lisan yang diwariskan turun-temurun, legenda ini memiliki daya pikat yang tak lekang oleh waktu [S1], [S2]. Di wilayah Jawa Tengah, cerita ini sering pula disebut dengan nama Mentimun Emas, sebuah variasi penamaan yang menunjukkan betapa luasnya penyebaran kisah ini dalam berbagai versi di tengah masyarakat [S2], [S5], [S5]. Keberadaannya yang populer membuktikan bahwa narasi tradisional ini tetap hidup dan relevan, bahkan h...
Keris Jawa: Lebih dari Sekadar Senjata, Simbol Budaya dan Pusaka Identitas dan Asal-Usul Keris merupakan pusaka masyarakat Jawa yang memiliki bentuk khas dan makna filosofis mendalam [S1]. Senjata tradisional ini diakui sebagai simbol budaya Nusantara dengan nilai sejarah, seni, dan filosofi yang tinggi [S3]. Keris Jawa secara spesifik merupakan salah satu simbol budaya yang sangat penting dalam sejarah dan tradisi Jawa [S2, S7]. Pengakuan UNESCO terhadap keris sebagai warisan dunia menegaskan statusnya yang berasal dari zaman logam [S4]. Secara historis, keris tidak hanya berfungsi sebagai senjata tradisional untuk peperangan [S2, C2], tetapi juga sebagai benda pusaka warisan nenek moyang [C3]. Lebih dari itu, keris juga menjadi simbol spiritual, status sosial, dan warisan keluarga [C12]. Keris Jawa sendiri memiliki banyak jenis dengan fungsi dan makna yang berbeda, mencerminkan kekayaan tradisi yang menyertainya [C8]. Keberadaannya juga meluas sebagai alat perlengkapan dalam b...
Lontar Usada Bali: Warisan Pengobatan Nusantara yang Terlupakan? Identitas dan Asal-Usul Lontar Usada Bali adalah naskah klasik yang mengkategorikan diri dalam ranah pengetahuan dan praktik pengobatan tradisional (usada) di Nusantara [S1], [S3]. Naskah-naskah ini secara spesifik ditulis di atas daun lontar dengan menggunakan aksara dan bahasa Bali Kuna hingga Bali Tengahan [S1]. Kategorinya dalam sistem Warisan Budaya Takbenda Indonesia masuk dalam domain "Pengetahuan dan kebiasaan perilaku mengenai alam dan semesta," sejalan dengan penetapan praktik serupa seperti Pengobatan Tradisional Raksa Jasad [S2]. Asal-usul historisnya di Bali seringkali dilekatkan pada periode pengaruh Majapahit dan penyebaran agama Hindu, meskipun sayangnya, belum ada sumber dari daftar yang secara pasti mengungkap waktu dan tokoh awal penciptaan teks-teks ini. Salah satu versi mengaitkan proses kodifikasi dan pengembangan sistem pengobatan ini dengan peran Dang Hyang Nirartha, seorang tokoh...
Kedatuan Luwu: Salah satu peradaban tertua di Sulawesi Selatan yang jejak sejarahnya berkelindan erat dengan mitolo Identitas dan Asal-Usul Kedatuan Luwu diidentifikasi sebagai salah satu peradaban tertua di Sulawesi Selatan, dengan jejak sejarah yang terjalin erat dengan mitologi, tradisi lisan, dan bukti arkeologis [C11]. Sejarah awal Luwu tidak terlepas dari kisah kosmologis mengenai kedatangan manusia pertama ke bumi, yang menjadi dasar pembentukan tatanan sosial dan kekuasaan di wilayah tersebut [C12]. Kedatuan ini merupakan salah satu dari tiga kerajaan Bugis pertama yang tercatat dalam epik I La Galigo , bersama dengan Wewang Nriwuk dan Tompotikka [S1]. Pendirian Kedatuan Luwu diperkirakan terjadi pada abad ke-14 [C4], dengan Tumanurung sebagai Datu Mappanjunge' ri Luwu pertama pada tahun 1300-an [C3]. Kedatuan ini berlanjut hingga sekarang [C1], meskipun tidak memiliki mata uang sendiri dan menggunakan sistem barter [C5]. Luwu bersama kerajaan-kerajaan lain diakui sebag...