Cerita Rakyat
Cerita Rakyat
Cerita Rakyat Kalimantan Barat Kalimantan
Putri Anam dan Putri Bussu
- 13 November 2018

Dikisahkan hiduplah dua gadis kakak beradik. Si sulung bernama PUTRI ANAM, sedangkan adiknya bernama PUTRI BUSSU. Keduanya mempunyai sifat yang berbeda. Putri Anam gadis pemalas, serakah, dan tidak sabar, sedangkan Putri Bussu adalah gadis yang rajin, sabar, cerdik, dan luhur budi pekertinya.
Suatu siang yang terik, Putri Bussu sedang duduk di teras rumah sambil mengipas-ngipas wajahnya karena kepanasan. Tanpa diduga, tiba-tiba kipasnya diterbangkan angin hingga tersangkut di atas pohon jeruk di halaman rumah PAK HARTAWAN, tetangganya. Maka, cepat-cepatlah ia mengejar kipas itu. Rupanya, kipas itu tersangkut di dahan pohon jeruk yang paling tinggi. Karena ia tidak kuat memanjat, ia pun bermaksud untuk meminta bantuan kepada Pak Hartawan.

“Permisi…! Permisi… Pak Hartawan !“ teriak Putri Bussu di depan pintu rumah Pak Hartawan.
Tak berapa kemudian, Pak Hartawan pun keluar dari dalam rumahnya.
“Ada apa, Putri Bussu? Ada yang bisa saya bantu?” tanya Pak Hartawan yang baik hati itu.
“Iya, Pak Hartawan. Kipasku tersangkut di atas pohon jeruk itu,” kata Putri Bussu sambil menunjuk ke arah kipasnya,
“Bolehkah saya minta tolong diambilkan kipas itu?”
“Tentu, Putri Bussu. Tapi, tolong buatkan aku semangkuk bubur,” pinta Pak Hartawan.
“Baiklah,” jawab Putri Bussu seraya masuk ke dalam rumah Pak Hartawan.
Sementara Putri Bussu membuat bubur, Pak Hartawan memanjat pohon jeruk. Lelaki paruh baya itu tidak kesulitan mengambil kipas milik Putri Bussu. Setelah turun dari pohon jeruk, ia segera masuk ke dalam rumahnya dan menyerahkan kipas itu kepada pemiliknya.
“Terima kasih, Pak Hartawan,” ucap Putri Bussu setelah mendapatkan kembali kipasnya.
Sambil menunggu bubur itu matang, Pak Hartawan duduk-duduk di serambi rumahnya. Tidak lama kemudian, Putri Bussu pun keluar membawakannya semangkuk bubur.
“Ini buburnya, Pak. Silakan dicicipi,” ujar Putri Bussu.
“Terima kasih, Tuan Putri,” ucap Pak Hartawan.
Pak Hartawan tidak langsung menyantap bubur itu karena masih panas. Ia lebih suka menyantap bubur yang sudah dingin. Namun, hingga hari menjelang sore, bubur itu belum juga dimakan. Putri Bussu pun tidak akan kembali ke rumahnya sebelum Pak Hartawan menyantap bubur buatannya. Sambil menunggu dengan sabar, ia pun berbincang-bincang dengan tetangganya itu. Dalam perbincangan itu, Pak Hartawan mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada sang Putri.
(Baca juga: Cerita Rakyat Kalimantan Barat – Legenda Batu Menangis)
“Apa yang berbunyi riuh rendah itu, Tuan Putri?” tanya Pak Hartawan.
“Itu orang sedang menumbuk emping,” jawab Putri Bussu.
“Apa yang dikipas-kipas, Tuan Putri?” tanyanya lagi.
“Orang sedang menyapu lantai di siang hari,” jawab sang Putri.
“Apa yang terang benderang, Tuan Putri?” Pak Hartawan kembali bertanya.
“Bintang timur merupakan tanda hari akan siang,” jawab Putri Bussu.
“Apa yang bergoyang-goyang, Tuan Putri?” tanya Pak Hartawan.
“Daun simpur ditiup angin,” jawab sang Putri.
“Apa yang bergerak-gerak, Tuan Putri?” tanyanya lagi.
“Kayu besar hanyut dari hulu,” jawab Putri Bussu.
“Buburnya sudah matang belum, Tuan Putri?” tanya Pak Hartawan.
“Sudah sejak tadi, Pak Hartawan. Bahkan, buburnya sudah dingin,” jawab Putri Bussu.
Rupanya, Pak Hartawan lupa pada buburnya karena keasyikan mengobrol dengan Putri Bussu. Karena bubur itu sudah dingin, ia pun segera menyantapnya hingga habis.
“Terima kasih, Tuan Putri. Masakan buburmu enak sekali,” ucap Pak Hartawan,
“Jika Tuan Putri ingin pulang, ambillah sebutir buah labu di dapur.”
“Terima kasih, Pak Hartawan,” jawab Putri Bussu seraya masuk ke ruang dapur Pak Hartawan.
Rupanya, di bawah dapur Pak Hartawan terdapat banyak labu dengan ukuran yang berbeda-beda. Karena tidak mau serakah, ia pun mengambil labu yang ukurannya paling kecil.
Setelah itu, ia pun berpamitan. Sebelum ia pergi, Pak Hartawan berpesan kepadanya.
“Setelah Tuan Putri sampai di rumah, tutup dulu pintu dan jendela rumah Tuan Putri, lalu masuklah ke dalam kelambu. Setelah itu, baru Tuan Putri membelah labu itu,” pesan Pak Hartawan.
Sesampainya di rumahnya, Putri Bussu menuruti nasehat Pak Hartawan. Alangkah terkejutnya ia setelah membelah labu itu. Ternyata, labu itu berisi emas.
“Oh, Pak Hartawan, terima kasih atas kebaikanmu,” gumam Putri Bussu dengan perasaan gembira.
Sementara itu, Putri Anam yang curiga melihat adiknya masuk ke dalam kelambu di siang bolong segera menghampirinya.
“Hai, Bussu, apa yang kamu lakukan di dalam kelambu?” tanya Putri Anam.
Putri Bussu pun menceritakan perihal labu emas yang diperolehnya dari Pak Hartawan. Mengetahui hal itu, Putri Anam pun berkeinginan untuk memiliki labu seperti milik adiknya.
“Bagaimana caranya kamu mendapatkan labu emas itu dari Pak Hartawan ?” tanya Putri Anam.
Putri Bussu menjawab jujur dengan menceritakan semua peristiwa yang dialaminya hingga mendapatkan labu emas itu. Setelah mendengar cerita itu, sang Kakak segera melakukan hal yang sama seperti adiknya. Ia sengaja menerbangkan kipas ke rumah Pak Hartawan.
Setelah ia ke rumah Pak Hartawan, lelaki paruh baya itu pun menyuruhnya untuk membuat bubur. Putri Anam segera melaksanakan permintaan itu.
Setelah matang, Putri Anam segera menyajikan bubur itu kepada Pak Hartawan. Seperti biasa, Pak Hartawan itu tidak suka menyantap bubur panas. Maka, ia pun menunggu bubur itu dingin dulu. Namun, karena tidak sabar ingin segera mendapatkan labu emas itu, Putri Anam berbohong kepada Pak Hartawan.
“Silakan dimakan, Pak Hartawan. Buburnya sudah dingin,” kata Putri Anam.
Pak Hartawan pun segera menyantap bubur itu. Pada saat ia memakannya, ternyata bubur itu masih panas. Tak ayal, mulut Pak Hartawan pun terasa terbakar. Bubur yang ada di mulutnya segera dimuntahkan.
“Bubur ini masih panas sekali, Tuan Putri,” tukas Pak Hartawan dengan kesal.
Meskipun Putri Anam berbohong, Pak Hartawan tetap akan memberikan labu emas kepadanya. Maka, Pak Hartawan pun mempersilahkan Putri Anam untuk memilih salah satu labu yang ada di bawah dapurnya.
“Nanti jika Tuan Putri ingin pulang, ambillah salah satu labu di bawah dapur,” ujar Pak Hartawan.
“Baik, Pak Hartawan,” jawab Putri Anam seraya masuk ke ruang dapur Pak Hartawan.
Ketika sampai di ruang dapur itu, dilihatnya banyak labu. Karena keserakahannya, ia pun memilih labu yang paling besar dan berat.
“Sebaiknya saya pilih labu yang besar ini saja. Pasti emasnya juga banyak,” gumam Putri Anam.
Setelah mengambil labu yang paling besar itu, Putri Anam pun berpamitan. Pak Hartawan tak lupa berpesan kepadanya seperti pesannya kepada Putri Bussu. Setiba di rumahnya, ia pun segera menutup pintu dan jendela rumah serta kelambunya, lalu membelah labu itu. Alangkah terkejutnya ia setelah labu itu terbelah. Labu itu ternyata bukan berisi emas, melainkan puluhan binatang berbisa seperti ular, kalajengking, dan lipan. Tak ayal, putri yang serakah itu pun menjerit-jerit ketakutan. Ketika ia hendak melarikan diri, puluhan binatang buas tersebut telah menggigitnya. Ia pun mengerang-ngerang kesakitan.

Sumber:

https://www.reinha.com/2018/10/cerita-rakyat-kalimantan-barat-kisah-putri-anam-dan-putri-bussu/

Diskusi

Silahkan masuk untuk berdiskusi.

Daftar Diskusi

Rekomendasi Entri

Gambar Entri
Kidung Lakbok
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
Jawa Barat

Kidung Lakbok atau Wawacan Kidung Lakbok adalah karya sastra lama berbentuk wawacan yang berasal dari Kecamatan Lakbok, Kabupaten Ciamis. Naskah ini diterbitkan kembali dan disusun rapi oleh M. Karso Prawiraatmadja di Bandjar pada tanggal 31 Agustus 1956. Karya ini menyimpan nilai sejarah dan kearifan lokal masyarakat setempat. Dokumentasi digital dan data ini disusun serta disumbangkan oleh Henri Purwanto.

avatar
Henripurwanto
Gambar Entri
HUDON TANO (Periuk Tanah)
Ornamen Ornamen
Sumatera Utara

HUDON TANO (Periuk Tanah) Di bawah ini merupakan foto tua (foto jaman dulu) penjual Hudon Tano (Periuk Tanah) di Onan (Pasar) Tarutung di tahun 1930. Masyarakat Batak yang tinggal di Sipoholon, Tarutung, dahulu kala terkenal sebagai "Sitopa Hudon" (pembuat periuk tanah). Dahulu, Hudon Tano ini digunakan secara meluas di Tanah (Tano) Batak sebagai alat masak tradisional. Bisa dibayangkan betapa enak dan nikmat rasanya melihat dan menikmati arsik atau menggulai Ikan Mas atau Ikan Batak (Ihan Batak), Porapora (Ikan Air Tawar), Haruting (Ikan Gabus), SIbahut (Ikan Lele), dan Incor (Ikan Air Tawar Kecil) yang dimasak menggunakan Hudon Tano ini... Sumber Foto : KITLV 28692

avatar
Hokker
Gambar Entri
Benda Magis Masyarakat Batak Toba
Ornamen Ornamen
Sumatera Utara

Benda Magis Masyarakat Batak Toba : Pagar Jabu - Sahan - Pohung 3 benda magis ini termasuk kategori Ilmu Putih yang berfungsi sebagai pelindung dari sihir dari niat orang jahat. PAGAR JABU (Bahasa Batak Karo : Bekam-bekam), berbentu tanduk hewan berisi sibiangsa (ramuan magis) yang berfungsi sebagai pelindung rumah dari serangan sihir jahat. SAHAN, terbuat dari gading atau tanduk tempat menyimpan pupuk (abu jenazah) yang memiliki kekuatan magis sebagai pagar (pelindung) dan konon dapat diminta untuk membinasakan musuh. POHUNG, sejenis ukiran yang dibungkus ijuk lalu diisi ramuan magis. Pohung ditempatkan di dalam rumah dan / atau di kebun yang memiliki fungsi mencegah niat jahat / pencuri hasil kebun dan harta di rumah. Sumber Koleksi : Museum Negeri Provinsi Sumatera Utara

avatar
Hokker
Gambar Entri
ILMU TAMBA TUA
Naskah Kuno dan Prasasti Naskah Kuno dan Prasasti
Sumatera Utara

Ilmu Tamba Tua adalah Elmo Kuno Batak (Ilmu Putih), dahulu ilmu ini dipercaya jika diamalkan akan mendatangkan kemakmuran serta kekayaan. Transliterasi (alih aksara) : ahu debata ni raja di bindu jao raja ni tam (ba) tua raja on di sim- bora di bulung hayu na denggan go- rar pe i do jadi lapi ni ta- taring ni ru- manta jadi tondolan ni balatuk ni rumah bea la... Rajah "gambar" di bawah bernama dewa "bindu jao". Rajah ini ditulis pada timah dan daun kayu (jenis yang bisa dituliskan). Rajah ini akan membawa kemakmuran bagi penghuni rumah apabila dibuat menjadi alas tungku perapian dan jika diletakkan sebagai alas tangga rumah. Sumber Foto : Verzeichnis der orientalischen handschriften in Deutschland

avatar
Hokker
Gambar Entri
Tulisan Tangan Ompu i Pendeta Dr I.L. Nommensen (Aksara dan Bahasa Batak Toba)
Naskah Kuno dan Prasasti Naskah Kuno dan Prasasti
Sumatera Utara

Surat Tulisan Tangan Ompu i Pendeta Dr I.L. Nommensen tahun 1871 dengan Aksara Batak Toba dan Bahasa Batak Toba Klasik (na robi). Nommensen, Apostel Orang Batak dan Ephorus HKBP Pertama tahun 1881 - 1918, sangat fasih berbahasa Batak Toba klasik dan kontemporer (na imbaru), Nommensen juga sangat mengusai tulisan dan / atau aksara Batak Toba. Surat yang ditulis tangan Ompu i Nommensen di Pearaja, Tarutung, tanggal 02 Agustus 1871 ini merupakan dokumen dan bukti sejarah yang sangat penting, yang menunjukkan betapa Beliau menguasai serta menghormati adat, budaya, tradisi, dan literasi masyarakat Batak Toba. Beliau tidak memaksakan bahasa Jerman dan aksara Latin, tetap justru menggunakan bahasa dan aksara asli masyarakat Batak Toba untuk berkomunikasi dan mendokumentasi pelayanannya. Sumber Foto : Sopo Nommensen, Pearaja, Taruutung Sumatera Utara

avatar
Hokker