Naskah Kuno dan Prasasti
Naskah Kuno dan Prasasti
Manuskrip, Naskah Kuno Jawa Tengah Surakarta
Kur'an Kajawekaken
- 4 April 2016

Kur'an Kajawekaken atau juga disebut Kur'an Jawi merupakan kitab yang berisi terjemahan Al Quran ke dalam Bahasa Jawa. Tulisan yang digunakan tentu saja adalah tulisan Jawa. Proses penerjemahan ini dilakukan oleh Bagus Ngarpah, seorang ulama abdi dalem Kraton Kasunanan Surakarta. Karya Bagus Ngarpah ini kemudian diedit untuk merampingkan kalimat-kalimatnya oleh Ngabèi Wirapustaka, seorang abdi dalêm mantri Radyapustaka di Surakarta pada tahun 1835 hingga 1905.

Penulisannya menggunakan aksara Jawa dimulai pada 30 Juni 1905 oleh Suwonda. Penulisan juga dilakukan oleh Ki Ranasubaya, abdi dalêm jajar nirbaya kaparak têngên, yang bekerja di kantor Radyapustaka. Terjemahan Al Quran ke dalam Bahasa Jawa ini telah diselesaikan sebanyak 30 Juz. Perlu dipahami, karya monumental ini hanya berupa penerjemahan saja. Sementara teks Al Quran-nya tidak dicantumkan.

Babad Wedyadiningratan, sebuah karya sastra yang menceritakan perjalanan hidup Rajiman Wedyadiningrat - seorang tokoh Nasional Indonesia, pernah mengupas tentang karya penerjemahan kitab suci ini. Konon, keberadaan Kur'an Jawi ini sempat menjadi perdebatan di kalangan masyarakat muslim Jawa. Awalnya, wacana digulirkan dalam sebuah artikel yang ditulis oleh R.M. Suleman, seorang pensiunan Jaksa di sebuah surat kabar berbahasa Jawa. Namun selanjutnya muncul perdebatan besar yang mempertanyakan keabsahan terjemahan Al Quran tersebut. Dalam anggapan masyarakat Jawa pada masa itu, Al Quran itu tidak boleh diterjemahkan dan harus tetap dalam Bahasa Arab untuk menjaga kemurnian dan keasliannya. Bagus Ngarpah dituduh telah mengubah Al Quran dengan melakukan penerjemahan ini.

R.M. Suleman sendiri semakin keras mengkritik Bagus Ngarpah. Sementara Bagus Ngarpah hanya mendiamkan saja masalah ini karena menganggap perdebatan semacam itu kurang berguna. Rajiman Wedyodiningrat lantas menengahi agar konflik itu tidak menjadi semakin besar. Bagus Ngapah lantas mengutarakan bahwa penerjemahan tersebut dilandasi oleh keinginan kuat agar Al Quran lebih mudah dan lebih luas dipahami oleh masyarakat Jawa. Penerjemahan Al Quran itu sendiri telah diselesaikan 30 juz sebelum perdebatan-perdebatan semacam ini membesar. Sayangnya, versi cetakan terjemahan Al Quran ini hanya sempat diselesaikan hingga 8 juz (terdiri dari 8 buku) saja akibat kericuhan yang terjadi. (Lihat: R. Ng. Dutadilaga (ed.), Babad Wedyadiningratan, Surakarta: Marsch, 1938, hlm. 37-38). Hal ini tentu saja kemudian disesalkan oleh banyak pihak. Meski demikian, karya penerjemahan ini masih ada dan tersimpan menjadi salah satu koleksi di Museum Radya Pustaka Surakarta.

Sumber : http://susiyanto.com/delapan-pustaka-jawa-bernuansa-islam-di-museum-radya-pustaka/

Diskusi

Silahkan masuk untuk berdiskusi.

Daftar Diskusi

Rekomendasi Entri

Gambar Entri
HUTING-HUTING
Ornamen Ornamen
Sumatera Utara

Di masa lalu, masyarakat Batak mengenal sebuah peti penyimpanan berharga yang disebut Huting-Huting. Huting-huting berfungsi sebagai tempat menyimpan benda-benda berharga milik raja atau keluarga bangsawan, seperti perhiasan, pusaka, hingga barang bernilai lainnya. Karena fungsinya yang penting, huting-huting sering disebut sebagai "brankas tradisional" dalam budaya Batak. Yang membuatnya istimewa adalah ukiran pada bagian tutupnya. Berbagai ornamen, termasuk motif bintang dan makhluk simbolis (pinatang), dipahat dengan sangat detail. Menurut kepercayaan masyarakat dahulu, ukiran-ukiran tersebut memiliki kekuatan magis sebagai penjaga isi peti. Konon, apabila seseorang berniat mencuri isi huting-huting, maka roh penjaga yang disimbolkan melalui ukiran pinatang akan melindungi harta yang tersimpan di dalamnya. Kepercayaan ini menunjukkan bagaimana seni ukir, spiritualitas, dan sistem keamanan tradisional berpadu dalam kehidupan masyarakat Batak. Karena nilai dan kesak...

avatar
Hokker
Gambar Entri
SALE-SALEAN
Makanan Minuman Makanan Minuman
Sumatera Utara

Di rumah adat Batak tradisional, terdapat sebuah bagian penting yang disebut Sale-salean. Sale-salean merupakan rak atau ukiran berbentuk segi empat yang digantung di atas tungku perapian (tataring). Fungsinya sangat praktis sekaligus mencerminkan kearifan leluhur dalam memanfaatkan ruang di dalam rumah. Di tempat inilah masyarakat Batak dahulu mengeringkan ikan, daging, hasil pertanian, hingga kayu bakar. Asap dari tungku yang terus menyala membantu proses pengeringan sekaligus membuat bahan makanan lebih awet untuk disimpan. Bagi masyarakat Batak masa lalu, dapur bukan sekadar tempat memasak. Dapur adalah pusat kehidupan keluarga, tempat berkumpul, berbagi cerita, dan menjaga persediaan pangan. Sale-salean menjadi bukti bahwa arsitektur tradisional Batak dibangun berdasarkan pengalaman, kebutuhan hidup, dan pengetahuan yang diwariskan dari generasi ke generasi. Warisan budaya tidak selalu berupa benda mewah. Kadang ia hadir dalam benda sederhana yang menjadi bagian dari kehidu...

avatar
Hokker
Gambar Entri
Eksplorasi Seni Ornamen Rumah Gadang: Simbolisme dan Warisan Budaya Minangkabau
Ornamen Ornamen
Sumatera Barat

Eksplorasi Seni Ornamen Rumah Gadang: Simbolisme dan Warisan Budaya Minangkabau Identitas dan Asal-Usul Seni ornamen Rumah Gadang merupakan manifestasi kebudayaan masyarakat Minangkabau yang berfungsi sebagai media penyampaian nilai-nilai filosofis dan tradisi leluhur [S1]. Ornamen ini bukan sekadar elemen dekoratif, melainkan representasi mendalam dari cara hidup dan pandangan dunia suku Minangkabau yang diwariskan secara turun-temurun [S1]. Keberadaannya menjadi jendela utama untuk memahami kekayaan warisan budaya yang melekat pada arsitektur tradisional di wilayah Sumatera Barat [S1]. Secara konseptual, eksplorasi terhadap seni ornamen ini merupakan upaya penyelidikan dan penemuan pengetahuan baru mengenai simbolisme yang terkandung di dalamnya [S2], [S5]. Kegiatan eksplorasi dalam konteks budaya ini melibatkan proses penjelajahan lapangan untuk memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif mengenai bentuk, makna, dan fungsi ornamen tersebut dalam kehidupan masyarakat [S4], [S...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Cerita Rakyat dari Jawa Tengah: Kisah Timun Mas
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
Jawa Tengah

Cerita Rakyat dari Jawa Tengah: Kisah Timun Mas Lead Kisah Di balik rimbunnya hutan Jawa Tengah, tersimpan sebuah narasi tentang keberanian yang melampaui usia. Kisah ini berpusat pada sosok gadis kecil bernama Timun Mas, yang namanya kini tak hanya dikenal sebagai tokoh dalam buku cerita anak-anak, tetapi telah menjadi bagian dari ingatan kolektif masyarakat Indonesia [S2], [S3]. Ia bukan sekadar karakter fiktif, melainkan simbol perjuangan yang gigih melawan ancaman raksasa yang hendak merenggut kebebasannya [S3], [S4]. Sebagai bagian dari kekayaan tradisi lisan yang diwariskan turun-temurun, legenda ini memiliki daya pikat yang tak lekang oleh waktu [S1], [S2]. Di wilayah Jawa Tengah, cerita ini sering pula disebut dengan nama Mentimun Emas, sebuah variasi penamaan yang menunjukkan betapa luasnya penyebaran kisah ini dalam berbagai versi di tengah masyarakat [S2], [S5], [S5]. Keberadaannya yang populer membuktikan bahwa narasi tradisional ini tetap hidup dan relevan, bahkan h...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Keris Jawa: Lebih dari Sekadar Senjata, Simbol Budaya dan Pusaka
Senjata dan Alat Perang Senjata dan Alat Perang
Jawa Tengah

Keris Jawa: Lebih dari Sekadar Senjata, Simbol Budaya dan Pusaka Identitas dan Asal-Usul Keris merupakan pusaka masyarakat Jawa yang memiliki bentuk khas dan makna filosofis mendalam [S1]. Senjata tradisional ini diakui sebagai simbol budaya Nusantara dengan nilai sejarah, seni, dan filosofi yang tinggi [S3]. Keris Jawa secara spesifik merupakan salah satu simbol budaya yang sangat penting dalam sejarah dan tradisi Jawa [S2, S7]. Pengakuan UNESCO terhadap keris sebagai warisan dunia menegaskan statusnya yang berasal dari zaman logam [S4]. Secara historis, keris tidak hanya berfungsi sebagai senjata tradisional untuk peperangan [S2, C2], tetapi juga sebagai benda pusaka warisan nenek moyang [C3]. Lebih dari itu, keris juga menjadi simbol spiritual, status sosial, dan warisan keluarga [C12]. Keris Jawa sendiri memiliki banyak jenis dengan fungsi dan makna yang berbeda, mencerminkan kekayaan tradisi yang menyertainya [C8]. Keberadaannya juga meluas sebagai alat perlengkapan dalam b...

avatar
Kianasarayu