Aksara
44 entri ditemukan

Entri per provinsi
Entri per provinsi

Entri Terkait

Gambar Entri
Suluk Warna-Warni Tuwin Wirid Syattariyah
Naskah Kuno dan Prasasti Naskah Kuno dan Prasasti
Jawa Tengah

Karya tulis ini merupakan kumpulan dari 29 suluk yang berisi pengajaran tasawuf dari tradisi tarekat syattariyah. Tarekat Syattariyah ini merupakan aliran tarekat yang biasa diamalkan oleh anggota istana Kasunanan Surakarta. Naskah ini ditulis oleh Radyan Panji Jayaasmara pada tahun 1864. Naskah ini dibuat atas perintah K.G.P.H. Cakraningrat yang merupakan menantu Sunan Pakubuwana VI dan sekaligus murid R. Ng. Ranggawarsita. Naskah ini terdiri dari 472 halaman dengan ukuran 32Ã--20 cm. Berisi mengenai ajaran, tradisi, dan silsilah tarekat Syattariyah. Ditulis dengan menggunakan aksara Jawa (carakan) dan beberapa bagian ditulis menggunakan aksara Arab Pegon (Aksara Jawi). Tarekat Syattariyah yang biasa dianut oleh kalangan bangsawan Kraton Surakarta ini merupakan sebuah aliran tarekat yang telah lama tumbuh di Iran dan Turki dengan nama tarekat Isqiyah. Konon, tarekat ini memiliki ajaran yang mudah beradaptasi dengan kebudayaan yang menjadi tempat persebarannya. Seiring pe...

avatar
Farrihnabhan
Gambar Entri
Cariyos Dajal Utawi Kadis Kawandasa
Naskah Kuno dan Prasasti Naskah Kuno dan Prasasti
Jawa Tengah

Dunia kejawen memang sering memberi kejutan-kejutan yang unik dan mengesankan. Kitab bernama "Cariyos Dajal utawi Kadis Kawandasa" (artinya:"Cerita tentang Dajjal atau Hadits empat puluh") ini salah satu contohnya. Karya keagamaan ini ditulis dengan menggunakan huruf Jawa carakan (hanacaraka), namun uniknya menggunakan Bahasa Arab. Jadi, bisa dikatakan berbahasa Arab namun ditulis dengan menggunakan aksara Jawa. Di bawah setiap baris tulisan berbahasa Arab, disisipkan terjemahan dalam Bahasa Jawa menggunakan huruf Jawa yang ukurannya lebih kecil. Terjemahan ini berfungsi sebagai penjelasan bagi masyarakat Jawa yang tidak mampu mengakses Bahasa Arab. Kitab yang ditulis pada tahun 1845 dalam 45 halaman ini, menceritakan kepada masyarakat Jawa tentang fitnah akhir jaman berupa kedatangan dajjal-laknat. Selain itu karya berukuran 31Ã--20 cm ini juga mendiskusikan 40 (empat puluh) tanda-tanda kedatangan Imam Mahdi dilengkapi dengan hadits-hadits Nabi Muhammad SAW. Sumber :...

avatar
Farrihnabhan
Gambar Entri
Kur'an Kajawekaken
Naskah Kuno dan Prasasti Naskah Kuno dan Prasasti
Jawa Tengah

Kur'an Kajawekaken atau juga disebut Kur'an Jawi merupakan kitab yang berisi terjemahan Al Quran ke dalam Bahasa Jawa. Tulisan yang digunakan tentu saja adalah tulisan Jawa. Proses penerjemahan ini dilakukan oleh Bagus Ngarpah, seorang ulama abdi dalem Kraton Kasunanan Surakarta. Karya Bagus Ngarpah ini kemudian diedit untuk merampingkan kalimat-kalimatnya oleh Ngabèi Wirapustaka, seorang abdi dalêm mantri Radyapustaka di Surakarta pada tahun 1835 hingga 1905. Penulisannya menggunakan aksara Jawa dimulai pada 30 Juni 1905 oleh Suwonda. Penulisan juga dilakukan oleh Ki Ranasubaya, abdi dalêm jajar nirbaya kaparak têngên, yang bekerja di kantor Radyapustaka. Terjemahan Al Quran ke dalam Bahasa Jawa ini telah diselesaikan sebanyak 30 Juz. Perlu dipahami, karya monumental ini hanya berupa penerjemahan saja. Sementara teks Al Quran-nya tidak dicantumkan. Babad Wedyadiningratan, sebuah karya sastra yang menceritakan perja...

avatar
Farrihnabhan
Gambar Entri
Aksara Murda
Naskah Kuno dan Prasasti Naskah Kuno dan Prasasti
Jawa Tengah

Aksara Murda , dikenal sebagai  Aksara Jawa Murda  (ꦲꦏ꧀ꦱꦫ​ê¦--ꦮ​ꦩꦸꦂꦢ) adalah huruf khusus yang ada dalam huruf jawa, untuk aksara murda hanya ada 7 buah yaitu Na, Ka, Ta, Sa, Pa, Ga dan Ba. Fungsi aksara murda layaknya huruf kapital, hanya digunakan untuk menulis nama orang penting/terkenal dan tempat/daerah yang terkenal/besar. penulisan aksara murda bisa hanya di depan saja, atau bisa di keseluruhan kata yang digunakan untuk menulis  bahasa Jawa  dan sejumlah bahasa daerah  Indonesia  lainnya (Huruf Kapital). Aksara ini hanya mempunyai 8 huruf saja, yaitu Ṇa Kha Tha Sha Pha Nya Gha Bha (ꦟ​ê¦'​ꦡ&aci...

avatar
Carlosamuel
Gambar Entri
Asal Mula Huruf Jawa
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
Jawa Tengah

Cerita Rakyat Jawa Tengah Alkisah, di Dusun Medang Kawit, Desa Majethi, Jawa Tengah, hiduplah seorang pendekar tampan yang sakti mandraguna bernama Aji Saka. Ia mempunyai sebuah keris pusaka dan serban sakti. Selain sakti, ia juga rajin dan baik hati. Ia senantiasa membantu ayahnya bekerja di ladang, dan menolong orang-orang yang membutuhkan pertolongannya. Ke mana pun pergi, ia selalu ditemani oleh dua orang abdinya yang bernama Dora dan Sembada. Pada suatu hari, Aji Saka meminta izin kepada ayahnya untuk pergi mengembara bersama Dora. Sementara, Sembada ditugaskan untuk membawa dan menjaga keris pusaka miliknya ke Pegunungan Kendeng. “Sembada! Bawa keris pusaka ini ke Pegunungan Kendeng. Kamu harus menjaganya dengan baik dan jangan berikan kepada siapa pun sampai aku sendiri yang mengambilnya!” pesan Aji Saka kepada Sembada. “Baik, Tuan! Saya berjanji akan menjaga dan merawat keris pusaka Tuan!” jawab Sembada. Setelah itu, berangkatlah...

avatar
Regina
Gambar Entri
Asal Muasal Aksara Jawa - Jawa Tengah - Jawa Tengah
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
Jawa Tengah

Sembada terkejut ketika siang itu Dora, temannya, tiba-tiba berkata, “Tuanku Ajisaka menyuruhku untuk mengambil keris.” “Keris yang mana?” tanya Sembada heran. “Keris pusaka yang kita jaga,” kata Dora mantap. “Tadi aku bertemu dengan utusan Tuanku Ajisaka dari Medang Kamulan. Beliau menginginkan keris itu dibawa ke sana,” lanjut Dora. “Kunci kotak penyimpanannya kamu yang bawa, kan? Serahkan padaku supaya aku bisa membuka kotak itu dan mengambil kerisnya.” “Tidak mungkin!” bantah Sembada keras. “Tuanku Ajisaka sudah berpesan, keris itu tidak boleh diberikan pada siapa pun sampai beliau sendiri yang mengambilnya.” Sembada memandang Dora dengan curiga. Jangan-jangan Dora sendiri yang menginginkan keris itu. Keris yang mereka jaga merupakan keris yang sangat sakti. Konon, tidak ada apa pun di muka bumi ini yang tidak dapat ditembus oleh keris itu. Bahkan ada yang mengatakan ker...

avatar
Oase
Gambar Entri
Naskah Dluwang (Daluang)
Naskah Kuno dan Prasasti Naskah Kuno dan Prasasti
Jawa Tengah

L Or 1928 disimpan di Perpustakaan Universitas Leiden, Belanda. Naskah dluwang (daluang) ini kemungkinan besar sudah berada di Belanda pada akhir abad ke-16. Naskah yang sudah sangat tua ini penting karena kemungkinan merupakan salah satu naskah berbentuk codex (buku) yang tertua dari Nusantara. Naskah ini memuat teks ajaran mistik agama Islam menggunakan bahasa Jawa dan aksara Jawa.

avatar
hallowulandari
Gambar Entri
Prasasti Klurak
Naskah Kuno dan Prasasti Naskah Kuno dan Prasasti
Jawa Tengah

Prasasti Klurak berangka tahun 704 Saka (782 M) dengan memakai aksara Prenagari dan berbahasa Sansekerta. Prasasti ini ditemukan di dekat Candi Lumbung, Desa Kelurak, di sebelah utara Kompleks Percandian Prambanan, Jawa Tengah, dan kini prasasti ini disimpan di Museum Nasional dengan No. Inventaris D.44.     Prasasti ini berisi tentang pendirian sebuah bangunan suci untuk Manjusri atas perintah Raja Indra. Menurut para ahli, yang dimaksudkan dengan bangunan tersebut adalah Candi Sewu, yang terletak di Kompleks Percandian Prambanan. Nama Raja Indra tersebut juga ditemukan pada Prasasti Ligor dan Prasasti Nalanda peninggalan kerajaan Sriwijaya.  ***  

avatar
Arum Tunjung
Gambar Entri
Prasasti Mundu’an
Naskah Kuno dan Prasasti Naskah Kuno dan Prasasti
Jawa Tengah

Prasasti Mundu’an berangka tahun 728 Çaka atau 806 M dengan menggunakan aksara dan berbahasa Jawa Kuno. Prasasti ini terdiri atas dua buah lempeng berbentuk persegi panjang dibuat dari tembaga ( tamra pra Å›asti ). Lempeng pertama memiliki ukuran 9,5 x 32,2 cm dengan tebal rata-rata 1 mm, sedangkan lempeng kedua berukuran 9,5 x 31,8 cm dengan bagian tepinya lebih tipis dibandingkan bagian lainnya. Setiap lempeng prasasti memuat tujuh baris tulisan.   Prasasti ini ditemukan oleh Mbok Reti (saat itu berusia 55 tahun) pada tanggal 27 November 1969 di Dukuh Toro, Kelurahan Kertosari, Kecamatan Jumo, Kabupaten Temanggung, Provinsi Jawa Tengah. Oleh Mbok Reti, prasasti yang ditemukan dalam keadaan setangkep dengan bagian yang bertuliskan menghadap ke dalam, dianggap sebagai benda keramat sehingga dijaganya dengan baik. Prasasti ini acapkali disebut juga sebagai prasasti Jumo sesuai dengan nama tempat ditemukannya.   Saat ini prasasti...

avatar
Arum Tunjung