Sembada terkejut ketika siang itu Dora, temannya, tiba-tiba berkata, “Tuanku Ajisaka menyuruhku untuk mengambil keris.”
“Keris yang mana?” tanya Sembada heran.
“Keris pusaka yang kita jaga,” kata Dora mantap. “Tadi aku bertemu dengan utusan Tuanku Ajisaka dari Medang Kamulan. Beliau menginginkan keris itu dibawa ke sana,” lanjut Dora. “Kunci kotak penyimpanannya kamu yang bawa, kan? Serahkan padaku supaya aku bisa membuka kotak itu dan mengambil kerisnya.”
“Tidak mungkin!” bantah Sembada keras. “Tuanku Ajisaka sudah berpesan, keris itu tidak boleh diberikan pada siapa pun sampai beliau sendiri yang mengambilnya.” Sembada memandang Dora dengan curiga. Jangan-jangan Dora sendiri yang menginginkan keris itu. Keris yang mereka jaga merupakan keris yang sangat sakti. Konon, tidak ada apa pun di muka bumi ini yang tidak dapat ditembus oleh keris itu. Bahkan ada yang mengatakan keris itu dapat membelah gunung.
Ajisaka menitipkan keris pusakanya pada dua orang pengawal kepercayaannya yaitu Sembada dan Dora. Sembada diberi tugas membawa kunci kotak penyimpanan. Dora diberi tugas membersihkan keris tersebut seminggu sekali.
Ajisaka berangkat ke Kerajaan Medang Kamulan untuk menaklukkan raksasa bernama Dewata Cengkar. Raksasa itu sangat jahat karena punya kebiasaan memakan manusia. Banyak orang yang mengadu kepada Ajisaka. Raksasa itu bahkan sudah mulai memakan rakyat kerajaan yang dipimpin oleh Ajisaka yaitu Bumi Mijeti.
Ajisaka bertekad mengalahkan raksasa itu. Sebelum berangkat dia berpesan kepada Sembada dan Dora agar menjaga keris pusakanya baik-baik. Keris itu tidak boleh diberikan pada siapa pun sampai dia sendiri yang mengambilnya. Itulah sebabnya Sembada bersikukuh menjaga kunci yang diamanatkan padanya.
“Aku tidak akan menyerahkan kunci kotak itu pada siapa pun, kecuali pada Tuanku Ajisaka sendiri!” kata Sembada tegas. “Kamu ingin mengambil keris itu untuk kamu miliki sendiri, ya?” tuduh Sembada.
“Jangan sembarangan!” Dora berteriak marah. “Aku ini sangat setia pada Tuanku Ajisaka. Aku tidak punya niat sedikit pun untuk memilikinya. Tuanku Ajisaka sendiri yang mengirim pesan, menyuruhku membawa keris itu ke Medang Kamulan.”
“Tidak percaya!” Sembada semakin curiga. “Akan kulawan siapa pun yang berusaha mengambil keris itu!” katanya geram.
“Aku juga menjunjung tinggi pesan dari Tuanku Ajisaka!” Dora tidak mau kalah. “Siapa pun yang menghalangiku mengambil keris itu, akan kuhabisi!”
Dora segera melancarkan serangan kepada Sembada. Sembada berkelit, lalu balik menyerang Dora. Perkelahian seru tidak terelakkan. Kedua orang itu adalah pengawal senior yang dimiliki oleh Ajisaka. Keduanya sama-sama tangguh.
Setelah beberapa saat bertarung, keduanya mengeluarkan keris masing-masing. Dora menghunuskan kerisnya kepada Sembada. Tepat saat itu Sembada juga menghunuskan kerisnya kepada Dora. Mereka akhirnya tewas bersamaan terhunus keris lawan.
Sementara itu, Ajisaka mondar-mandir di Istana Medang Kamulan. Dia sedang gelisah menunggu seseorang. Raksasa Dewata Cengkar sudah dikalahkannya. Namun, raksasa itu melarikan diri ke Laut Selatan. Raksasa itu berubah menjadi buaya putih yang meresahkan masyarakat karena sering menenggelamkan perahu yang berlayar di Laut Selatan.
Raksasa itu hanya bisa dibunuh dengan keris pusaka milik Ajisaka. Ajisaka sudah menyuruh kurir untuk menyampaikan pesan kepada Dora. Ajisaka ingin Dora membawa keris pusakanya ke Kerajaan Medang Kamulan.
Akhirnya, Ajisaka memutuskan untuk pulang ke Bumi Mijeti dan mengambil sendiri keris pusakanya. Sampai di istana, dia terkejut bukan kepalang melihat dua pengawal setianya sudah terkapar bersimbah darah di ruang penyimpanan senjata.
“Aduh, aku lupa!” Ajisaka menepuk kening. Dia baru ingat kesetiaan kedua pengawalnya itu. Pasti masing-masing mempertahankan amanat yang diembankan kepada mereka. Ajisaka menyesal. Harusnya sejak awal dia sendiri yang mengambil keris itu, bukan menyuruh Dora untuk membawanya ke Medang Kamulan. Kalau saja dia tidak menyuruh Dora, tragedi memilukan seperti ini tidak akan terjadi.
Tapi semua sudah terjadi. Tidak bisa disesali lagi. Untuk mengenang kesetiaan kedua pengawalnya itu, Ajisaka lalu membuat sebuah puisi yang menjadi dasar pembentukan aksara Jawa, Hanacaraka.
Hana Caraka (Ada dua pengawal)
Data Sawala (Saling berkelahi)
Padha Jayanya (Mereka sama tangguhnya)
Maga Bathanga (Akhirnya keduanya sama-sama menjadi mayat)
Sumber: http://indonesianfolktales.com/id/book/legenda-asal-muasal-aksara-jawa/
GELOMBANG EKSODUS I. Pelarian Di Pacitan Ketika panji-panji emas Majapahit tercabik oleh perang perebutan warisan dinasti, sejarah arus utama seolah menoleh ke arah lain. Yang tercatat kemudian hanyalah runtuhnya tiga pusat kekuasaan besar secara beruntun: Wilwatikta-Trowulan yang ambruk pada 1478 M, Kediri di bawah Girindrawardhana yang tumbang dua dasawarsa kemudian, serta: Lenyapnya benteng pertahanan terakhir Patih Mahodara pada 1527 M. Di balik kronik pergantian rezim itu, tersimpan kisah lain yang jauh lebih megah dan tragis: kisah manusia-manusia yang terseret arus perubahan kekuasaan baru, Demak Bintoro. Seusai kemenangan Ranawijaya atas kubu Bhre Kertabhumi, muncul kebutuhan mendesak untuk membangun dasar legitimasi baru. Upaya itu dijalankan melalui jejaring brahmana, penetapan tanah-tanah sima yang dibebaskan dari kewajiban pajak, penguatan tradisi Buddha-Siwa, serta pembentukan identitas Keling yang berpusat di Daha. Dalam pandangan para pendukungnya, ide...
Sejarah Senjakala Majapahit-Daha II. Patih Udara/Mahodara Berkuasa (1498 M) A. Krisis Demi mempertahankan kekuasaan di tengah impitan ekonomi dan bayang-bayang kehancuran, Ranawijaya memperlakukan rakyat kecil pedalaman sebagai sapi perah guna mendanai prajurit yang butuh logistik besar menghadapi kelompok pembangkang yang mulai tumbuh kembali. Pembangunan Kedaton baru beserta sistem pertahanan militer di Daha dalam waktu delapan tahun membawa kesengsaraan yang luar biasa bagi kaum tani di sepanjang aliran Sungai Brantas yang subur. Dinasti Girindrawardhana memberlakukan sistem kerja paksa, yang dikenal sebagai kerja gaga, secara militeristik demi mendirikan kompleks istana bata merah yang megah serta jaringan perbentengan baru. Di sisi lain, ribuan petani dipaksa meletakkan bajak dan cangkul mereka untuk mengangkut batu kapur dari perbukitan selatan, menebang pohon jati di belantara, serta mencetak jutaan bata merah untuk dinding pertahanan. Kesengsaraan ini kian mencekik...
SENJAKALA MAJAPAHIT I (1478 M) > Senjakala Majapahit bukanlah sebuah cerita tentang kelanjutan kemaharajaan yang tenang di bawah asuhan para resi yang bijaksana. Sebaliknya, ia merupakan sebuah panggung sejarah yang rapuh, berdarah, dan diperebutkan oleh kelompok-kelompok politik yang haus akan pengakuan kekuasaan. Demi melunasi dendam masa lalu, menegakkan kehormatan keluarga, dan mengejar ego dinasti, faksi-faksi pemberontak ini tanpa sadar telah memeras keringat rakyat, merampas hak atas tanah perdikan, dan mengirim ribuan rakyat jelata (kawula) Jawa ke lubang kematian yang sia-sia. I. Senjakala Pertama Majapahit Trowulan (1478 M) A. Pemberontakan Ranawijaya (Keling-Daha) Brawijaya IV saat bertakhta sebagai Maharaja Majapahit bergelar Sri Adi Suraprabhawa Singhawikramawardhana Singhawikramawardhana terpaksa mundur ke basis pertahanan keluarganya di Kediri. Setelah terusir dari Trowulan oleh kudeta Bhre Kertabhumi (Brawijaya V) pada tahun 1468 M, Brawijaya IV menyelamat...
Di masa lalu, masyarakat Batak mengenal sebuah peti penyimpanan berharga yang disebut Huting-Huting. Huting-huting berfungsi sebagai tempat menyimpan benda-benda berharga milik raja atau keluarga bangsawan, seperti perhiasan, pusaka, hingga barang bernilai lainnya. Karena fungsinya yang penting, huting-huting sering disebut sebagai "brankas tradisional" dalam budaya Batak. Yang membuatnya istimewa adalah ukiran pada bagian tutupnya. Berbagai ornamen, termasuk motif bintang dan makhluk simbolis (pinatang), dipahat dengan sangat detail. Menurut kepercayaan masyarakat dahulu, ukiran-ukiran tersebut memiliki kekuatan magis sebagai penjaga isi peti. Konon, apabila seseorang berniat mencuri isi huting-huting, maka roh penjaga yang disimbolkan melalui ukiran pinatang akan melindungi harta yang tersimpan di dalamnya. Kepercayaan ini menunjukkan bagaimana seni ukir, spiritualitas, dan sistem keamanan tradisional berpadu dalam kehidupan masyarakat Batak. Karena nilai dan kesak...
Di rumah adat Batak tradisional, terdapat sebuah bagian penting yang disebut Sale-salean. Sale-salean merupakan rak atau ukiran berbentuk segi empat yang digantung di atas tungku perapian (tataring). Fungsinya sangat praktis sekaligus mencerminkan kearifan leluhur dalam memanfaatkan ruang di dalam rumah. Di tempat inilah masyarakat Batak dahulu mengeringkan ikan, daging, hasil pertanian, hingga kayu bakar. Asap dari tungku yang terus menyala membantu proses pengeringan sekaligus membuat bahan makanan lebih awet untuk disimpan. Bagi masyarakat Batak masa lalu, dapur bukan sekadar tempat memasak. Dapur adalah pusat kehidupan keluarga, tempat berkumpul, berbagi cerita, dan menjaga persediaan pangan. Sale-salean menjadi bukti bahwa arsitektur tradisional Batak dibangun berdasarkan pengalaman, kebutuhan hidup, dan pengetahuan yang diwariskan dari generasi ke generasi. Warisan budaya tidak selalu berupa benda mewah. Kadang ia hadir dalam benda sederhana yang menjadi bagian dari kehidu...