Kur'an Kajawekaken atau juga disebut Kur'an Jawi merupakan kitab yang berisi terjemahan Al Quran ke dalam Bahasa Jawa. Tulisan yang digunakan tentu saja adalah tulisan Jawa. Proses penerjemahan ini dilakukan oleh Bagus Ngarpah, seorang ulama abdi dalem Kraton Kasunanan Surakarta. Karya Bagus Ngarpah ini kemudian diedit untuk merampingkan kalimat-kalimatnya oleh Ngabèi Wirapustaka, seorang abdi dalêm mantri Radyapustaka di Surakarta pada tahun 1835 hingga 1905.
Penulisannya menggunakan aksara Jawa dimulai pada 30 Juni 1905 oleh Suwonda. Penulisan juga dilakukan oleh Ki Ranasubaya, abdi dalêm jajar nirbaya kaparak têngên, yang bekerja di kantor Radyapustaka. Terjemahan Al Quran ke dalam Bahasa Jawa ini telah diselesaikan sebanyak 30 Juz. Perlu dipahami, karya monumental ini hanya berupa penerjemahan saja. Sementara teks Al Quran-nya tidak dicantumkan.
Babad Wedyadiningratan, sebuah karya sastra yang menceritakan perjalanan hidup Rajiman Wedyadiningrat - seorang tokoh Nasional Indonesia, pernah mengupas tentang karya penerjemahan kitab suci ini. Konon, keberadaan Kur'an Jawi ini sempat menjadi perdebatan di kalangan masyarakat muslim Jawa. Awalnya, wacana digulirkan dalam sebuah artikel yang ditulis oleh R.M. Suleman, seorang pensiunan Jaksa di sebuah surat kabar berbahasa Jawa. Namun selanjutnya muncul perdebatan besar yang mempertanyakan keabsahan terjemahan Al Quran tersebut. Dalam anggapan masyarakat Jawa pada masa itu, Al Quran itu tidak boleh diterjemahkan dan harus tetap dalam Bahasa Arab untuk menjaga kemurnian dan keasliannya. Bagus Ngarpah dituduh telah mengubah Al Quran dengan melakukan penerjemahan ini.
R.M. Suleman sendiri semakin keras mengkritik Bagus Ngarpah. Sementara Bagus Ngarpah hanya mendiamkan saja masalah ini karena menganggap perdebatan semacam itu kurang berguna. Rajiman Wedyodiningrat lantas menengahi agar konflik itu tidak menjadi semakin besar. Bagus Ngapah lantas mengutarakan bahwa penerjemahan tersebut dilandasi oleh keinginan kuat agar Al Quran lebih mudah dan lebih luas dipahami oleh masyarakat Jawa. Penerjemahan Al Quran itu sendiri telah diselesaikan 30 juz sebelum perdebatan-perdebatan semacam ini membesar. Sayangnya, versi cetakan terjemahan Al Quran ini hanya sempat diselesaikan hingga 8 juz (terdiri dari 8 buku) saja akibat kericuhan yang terjadi. (Lihat: R. Ng. Dutadilaga (ed.), Babad Wedyadiningratan, Surakarta: Marsch, 1938, hlm. 37-38). Hal ini tentu saja kemudian disesalkan oleh banyak pihak. Meski demikian, karya penerjemahan ini masih ada dan tersimpan menjadi salah satu koleksi di Museum Radya Pustaka Surakarta.
Sumber : http://susiyanto.com/delapan-pustaka-jawa-bernuansa-islam-di-museum-radya-pustaka/
Cara Membatalkan Transaksi Pinjaman (AdaKami) Kamu bisa menghubungi layanan Live Chat via WA((+62821=6213=907)). jelaskan dengan baik alasan ingin melakukan Pembatalan, lalu siapkan data diri anda seperti KTP, dan ikuti langkah-langkah Pembatalan yang di instruksikan oleh customer service melalui WA.
Berikut ini cara membatalkan pinjaman (EasyCash), Silahkan hubungi Customer Service(O822=9567•411O, melalui Live Chat via WhatsApp, dan Siapkan data diri seperti KTP" dan ikuti instruksi yang diberikan oleh agen customer service untuk melanjutkan proses Pembatalan anda.
Rasa Sayange: Filsafat Kebersamaan dalam Senandung Anak-Anak Maluku Bagaimana mungkin sebuah lagu yang kerap dinyanyikan anak-anak sambil bertepuk tangan dan bersantai di pekarangan rumah bisa mengandung cetak biru lengkap tentang etika lingkungan dan tata krama bermasyarakat? Rasa Sayange , warisan lisan dari Kepulauan Maluku (Sumber 1, Sumber 2, Sumber 3), ternyata bukan sekadar lagu permainan tradisional dengan melodi ceria yang mudah dihafal. Di balik bait-baitnya yang singkat, tersimpan sistem pengetahuan tentang hubungan manusia dengan sesama dan alam—sebuah bukti bahwa pendidikan karakter di Nusantara tidak selalu memerlukan kelas formal, melainkan bisa tumbuh dari ruang-ruang bersantai yang penuh keakraban. Warisan Lisan dan Ritual Penyambutan Di Maluku, Rasa Sayange bukan lagu asing yang hanya muncul dalam buku teks pelajaran seni budaya. Lagu ini telah diwariskan secara turun-temurun dalam kehidupan masyarakat, menjadi bagian tak terpisahkan dari ritus sosial seha...
Rumah Panggung Bugis: Arsitektur Kosmologis dari Tanah Celebes Mengapa sebuah komunitas memilih mengangkat huniannya dari permukaan bumi yang subur, membangun kehidupan di atas kayu-kayu kokoh yang menjulang? Bagi suku Bugis di Sulawesi Selatan, jawaban atas pertanyaan ini tidak terletak pada pertimbangan fungsional semata—seperti perlindungan dari banjir atau serangan hewan—melainkan pada keyakinan mendalam tentang tatanan alam semesta dan struktur sosial manusia. Rumah panggung Bugis, dengan material kayu yang kokoh (Sumber 1), bukan sekadar arsitektur tradisional yang unik, melainkan perwujudan kosmogoni, strata sosial, dan falsafah hidup yang kompleks (Sumber 2). Kosmogoni Terwujud dalam Kayu Dalam tradisi arsitektur Bugis-Makassar, rumah panggung berfungsi sebagai mikrokosmos yang merefleksikan pandangan kosmologis masyarakat tentang tiga tingkat alam semesta. Konstruksi yang mengangkat lantai hunian dari tanah menggunakan tiang-tiang kayu yang solid (Sumber 1) menciptakan...
Pamali: Ketika Larangan Tak Tertulis Mengatur Kehidupan Mengapa sebagian masyarakat Indonesia yang telah mengenyam pendidikan modern dan hidup di tengah kemajuan teknologi masih enggan memotong kuku di malam hari, bersiul saat senja tiba, atau menanam pohon kelapa di depan rumah? Fenomena ini bukan sekadar sisa primitivisme yang tertinggal, melainkan manifestasi dari pamali —sistem norma yang secara mengejutkan masih eksis sebagai pengatur sosial yang efektif. Pada titik tertentu, pamali menghadirkan paradoks budaya yang menarik: ia adalah "hukum" tanpa tulisan, "polisi" tanpa seragam, namun memiliki kekuatan mengikat yang seringkali lebih efektif dari peraturan tertulis. Kearifan Ekologis dalam Selubung Larangan Di tataran praktis, pamali seringkali berfungsi sebagai mekanisme pelestarian alam yang diselimuti narasi mistis. Masyarakat Sunda, misalnya, mengenal berbagai bentuk pamali yang sejatinya merupakan bentuk adaptasi terhadap lingkungan dan ekosiste...